LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 6


__ADS_3

Sudah lah jalani jalan mu, kujalani jalanku, kalau dibilang sabar aku sudah cukup sabar menerima perkhianatanmu, sedangkan kamu tidak tau bagaimana rasanya sakit dalam kesabaran, luka hatiku menusuk bagaikan sembilu, air mata jatuh tanpa suara.


"Pak Scurity tolong jangan di ekspos masalah


ini, kita jaga nama Tuan dan kantor. Jika ada yang tahu berarti kamu yang membeberkan. Kejadian begini sudah sering terjadi asal bisa menyikapinya dengan kepala dingin."


"Tenang mbak saya bisa dipercaya, sayapun tidak mau di pecat kalau sampai Tuan tau."


"Syukurlah nona sudah sadar, saya sangat khawatir keadaan nona." ucap Kokom ketika Devaly membuka matanya.


"Kepalaku pusing." keluh Devaly.


"Saya bantu nona bangun kita akan kerumah sakit secepatnya, sebelum karyawan kembali dari kantin."


"Minumlah dan tenangkan diri nona, saya sudah membuat vidio untuk di visum jika nona ingin lapor Polisi." kata Kokom menyodorkan air mineral kepada Devaly.


"Aku ingin menenangkan diri dulu."


Setelah agak tenang mereka keluar dari ruangan Owner. Devaly membiar kan kedua makhluk laknat itu sembunyi di kamar mandi.


Mereka berusaha bersikap wajar ketika ada satu dua karyawan yang memergoki.


"Trimakasih ya pak, saya akan langsung pulang. Kembalilah ke ruangan Tuan Aditya."


"Mbak jaga nyonya dengan baik, saran saya nyonya dibawa ke rumah sakit." kata scurity itu dengan wajah cerah.


Kokom memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sedikit panik ketika Devaly mulai menangis histeris. Air mata Kokom ikut jatuh mendengar tangis Devaly yang menyayat.


"Nona tenanglah, dengan cara menangis mungkin bisa mengeluarkan sesak di dada, tapi tidak bisa membantu nona mencari solusi. Sekarang nona sudah punya bukti perselingkuhannya. Saya sarankan supaya nona memilih, antara cerai atau tetap bersama Tuan."


"Aku mengerti maksudmu, otakku tidak bisa berpikir secara jernih."


"Maaf saya terlalu memaksa, tenangkan diri nona dulu, yang utama nona harus kerumah sakit." kata Kokom menyesal terlalu mendikte Devaly.


Pukul. 14.25 mobil berbelok ke Rumah Sakit Kasih Ibu, petugas rumah sakit sudah siaga menunggu pasien yang datang.


"Selamat sore bisa dibantu?" tanya petugas ketika pintu mobil terbuka.


"Pak tolong kursi rodanya, pasien sulit berjalan." kata Kokom dari belakang stir.


"Tunggu nyonya saya mengambil kursi roda."


Kokom menuju tempat parkir setelah Devaly dibawa oleh petugas ke UGD. Sebelum turun dari mobil ia meriksa ponselnya, Kokom kaget karena banyak sekali panggilan dari Aditya.


"Dimana nona?" tanya Aditya lewat whatsapp Tuan pasti marah karena tidak mengangkat telepon dari Tuan.


"Maaf ada di rumah sakit, saat ini nyonya dalam keadaan tidak baik." tulis Kokom asal.


Ia ikut marah kepada Tuannya. Jika Tuan mau memecatnya ia tidak perduli, masih banyak orang mencari pelayan, apalagi bisa bahasa inggris. Menjadi baby sitter bule gajinya menggiurkan.


"Katakan rumah sakit mana?" tulis Aditya. Chat tidak dibaca centang satu. Aditya lalu menelpon, tapi tidak diangkat. Ia Betul-betul panik dan sangat kesal kepada Kokom.

__ADS_1


David adalah karyawan kepercayaan atau tangan kanan Aditya. Disamping sebagai teman dia juga sebagai tempat mengadu. Hampir semua rahasia Aditya dia tahu, hanya satu yang tidak dia ketahui yaitu Aditya bisa ngeleak. Setiap ada masalah pasti David yang dipanggil karena David punya solusi.


