
Malam hari,Dave sudah tiba di rumahnya.Dia turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya.Dan saat berjalan memasuki rumahnya,Dave sudah di sambut oleh Livia yang sudah menunggunya dari tadi.
"Loh.Kakak belum tidur ....?" tanya Dave yang melihat anaknya sedang duduk di ruang keluarga.
"Sengaja.Nungguin papa." jawab Livia.
"Tumben.Biasanya juga sudah tidur jam segini " ucap Dave yang kemudian ikut duduk di samping Livia.
"Tadi papa kenapa bisa sama tante Tara...?" tanya Livia yo the point.
"Kan tadi papa sudah bilang,kalau papa kebetulan ketemu di depan ruangan." jawab Dave lagi-lagi berbohong.
"Boong banget sih pah.Livia tuh tahu,papa pasti dari tadi siang kan sama tante Tara.Ingat ya pah,Livia gak akan pernah merestui hubungan papa sama siapa siapapun itu." ucap Livia yang langsung pergi meninggalkan Dave begitu saja.Sedangkan Dave hanya menatap nanar punggung putrinya yang meninggalkannya begitu saja.
Keesokan harinya Livia sudah bersiap untuk berangkat kuliah.Dia turun ke bawah dan langsung menuju ruang makan.
"Papa mana bik...?" tanya Livia.
"Bapak belum turun non." jawab bibik.
"Ya sudah,makasih ya bik." ucap Livia.
"Iya.Ya sudah bibik ke belakang dulu ya non."
"Heem."
Setengah jan kemudian Livia sedah menunggu Dave,namun yang di tunggu tak kunjung datang.Livia pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar Dave.
Tok...tok...tok...
Livia mengetuk pintu kamar Dave.
Ceklek....
Dave membuka pintu kamarnya.Di lihatnya anaknya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Papa kok baru bangun sih...?" ucap Livia cemberut.
"Iya.Maaf ya sayang,papa kurang enak badan makanya tadi males mau bangun." jawab Dave yang langsung membuat Livia kaget.
"Papa sakit....?" tanya Livia khawatir dan langsung memegang kening Dave.
"Cuma sakit kepala kok.Nanti juga ilang.Kamu kok belum berangkat...?" tanya Dave.
"Via nungguin papa.Apa Via libur aja ya buat ngerawat papa." ucap Livia yang langsung di tolak Dave.
"No..!.Kamu gak boleh libur.Sudah sana sarapan, terus berangkat kuliah.Awas jangan sampai bolos." ingat Dave pada Livia.
"Papa gak kenapa-napa kalau Livia tinggal sendiri...?"
"Iya sayang gak papa.Sudah sana,papa mau lanjut istirahat lagi ya." jawab Dave sambil mencium kening anaknya.
"Ya sudah.Papa cepet sembuh ya.Via mau sarapan dulu.Papa mau di bawain sarapan gak...?"
"Gak usah sayang.Ya sudah papa lanjut istirahat ya" ucap Dave lalu menutup pintu kamarnya lagi.Sedangkan Livia kembali ke ruang makan dengan sedih.
"Kanapa murung gitu mukanya." suara Zidan langsung membuat Livia mendongak.
"Yank.Sejak kapan di sini...?" tanya Livia yang melihat Zidan sudah duduk di meja makan.
"Baru aja duduk,Kamu dari mana...?." tanya Zidan.
"Dari kamar papa.Papa lagi sakit." jawabnya yang kemudian ikut duduk di samping Zidan.
__ADS_1
"Aku gak tega kalau harus ninggalin papa sendirian." imbuhnya lagi.
"Ya kenapa kamu gak libur aja...?" tanya Zidan.
"Gak di bolehin sama papa."
"Ya udah kan ada bibik,nanti kalau ada apa-apa kan bibik bisa hubungin kamu." ucap Zidan sambil mengelus rambut Livia.
"Tapi aku khawatir sama papa." jawab Livia kali ini dengan cemberut.
"Ya terus maunya gimana...? bolos kuliah juga percuma kan,sama papa gak boleh." ucap Zidan.
"Ya udah deh,kita berangkat saja,tapi nanti siang langsung anterin aku pulang ya,aku mau ngrawat papa." ucap Livia yang langsung di balas anggukan oleh Zidan.Akhirnya setelah makan mereka berdua pun berangkat ke kampus.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
Satu minggu berlalu,semuanya pun sudah kembali dengan normal.Jangan tanyakan para pasangan pengantin baru,apakah mereka sudah melakukan malam-malam panjang mereka karena jawaban nya pasti sudah dan hanya tinggal Davina yang masih tersegel,di karenakan sekolahnya yang masih menunggu dua tahun lagi.Hari ini adalah jadwal weekend,dimana mereka akan selalu menghabiskan waktu seharian mereka bersama-sama.Dan kali ini mereka menghabiskan waktu mereka di rumah Gisel dan juga Andra.Meski mereka tinggal bersama di Singapura,Zidan Rani dan Aril yang masih menempati rumah besar mereka.
