LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Ba.13


__ADS_3

Perjalanan Aditya memburu Mayang tidak masuk akal. Sesakti apakah Aditya, sampai berani bersentuhan dengan Leak? Devaly mencibir mendengar pernyataan Aditya yang sering diucapkan.


"Aku tidak pernah melihat Aditya, walaupun di ruang makan." kata Devaly kepada Kokom suatu hari.


"Nona kangen dengan Tuan?" tanya Kokom tersenyum tipis.


"Aku tidak tahu apakah masih mencintainya, aku sekedar menanyakan. Jika itu terjadi padamu, aku juga akan bertanya begitu."


"Saya hanya ingin tahu, apakah cinta itu bisa hilang dalam sekejap?"


"Tergantung orangnya juga, ada wanita bisa bertahan walaupun memergoki suaminya gelut dengan wanita lain. Kalau aku pribadi, sulit menerimanya. Setiap hari terbayang bercak merah dilehernya, kalau aku lanjutkan menjadi perkawinan Toxic.


"Tuan sudah minta maaf dia mengatakan khilaf pada waktu itu."


"Dia kira aku bayi tidak mengerti arti khilaf, kalau dia berhubungan satu kali mungkin aku percaya. Ini sudah berapa kali, yang jelas manusia model Aditya tidak tipe ku."


"Kasihan anaknya nona tidak punya ayah."


"Lebay, anakku masih punya ayah, tapi ayahnya brengsek, untuk itu aku pisahkan anakku dari hal-hal yang berbau jahat."


"Semoga saja nona bisa melewati cobaan ini, nona harus tegar dan kuat, supaya laki-laki tidak seenaknya mempermainkan kaum wanita."


"Tuan sudah berubah, dia mau nona berlibur ke luar negeri setelah dia bisa menemukan Mayang."


"Kom, kamu percaya omongan Tuan, aku tidak percaya karena dia tidak mungkin nemuin Mayang. Apapun Tuan katakan itu bukan urusanku, aku capek."


"Tapi tadi malam Mayang datang sendirian, terus Tuan menyuruh Kemoning dan Ghina yang ngarep."


"Yang benar Kom, dia berbentuk apa datangnya? bentuk Leak?"


"Kalau ingin tahu tunggu nanti malam, dia mau datang lagi." kata Kokom serius.


Devaly termenung memikirkan apa yang bakal terjadi. Kenapa suaminya menanggapi Mayang atau hal-hal kecil yang tidak berguna. Cukup Kemoning dan Ghina saja.


Hari ini adalah hari ke lima belas Devaly musuhan dengan suaminya, ia membiarkan suaminya tidur sendiri di kamarnya, sarapan sendiri, Devaly cuek mengurus anaknya dan dirinya sendiri. Kokom membangunkannya, wanita itu menangis karena temannya sakit keras.


"Tolong teman saya nona, penyakitnya aneh sekali. Tadi malam sekitar jam setengah satu, Darmi berteriak-teriak. Kami semua ke kamarnya."


"Maksudmu apa Kom, aku tidak mengerti. Mana mungkin aku bisa menolongnya."


"Tapi dua orang teman nona itu bisa menolong Darmi."


"Kemoning dan Ghina maksudmu?


"Ya nona."


Devaly cepat menghubungi Kemoning dan mengatakan apa yang terjadi pada Darmi.


"Tunggu nona saya segera datang." Jawab Kemoning.


"Kita bawa Darmi ke Bale delod, disana ada perlengkapan untuk obat."


"Kom apakah aku boleh ikut?"


"Ikutlah nona, sudah ada baby sitter yang mengajak bayinya."


Mereka semua menuju ke Bale delod, pak Made dan pak Ketut menggotong Darmi yang sekarang sedang lemas habis kesurupan.


"Panggil dokter Ngurah." perintah Devaly.

__ADS_1


"Tidak perlu nona, dia kena pelet itu." Semua menoleh ke arah datangnya suara. Kemoning menyeruak kerumunan orang dan menuju ke Darmi yang tergeletak.


Tiba-tiba saja Darmi mengamuk, menendang orang-orang yang memegangnya. Kemoning memusatkan pikiran berkomunikasi dengan setan yang berada di tubuh Darmi.


