LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.17


__ADS_3

Aditya menggandeng tangan Devaly ke ruang makan, ia sangat senang istrinya memaafkan perselingkuhannya dengan Thasy. Menurut Aditya memperbaiki keluarga kecilnya itu yang nomer satu, setelah itu dia bisa pikirkan Ghina atau Thasy yang selalu menelponnya.


Semua mata memandang Kedatangan Devaly dan Aditya, mereka bersyukur kala melihat Aditya menempel dengan Devaly. Bos mereka sudah akur kembali.


"Sandiwara yang bagus, dasar play Boy cap kupu-kupu, dimana ada mawar disitu dia nemplok." gerutu Kokom, sambil diam-diam membuat vidio yang menyoroti wajah Ghina. Kokom tertawa pelan melihat wajah Ghina seketika merah membara melihat pasangan The Queen masuk ke ruang makan.


Tentu saja mereka semua kalah dengan penampilan Devaly, karena dia bekas miss Favorite di Los Angeles. Andaikata Devaly pulang ke negaranya pasti bisa meraup uang banyak dari kisah yang dia alami. Dia malah bersembunyi dibalik angkernya The Queen Home dan percintaan yang semu.


"Biar nyahok, orang sudah punya istri dirayu. Ghina cewek murahan, kita bisa menilai dari penampilannya. Lihat pakaiannya seronok, semua di tonjolin. Cantik sih cantik, murahan dan norak." timpal Kemoning ikut kesal terhadap teman satu kampungnya.


Aditya sedikitpun tidak menoleh ke Ghina, apa sengaja atau takut Ghina keceplosan. Devaly biasa-biasa saja, cuek, tidak terlihat wajahnya berubah.


"Tuan silahkan duduk." kata Ghina menarik kursi untuk Aditya.


"Silahkan duduk nona, malam ini nona cantik sekali, bersyukur nona sudah pulih kembali. Saya dengar nona mau dinner diluar dengan beberapa artis Hollywood benarkah itu?"


"Tidak ada dinner begitu, dia sudah menjadi istriku bukan selebriti lagi." pungkas Aditya keras. Ia menatap Devaly tajam.


"Berarti nona makan di rumah? sayang sekali. Saya lihat di Instagram beberapa aktor dan artis Hollywood akan syuting di pulau ini hebat sekali."


"Surti jangan kamu ojok-ojok istriku, mulai besok aku akan mengajaknya ke kantor supaya tidak berkeliaran di jalanan, jangan ada yang mengajak istriku keluar ketemu teman-temannya." Aditya marah suaranya meninggi.


"Tuan...biarin saja nona dirumah, kasihan bintang. Kalau banyak pekerjaan saya bisa datang ke ruangan Tuan." kata Ghina ikut duduk semeja dengan Aditya dan Devaly.


"Sabar Ghina jangan buru-buru, sudah ada Tuan David yang mengerjakan semuanya." Surti kembali menangkis omongan Ghina membuat David tersenyum.


"Benar kata Ghina, Devaly di rumah saja menjaga Bintang. Kasihan kalau dia ikut ke Kantor." kata David mulai memasukkan sup asparagus sebagai makanan pembuka ke mulutnya.


"Tuan aku ambilin." kata Ghina mengisi piring Aditya dengan nasi.


"Ghina cocok jadi pelayan suamiku, gercep banget melayaninya. Kenapa hanya Tuan dilayani, ada Tuan David juga." kata Devaly menatap Aditya.


"Dia hanya melayani yang berduit, kalau aku ngambil sendiri hahaha.." sahut David konyol.


"Jangan julid David, kasihan Ghina sudah dandan cantik demi Tuan Aditya. Menu baru sepertinya lebih enak." sindir Devaly.


"Biasa itu nona, rumput tetangga memang lebih hijau karena dirawat, kalau rumput sendiri sudah layu tiap hari diinjak." sahut Ghina memandang Devaly.


"Kamu semakin pintar semenjak bekerja di The Queen, Aditya pasti betah ngantor."


"Benar nona, Tuan......"


"Ghina, duduk dengan Kokom jangan banyak mulut." potong Aditya sengit.


Ghina berdiri dengan mulut mengerucut, dia ngambek dan terpaksa duduk bareng Kokom.


