LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 8


__ADS_3

Pucuk dicinta ulam pun tiba sebuah pepatah yang cocok dengan keberadaan Thasy sekarang. Ia sudah putus asa untuk mencari pelayan yang bisa bahasa inggris dan bisa diajak berbuat jahat.


Iblis cepat tanggap dengan kebutuhan orang jahat seperti Thasy. Kini Thasy bukanlah teman Devaly yang berpikir luas dan selalu berbuat baik, Thasy sudah kerasukan setan sifat aslinya keluar tatkala harga dirinya diinjak oleh Aditya. Ia murka dan sangat marah, tidak dapat rumah dan mobil. Hanya dapat uang untuk kontrak rumah


Keinginannya satu yaitu menaklukkan Aditya dan mengambil alih hak Devaly, bila perlu dia akan melenyapkan Devaly dengan anaknya. Sekarang masih menunggu perkembangan selanjutnya dari sikap Devaly setelah tahu suaminya selingkuh. Jika Devaly minta cerai, Thasy akan lebih gampang masuk, tapi bila tidak,Thasy akan mempergunakan cara lain.


Tidak pernah terbesit dalam pikiran Thasy kalau Mayang akan menjadi pelayannya.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu. Gimana khabarmu, kamu kelihatan semakin bahenol dan tambah seronok." kata Thasy mengajak Mayang masuk kedalam.


"Aku baik-baik saja dan masih seperti dulu." jawab Mayang kaget bertemu dengan Thasy salah satu dari orang yang tidak dia sukai.


"Syukurlah kamu dalam keadaan baik, aku kira kamu sudah mati setelah pergi dari Bungalow."


"Aku panjang umur dan berkecukupan." Mayang mulai sombong, padahal hidupnya dengan neneknya kembang kempis.


Mayang sudah melahirkan seorang putra anaknya bernama Gusdek. Itulah yang membuat Mayang mencari kerja menjadi pelayan. Dia sengaja kerja sama bule supaya uangnya lebih banyak.


"Ini rumahku dan disini aku kontrak lima tahun. Aku butuh pelayan, kebetulan kamu keterima, semoga kamu betah."


"Kamu tidak pulang keluar negeri, aku tahu Rakhes sudah meninggal."


"Kenapa kamu tahu, waktu itu kamu jadi buronan polisi karena memakan Basabi."


"Tidak ada bukti, ilmu Leak tidak bisa dijerat hukum. Aku sudah sering makan orang tapi tidak pernah di penjara."


"Mayang jangan menakutiku, apakah itu benar. Nanti kalau kamu lapar kamu makan aku. iihh..ngeri."


"Becanda nona supaya tidak kaku." kilah Mayang tersenyum miring.


"Nona kerja dimana bisa ngontrak rumah bagus begini, pasti mahal ya?"


"Hanya tujuh puluh lima juta setahun, tidak begitu mahal. Maklum hanya dua kamar. Pacarku yang membiayai semuanya. Disini aku tidak bisa kerja, tapi kalau di negaraku aku bisa jadi model."


"Buat apa kerja kalau sudah punya pacar tajir tinggal ng4ngk4ng uang keluar, aku juga ingin begitu."


"Nanti aku cariin pacar yang kaya, kalau malam kita pergi ke Bar mencari bule."


"Mau nona, aku lama nganggur. Aku belum pernah hidup di kota, pingin tahu suasana malam di kota."


"Rapiin pakaianku di dalam kamar, setelah itu kita makan, aku pesan makanan lewat online saja, ribet kalau masak."


"Siap nona, tapi sebelumnya saya pinjam uangnya lima ratus ribu untuk keluarga di rumah."


"Belum kerja sudah minta uang, apa kamu sudah berkeluarga?"


"Belum, tapi aku punya bayi dari Gusde. Aku perlu susu kalau meninggalkannya." Thasy terpaksa cerita sudah punya anak.


"Aku ingat sekarang, menurut Kemoning kamu berubah menjadi Macan dan memakan Gusde sampai mati. Dulu waktu pembersihan di kamarmu banyak ditemukan tulang-tulang manusia, kamarmu bau dan banyak belatung, akhirnya bibi menyewa tukang bersih-bersih dari dinas kesehatan untuk menyemprotkan disinfektan di setiap kamar pelayan. Hampir semua kamar bau tidak sedap dan bangkai kodok atau sampah-sampah kuburan ada di kamar. Aku jijik sekali waktu itu."