"Siapa kau!!" bentak Kemoning membuat Darmi marah. Dia tidak mau menjawab, setan itu tertawa ngakak.


"Kalau kamu tidak mau menjawab rasain ini!" Kemoning menekan jempol kaki Darmi dengan merica, Darmi berteriak-teriak dan menangis.


"Siapa kau!!"


"Aku dukun dari balik gunung disuruh oleh Mayang untuk membunuh Devaly."


"Kau bodoh, kami juga bisa membunuhmu jika kau kembali datang."


Kemoning kembali memberi merica dan berteriak lantang supaya setan itu keluar dari tubuh Darmi, kalau tidak mau setan itu akan disiksa dengan api. Terjadi tarik menarik dan perang bathin, keringat membasahi tubuh Kemoning. Akhirnya setan yang berada di tubuh Darmi mau pergi.


Keadaan mulai hening, Devaly baru bisa bernafas lega. Semua pelayan memberi jempol kepada Kemoning karena berhasil mengusir Leak yang bercokol di tubuh Darmi.


"Trimakasih Kemoning, apa yang harus kami kerjakan supaya ilmu Leak tidak mempan di tubuh kami." Kokom bertanya mewakili semua pelayan disitu.


"Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak berbuat salah atau mencari-cari kesalahan orang lain. Jauhkan rasa iri dan dengki."


Kemoning memberi sedikit pencerahan agama kepada semua pelayan dan mengajak mereka untk sembahyang bersama.


"Ada apa ini?" Ghina baru saja datang dari kerja melihat orang berkerimun ia merasa heran.


"Hee ada nona Devaly disini, siapa mengajak Bintang?"


"Ada baby sitter." kata Devaly melirik Aditya yang berada di belakang Ghina.


"Maaf nona tadi saya nunut Tuan, saya takut keburu malam."


"Aku mengajaknya pulang bersama daripada menunggu ojol lama." kata Aditya mendekati istrinya.


"Tidak apa-apa." sahut Devaly menutupi rasa kesalnya, ia beranjak dari situ setelah melihat Darmi sadar dan memberi pesan kepada pelayan, supaya berhati-hati karena Mayang masih dendam padanya.


"Yank tunggu...." Aditya mengekor Devaly lalu berhenti.


"Mandi, ganti baju baru boleh melihat anaknya." kata Devaly tegas.


Aditya terpaksa masuk ke kamarnya untuk mandi. Ia merasa Devaly terlalu sensi sampai menegur Ghina walaupun samar tapi orang juga tahu kalau Devaly tidak suka suaminya dekat dengan Ghina.


Sampai di kamar Devaly langsung menuju sofa, ia membiarkan baby sitternya ketiduran di tempat mainan. Memang ada kasur busa khusus untuk baby sitter tidur-tiduran.


"Tookk...tookk- tookk.."


"Permisi nona saya mengganggu sebentar." Kemoning masuk bersama Ghina.


"Ada apa ini sudah rapi."


"Nona saya minta maaf karena nunut Tuan di mobil tadi." tiba-tiba Ghina bersimpuh di lantai. Devaly kaget.


"Ghina tidak usah begitu, bangun duduk di sofa." Ghina akhirnya mau duduk di sofa.


"Ghina aku orangnya suka bicara di depan, apa yang boleh dan tidak. Aku tidak melarang mu ikut Tuan, tapi Tuan tidak bersama sopir, kalau ada sopir mungkin bisa ditolerir. Kita hidup dikelilingi orang dan Tuan adalah owner perusahan, jadi kalau Ghina berdua ďi mobil dengan Tuan gosip akan menyebar di kantor." jelas Devaly supaya Ghina tidak tersinggung.


"Maaf saya nona, Tuan yang memanggil saya karena lama nunggu ojol. Tadinya saya sudah menolak nona."


"Tuan memang dermawan, besok-besok jangan mau ya. Kasihan Ghina nanti digosipin di kantor."

__ADS_1


"Baik nona, saya akan ingat itu."


"Nona Devaly saya besok izin seharian untuk ke salon mengantar Ghina." kata Kemoning tersenyum.


