
Kesibukan terjadi di kontrakan Thasy, pak dukun dengan dua pengawalnya sudah datang. Seorang perempuan setengah baya mulai menaruh sesajen diatas tikar pandan.
"Pak Dukun ada yang kurang?" tanya Mayang mendekati laki-laki tua itu.
"Sudah cukup, saya hanya butuh uang untuk "sari" atau uang ongkos untuk melaksanakan upacara."
Mayang mecolek Thasy dan memberi kode supaya mengeluarkan uang dua ratus ribu untuk sari, dalam hati Thasy jengkel karena ada saja diminta oleh Mayang.
Pak dukun dan pengawalnya serta ibu tua itu duduk memusatkan pikiran. Thasy ikut duduk memperhatikan gerak gerik pak dukun yang tidak masuk akal. Ia terus tertawa ketika pak dukun mulai kesurupan. Ntah roh siapa yang masuk karena mereka memakai bahasa khatulistiwa Thasy tidak mengerti, dia juga tidak mau kepo. Dia hanya perlu mantra pelet bukan yang aneh-aneh.
Setelah lewat Pak dukun normal kembali, ia mengambil sesuatu dan mengujar mantra. Mereka bangun mengelilingi rumahThasy dan Mayang mengikutinya dari belakang. Kadang Thasy geli melihat sikap pak dukun dan ngomong aneh-aneh.
Setelah ada tiga puluh menit pak dukun menyudahi ritualnya dan memberi wejangan kepada Thasy dan Mayang. Thasy hanya manggut-manggut karena tidak mengerti bahasanya.
Thasy menarik nafas lega ketika pak dukun pergi. Ada-ada saja, memang si Mayang kurang di tabok, supaya cepat sadar dari hal-hal negatif.
"Mana mantranya?" tanya Thasy setelah pak dukun pulang.
"Saya kirim ke whatsapp nona, jangan salah pengucapannya, kalau ingin manjur nona setiap hari makan bunga kantil, puasa senin kamis."
"Duuhhh..ribet banget, tidak ada mantra yang lebih mudah."
"Tidak ada nona, kalau mau nona harus beli dua ratus ribu lagi. Harus ada puasa mutih, apakah nona sanggup." Mayang menjelaskan dengan rinci membuat Thasy mengerjitkan alisnya kebingungan. Belum apa-apa dia sudah tak sanggup.
"Bagaimana nona apa sudah mengerti?"
"Sudah, tapi sulit sekali, isi puasa dan baca mantra jam dua belas malam."
"Kalau gampang semua orang ingin memakai mantra untuk menundukan suaminya yang suka selingkuh."
"Dulu kamu pernah membuat Aditya tunduk, bagaimana caramu?"
"Saya baca seratus kali mantranya, puasa sebulan." kata Mayang bohong.
Mayang tertawa dalam hati sudah berhasil menipu Thasy. Biarpun Thasy membaca mantra sejuta kali, Aditya tidak mungkin akan datang. Tapi Thasy nekat membaca mantra karena uang sudah banyak hilang, keinginan mendapat Aditya sangat tinggi.
Sekitar jam sebelas malam Thasy siap-siap merafal mantra, dia ke dapur untuk membuat kopi untuk menemani begadang, konsentrasi Thasy buyar ketika mendengar suara mesum dari kamar Mayang.
Thasy tidak percaya karena Mayang baru ada disini, tidak mungkin Mayang punya pacar secepat itu. Mungkin saja Mayang berubah menjadi Macan dan bergulat dengan Leak lain. pikir Thasy takut.
Perlahan Devaly melangkahkan kakinya ke kamar, ia jadi tidak bisa tidur, bolak balik tidak karuan. Bagaimana kalau ia ke rumah Aditya, siapa tahu Aditya tidur sendirian dan butuh kehangatan.
Tashy turun dari ranjang mengganti baju dan bermake up dengan cantik, setelah itu ia berjalan menuju rumah Aditya. Gardu satpam kosong, tidak ada penjaganya. Suasana sepi mencekam. Thasy melangkahkan kakinya terus kedalam, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara anjing yang melolong. Bulu kuduknya merinding.