"Tidak makan Ghin?" tanya Kokom pura-pura tidak tahu kalau Ghina sedang marah.


"Aku tidak selera." jawab Ghina membuka ponselnya dan mengirim chat kepada Aditya.


Malam ini keinginannya pupus untuk tidur berdua dengan Aditya. Tapi kesempatan masih banyak. pikirnya menghibur diri.


"Aku mau ke kamar." kata Ghina beranjak dari ruang makan.


Ia mengharap Aditya akan memanggilnya, tapi tidak, Aditya malah duduk manis sambil ketawa ketiwi dengan David dan istrinya. Dia kesal dan cemburu melihat pemandangan yang menyakitkan itu.

__ADS_1


Makan malam sudah selesai, sebelum pergi dari ruang makan, Devaly menyempatkan diri menghampiri Kokom dan Kemoning.


"Nona sukses untuk malam ini." bisik Kokom. Devaly tersenyum getir. Karena cobaan itu kapan saja bisa datang. bathinnya. Menjaga suami tidak akan bisa, lebih baik menjaga hati kalau lagi tersakiti supaya bisa bangkit.


Aditya menggandeng tangan istrinya menuju kamarnya. Devaly mengingatkan sebelum mereka masuk kamar harus menengok putra nya dulu. Aditya pun setuju mereka masuk ke kamar Bintang dan mendapati baby sitternya sudah tertidur.


"Pewaris The Queen tertidur lelap." ucap Aditya mengelus pipi anaknya.


"Semoga ia panjang umur dan sehat selalu, aku kadang was-was kalau sudah malam. Sebagai ayahnya aku mohon supaya kamu rajin beribadah agar anak kita dilindungi dari mara bahaya dan Leak."


"Aku sibuk kadang telat bangun, kerjaan di kantor banyak banget." kilah Aditya.


Memang akhir-akhir ini ia malas sekali untuk berdoa dan sembahyang. Semenjak ia bisa ngeleak hidupnya berubah, pikirannya sering galau. Ia selalu tergiur dengan wanita cantik. Seolah berpacu dengan Malamute yang ikut muncul menguasai tubuhnya.


"Luangkan waktumu untuk menghadap sang pencipta, hanya beberapa menit saja. Aku yakin kamu bisa."


"Aku tidak bisa Devaly, sibuk!" kata Aditya ketus, ia membuka ponselnya ketika ada notif masuk. Devaly melirik sekilas siapa yang chat suaminya. Ternyata Ghina.


"Kamu pacaran bisa, tapi sembahyang tidak bisa. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." kesal Devaly.


"Siapa yang pacaran, jangan asal bicara. Ini Ghina yang chat, dia bilang mau diperkosa sama orang aku disuruh kesana."


"Ohh begitu, suruh Kokom atau David jemput. Ghina akhir-akhir ini ngelunjak, sudah berani memerintah Owner The Queen."


"Aku bukan diperintah, itu tanggung jawabku sebagai kepala di rumah ini."


"Aku yang jemput dengan Kokom!!" bentak Devaly marah. Bintang kaget dan menangis, Devaly merasa bersalah cepat mengambil anaknya.Yeny juga bangun dan kaget melihat ada nona Devaly dan Aditya.


"Maaf nona, Tuan, saya ketiduran."


"Baik nona." kata Yeny menidurkan Bintang kembali. Yeny menarik ulur tali yang tersambung ke box bayi. Bintang semakin lelap terayun-ayun, dia tidak terganggu dengan suara berisik dari box bayinya.


"Kamu mau kemana, kamu cemburu tidak karuan. Ghina dalam bahaya mengertikah kamu?"


"Aku tidak mengerti, hanya kamu yang bisa dibodohin olehnya."


"Terserah kamu." kata Aditya keluar kamar.


Aditya ke kamar mengambil kunci mobil dan jaket. Ia kesal kepada Devaly yang tidak punya rasa kasihan melihat penghuni rumah dalam bahaya.


"Kemana bos?" David yang baru turun dari mobil heran melihat bos nya terburu-buru.


"David naik ke mobil, ada orang mau memperkosa Ghina, aku baru di chat."


David naik ke mobil dengan wajah kecut. Kenapa bos nya bisa dibodo-bodohin oleh wanita seperti Ghina.


