
Duhh..nyebelin Komoning, lagi asyiknya memadu kasih, wanita itu nongol memberi peringatan STOP!! gimana ini. Kemoning membuat senjata Aditya seketika sluggish.
"Aku suaminya, jangan banyak larangan. Persetan Leak!!" kesel juga Aditya jadinya. Ia mau menutup pintu, tapi Kemoning marah.
"Tuan ingin berubah saat begituan, sangat berbahaya. Nanti malam datang ke kamar saya, kita berusaha menghilangkan ilmu itu. Sabarlah." kata Kemoning memakai bahasa khatulistiwa.
"Oke, aku hanya kiss saja tidak lebih, berapa pun biayanya atau bagaimana pun caranya aku terima asal ilmu itu lenyap."
"Kamu janji akan melakukan?"
"JANJI!"
Aditya menutup pintu dan kembali ke ranjang. Devaly yang cuma mengerti bahasa Indonesia sedikit-sedikit hanya bengong kala melihat Aditya bersedih.
"Apa yang terjadi, Kemoning mengatakan apa. Aku curiga hubungan kalian."
"Tidak ada hubungan apa-apa, Kemoning memperingatiku supaya tidak mencoblosmu. Katanya hari ini Leak mau datang mencari Bintang." kata Aditya memeluk Devaly.
"Artinya aku harus ketempat kost?"
"Untuk sementara sembunyikan Bintang disana, aku akan menyuruh David dan Kokom menjagamu."
"Kalau rumah ini sangat berbahaya lebih baik aku tidak datang kesini lagi."
"Sayank, hanya hari ini saja. Selanjutnya kita tetap seranjang disini. Aku mencintaimu, aku tidak mungkin membiarkanmu kesepian." ucap Aditya mencium Devaly. Ia kembali "On" Mereka berciuman panas dan liar, maklum it's been a long time.
"Klekkk!!" suara pintu terbuka. Kemoning berada diambang pintu, wajahnya terlihat mambara.
"Tuan dan nona Devaly, kalian harus makan siang. Kasihan Bintang dari tadi diluar."
"Busyett...Kemoning, kami sudah dewasa tidak perlu kamu nongol terus. Kamu tidak sopan!!" ketus Aditya.
"Tuan mau mati apa ingin sehat, keluarlah!" seru Kemoning galak.
"Kemoning, aku tidak mengerti tingkahmu sekarang berbeda, ada apa ini. Aku kangen suamiku."
"Kedudukan kita sama nona, saya berhak melarang Tuan kalau mencelakainya. Saya punya kemampuan merubah Tuan, dari jahat menjadi baik."
"Aku semakin bingung saja, terserahlah." kata Devaly turun dari ranjang. Aditya buru-buru memeluk Devaly dan menciumnya.
"Heitt...Tuan lepaskan nona." Kemoning bingung melihat Aditya menempel dengan Devaly. Seumur-umur baru kali ini ia melihat orang berciuman. Tanpa sadar Kemoning menelan salivanya, ia juga ingin.
"Sudah.. sudah, kita makan." Kemoning menarik tangan Aditya.
Akhirnya mereka terpaksa menurut. Devaly mencari Bintang. Melihat Devaly datang Bintang berlari menghampiri mamanya. Ia melihat wajah putranya sangat cerah.
"Kamu senang disini sayank?"
"Senang mama, aku ingin selalu dekat papa dan bibi Kokom."
"Putra nona tahu dimana ia seharusnya tinggal. Ia sangat antusias tinggal disini."
"Mungkin kami akan kembali kesini." sahut Devaly tersenyum bahagia. Ntah kenapa ia merasa hasratnya bertolak ketika dekat suaminya.
"Bagus nona, itu yang kami inginkan dari dulu. Nona harus bersatu untuk membangun kebahagiaan Bintang. Biarkan masa lalu menjadi pemicu untuk menyongsong masa depan. Sebagai orang tua letakan ke egoisan nona demi Bintang. Kalian saling mencintai, bukan saling menyakiti." Sri ikut nimbrung.
__ADS_1
"Trimakasih, kalian sangat baik selama ini. Aku pasti akan senang jika kalian menegur di saat aku salah dan menolongku saat aku terpuruk."
"Kami akan berpihak kepada yang benar. Dan meluruskan jika nona salah mengambil jalan. Yang perlu dikhawatirkan bukan keburukan Tuan, namun ke egoisan nona yang sulit di kendalikan."