"Kresekk...kresekkk....hmmm.. "
Ada suara mencurigakan datangnya dari balik pohon nangka. Thasy baru menyadari kalau rumah besar Aditya kelihatan seram dari luar, pohonnya besar-besar dan tua.
"Siapa itu?" tanya Thasy.
__ADS_1
Matanya awas memandang ke pohon nangka ada makhluk besar berdiri memandangnya. Seketika Thasy berlari terbirit-birit, sampai ia tidak sadar ada pak Made datang dari arah berlawanan.
"Duurrr....." mereka tabrakan dan jatuh berdua bergulingan di trotoar.
"Auuwww......" teriak Thasy kaget dan sakit.
"Maaf nona kemana malam-malam?" tanya pak Made terkejut. Posisinya sekarang berada diatas tubuh Thasy.
"Aku melihat setan dibalik pohon nangka." kata Thasy gemetaran.
"Ya ada di situ." kata pak Made bohong. Ia memeluk tubuh Thasy dan pura-pura takut. Pak Made menekan tubuh Thasy, bibirnya sengaja ditempelkan ke bibir ranum Thasy.
"Brengsek apa yang kamu lakukan?" bentak Thasy meronta dan menolak dada Thasy.
"Saya memberi kekuatan energi plasma ke tubuh nona supaya setan tidak berani dekat dengan nona." bohong pak Made. Dia berdiri dan membantu Thasy berdiri.
"Nona, saya antar pulang ada orang besar mengikuti kita." bisik pak Made pura-pura takut. Thasy langsung memeluk pak Made.
Mereka berjalan saling berpelukan, pak Made lalu komat-kamit seolah-olah mengucapkan mantra. Thasy membiarkan pak Made masuk ke kamarnya.
"Saya akan menemani nona sampai pagi. Biar saya duduk di kursi saja nona tidurlah di ranjang." kata pak Made mengunci pintu.
"Aku takut dan tidak bisa tidur kalau ada Leak. Apakah Leak itu masuk ke rumah ini?"
"Tadi saya tidak menoleh ke belakang, tapi kedengaran ada di pintu gerbang."
"Pak Made temani aku ya?!"
"Aku ganti daster dulu, pak Made keluar dulu." kata Thasy turun dari ranjang.
"Nona matiin saja lampu kamar, supaya saya tidak melihat. Saya juga takut keluar masih ada orang besar itu. Semenjak nona Devaly pulang dari rumah sakit, suasana di rumah tuaò menjadi seram. Hampir setiap hari saya diganggu Leak."
"Jadi anaknya sudah ada di rumah?" tanya Thasy ingin tau.
"Ya nona, makanya banyak Leak datang untuk menjadikan putra Tuan Aditya sebagai tumbal. Saya jadi takut kalau di gardu."
"Kalau begitu kamu boleh setiap malam datang kesini, aku juga takut, nanti aku kasih uang lebih."
"Nona saya pijat kakinya, saya mengerti sedikit-dikit ilmu penyaluran tenaga dalam supaya nona semakin berani."
"Tolong matiin lampunya."
"Tekk!!" kamar menjadi gelap gulita.
Thasy turun dari tempat tidur dan membuka pakaiannya. Dia meraba-raba mencari almari. Setelah membuka almari dia bingung untuk mencari daster, dia tidak hafal dimana Mayang menaruh dasternya.
"Aku tidak bisa melihat dasterku tersimpan dimana? aku tutup pakai selimut saja ya."
"Tidak usah ditutup tidak apa-apa, lampunya saja dimatikan." usul pak Made mulai On. Ia membayangkan tubuh sexy Thasy dan...ahh, pasti maknyuss.
__ADS_1
"Aku sudah di tempat tidur." kata Thasy.
"Oke, saya kesana." kata pak Made meraba-raba. Tangan pak Made mulai memijat atau lebih cocok dibilang mengelus kaki Thasy. Semakin lama tangan pak Made semakin jail. Ia sudah berani menyentuh lembah dan gunung Thasy. Wanita itu pura-pura tidur dan menikmati.
Pak Made yang sudah beristri sudah tahu titik-titik yang membuat wanita liar dan ketagihan.
