
Jam 07.00,pagi yang harusnya cerah, malah di penuhi dengan awan yang mendung.Sang surya sepertinya enggan menampak kan diri nya pada Bumi.Dan seperti itulah saat ini yang terjadi pada keluarga besar Farza.Di tinggal orang-orang yang sangat di cintai adalah hal yang paling berat bagi mereka.Pagi ini Mirza telah di makamkan di pemakaman umum.Tempat peristirahatannya pun tepat di sebelah makam Ratu,sang istri.
"Daddy. yang tenang ya di sana...jaga mommy." ucap Zahra sambil mengelus nisan yang bertuliskan nama Mirza.Zahra tak lagi mengeluarkan air matanya.Dia sudah ikhlas melepas kepergian Daddynya untuk selamanya,begitu juga dengan Dimas.
"Dimas akan menjalankan semua nasehat Daddy,Dimas akan menjaga Kakak,nenek dan juga kakek,sesuai permintaan Daddy."
Satu persatu dari mereka mengucapkan salam perpisahan untuk Ratu dan juga untuk Mirza.Tak hanya keluarga,relasi nya di perusahaan pun menyempatkan untuk datang ke pemakaman Mirza.Mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang di tinggalkan.
Setelah selesai semuanya memilih untuk pulang ke rumah mama Maya,mempersiapkan acara tahlilan untuk mendoakan ke dua Almarhum.
"Lagi apa....?." tanya Dika sambil memeluk Zahra dari belakang.Saat ini,Zahra sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke depan.
"Lagi lihatin lampu-lampu,indah...banget." jawab Zahra masih tetap dalam posisi nya.
"Kangen Daddy sama Mommy....?." tanya Dika yang langsung pada intinya.Dika tahu,tak akan mudah bagi Zahra untuk menerima semua ini.Mendapat pertanyaan dari suaminya membuat Zahra terdiam sejenak sebelum dia akhirnya mengangguk kan kepalanya.
"Kalau kangen mereka,ayuk ikut aku ngaji di bawah bersama yang lainnya." ucap Dika mengajak Zahra yang langsung di jawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Tapi ganti dulu ya pakaian nya,yang sopan,masak ngaji pakai jeans." ucap Dika menasehati Zahra.
"Iya,ya sudah aku ganti dulu ya,kamu tunggu di bawah" jawab Zahra sambil tersenyum.
"Ya sudah,aku duluan ya...cup..." Dika menciun kening Zahra,dan setelah itu dia langsung pergi ke bawah untuk bergabung dengan yang lainnya.Sedangkan Zahra pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju nya.
Setelah acara tahlilan selesai,semuanya memutuskan untuk berkumpul di ruang tamu untuk beberapa saat.Ruangan nya pun cukup luas karena sofa yang untuk sementara waktu di pindah di ruang tengah.Membuat Rafa dengan leluasa berlari ke sana kemari.
"Rafa...jangan lari-lari sayang,nanti jatuh." ucap Moza memepringati Rafa.
"Afa au tepak boya ,Ma..." jawab Rafa sambil terus berlarian.Membuat semuanya tersenyum.
"Rafa sini..." panggil Zio dengan melambaikan tangan nya.
"Iya om Zo."
"Mau escream gak....?." tanya Zio.
"Au....ana...?." tanya Rafa sambil tangan mengadah.
"Cium dulu dong om nya" ucap Zio.
"Cup...." Rafa mencium seluruh wajah Zio.
"Tudah,tekalang ana estimna."
"Ada sama tante Dian."jawab Zio terkekeh karena berhasil mengerjai Rafa.
"Ahh...om Zo tulang." ucap Rafa sambil mengerucutkan bibir nya.
"Om gak curang kok,kan yang beli escream nya memang om Zo sama tante Dian."
"Au ah,Lafa malah tama om potona" jawab Rafa sambil melipat tangan nya dengan cemberut.
__ADS_1
"Lutuna ponakan ate ini....sini sayang,ini escream nya." ucap Dian sambil memberika ercream,membuat Rafa langsung tersenyum.Rafa mendekati Dian dan langsung mengambil escream dari tangan Dian.
"Sini,mamam nya sama ate dong."
"Ote...ote..." Rafa pun duduk di depan Dian sambil memegang escream di tangan nya.
"Kakak, escream buat Rens mana...?." kali ini giliran Renesme yang meminta.
"Buat kamu gak ada..!." goda Zio pada Rens.
"Kakak jahat....!" kata Renesme marah dan langsung berlari memeluk Daniel sambil menangis.
"Zio....suka banget sih kamu godain Renesme" ucap Farza memarahi anak nya.Sedangkan Zio yang di marahi Farza hanya terkekeh saja.
"Sudah tenang saja,nanti kakak belikan sekalian sama frezer nya sekalian" jawab Daniel menenangkan adik nya.
"Beneran...?." tanya Renesme menatap Daniel.
"Iya...." jawab Daniel sekalai lagi.
