
Mulai ada perasaan jealous kepada Devaly dan ingin memiliki Aditya. Sebenarnya ia dari dulu sudah senang kepada pria itu, karena Aditya tidak kelihatan seperti orang kaya dan sangat sederhana, apalagi hanya seorang sopir Travel. Makanya ia membiarkan Devaly mendekati Aditya.
Kini ia baru menyadari ternyata Aditya tajir melintir, kegantengannya sanggup membuat Thasy mengkhayal setiap hari. Pucuk dicinta ulam tiba, Aditya butuh Sekretaris dan Thasy butuh permulaan untuk merebut Aditya. Klop sudah, tinggal rayuan pulau kelapa beserta pakaian yang seronok.
"Hemm...aku akan minta kapal pesiar atau private jet." celetuk Tashy membuat mereka berdua menoleh. Devaly tertawa melihat Thasy.
"Rupanya ada tukang intip. Bagaimana nona Thasy, apakah anda sudah siap berangkat?" tanya Devaly mendekati Thasy.
"Aku nebeng dengan Aditya, kamu jangan cemburu. Suamimu dalam pengawasanku. Jika ada client yang mencoba menggoda, aku duluan pasang badan."
Aditya memandang kurang senang kepada Thasy. Kenapa Thasy tidak mau berangkat sendiri, ia malu kalau karyawan bergosip.
"Hahaha...Thasy ada-ada saja, wanita biasa begitu kalau kita ada uang, jika tidak punya uang tidak satupun wanita mau menggoda."
"Bagus Thasy, terus awasi dia, kalau dia selingkuh aku akan lenyap dari hadapannya."
"Jika kamu lenyap banyak cewek yang antre, apakah kamu rela suami mu jatuh kepelukan wanita lain?"
"Tidak rela, tapi jika suamiku menginginkan wanita lain aku bisa apa..." Devaly jadi sedih.
"Kau satu-satunya wanita yang aku cintai, kecuali ada orang jahat yang menjebakku, baru aku tergoda. Semoga tidak ada cobaan dan godaan dalam perkawinan kita. Jangan sampai kamu pergi dariku, aku bisa mati." ucap Aditya memeluk istrinya.
"Hee..sudah siang ayo kita berangkat." ajak Thasy. Aditya melihat jam tangannya, sudah jam sembilan.
"Sayank aku berangkat, mau nitip apa?" Aditya mengecup bibir Devaly.
"Aku cuma butuh kamu saja, kembalilah sebagaimana kamu berangkat, karena aku tidak ingin lipstik cewek lain menempel di bajumu atau bau parfum lain melekat di badanmu."
"Hahaha....sebagai istri jangan berharap dia pulang selalu utuh, karena laki-laki cepat bosan dengan apa yang istrinya suguhkan setiap hari." kata Thasy membuat Devaly berkacak pinggang.
"Benar katamu Thasy, perempuan juga begitu, jika kenyamanan tidak di dapat dari suami, istri akan berubah menjadi Leak dan makan jantung selingkuhan suaminya."
"Hahaha....istriku memang genius." puji Aditya tertawa ngakak.
Semenjak Thasy bekerja di kantor Aditya mereka semakin akrab bertiga. Biasanya Thasy makan malam di Kastil, kini semakin sering datang ketempat Devaly. Kalau dulu Thasy masih segan mengganggu Devaly jika Aditya ada di rumah, kini dia cuek.
Perubahan ini membuat pelayan Devaly yang bernama Komariah atau sering dipanggil Kokom, memberanikan diri bertanya kepada Devaly. Pelayan Devaly ada banyak, hanya Kokom saja yang fasih berbahasa Inggris. Dan kebetulan Devaly sangat suka dengan Kokom, semua keperluan rumah tangga Kokom yang mengatur, begitu juga keperluan Devaly.
"Nyonya Devaly, saya mengganggu sebentar. Saya senang melihat nona selalu gembira dan tidak pernah berasumsi negatif kepada orang lain. Sebenarnya punya sifat seperti nona dunia pasti aman." ucap Kokom duduk di sofa berbatas meja dengan Devaly.
"Ada apa Kokom, ada gosip apa lagi?"
__ADS_1
Devaly bertanya sambil tersenyum. Ia sudah merasa kedatangan Kokom pasti membawa gosip. Devaly menaruh ponselnya senyumnya mengembang melihat tingkah Kokom. Wanita setengah tua itu selalu membuatnya tertawa. Kecurigaannya terlalu berlebihan kepada orang lain. Hampir semua penghuni rumah pernah di gosipkan.