"Jangan ingat masa itu, hidupku semakin kelam ketika polisi menangkapku."

__ADS_1


"Kamu sempat ditangkap? kirain bisa lolos."


"Aku hamil besar waktu itu, polisi tiba-tiba datang menggrebeg, tidak ada tuntutan dan bukti yang memberatkan. Saksi tidak melihat ku secara real, mereka hanya melihat Macan dan berkata bahwa binatang itu adalah Leak. Penjelmaan dari Mayang. Belum ada pasal yang bisa menjeratku."


"Tapi Macan itu kamu kan?" tanya Thasy merinding. Ia menatap wanita di depannya mencari kebenaran disitu.


"Apa nona akan memecatku jika aku mengatakan kebenaran?"


"Tidak, jika kamu Macan atau tikus aku tidak peduli, asal kamu jangan memakanku. Yang aku ingin tahu darimu adalah, bagaimana cara menundukan seorang lelaki dengan mantra-mantra Leak."


"Jika orangnya bersalah pada nona baru ilmu nona bisa mencelakainya, tapi kalau orang itu tidak nona kenal atau tidak bersalah tidak bisa dicelakai. Takutnya orang yang disakiti mencari dukun sakti untuk melawan nona, bisa nona celaka."


"Aku kira bisa sembarang orang dikenain, ada aturannya juga."


"Kalau tidak ada aturannya aku santet anak pengusaha supaya menikah denganku. Hidup itu ada aturannya kalau tidak, kita jadi barbar kembali ke zaman purba. Aku banyak belajar dari kegagalan dan introspeksi diri."


"Bicara mu berbeda, sekarang agak bijak dan berkualitas. Gampang mengucapkan teori hidup, tapi kenyataannya berbeda, keinginan hidup lebih kaya selalu ada, terkadang uang yang membuat kita menjadi bobrok."


"Orang akan berubah kalau sudah banyak mengalami benturan


"Kamu tahu Mayang, aku kadang ingin bisa ngeleak supaya bisa membalas sakit hatiku dari Devaly dan semua pelayan disana."


"Jadi Aditya ada disini? aku ingin melihatnya." Mata Mayang langsung berbinar.


"Aditya adalah selingkuhanku, dia membiayai kehidupanku. Tapi dia kini memilih istrinya, aku dicampakan. Apalagi Devaly sedang melahirkan, Aditya tidak pernah kelihatan di kantor atau di luar."


"Jadi nona pernah tidur dengannya? aku jadi cemburu. Aku juga dendam sama Devaly, ingin sekali menghabisi wanita itu yang tidak tahu diri."


"Waduhh...dia sudah melahirkan? bayi itu akan menjadi santapan Leak, dia putra dari golongan Brahmana yang darahnya berbau wangi. Para Leak akan berebut mencarinya, sampai berumur satu bulan tujuh hari."


"Segampang itu, bayi itu punya Tuhan seperti kita ini, kalau belum takdir tidak mungkin meninggal. Aku tidak percaya padamu atau kepada Leak lain yang mengatakan sanggup membunuh putra Devaly, bullshit!!"


"Nona jangan meremehkan saya, setelah nona tahu dimana anak itu berada saya akan mencarinya."


"Wahh..ini baru teman sejati. Aku akan mencari informasi keberadaan anak itu." kata Thasy gembira. Cepat-cepat dia membuka ponselnya dan menelpon Surti.


"Anda telah diblokir." itu bunyi notif, Surti, Sri, Kokom sampai Aditya. Mereka sengaja atau dengan kemauan sendiri telah memutuskan hubungan dengan Thasy.


"Mereka serempak memblokir nomor ku, kurang ajar. Pasti Devaly yang rnenyuruh otaknya Devaly, aku tahu itu."


"Hahaha....biarin saja nona, aku dulu juga se kesal sama Devaly. Lama tidak bertemu akhirnya perasaan ku biasa lagi. Aku rasa Devaly tidak berbahaya dan tidak sebagai ancaman, Aditya kuncinya. Sebagai pelakor tidak perlu memikirkan istrinya, bagaimana cara kita menjerat suaminya."


