
Perbincangan pagi ini seputar balas dendam, menyeret nama Kemoning sebagai musuh utama yang perlu di lenyap kan dan Devaly sasaran tembak yang kedua. Tidak lupa ia menambahkan bumbu-bumbu ekstrem yang lebih meyakinkan, supaya Thasy percaya.
"Aku merasa Aditya sudah bertekuk lutut di bawah kaki Kemoning. Tadi malam Aditya membuka segel Kemoning, aku mendengar teriakannya. Ingat itu aku ingin mencekiknya." suara Ghina mengandung amarah.
"Hahaha.. ternyata kamu cemburu. Semua orang tidak akan menyangka kalau Kemoning tega menikam Devaly dari belakang. Pagar makan tanaman, orang yang paling dipercaya sanggup berbuat begitu. Mendengar berita ini aku jadi bersemangat."
"Aku sendiri banyak punya rencana untuk menyingkirkan Kemoning, menunggu waktu tepat saja."
"Elehhh...alasan saja, bilang saja kamu takut dengan Kemoning, dasar orang kampung."
"Apakah kamu berani, sama saja pengecut. Aku wajar takut karena Tuan membelanya."
"Aku sedikitpun tidak takut kepada Kemoning atau manusia yang ada di dalamnya. Yang membuat aku tidak pernah menyerang kalian karena keadaan rumahnya. Aku dulu dengan Mayang beberapa kali mau masuk mencari kalian, selalu tidak bisa, karena rumah di kelilingi api atau air. Tapi kalau tidak menjadi Leak rumah Aditya terlihat normal." jelas Thasy.
"Aku mengerti sekarang, pasti leluhur Aditya yang memasang pagar goib itu, hanya orang yang berilmu tinggi saja mampu melakukan itu. Aku yakin Aditya tidak tahu masalah ini. Kalau dia tahu ia akan merasa nyaman dan senang tinggal dirumah."
Setelah tercapai kesepakatan, Thasy dan Ginha lalu berpisah. Thasy akan membunuh Kemoning dengan upah seratus juta dari Ghina. Mereka akan mencari waktu yang pas untuk memasukkan Thasy ke rumah dalam keadaan belum berubah wujud. Sampai di dalam rumah Thasy baru akan ngeleak.
Persoalannya adalah, bagaimana caranya ke rumah Aditya saat ini, karena nona Dèvaly dan pelayan akan meramaikan rumah. Jika Ghina membawa Thasy pasti akan menjadi tanda tanya besar.
Ghina jadi puyeng memikirkan jalan masuk ke rumah Aditya. Setelah memeras otak baru ia menemukan jalan terbaik buat Thasy, yaitu harus datang menemui Devaly dan pura-pura meminta maaf. Walaupun terasa berat Thasy setuju usulan Ghina. Tinggal mencari waktu yang tepat.
Matahari beranjak semakin tinggi, Aditya dan Devaly mengumbar janji setia sehidup semati disaksikan oleh para pelayan. Ia bersyukur akhirnya Devaly dengan tulus menerimanya kembali, asal tidak mengulangi lagi.
Akhirnya mereka pulang, dalam perjalanan mereka semua gembira, terutama si kecil Bintang. Siang ini arus lalu lintas tidak begitu ramai, panas sekali di jalan, seperti kemarau panjang. Aditya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Devaly duduk di sebelah n sambil memangku Bintang. Sepanjang jalan Bintang bernyanyi, lucu dan menggemaskan.
"Kita sudah sampai, ayo turun pelan-pelan, semua barang taruh di ruang keluarga, nanti kita atur lagi."
"Baik nona biar kita yang urus semuanya." sahut Sri turun dari mobil.
Bintang duluan berjalan, tapi tiba-tiba dia berbalik dan menunjuk ke taman. Disana sudah ada David sedang berdebat dengan Thasy dan Ghina. Tadi David duluan pulang memakai mobil Aditya. Ghina dan Thasy duduk di Gazebo sedangkan David berdiri.
"Nona Devaly sudah kembali, selamat datang nona semoga betah di rumah." Ghina turun dari Gazebo mendekat.
"Apa khabar Ghina, kamu tambah seronok saja." ucap Devaly tersenyum tipis.
"Baik nona, ada Thasy ingin menemui nona."