"Nona Devaly cantik, apakah mata nona sudah rabun sehingga tidak punya feeling kepada perubahan sikap nona Thasy dan Tuan Aditya?"
"Astaga, maksudmu apa. Sekarang sasaran tembakmu adalah suami dan temanku, apa sudah habis penghuni rumah kamu gosipin, sehingga kamu berani dipecat dari sini?" sahut Devaly pura-pura marah.
"Yaelah...teganya nona memecat paparazzi sepintar saya. Nona boleh tidak percaya dengan penglihatan saya, insting saya tajam, tolong mulai sekarang perhatikan tingkah laku nona Thasy. Semenjak mendapat restu bekerja dari nona, wanita itu semakin berani." kata Kokom berjeda. Devaly hanya tersenyum melihat Kokom berkata berapi-api.
"Ini mutlak kesalahan nona, dulu saya pernah peringatkan, jangan mengajak teman wanita atau adik wanita disatu rumah, pamali. Sebab sering terjadi perselingkuhan."
"Jadi menurutmu suamiku selingkuh?"
"Pasti akan selingkuh karena nona memberi lampu hijau."
Senyum Devaly menghilang, ia masih ragu akan omongan Kokom. Tidak mungkin suami tercintanya tega berbuat itu. Apalagi Thasy, tidak mungkinlah. Ia lebih cantik dan sexy dari Thasy, Adityalah yang pertama kali membuka segelnya. Dia laki-laki pertama menidurinya.
"Kokom, aku sering pacaran tapi Tuan Aditya yang pertama kali meniduriku. Selama ini Tuan tidak pernah neko-neko, jadi aku berani merekomendasikan temanku. Aku tidak peka terhadap tingkah Thasy, jika kamu berpikir mereka berdua akan mengkhianatiku rasanya itu mustahil."
"Saya tidak minta nona untuk percaya, saya hanya ingin nona waspada dan menyelidiki, sebelum nasi menjadi bubur."
"Oke Kokom, trimakasih banyak atas infonya. Aku mohon jangan bicara kepada orang lain karena Tuan bisa memecatmu."
"Saya mengerti nona, lagi seminggu nona akan melahirkan, nona tinggal menghitung hari. Setelah melahirkan, hampir satu bulan lebih nona tidak boleh berhubungan badan dengan Tuan, itu namanya masa nifas. Untuk itu waspadalah. Bagaimana kalau besok nona membawa makan siang ke kantor Tuan. Bikin kejutan, asal nona tidak duluan terkejut." usul Kokom.
"Nona jangan nervous duluan, ini baru perkiraan. Saya hanya bicara sesuai insting saja. Jika benar, rubah cara berpikir nona. Zaman sekarang tidak ada orang betul-betul baik dan tulus. Orang terdekat biasanya yang sering menyakiti hati kita."
Sepeninggal Kokom, Devaly termenung sendiri. Omongan Kokom membuat pikiran Devaly terkontaminasi, rasanya tidak sabar untuk menyelidiki tingkah laku suaminya dan Thasy.
Jika betul mereka berselingkuh, apa yang harus dilakukan? pulang ke Los Angeles tidak mungkin, karena beberapa hari lagi ia akan melahirkan. Apakah ia harus menjauh dari sini dan menetap di suatu tempat? Devaly pusing memikirkan sikap yang harus ia tunjukan kepada suami dan temannya.
Pukul 17.30 Devaly sudah rapi menunggu suami yang pulang. Biasanya Aditya sudah di rumah, ini tumben terlambat datang sampai satu jam. Perasaan Devaly mulai tidak enak. Ia mengambil ponselnya vidio call Aditya.
"Hallo sayank ada apa?" wajah Aditya tersenyum di layar ponsel. Devaly lega, ia merasa bersalah mencurigai suaminya.
"Aku iseng, kangen dengan suamiku."
"Sudah siap-siap pulang, tunggu ya sayank, kamu mau nitip apa?"
"Kamu pulang saja aku sudah senang."
"Oke, aku bersiap pulang Love you.."
__ADS_1
"Love you too....." terdengar suara Thasy masuk keponsel. Aditya cepat memutuskan hubungan sepihak. Dada Devaly bergemuruh, kenapa Thasy menjawab "Love you too" Apakah dia bercanda atau bagaimana.