"Elehhh...kamu banyak bacot, aku sendiri yang diusir oleh Devaly saat ketangkap basah selingkuh. Aditya tidak membelaku."


"Semua istri akan bersikap begitu untung nona tidak dibacok oleh Devaly, bisa-bisanya nona sampai ketahuan."


"Makanya aku minta mantra sakti untuk menundukan Aditya."


"Tidak janji nona, masalahnya mantranya sudah kedaluarsa."


"Kamu banyak alasan, nanti aku kasi uang untuk setiap mantra. Aku sangat butuh mantra itu."

__ADS_1


"Nona biasanya mantra ini saya pakai dan selalu berhasil. Jika nanti tidak menpan saya tidak tanggung jawab, tapi bayar dulu nona."


"Dasar mata duitan." ketus Thasy sambil membuka dompet dan mengeluarkan uang dua ratus ribu permantra.


"Nona saya ke dalam dulu merapikan pakaian setelah selesai baru saya kirim mantra."


"Silahkan, aku juga mau istirahat, nanti ingat rapiin pakaianku." kata Thasy berdiri. Ia lalu menuju kamarnya.


Mayang menyeringai melihat Thasy. Ia lalu beranjak ke kamar dan membuka ponselnya dan bertanya kepada mbah google mantra pelet. Tidak ada hitungan menit puluhan mantra pelet keluar.


"Aku akan memilih bahasa yang sulit dan berisi sesajen yang rumit." gumam Mayang tertawa dalam hati.


Kemudian ia menelpon seorang dukun yang bisa membuat sesajen, supaya rejeki lancar dan rumah yang baru ditempati tidak membawa sial.


"Halo pak dukun, saya Mayang dari kota ingin memesan Banten untuk menyelamatkan ekonomi kami. sudah beberapa bulan kami hidup susah, tidak punya uang."


"Halo Mayang, senang bicara denganmu. Dari bicaramu saya sudah tahu bahwa kamu sekarang dalam kesulitan uang. Walaupun ada tetap kurang setiap hari. Kamu tidak salah memilih dukun, saya orang pintar yang bisa berhubungan dengan dimensi lain yang kira-kira menghambat jalannya rejeki mu." kata dukun itu diseberang sana.


"Pak yang akan memesan sesajen bukan saya, tapi teman saya, saya hanya mediator."


"Owh ..calo? kalau begitu saya mau bicara dengan yang memesan."


"Berapa harga sesajennya? ada dua juta kalau ada saya minta lima ratus ribu sebagai upah."


"Beres, kapan mau pesan?"


"Besok pak, tolong nomor rekeningnya."


"Oke, saya akan datang jam delapan pagi sebelum matahari tegak diatas kepala. Kirim alamat rumahnya."


"Ya pak dukun trimakasih."


Setelah dikirimi alamat Mayang menutup ponselnya. Hatinya lega sudah dapat untung, ia akan mengatakan kepada nona Thasy bahwa ia sudah dapat dukun.


"Tookk...tookk...nona Thasy ini saya."


"Ada apa, baru mau tidur." ketus Thasy.


"Nona ini hal penting, tadi ada dukun mau menolong nona untuk menyantet Aditya dan mencelakai Devaly. Saya sudah memesan sesajan dengan harga dua juta."


"Koq mahal sekali, tidak bisa kurang?"


"Orang lain diminta lima juta, kita hanya dua juta, karena saya langganan. Dukun ini sakti sekali sudah kenal dengan saya. Tidak usah khawatir pasti nona puas sama hasilnya. jika tidak mempan berarti Aditya memakai dukun juga yang lebih mahal dan sakti."


"Besok-besok kalau mau melakukan sesuatu bicara, masalahnya uangku tidak banyak, habis dipakai ngontrak rumah."


"Tadi saya memberanikan diri karena hal ini sangat mendesak, kalau menunggu nona, Aditya akan duluan memasang tolak bslak."


"Terserah kamu, aku nurut saja semoga angin sorga berpihak pada kita." ucap Thasy berharap.


*****

__ADS_1


__ADS_2