"Jangan ngebut bos, saya belum nikah."


"Aku khawatir sekali." ucap Aditya ngebut.


"Dimana tempatnya?" tanya David heran karena Aditya berputar-putar dan bolak balik di depan Cafe Belalang."


"Dia bilang di depan Cafe Belalang, tapi tidak ada." akhirnya Aditya berhenti di seberang jalan dan menghubungi Ghina.


"Ponselnya tidak bisa dihubungi, lokasi dimatiin. Duhh..kemana wanita ini, kalau ada apa-apa aku yang bertanggung jawab. Akulah yang minta sama ayahnya supaya Ghina di izinkan tinggal di rumahku."

__ADS_1


"Sabar bos, paling sudah pulang."


"Mungkin batrenya lowbat, kalau kouta sudah aku beliin." ucap Aditya cemas.


"Kita masuk ke Cafe dan pura-pura minum siapa tahu ada Ghina disana." usul David.


Mobil masuk ke parkiran Cafe, pengunjung tidak begitu banyak. Mereka masuk dan mencari tempat duduk. Aditya celingukan melihat sekelilingnya, tapi tidak satupun wanita yang mirip Ghina berada di Cafe.


"Tenang bos, Ghina sudah dewasa tidak mungkin hilang." kata David ketika Aditya menolak minuman yang disodorkannya.


"Minum sedikit bos, satu sloki saja untuk menghangatkan badan." bujuk David seraya menyodorkan minuman. Aditya menenggak minumannya sekaligus.


"Kita ke mobil dan menyisir, siapa tahu dia ada di jalan."


"Bos kalau benar dia mau diperkosa, pastinya sudah banyak yang menolong. Disini cukup ramai, kurasa dia sudah pulang naik ojek."


"Tutup mulutmu, aku sangat khawatir, kenapa dia nekat keluar gara-gara melihat aku dan Devaly mesra. Dia cemburu buta, beginilah hasilnya."


"Modus bos, saya yakin dia mempermainkan bos. Paling dia tertawa melihat bos bingung. Bisa saja dipermainkan oleh Ghina."


"Ghina tidak mungkin jahat, dia polos. Aku selalu ingin membantunya."


"Telepon lagi bos." usul David. Tapi sebelum menelpon ada telepon masuk dari Kokom.


"Hallo, ada apa Kom..."


Tidak ada jawaban, tapi terdengar suara tangis dan teriakan. Perasaan Aditya tidak enak, dadanya berdebar kencang.


"Aku mendengar teriakan dan tangisan, mungkin Ghina sudah sampai di rumah dalam keadaan luka parah." kata Aditya membuka speaker ponselnya.


"Astaga, aku yang menyetir." kata David turun dari mobil dan mengambil alih kemudi.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dan semua selamat." kata Aditya berharap.


Malam ini memang apes, jalanan macet total, maklum malam minggu. Orang rumah tidak satupun bisa di telepon, sampai pak Made tidak bisa di telepon.


"Tidak terdengar suara ribut-ribut atau teriakan dan tangisan. Mungkin Ghina sudah dibawa ke rumah sakit." Aditya mematikan ponselnya. Ia sudah agak tenang sekarang.


"Kalau cewek-cewek ngumpul pasti heboh, mereka melihat kecoa saja bisa teriak, heran aku." ucap David memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Itu sudah kodratnya, kita tidak mengerti. Sebenarnya wanita itu unik dan membuat para lelaki mabuk kepayang."


"Wanita mana dulu Tuan, kalau sekelas Devaly aku melihatnya saja mabuk, apalagi bisa memeluknya hahaha..."


"Brengsek, ternyata musuh dalam selimut." canda Aditya ikut tertawa.


Mobil mereka sudah dekat dengan rumah Aditya, ketika mata Aditya melihat Ghina sedang berjalan di trotoar.


"STOP!!, itu Ghina."


Mobil menepi, Aditya setengah berlari mengejar Ghina.


"Ghin...Ghin..." teriaknya.


Ghina memeluk Aditya sambil menangis. Pejalan kaki heran melihat mereka, apalagi terlihat baju Ghina robek-robek sehingga terlihat toketnya. Aditya menggendong Ghina ke mobil.

__ADS_1


*****


__ADS_2