Aagghhhh....Devaly menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Ada rasa sakit menusuk di dadanya. Ia menjadi gelisah, inilah yang dinamakan cemburu. bathinnya.
Devaly keluar dari kamar berjalan menuju ruang depan. Dari sini ia akan melihat gerak gerik Thasy dan suaminya jika pulang dari kantor. Seketika dadanya berdebar, ia merasa deg-degan tidak karuan.
Di kantor, Aditya cepat mematikan ponselnya ketika Thasy nyeletuk bilang "Love you too" ia berharap supaya Devaly tidak mendengar. Duhh....kenapa Thasy ceroboh banget, sudah tahu kalau Devaly cerdas.
"Mulutmu dijaga Thasy, kenapa kamu yang menjawab, aku sedang bicara dengan istriku, kalau sampai dia tahu kebejatanmu habislah hidupmu." Aditya marah kepada Thasy yang baru keluar dari kamar mandi.
Tadi siang ketika Aditya dan Thasy habis makan siang, tiba-tiba ia merasa pening dan mengantuk. Ntah apa yang terjadi, ketika bangun tubuhnya dan tubuh Thasy dalam keadaan polos. Thasy menuduh Aditya yang memperkosanya, sedangkan Aditya merasa Thasy lah yang berulah.
"Belum ada sebulan kamu kerja sudah membuat hidupku kacau." kata Aditya kesal.
"Aku tidak tahu kamu bicara dengan istrimu, aku pikir kamu bicara sama aku." kilah Thasy, padahal ia sudah tahu bahwa ada telepon dari Devaly.
"Ingat Thasy, aku sangat mencintai Devaly. Berhentilah menggodaku, aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku telah berjanji setia padanya, hubungan kita salah."
"Kamu duluan memperkosaku, kalau tidak, mana berani aku mengkhianati temanku. Aku berusaha akan menutup rapat-rapat kejadian itu dari Devaly.
"Bagaimana pun keadaan kita saat ini, aku tetap merasa bersalah kepada istriku."
"Aditya jangan lebay, hampir sembilan puluh persen suami berselingkuh, itu hal yang wajar. Apa kamu tidak bosan dengan satu wanita, Devaly sering cerita padaku dia suka bosan denganmu, dia malah ingin mencari bule yang rudalnya lebih dasyat darimu." Thasy mulai menghasut Aditya.
"Tidak mungkin Dèvaly begitu, dia wanita sempurna bagiku."
"Elehhh, dasar munafik, kenapa disaat kamu menerima keliaranku mulutmu terus berkicau bilang Love you?"
"Sudahlah, lupakan saja aku takut Devaly tahu hubungan kita."
"Ini baru permulaan sayank, kamu tidak akan bisa menyepelekan goyangan ku. Tidak berapa lama istrimu akan melahirkan, disitu kamu akan butuh aku, karena istrimu tidak bisa melayanimu berbulan bulan, apa kamu akan cari keluar yang penyakitan atau aku yang gratisan."
Aditya terdiam, ia mencerna omongan Thasy asal Devaly tidak tahu kenapa tidak. Ia juga butuh penyaluran, bukan ia berarti cinta dengan Thasy, tidak. Semua yang ia lakukan hanya pelampiasan yang ia tidak dapat dari Devaly.
"Sayank, jangan ruwet berpikir. Kita berbuat atas suka sama suka, tidak ada tuntutan dari aku supaya kamu mencintaiku. Aku kesepian sekali, setiap malam aku bersedih mengingat Rakhes, aku butuh lelaki untuk memuaskan diriku. Sudah lama aku menunggu saat ini, kadang aku iri melihat Devaly jika berduaan denganmu. Jangan marah denganku, kalau sekarang aku bisa denganmu, bagiku itu anugerah yang tidak ternilai bagiku." kata Thasy duduk dipangkuan Aditya. Ciumannya mulai mendarat di bibir laki-laki itu.
"Sayank...kau laki-laki pujaanku." bisik Thasy mesra.
"Sudahlah, kita pulang sekarang." kata Aditya melepaskan pelukan Thasy.
"Maafkan aku sayank, aku bisa mengatasi semua ini. Lihat saja nanti." kata Thasy lalu berdiri. Jauh didalam lubuk hatinya tersusun rencana untuk menyingkirkan Devaly.
__ADS_1
****
Hallo teman-teman jumpa lagi dengan Leak season II. mampir ya, jangan lupa like, gift, favorit dan kasi bintang lima. Love you.