
Kehidupan Aditya kini berubah drastis, ia tidak lagi menyembunyikan identitasnya dan menyamar menjadi sopir travel. Sekarang ia mulai memakai pakaian kantor dan berdasi. Sebagai seorang Owner di perusahaan The Queen ia harus merubah penampilannya menjadi elegan.
"Kamu sangat ganteng dan berwibawa, aku yakin semua cewek akan melirik padamu." kata Devaly dengan bangga. Suaminya tidak malu-maluin seperti dulu.
"Istriku juga cantik dan sexy, aku bahagia mendapat anugerah seorang wanita seperti dirimu, sudah cantik baik hati lagi. Ketika aku menyadari bahwa kamu tidak pernah tidur selain dengan diriku, aku seperti laki-laki yang mendapat hadiah tak ternilai." puji Aditya memeluk istrinya.
"Biarpun aku seorang publik figur, aku tidak tergerus oleh zaman. Aku bisa menjaga akhlak dan martabat sebagai seorang wanita baik-baik."
"Aku sangat bahagia, apalagi kandungan mu sudah mulai membesar, tidak lama lagi kita akan menimang bayi. Rasanya tidak sabar memamerkan bayiku kepada saudara besar sebagai pewaris harta."
"Aku harap setelah tinggal disini, jauh dari Leak ngakak, tidak ada alasan lagi untuk berselingkuh. Aku capek mendengar kamu kena santet atau ilmu penangkeb, semua ilmu kamu kambing hitamkan.
"Hehe...mana mungkin aku selingkuh sayank, cintaku hanya padamu. Kamu adalah istriku yang tidak punya kekurangan. Dimataku kamu adalah bidadari sorga."
"Aku percaya padamu, kuharap kepercayaan ini jangan kamu salah gunakan. Rasanya sakit sekali jika suami mengkhianati ku."
"Tidak gampang mendapatkan ratu pavorite, ini sebuah takdir dan kamulah jodohku. Aku bertemu denganmu dalam kesederhanaan, walaupun pertama kali kita bermusuhan dan kamu sangat julid, tapi setelah itu kamu tetap mencintaiku, itulah yang membedakan kamu dengan wanita lain. Kamu tidak mencintaiku karena harta, kamu sangat tulus."
"Aku berangkat ke kantor, kamu tidak boleh keluar kecuali bersamaku. Walaupun kita hidup di kota, Leak tetap eksis dan selalu berada di tempat angker."
"Hii..ngeri sekali, kirain Leak tidak ada disini, ternyata dimana-mana ada Leak. Kenapa kamu memilih tinggal di rumah tua ini, aku merasa rumah ini angker."
"Rumah ini lama tidak ditempati jadi terlihat angker, padahal biasa saja sama dengan rumah stil bali lainnya." kilah Aditya, padahal ia juga merasakan ngeri ketika memetik mangga di kebun belakang.
"Sayank, aku berangkat kamu mau nitip apa. Rujak atau apa?"
"Aku sudah selesai ngidam, tidak sampai sebulan aku akan melahirkan. Rasanya senang bercampur takut." kata Devaly manja. Aditya keluar dari kamar setelah memberi kecupan manis kepada istri tercintanya.
"Bye sayank...Love you."
"Ya Tuhan berkatilah pernikahan kami, dan jauhkan lah kami dari cobaan hidup, semoga kebahagiaan ini tidak cepat berlalu." bisik Devaly. Dia mencakupkan kedua tangannya sambil kumat kamit.
"Daarr!!" Devaly meloncat kaget. Dia melotot memegang dadanya.
"Kampret kirain siapa, untung aku tidak jatuh. Kalau suamiku sampai tahu kamu suka mengagetkanku, kamu bisa di uwel-uwel seperti perkedel."
"Hahaha....aku pingin di uwel-uwel deh." ucap Thasy genit. Melihat tingkah Thasy yang pecicilan Devaly menjadi geli.
"Thasy...kita sudah seperti saudara kandung, bersyukur sekali kita tidak mati seperti yang lain. Semoga kita tetap solid sampai nenek-nenek."