"Ahh..ohhh...lanjut pak Made."
Pak Made melepaskan semua pakaiannya dan menindih tubuh Thasy. Tidak pernah ia membayangkan akan mendapat surga di s3l4ngk4ng4n Thasy. Bahagia itu sederhana hanya dengan membuat Thasy melenguh pak Made sudah bahagia.
Begitulah petualangan pak Made malam ini. Ia merasa kebahagiaan yang amat sangat. Seumur-umur ia belum pernah merasakan bermain dengan wanita bule yang berkelas. Sangat liar dan kuat.
Pukul. 04.15 dini hari pak Made baru berani pulang. Thasy sudah tidur nyenyak, pak Made meninggalkannya begitu saja dan berdoa semoga permainan mesum mereka berlanjut.
Begitulah kehidupan Thasy dan Mayang yang saling memanfaatkan, diluar terlihat baik dan akur, di dalam hati mereka busuk karena ada persaingan untuk mendapatkan simpati Aditya.
Tapi dimanakah laki-laki itu sekarang? Aditya sedang berbahagia bersama putranya, sudah lahir pewaris dari The Queen, seorang putra yang sangat ganteng percampuran dari wajah Devaly yang cantik dan Aditya yang macho. Namanya Bintang Samudra.
"Trimakasih sayank telah memberikan aku seorang putra yang ganteng." kata Aditya tatkala mereka sudah berada di rumah tua.
Seperti biasa tidak ada jawaban ataupun senyuman yang keluar dari bibir Devaly. Hati itu sudah membeku, ia merasa kehidupannya berada dititik yang terendah.
"Sayank, sudah seminggu kamu berada di rumah, aku sedih kalau kamu terus membisu. Aku mengaku salah, lebih baik kamu memukul ku daripada kamu mendiamkan diriku."
"Maaf Tuan biarkan nona istirahat, semua ada proses. Tuan kira menyembuhkan sakit hati seperti membalikan telapak tangan." kata Kokom menohok. Ia memberi kode supaya Aditya mengikutinya keluar.
"Aku sudah minta maaf tidak mengulanginya lagi, waktu itu aku khilaf." kata Aditya setelah mereka duduk di luar kamar. Disini berjaga lima orang scurity setiap malam.
"Maaf Tuan, saat ini kesehatan nona Devaly belum pulih betul, tolong jangan usik nona dengan kata-kata yang membuatnya kembali sedih. Biarkan dulu nona istirahat."
"Aku sedih kalau istriku tidak memberi maaf, aku ingin seperti dulu, kembali hidup bahagia."
"Tuan, nona pasti sudah memaafkan, kalau tidak nona tidak akan mau kembali ke rumah ini, sabarlah. Tunjukan sikap baik Tuan jika ingin dimaafkan, yang penting jangan lagi berselingkuh."
"Tidak mungkin aku mengulanginya lagi." kata Aditya mantap.
"Syukurlah Tuan sudah sadar, saya yakin nona Devaly pasti akan memaafkan Tuan. Dia adakah wanita baik dan pemanfaatan, jika dia sekarang berubah sikap karena nona terlalu sakit."
Aditya memaklumi kalau istrinya ngambek, ia cuma khawatir kalau Devaly pergi membawa putranya keluar negeri. Perasaannya selalu takut, Ia tahu kalau Devaly orangnya nekat dan tidak takut miskin. Devaly percaya dirinya terlalu tinggi. Karena punya prinsip, ia bisa bekerja lagi dan hidup layak waupun tanpa suami disampingnya.
Aditya hanya bisa menunggu kemukjizatan yang bisa membuat hati Devaly luluh kembali dan mereka bisa bersatu kembali.
"Bos tidak ke kantor? badan rasanya lemas." keluh David duduk di sebelah Aditya.
"Aku mau rehat untuk beberapa hari."
"Kenapa bayinya tiap malam menangis, bos harus tanya kepada orang pintar. Sudah tidak wajar."
"Maunya aku menyuruh Kemoning datang dan menemani Devaly dirumah. Aku merasa ada aura Leak yang tiap malam datang."
__ADS_1
"Bagus bos sebelum terlambat." kata David.
*****