"Aku banyak belajar dari orang disekitarku." ucap Devaly tersenyum getir.
"Introspeksi adalah hal yang paling penting karena nona tidak dapat melihat masa depan tanpa mengetahui tentang diri nona sebelum nya. Aku tidak membenarkan Tuan, aku juga menghujat ke tidak setiaan, tapi kembalilah bergandengan tangan saling memaafkan. Nona, saya minta maaf karena selama ini saya berpihak kepada nona dan Tuan, bukan salah satu. Karena saya ingin kalian rukun kembali." kata Kokom bijak.
Mereka beranjak dari ruang tamu menuju ruang makan. Perasaan Devaly plong, banyak hal yang kurang darinya. Kokom lebih bijak, apakah karena dia orang luar yang pintar bicara, tapi jika berada di posisi Devaly sama saja hancur?
Kokom menggendong Bintang, sebenarnya Bintang sudah bisa jalan, karena semua senang, mereka rebutan menggendongnya. Bintang memang sangat menggemaskan.
Devaly masuk ke ruang makan, disana sudah ada Aditya dan Kemoning. Anehnya Aditya duduk berdampingan dengan Kemoning. Devaly tidak habis pikir kenapa Kemoning seolah nenjadi Ratu, karena Susi melayani Kemoning.
"Sayank, sini duduk." Aditya cepat berdiri melihat Devaly. Ia menarik kursi untuk Devaly disamping Kemoning. Kemudian Aditya mengambil putranya dan duduk disamping Kokom.
"Sayank kita maem..." kata Aditya memangku Bintang. Ia terlihat sangat bahagia.
"Tuan lanjutkan makan, saya mengajak putra anda." kata Kokom.
"Aku sudah kenyang, lebih baik pelukan sama Bintang." Aditya memeluk anaknya.
"Tuan makan dulu, tidak baik meninggalkan makanan." kata Kemoning mengambil Bintang.
"Astaga, aku masih kangen Kemoning." ujar Aditya merebut Bintang.
"Sayank, makan dulu." Devaly menarik baju Aditya. Mereka lalu duduk bersama.
"Jam berapa nona ajan ke kost, supaya saya menyuruh Kokom mengantarkan." kata Kemoning, lagaknya seperti nyonya rumah.
"Kemoning kamu kenapa sih, seperti orang salah makan obat." tegur Kokom, matanya sepet melihat tingkah Kemoning yang superior.
"Kemoning kamu sudah keterlaluan, aku merasa ini bukan kamu. Jangan-jangan ada yang menyihir mu supaya kamu ngelunjak begini." kata Kokom menohok.
"Aku yang akan menyihir kalian, aku begini punya tujuan untuk kebaikan Tuan. Kalian tidak akan mengerti pengorbanan ku. Selama kalian disini apa yang sudah kalian lakukan? hanya menunggu perintah, mulai sekarang akulah yang memerintah kalian. Jika ingin hidup panjang ikuti perintahku."
"Kamu semakin gila. Mungkin Orang tuamu salah nanam ari-ari, yang ditanam orangnya dan ari-arinya yang hidup hahahaha....." ejek Kokom tertawa, semua tertawa.
Tiba-tiba Kemoning menggebrak meja, sungguh di luar dugaan, mulut Kokom mendadak sempengot, miring ke kanan.
"Mu-lut-cu......." teriak Kokom dengan suara tidak jelas.
Semua berteriak dan memegang Kokom. Aditya kaget, cepat menghampiri Kemoning.
"Kemoning jangan kamu main-main, kamu bisa ditangkap polisi. Ini penganiayaan!!" bentak Aditya menarik tubuh Kemoning.
"Biarkan Tuan, supaya tidak ada yang berani melawan. Jika berani, aku akan robek dada kalian satu persatu." ancam Kemoning sinis.
"Kemoning, tidak boleh begitu. Kamu tidak punya perasaan dan makin ngelunjak. Aku tidak senang punya saudara sombong "
"Kita bukan saudara lagi, Tuan adalah calon ayah yang baik, dan aku calon ibu yang baik." ucap Kemoning.
"Hueekk...muntah aku dengarnya, kamu semakin aneh saja. Kembaliin Kemoning seperti semula." ucap Aditya kesel.
"Saya kembaliin Kokom dengan syarat dia harus mengantarkan Devaly pulang."
__ADS_1
Akhirnya Kokom mengajak Devaly keluar tanpa menengok Kemoning. Ia sangat marah kepada wanita kampung itu yang sekarang berubah menjadi sombong.