"Kita jaga persahabatan ini sampai tua. Aku masih trauma jika kembali mengingat masa kita di rumah nenek. Kenangan di Bungalow terkadang membuat aku merinding sendiri. Aku tidak pernah tenang kalau sudah malam, waktu Rakhes meninggal rasanya aku ingin mati. Itu pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup."
"Betul sekali, tidak nyangka kita bisa masuk ke sarang Leak, anehnya kenapa dulu kita tetap disitu. Harusnya cepat keluar dari sana. Untung nenek cepat mati, kalau dia masih hidup kita pasti mati juga dimakan Leak."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong gimana kabarnya Mayang, apa dia sudah melahirkan?" tanya Thasy membuat Devaly enek mendengar nama wanita itu.
"Jangan mengingat nama itu, pamali, sama artinya dengan memanggil Leaknya datang. Ada saja manusia pongah seperti Mayang, sudah berapa kali ditolak tetap memburu suami orang, dasar muka tembok."
"Mungkin dia sudah lama mencintai Aditya, cinta tidak bisa berbelok-belok seperti mobil. Baginya Aditya adalah idola sejati, yang lain hanya iseng."
"Bisa juga, tapi bagaimana pun harus tahu diri. Itu jenis wanita tidak tahu diri, tidak punya akhlak dan akal sehat."
"Kamu harus bersyukur termasuk orang yang beruntung, punya suami ganteng, tajir melintir dan sangat mencintaimu." ucap Thasy menatap Devaly. Dia iri melihat Devaly berbahagia.
"Hidup manusia ada pasang surutnya, kadang diatas, kadang dibawah. Saat ini aku memang sangat beruntung punya suami setia dan sangat menyayangiku. Apa aku minta dikasi, semoga saja keadaan ini tidak berubah dan kami hidup bahagia."
"Dev..aku ingin kerja, apa ada lowongan di perusahan suamimu?" kata Thasy membuat Devaly kasihan.
"Kenapa kamu tidak pulang ke Los Angeles, disana kamu bisa berkarier. Kamu masih muda dan cantik, mencari suami seperti Aditya sangat gampang."
"Aku terlanjur jatuh cinta dengan pulau ini, dan ingin punya suami orang pribumi juga sepertimu. Semoga Tuhan berkenan dan mengabulkan permintaanku."
"Aku ikut mendoakanmu, jika itu menjadi pilihanmu." ucap Devaly tulus.
"Kamu mau kan mintain aku kerja di kantor suamimu?" kata Thasy mengingat kan Dèvaly lagi. Devaly mengangguk dan mengacungkan jempol.
Menolong teman itu wajib, dan itu yang harus dilakukan oleh Devaly. Otaknya sudah penuh tersusun kata-kata romantis untuk merayu Aditya, supaya bisa menerima Thasy menjadi karyawannya.
"Sayank, nanti aku ada omongan denganmu." kata Devaly saat mereka menyelesaikan makan malamnya.
"Ada apa sayank, jangan berteka tekilah, aku juga mau bicara denganmu." ucap Aditya penasaran.
"Oke, setelah kita berada di kamar."
"Pasti sudah tidak tahan ya." sahut Aditya mengedipkan sebelah matanya. Devaly hanya tersenyum tipis.
"Sayank, kesibukan ku di kantor sangat padat makanya aku pulang agak telat, apa kamu setuju kalau kamu menjadi sekretaris?"
"Mana mungkin, perutku sudah besar. Terus David gimana, bukankah dia sudah menjadi sekretarismu."
"David aku suruh menangani hotel lain sebagai Jenderal Manager." sahut Aditya kecewa.
Tadinya ia ingin Devaly menjadi sekretaris, namun Devaly menolak karena perutnya kini sudah besar. Ia lalu mengusulkan supaya Thasy menggantikannya.
"Bagaimana kalau Thasy saja, dia cocok menjadi sekretarismu. Kebetulan dia butuh kerja. Lagipula perut Thasy sudah kempes akibat keguguran tempo hari."
Aditya terdiam sesaat, ia tidak begitu akrab dengan Thasy, ia lebih senang dengan Basabi yang cepat mengerti dan bertanggung jawab, sayang sekali Basabi sudah meninggal.
__ADS_1
"Yank, aku tidak enak bekerja dengan Thasy, sungkan kalau nyuruh-nyuruh. Lagi pula aku takut ada fitnah." kilah Aditya mengelus perut istrinya. Mereka saling berpelukan. Kepala Devaly menyusup di dada istrinya.