"Bagaimana khabarmu Devaly, aku baru dengar kamu berpisah dengan Aditya. Apa sekarang rujuk lagi, tidak kapok sakit hati?" sapa Thasy tersenyum sinis. Ia tidak bisa menghilangkan dendam nya kepada Devaly.
"Kami berpisah rumah, tapi cinta kami tetap bersatu. Setiap rumah tangga pasti ada cobaan dan godaan, dan itu tidak membuat aku frustasi dan minta cerai. Jika Aditya kembali tergoda dengan perempuan ******, aku akan biarkan. Karena merubah karakter orang sangat sulit."
"Ada apa ini, Thasy, Ghina jangan bikin ulah. Pergi kalian ke kamar." Aditya yang baru datang dari garasi menjadi kesal melihat Thasy dan Ghina bertemu dengan Devaly. Ia yakin Ghina sengaja mengajak Thasy kesini.
"Maaf Tuan, tadi saya makan diluar karena tidak ada makanan di rumah dan kebetulan bertemu Thasy, maka saya ajak kesini karena sepi. Thasy juga mau nginap sehari disini."
"Tidak usah nginap, nanti kalian bikin istriku minggat."
__ADS_1
"Bukan kami yang membuat istri Tuan minggat, Tuan sendirilah. Makanya jangan di obral murah barangnya."
"Yank kita masuk kedalam." Aditya menarik tangan Devaly mengajak ke rumah utama. Ia takut Devaly terpancing dengan kata-kata kedua wanita itu.
"Jangan di dengar omongan mereka, bikin kamu sakit hati saja."
"Orang akan terus bicara sepanjang kamu terus berbuat. Jika kamu menghargai dirimu dan berhenti berselingkuh orang juga akan segan padamu."
"Tidak usah dibahas, aku sudah berubah." jawab Aditya memeluk istrinya.
"Kemana Bintang?" tanya Devaly celingukan.
"Paling sudah diajak Kokom. Kita kedalam aku sudah tidak tahan...." Aditya langsung menggendong Devaly ala bridal style dan membawanya ke ranjang. Setelah mengunci pintu Aditya meloloskan semua pakaiannya.
"Aku mencintaimu....."
Kalimat itu terus keluar dari bibir Aditya disela-sela gairahnya. Devaly tidak dikasih kesempatan untuk bernafas. Bibir Aditya menjelajahi setiap inci tubuh Devaly dari atas kebawah.
"Yank kamu seperti Macan lepas, bringas, aku puas..." bisik Devaly.
Entah berapa kali Devaly menjerit puas kala lidah Aditya menjalar kesana kesini, namun lama kelamaan Devaly merasa aneh, kenapa Aditya tidak mencoblos dirinya. Padahal ia sudah pasrah dan sabar menanti.
"Sayank ayolah, aku sudah siap." ucap Devaly *****.
"Maaf sayank, aku tidak bisa." jawab Aditya pelan. Tubuh kekar itu terguling ke samping. Devaly kaget dan duduk. Matanya reflek tertuju kepada batangan Aditya yang letoi. Biasanya benda itu mengacung keras tanpa peduli, tapi saat ini keperkasaannya hilang.
"Tidak sama sekali. Mungkin karena lama tak terpakai jadi begini." ucap Aditya bohong.
Ia ingat tadi malam dengan perkasa menjajal Kemoning. Apa karena ia terlalu bernafsu, sehingga sekarang loyo.
"Sabar, mungkin kamu terlalu lelah. Padahal kemarin bisa tegang." ucap Devaly kecewa.
"Nanti malam aku akan ke dokter. Maafkan aku tidak bisa memuaskanmu."
"Tidak apa-apa aku rasa ada sesuatu yang tersumbat atau pikiran mu lagi stres."
Aditya betul-betul prustasi dengan keadaan ini. Otaknya berpikir penyebab dari ke tidak mampuannya. Apakah ini efek dari ilmu yang akan lenyap. Nanti malam ia harus mencari Kemoning, siapa tahu wanita itu mengetahui obatnya.
"Yank, aku ikut ke dokter ya." ucap Devaly memeluk suaminya, ia kasihan melihat wajahnya yang putus asa.
"Ajak Bintang di rumah, aku ingin sendiri." ucap Aditya menatap langit-langit kamar.