"Ya sudah,escream yang di tangan kakak,biar di habisin Rafa sekalian ya." ucapan Zio langsung membuat Renesme berbalik dan melihat Zio sedang membawa dua eacream di tangan nya.Zio menaikkan turunkan kedua alisnya sambil tersenyum.Dengan cepat Renesme pun berlari ke arah Zio dan langsung mengambil escrea tersebut.
"Makasih kakak,cup...." ucap Renesme sambil mencium pipi Zio dengan senang.
"Dasar kamu ya."
"Tidur di sini enak kali ya,rame-rame lagi."ucap Aril tiba-tiba.
"Boleh juga ide elo Ril." jawab Endy yang juga setuju dengan ide Aril.
"Iya,boleh juga tuh ide nya Aril,lagian di sini kan kamar nya cuma ada empat,biar di tempati sama yang lebih tua saja."ucap Zidan yang juga ikutan setuju dengan ide para saudaranya.
"Tapi tidur nya berpasangan ya." jawab Endy yang langsung mendapat toyoran dari Nadin.
"Aduh...apaan sih kak." kesal Endy.
"Apa...apa....! mulut kamu tuh,kalau ngomong gak bisa di saring apa,gak malu kamu bicara kayak gitu di depan semua orang." jawab Nadin dengan setengah emosi.
"Emang kenapa...? lagian kita juga gak akan ngapa-ngapain lagi Nadin,paling juga cuma pelukan doang." jawab Endy dengan santai nya dan tanpa dosa.Calista yang berada di sebelah Endy hanya bisa menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi tetep saja gak boleh Endy....!"
"Boleh Nad...kamu kan juga bisa tidur sama Bang Reno tuh" ucap Endy menaik turunkan alisnya dengan tersenyum devil.Membuat Nadin langsung menatap tajam Endy.
"Reno......!!" ucap Varo dan Moza bersamaan.
"Emang Bang Varo gak tau kalau Nadin sudah jadian sama bang Reno....?." tanya Endy dan Varo meggelengkan kepalany.
"Ck....gimana sih,aku aja tau masak kalian gak tau sih."
__ADS_1
"Endy....!!" sentak Nadin "Mulut kamu bisa diem gak sih." ucap Nadin.
"Kenap sih kak,lagian biarin aja kenapa sih..!,biar mereka itu ikut bahagia kali,melihat kakak akhirnya punya pasangan" jawab Endy kini dengan serius.
"Nad,beneran kamu pacaran sama Reno...?." kini giliran Varo yang bertanya pada Nadin.
"Em..." Nadin hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya,bingung harus menjawab apa.
"Nad,jawab kali." ucap Daniel.Akhirnya dengan malu-malu,Nadin mengangguk kan kepalanya.Nadin menunduk kan kepalanya,takut semua saudaranya akan membuly nya.
"Alhamdulillah....akhirnya elo punya pacar juga Nad." ucap Varo memeluk Nadin.Sebenarnya Varo adalah mantan Nadin saat masih duduk di bangku SMA.Namun,mereka memilih berpisah karena memang sudah merasa tidak ada kecocokan. Dan sejak saat itu juga,Nadin memilih untuk sendiri sampai akhirnya Reno mampu menembus batu karang yang sudah tertanam di hatinya,apalagi sejak papanya meninggal.
"Sudah kali Al,Moza bisa cemburu lihat elo meluk gue." ucap Nadin mencoba melepas pelukan Varo.
"Moza gak akan cemburu sama saudaranya sendiri." jawab Varo yang kemudian melepas pelukan Nadin.
"Tapi gue bisa cemburu bos, lihat elo meluk pacar gue." ucap Reno yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu.Semuanya langsung menoleh pada Reno yang baru saja datang.
"Reno...." ucap Nadin.
"Malam semuanya,maaf ya Reno terlambat" ucap Reno meminta maaf.
"Gak papa Ren,kamu kan juga pasti sedang sibuk mengurus perusahaan sementara waktu,selama Varo cuti." jawab Farza yang memang tau kalau sementara waktu, Reno harus menggantikan Varo di kantor.
"Nadin,kamu ajak Reno makan ya di dapur,pasti dia lapar" ucap mama Maya memerintah Nadin.
"Iya nek,Ren ayuk kita ke dapur." aja Nadin berjalan mendahului Reno.
"Iya..." jawab Reno menyusul Nadin.Sedangkan dari belakang Aril dan yang lain nya kompak menyoraki Nadin yang kini sudah tidak jomlo lagi.
"Cieee....cieee.....ekhem...ekhem...." ucap Zio,Aril,Endy,dan Calista menyoraki mereka berdua.Nadin dan Reno hanya tersenyum geli mendengar bullyan para saudaranya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Readers ada visual tkoknyang ketinggalan nih.
ada pasangan si jail Aril dan juga Thalita,kakak dari Davina.Thalita adalah seorang desainer,sama dengan Rania.Dan mereka berdua sudah memiliki butik sendiri.
__ADS_1