Waktu ia di telepon Aditya, David sangat kaget dan cepat-cepat datang ke kantor induk. Padahal tempat kerja David cukup jauh. Walaupun Aditya tidak bercerita David bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang menyangkut perempuan, karena Aditya juga memesan pakaian santai.


Setelah berada diruangan serta menyaksikan keadaan Aditya dan ruangan yang banjir dan penuh sabun, perasaan David langsung tidak enak. Ia merasa Aditya tertangkap basah, karena ada beberapa bekas kiss mark di leher dan dada. Wanita yang meninggalkan tanda merah untuk suami orang menandakan wanita itu ingin diakui, ingin memperlihatkan bahwa Aditya miliknya.


"Kenapa bisa begini?" tanya David memberi pakaian kepada Aditya.


"Devaly mengamuk." jawab Aditya liri sambil memakai pakaiannya.


"Semua wanita akan mengamuk kalau suaminya selingkuh. Apalagi dia dalam keadaan hamil. Sudah aku katakan jangan mencari sekretaris."


"Devaly yang menyodorkan temannya dan aku tiap hari dirayu oleh Thasy, aku tidak mampu menolak saat kami berduaan setiap hari. Aku lebih banyak berada disamping Thasy daripada Devaly."


"Bos terlalu lemah, pecat Thasy habis perkara. Kalau kasihan kasi Thasy uang suruh pergi."


"Dulu aku tidak tega mengusirnya, takut Devaly marah kalau temannya di pecat. Tapi sekarang sudah aku pecat dan usir dari rumah, walaupun terlambat aku berusaha Devaly mau mengerti dan kembali ke rumah."


"Kenapa Devaly bisa kesini?"


"Tidak tahu, scurity yang biasanya jaga malah memberi Devaly masuk. Scurity juga aku pecat."


"Yaelah..jangan salahkan scurity, mungkin dia di marah Devaly karena menghalangi masuk. Terus Thasy dimana?"


"Aku usir keluar, dia pergi bersama scurity."


"Yach..nasi telah menjadi bubur, semoga bos menjadi suami yang setia dan nyonya Devaly mau balik ke rumah. Beri dia ketenangan untuk berpikir, jangan mencari kesalahannya untuk menutupi kebejatan bos."


"Yang sangat aku takutkan Devaly melahirkan tapi aku tidak tahu dimana dia berada."


David dan Aditya mulai menelpon setiap rumah sakit atau klinik yang ada. Padahal sudah diwanti- wanti supaya Aditya tidak berselingkuh tapi Aditya bandel. Nasibnya memang sial.


Bagaimana bos sudah ada rumah sakit yang menampung Devaly?" tanya David ikut khawatir.


"Banyak melahirkan hari ini tapi tidak satupun ada nama Devaly." ucap Aditya putus asa. Penyesalannya tidak ada gunanya.


"Bagaimana kalau bos pulang siapa tahu Devaly dirumah." usul David.


"Kita pulang saja." jawab Aditya pendek.


Seperti diketahui sebelumnya bahwa Aditya tertangkap basah sedang berselingkuh dengan Thasy, teman karib Devaly. Ketika Devaly dan Kokom pergi Aditya keluar dari kamar mandi dan bertengkar hebat dengan Thasy, wanita yang membuat Devaly jatuh karena di dorong.


"Kau perempuan pembawa sial, laknat, tidak tahu trimakasih. Tega kau menampar dan mendorong istriku. Air susu jau balas air tuba. Begitu baiknya istriku padamu. Dasar iblis, menyesal aku tidur dengan wanita sepertimu. Sudah kubilang kita putus masih saja kau menggoda aku. Mulai sekarang kita putus, anggap kita tidak pernah bertemu."


"Aditya aku minta maaf, jangan menyalahkan aku saja, kamu juga genit. Jika istrimu marah biarin saja yang berkuasa kamu, yang punya uang kamu, kenapa harus takut sama istri?"


"Istriku adalah hidupku, dia murni tidak liar seperti kau. Aku orang pertama mengajaknya tidur. Aku bangga padanya."


"Pantas kau cepat tergoda padaku karena istrimu tidak berpengalaman. Seperti patung hidup yang tidak bisa memuaskan suaminya." kata Thasy memakai baju ganti. Dia memang selalu membawa baju ganti supaya tetap dilihat fresh oleh Aditya.


"Diam kau cepat entah dari hadapanku!!" bentak Aditya sangat marah.