"Aku mengerti, kita mandi dulu."
"Kamu mandi duluan, aku ingin bicara dengan dokter."
Devaly turun dari ranjang menuju kamar mandi. Aditya mengambil ponselnya dan menghubungi Kemoning.
__ADS_1
"Halo, ada apa Tuan?"
"Nanti malam kamu pergi ke Guesthouse, aku mau bicara, jangan sampai ada yang tahu?"
"Baik Tuan." sahut Kemoning pendek. Ia turun dari tempat tidur berjalan ke kamar mandi. Masih terasa sakit dan kebas.
Ada perasaan kesal kepada Aditya, sehabis main kuda lumping, ia langsung di tinggal begitu saja, padahal ia masih tergolek di tempat tidur menahan sakit. Sekarang Aditya memerintahkan ke Guesthouse. Harusnya Aditya bertanya masih sakit, atau sudah makan, karena tidak ada pelayan seharian.
"Kemoning lapar sekali, dari tadi perutnya keroncongan. Ia berharap selesai mandi Aditya akan menyuruh pelayan membawa makanan, tapi laki-laki itu tidak peduli padanya. Tenyata Aditya butuh pelampiasan saja dan ilmunya hilang.
Keluar dari kamar ia kaget melihat Thasy dan Ghina duduk di ruang tamu. Kemoning curiga melihat kedekatan mereka berdua. Ia lalu menghampiri mereka yang serius berbincang bincang.
"Tumben ada tamu, hati-hati Ghina jangan buru-buru percaya dengan Thasy, nanti kamu dimakan olehnya."
"Hahaha...pelakor sudah bangun, yang perlu hati-hati bukan Ghina tapi kamu Kemoning. Sekali mulutku berucap kepada Devaly, kamu akan hancur." sahut Thasy sinis.
"Siapa yang pelakor, aku tidak rendah seperti kalian, kedudukanku sederajat dengan nona Devaly. Dan berhak menendang orang-orang yang membuatku tidak nyaman."
"Cihh...kamu bangga sebagai istri siri??" ejek Thasy membuat Kemoning kaget. Kenapa Thasy tahu, jika Thasy tahu berarti Ghina juga tahu.
"Kau takut kalau aku membuka kelicikanmu kepada Aditya. Orang yang selama ini di percaya sebagai saudara, bisa menipunya mentah-mentah."
"Stop Thasy, apa mau mu?!" Kemoning setengah berteriak. Ia sudah tidak peduli seandainya pelayan mendengar suaranya. Badannya gemetar menahan marah.
"Ternyata kau takut, aku ingin kau menjauhi Aditya, karena dia milik kami." kata Thasy enteng.
Kemoning diam memandang mereka dengan mata merah. Thasy yang ingin membunuh Kemoning karena Iming-iming seratus juta, terus menghina Kemoning sampai wanita itu betul-betul marah.
"Aku akan pergi dari rumah ini, tapi tidak sekarang. Setelah keadaan membaik dan nona bahagia." kata Kemoning jengkel.
"Ghina dari tadi kamu diam saja, katakan kepada temanmu ini apa yang membuat seorang istri berani jadi pembunuh."
Ghina diam saja tidak mau terpancing, ia melihat situasi dan kondisi selanjutnya. Mereka berdua sama-sama bisa saling menjatuhkan, tentu Ghina menunggu yang menang. Siapapun menang Ghina tidak masalah, ia akan ikut serta dengan yang menang.
"Tuan yang meminta aku menjadi istrinya, aku sudah menolak tapi Tuan memaksaku." dalih Kemoning.
"Apa kau berani mempertanggung jawab kan omonganmu. Aku bisa memanggil Tuan dan Devaly sekarang."
"Thasy!! apa maksudmu mengadu domba aku, apakah kau ingin menjadi pahlawan kesiangan?"
"Kau mulai panik Kemoning, terserah kau mau bilang apa, hanya satu tujuan ku saat ini yaitu ingin melihat kau tergeletak mati."
"Kalau itu maumu aku siap nanti malam. Siapa yang tergeletak duluan. Rupanya kau belum tahu bahwa ilmu nenek akulah yang mengambil." sahut Kemoning bangga.
"Nenek sudah meninggal, itu tidak mungkin." kata Thasy menyeringai.
*****
__ADS_1