"SELAMAT PAGI EPERIBADEH....!!" sapa Calista sambil berjalan memasuki kediaman Rania.
"Waalaikumsalam..." jawab Rania sambil menggelengkan kepalanya.Sedangkan Calista hanya nyengir.
"Pagi kakak ku yang paling cantik sedunia." ucap Calista sambil memeluk Rania.
"Lebay lu Cal." jawab Aril.
"Biarin...!!wlee..."
"Yang lain mana...?" tanya Rania.
"Masih di jalan kali.Kan aku segaja kesini dulu,mau bantuin kakak."
"Hmm....ya sudah ayuk bantuin kakak kalau begitu." ucap Rani yang langsung berjalan menuju dapur.
"Yang lain mana dek...?" tanya Daniel.
"Ada kok,bentar lagi paling sampe." dan benar saja,tak berapa lama semuanya sudah sampai di rumah Rania dan mereka langsung menuju taman belakang,dimana mereka akan bersantai.
"Halo Rafa ganteng." ucap Rania menyapa Rafa yang sedang asik duduk di pangkuan Zio.
"Halo ate Lani."
"Niel,papa kamu belum pulang ....?" tanya Arjuna.
"Belum Pi,tapi kayaknya papa bakal netap di sana deh." jawab Daniel.
"Serius yank....?" tanya Rania.
"Hmm...Rens kan bentar lagi masuk sekolah dasar.Dan kayaknya bakal di sekolahin di sana."
"Yah....gak bisa ketemu sama si bawel dong kalau gitu." ucap Zio yang langsung di sahut oleh seseorang dari belakang.
"SIAPA YANG BILANG AKU BAWEL...!!!!" ucap seseorang dengan mengerucutkan bibirnya.Membuat semua yang ada di situ langsung menoleh padanya.
"RENESME...!!" kompak mereka semua.Renesme dan kedua orang tuanya sama-sama mendekati Rania dan yang lain nya.
"Siapa yang bilang Rens bawel tadi." tanya Renesme sekali lagi.Dan semuapun mengarah telunjuknya pada Zio.Sedang pelaku hanya biasa saja.
"Kak Zio...." ucap Renesme melototkan matanya pada Zio.
"Cil,beli ice crem yuk." ucap Zio pada Rafa yang juga langsung membuat mata Renesme berbinar.Karena sebenarnya Zio juga ingin menggoda Renesme.
"Boyeh..ayuk bangkat om." jawab Rafa langsung berdiri.
__ADS_1
"Rens ikut.." ucap Renesme semangat.
"Gak ah..!! kamu tadi melototin kakak." ucap Zio berpura-pura ketus.
"Maaf...." jawab Rens yang langsung menunduk sedih.Membuat Zio semakin gemas pada anak yang akan menginjak umur 6 tahun tersebut.Zio berjongkok dan mensejajarkan dirinya setinggi Renesme.
"Bilang apa tadi...?" tanya Zio.
"Maaf..." jawab Renesme sekali lagi tapi masih dengan menundukkan kepalanya.
"Sayang sama kakak gak..?" tanyanya lagi.Dan Renesme hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Cium dulu kalau gitu." ucap Zio.Dengan cepat Renesme langsung menciumi seluruh wajah Zio.Membuat semua yang menyaksikannya menjadi gemas sendiri.
"Udah." ucap Renesme.
"Udah...? ya udah balik duduk." jawab Zio menghodanya lagi.
"Kok duduk..katanya mau beli ice cream."
"Besok aja deh ya."
"Ih...kakak..."
"Zi....udah,suka banget sih godain adeknya." ucap Farza memperingati Zio.Dengan gemas Zio langsung mencium balik pipo Renesme.
"Gemesh banget sama adek kaka ini,ayuk berangkat." jawab Zio yang langsungenggandeng tangan Renesme dan menggendong Rafa.
"Yeee...."
"Sudah akur deh sekarang semenjak ada Rafa." ucap Doni menatap jauh kepergian Zio dan Renesme.
"Emang beneran Don,lo mau tinggal di Amerika...?" tanya Arjuna.
"Masih rencana doang.Lihat Renesme dulu,beneran mau apa enggak sekolah di sana."
"Daddy,kabarnya kak Revan gimana...?" tanya Calista tiba-tiba.Yang langsung membuat Endy menoleh padanya.
"Baik.Dapat salam kamu dari dia,kangen katanya." jawab Doni tersenyum sambil melirik Endy.
"Abang...kapan kita ke sana...? Calista udah oangen sama kak Revan." ucap Calista pada Varo.
"Kan abang bilangnya bulan depan dek,ya tunggu bulan depan dong."
"Duh...lama banget deh ah."
"Udah Cal,jangan ngomongin Revan aja,kamu gak lihat muka cowok kamu tuh,udah merah padam" ucap Aril sambil terkekeh.Calista pun langsung menoleh pada Endy yang memang sebenarnya sedang marah,namun dia alihkan bermain game.
"Mana ada.Kak Endy biasa aja tuh."
"Hadeh...kami nya aja yang gak peka dek." jawab Varo.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....