__ADS_1


Kemarahan Aditya semakin besar melihat Thasy memegang ponsel Devaly.


"Pulang kau, aku memecatmu dari kantor ini dan mengusir dari rumahku!" teriak Aditya melepaskan pelukan Thasy yang kembali ingin menggodanya. Hatinya sudah mantap untuk menjauh dari Thasy.


"Kau mengusirku, oke aku terima, tapi ingat Aditya aku akan membuatmu menderita bersama istrimu dan anakmu. Jangan katakan kalau aku tidak mampu membuatmu hancur. Kita akan hancur bersama-sama." ancam Thasy dengan mata merah.


Aditya tidak mau tahu kemana Thasy pergi setelah diusir dari Kastil, uang yang diberikan untuk Thasy sudah lebih dari cukup untuk kost. Lebih baik kehilangan uang daripada Devaly pergi dari rumah.


Sampai di rumah Aditya menunggu David. Mereka membawa mobil masing-masing. Melihat sikap pelayan menyambutnya biasa, Aditya berpikir pelayan tidak tahu kejadian di kantor.


"Mari masuk, kita ke mini bar." ajak Aditya. Mereka menuju ke mini bar disamping kolam renang. Dari sini mereka ajan jelas melihat Kastil tempat tinggal Thasy.


"Coba tanya pelayan siapa tahu mereka tahu kemana Devaly pergi." kata David mengambil air mineral di kulkas.


"Yem, sini dulu, kamu tahu kemana Kokom pergi?" tanya Aditya menyuruh Iyem mendekat. Tentu saja wanita itu ketakutan kalau salah menjawab.


"Tadi siang nona mengajak Kokom untuk ke toko bayi. Nona ingin membuat kamar bayi dengan nuansa biru, serta keperluan bayi." jelas Iyem dengan gemetar, tapi...."


"Tapi nona mau minta izin kepada Tuan, saya mengira nona tidak punya uang."


"Apa? bagaimana bos." David menatap Aditya tajam. Sungguh sangat disayangkan.


"Bukan begitu David, aku memberikan istriku Black card, tapi aku ambil dari dompetnya tadi pagi karena Thasy minta beli mobil."


"Astaga naga, bos memang suami laknat."


"Nanti mobil yang terlanjur pesan aku rubah nama pemiliknya menjadi Devaly."


"Kamu ada mendengar apa lagi Iyem?"


"Kata nona dia mau pergi, lalu dia menangis. Akhirnya Kokom mengajak ke kamar dan memijit kakinya."


"Kasihan sekali Devaly, kalau bos bosan biar aku yang nampung. Jamin aku setia dan baik hati. Mumpung aku baru putus cinta."


"Ngomong yang berkualitas bro jangan asal bicara. Berani kamu mencuri istriku, aku makan jantungmu."


"Mentang-mentang turunan Leak langsung mengancam. Kalau boleh jangan menerima warisan nenjadi Leak cukup terima harta benda saja." ucap David menyesap minumannya.


Tanpa sengaja Aditya melihat Thasy keluar dari Kastil membawa koper. Pembantunya juga ikut dibelakangnya membawa koper. Aditya merasa senang bisa mengusir Thasy tanpa banyak drama.


"Bos, bukannya itu Thasy?" bisik David ketika Thasy lewat di depan mereka.


"Biarin saja, wanita pembawa sial." ketus suara Aditya.


Tiba-tiba Tashy menoleh dan berbelok menuju mini bar. Dada Aditya bergemuruh, takut pelayan mengadu kepada Devaly.


"Aditya aku sudah dapat rumah kontrakan. Aku mengontrak selama lima tahun, maunya sepuluh tahun, karena aku jehabisan uang akhirnya aku ambil lima tahun."


"Thasy sudahlah jangan ganggu bos lagi. Tidak baik menari diatas penderitaan teman sendiri. Kalau tidak bisa membalas budinya minimal jangan menyakitimu. Kamu cantik masih muda lebih baik pulang ke negaramu."


"Aku bicara dengan pacarku, aku berbuat karena aku mencintainya. Jangan jadi perempuan terlalu polos, suami diembat orang baru kelabakan."

__ADS_1


"Pergi kau!!" tiba-tiba Aditya bangun dan melempar gelas yang penuh berisi minuman.


*****


__ADS_2