"Tidak apa-apa, Thasy orangnya baik hati dan sangat pengertian. Kalau dia punya gaji beban kita juga agak ringan. Keuntungannya banyak, dia juga leluasa berbelanja jika ingin sesuatu."
"Tapi bisa gak Thasy kerja, dia tamatan apa. Aku bukan mencari orang cantik, aku mencari orang cerdas."
"Kamu tidak akan menyesal menerima Thasy sebagai pegawai." kata Devaly yakin.
"Ya sudah besok suruh dia ke kantor." kata Aditya menyerah. Devaly langsung mencium suaminya. Devaly sangat senang temannya bisa bekerja.
"Yank, sebelum Thasy keguguran malam nya aku mendengar suara aneh diatas genteng. Aku jadi merinding kalau mengingatnya." kata Devaly mempererat pelukannya.
"Makanya jangan bandel, Thasy tidak pernah menurut apa yang dikatakan oleh para tetua. Kita tidak tahu seberapa banyak Leak yang berkeliaran di sekitar sini."
"Ngeri juga kalau malam-malam keluar sendiri. Rupanya kemanapun kita pergi akan bertemu Leak."
"Ada hari-hari tertentu yang di kuasai oleh Leak, pada saat itu kita berusaha menghindar dengan cara tidak keluar rumah, membaca mantra penolak bala, garam dan bawang merah harus ada setiap hari."
"Aku dikasih tau oleh tetua kalau lagi dua hari akan diadakan ritual untuk menyambut kelahiran bayi, padahal dokter bilang lahirnya sekitar sebulan lagi." ucap Devaly.
"Besok aku yang bicara, mereka belum ada menghubungi ku mungkin karena aku sibuk. Tolong besok kasih tau Thasy supaya datang jam tujuh pagi, jangan sampai telat."
"Ya sayank, aku yakin dia mau karena tadi dia kesini minta kerjaan. Dia mengeluh kalau selama ini dia malu terus menerus minta uang. Jika aku dalam posisi itu, mungkin aku juga begitu. Tapi kenapa dia tidak mau pulang ke Los Angeles, padahal dia sudah keguguran."
"Mungkin dia kasihan meninggalkanmu." sahut Aditya. Tangannya mulai berselancar mengelus tubuh istrinya.
"Heitt...kata dokter goyangan hebat tidak boleh, aku takut senjatamu melukai kepala bayi kita."
"Aku mengerti, tidak sampai 8.0 skala richter, paling 6.1 Skala Magnitudo hahaha...."
"Idihh....dasar genit."
Ada saja alasan Aditya kalau sudah kebelet, membuat Devaly tidak bisa menolak padahal ia takut kalau terjadi sesuatu. Aditya sangat mengharapkan putranya lahir dengan normal dan selamat. Menurut tetua, hamil pertama dan mengandung bayi laki-laki, akan lebih di senangi Leak. Makanya harus ekstra sabar dan hati-hati menjaganya.
Kehadiran seorang bayi laki-laki akan disambut lebih meriah oleh keluarga, karena seorang laki-laki akan meneruskan warisan leluhur yang berupa kewajiban adat dan harta benda. Kalau orangnya kaya seperti Aditya tidak masalah, tapi kalau orangnya tidak punya akan terasa sekali penderitaannya.
Matahari pagi sudah mengintip dari balik daun bunga kemoning. Seperti diharapkan oleh Aditya, Devaly sangat penurut konsisten sembahyang di pagi hari. Cintanya kepada wanita itu semakin menjadi-jadi.
"Sayank, kamu tidak usah mengurus diriku, aku bisa mengambil pakaian sendiri. Kau tau betapa takutnya aku setiap hari, takut kamu jatuh di kamar mandi atau tersandung batu. Kamu sudah mau melahirkan, lebih baik diam saja supaya anak kita selamat. Apapun yang kamu minta setelah anak kita lahir, aku akan berikan." ucap Aditya memeluk istrinya dari belakang.
Mereka tidak menyadari kalau Thasy dari tadi sudah berada di ambang pintu. Ada perasaan iri melihat keberuntungan Devaly.
*****
__ADS_1