"Ya, tidak apa-apa. Semoga tidak ada orang kesurupan lagi. Besok minggu Tuan ada di rumah pasti bisa membantu kalau ada orang kesurupan."


Setelah mendapat izin mereka lalu keluar dari kamar dengan wajah sumringah. Devaly memandang persoalan itu hal biasa, Aditya mengajak orang di mobilnya, menjadi luar apabila para cewek menganggap Tuannya ada feeling padanya.


Aditya cepat sekali kasihan kepada orang membuat dia terjebak di dalamnya. Devaly hanya mengingatkan kalau setiap hari dekat sama orang akan membuat kita saling suka, saling membutuhkan.


Malam ini Devaly sengaja makan malam di meja makan, biasanya dia makan di kamar. Di meja makan sudah ada Aditya dan David dan di meja sebelah ada Ghina, Kemoning dan Kokom. Melihat aku datang semua kaget dan berdiri.


"Selamat malam nyonya, silahkan duduk. Nona cantik sekali malam ini." kata Kokom berdiri dan menggandeng tangan Devaly.


"Kenapa tidak bilang mau makan sama kita, tahu gitu aku samperin ke kamar." kata Aditya menarik kursi.


"Tidak apa-apa santai saja." sahut Devaly tersenyum.


"PAKEETTTT...."


suara laki-laki mengagetkan mereka. Dua orang laki-laki dari petugas paket membawa kue ulang tahun yang sangat indah. Tiba-tiba lagu selamat ulang tahun bergema. Semua pelayan menyanyikan lagu ulang tahun.


"Selamat ulang tahun sayank." kata Aditya mencium Devaly. Tepuk tangan bergema, ia lupa Devaly ultah. Tapi siapa yang mengirim, kenapa kue ultah Devaly isi poto Malamute?


"Trimakasih." bisik Devaly dingin.


ia tidak mau masuk lebih dalam menyambut kegembiraan ini. Bagi Devaly cintanya sudah mati, Aditya tak berarti lagi, semua yang tersedia adalah kamuflase. Biarpun Aditya memperingatkan ultahnya dengan kue yang indah, tapi Devaly tidak peduli.


"Aku tidak tahu kalau kalian menyiapkan ultah ku, tahu gitu aku tidak keluar." canda Devaly.


"Selamat ulang tahun nona." kata David mencium punggung tangan Devaly. Ia kaget dan buru-buru menarik tangannya. Matanya melihat wajah Aditya memerah tidak senang.


"Trimakasih David."


Dibalik kegembiraan itu Devaly merasa ada sesuatu yang jahat sedang mengintainya. ia memutar dan mengambil pisau untuk potong kue. Ia merasa berdebar tidak karuan, tapi ia tidak tahu kenapa.


Tiba-tiba Kemoning berteriak karena melihat ada monyet meloncat dari pohon ke tembok sebelah.


"Ada monyet ikut pesta." kata Kemoning.


Semua berteriak-teriak ketakutan, Aditya langsung memeluk istrinya. Keadaan yang tadi gembira kini menjadi kacau balau.


"Siapa yang jadi monyet?"


"Baca mantranya kalau dia jatuh dari tembok kita baru tahu siapa dia." ujar Kemoning.


Monyet itu lagi kelihatan, lagi tidak. Devaly melepaskan dirinya dari pelukan Aditya. Kupingnya seolah mendengar suara tangis bayinya. Ia langsung lari ke kamar.. Perlahan suasana kembali normal.


"Tenang-Tenang mari kita potong kuenya." kata Aditya berusaha mengatur nafas.


Mereka semua duduk kembali, Ghina datang mendekati Aditya.


"Tuan saya bantu, seharusnya nona Devaly yang membagikan, tapi kenapa ia malah pergi?"


"Kurang tahu mungkin dia ke Toilet atau ada yang penting."


"Bagi saja Ghin, ntar juga nona datang lagi." kata Kokom ikut mengambil piring kue.


"Kita bagi dari pelayan, setelah itu baru majikan." Semua setuju, tiba-tiba mati lampu membuat teriakan panjang. Sungguh aneh dan tidak masuk akal, kue pun tidak jadi dibagikan.

__ADS_1


*****


__ADS_2