"Ayank, besok kamu harus kembali, aku akan menjemput mu."
"Aku tidak janji, Kemoning menakutkan."sahut Devaly. Bintang juga menangis mendengar keributan yang tidak ia mengerti bahasanya. Devaly walaupun tidak mengerti bahasa daerah tapi ia sudah mengerti sedikit bahasa Indonesia.
"Bintang jangan di ajak ke kost, biarin dia disini."
"Biarin dia ikut ke kost, kasihan ia ketakutan. Untung badannya tidak demam lagi."
"Aku sedih kamu pergi. Love you..." Aditya memeluk istrinya dan mengecupnya.
"Love you too..." bisik Devaly.
Aditya mengantar istrinya sampai garasi. Ia menyesal tidak bisa menahan Devaly, karena malam ini Kemoning akan melepaskan Ilmu Leak nya. Sebenarnya ia bingung dengan tingkah aneh Kemoning.
Mereka buru-buru pergi. Semua pelayan ikut untuk menghindari Kemoning. Kokom benci sekali dengan Kemoning yang semena-mena dan main magic. Ia memacu mobil Van itu dengan kecepatan sedang.
"Kenapa Kemoning berubah, walaupun aku tidak mengerti bahasa daerah, tapi aku tahu dari raut wajahnya tersirat kesombongan." ucap Devaly setelah berada di mobil.
"Saya merasa dia sudah mulai gila kemakan ilmunya. Umurnya muda tapi ilmunya sudah tinggi. Kemoning jadi sombong, sebentar lagi jadi penghuni RSJ, ngeri sekali."
'Kata Tuan, Kemoning masih saudaranya dan ilmunya putih. Mungkin dia berantem dengan ilmu Leak Thasy atau Leak lain membuat dia senewen."
"Kita jauh-jauh saja, jangan banyak omong dengannya. Semenjak dia datang kesini dengan Ghina, rumah jadi serem. Mereka membawa aura kematian."
"Apakah Ghina bisa ngeleak?" tanya Devaly.
"Tidak tahu nona, tapi Thasy bisa jadi monyet sedangkan Mayang sudah meninggal. Waktu itu mayatnya lenyap. Ia meninggal masih berupa Macan, hanya Kemoning yang tahu."
"Aku malas pulang kerumah, enakan di kost." kata Devaly memeluk Bintang yang sudah kembali riang.
"Kalau tidak ada nona siapa yang membela kami, Kemoning masih segan dengan nona. Pulang saja kasihan Tuan dan Bintang, kalau ada nona Ghina juga berpikir mendekati Tuan."
"Aku akan mencoba pulang, jika keadaan semakin memburuk aku kembali ke kost, kasihan Bintang."
"Atau nona membeli rumah baru dan tinggal disana bersama Tuan. Kalau Tuan tidak mau pindah nona dan Bintang saja pindah."
"Aku akan pikirkan usulan kalian." jawab Devaly. Ia ragu pindah, tapi gimana lagi. Aditya memukaunya. Tadinya mau tegar dan tetap pada prinsip, ketika dipeluk Aditya , hatinya langsung luluh.
"Dulu Kemoning teman yang baik, saya jadi benci padanya. Apapun alasannya dia tidak boleh main ilmu." keluh Kokom.
"Kalau melihat tingkahnya, saya ingin muntah dia pakai rok mini, hotpants dan tanktop, tapi kulitnya burik hahaha..."
"Hee...jangan mengejek kalau mulutmu ingin selamat. Kemoning itu sakti bisa mendengar apa yang kalian katakan." canda Sri.
"Amit-amit jabang bayi supaya kita jauh dari ilmu Leak. Tidak ada gunanya menjadi Leak, terakhir pasti mati."
Mereka terus membahas masalah Leak, sedangkan di rumah Aditya marah-marah kepada kepada Kemoning.
"Anak dan istriku tumben datang kamu membuat kekacauan. Bintang tadi menangis terus takutnya dia trauma dan tidak mau kesini lagi."
"Saya ingin normal seperti mereka, tapi ilmu saya terus memberontak. Saya tidak bisa mengendalikan." kilah Kemoning supaya Aditya mau memaafkannya.
"Ohh...kirain kamu sengaja sombong."
__ADS_1
"Nanti malam Tuan ke kamar saya, Tuan saya obati. Mungkin akan terus Tuan ke kamar saya, karena tidak bisa lenyap seketika. Akan memakan waktu." kata Kemoning datar.
*****