
Sudah menjadi kebiasaan kalau Devaly setiap hari bangun pagi, ia selalu sembahyang tepat waktu. Wajahnya yang sedikit chubby terlihat sembab karena banyak menangis. Semalam tidurnya gelisah dirundung kesedihan yang mendalam, disamping itu perutnya menjadi penghalang, membuat Devaly sulit bergerak.
Devaly duduk ditepi ranjang memandang suaminya yang tidur di sofa panjang matanya berkaca-kaca melihat wajah tampan itu tertidur pulas dan sesekali mengigau tidak jelas.
Ia turun dari ranjang dan buru-buru ke kamar mandi. Saat ini ia masih belum mengambil sikap, antara bertahan atau pergi. Jika harus pergi ia akan pergi jauh supaya tidak melihat suaminya dan putus hubungan. Kalau mau bertahan, hatinya akan terus sakit karena rasa khawatir yang menderanya setiap hari. Rasa kecewa yang panjang dan sakit hati membuat Devaly krisis kepercayaan.
Kokom dan teman-temannya datang kemeja makan, menyiapkan sarapan pagi sambil menunggu kedatangan Devaly dan Aditya. Mereka kepo atas gosip yang dihembuskan oleh Kokom. Mereka berdiri berjejer seperti di resto besar kalau menyambut pelanggan.
Tidak menunggu lama nona Devaly datang, wajahnya kuyu, tidak ada senyum manis yang biasanya terukir dibibirnya. Dibelakangnya Aditya berjalan dengan wajah menunduk, ia memakai pakaian kantor. Wajah tampannya terlihat membeku. Kokom cepat-cepat maju dan membantu nonanya duduk.
"Selamat pagi Tuan dan nona Devaly." suara pelayan bergema, biasanya hanya Kokom yang berada di ruang makan. Karena ada issue perselingkuhan, semua pelayan ikut bergabung dengan Kokom, berpura-pura.
Suasananya hening, tidak satupun ucapan keluar dari bibir Devaly, Kokom membatu Devaly duduk. Wanita itu duduk tenang wajahnya bertumpu dengan satu tangan.
"Yank kamu sarapan apa, aku ambilin." Aditya berdiri disamping Devaly.
"Masih kenyang, aku cuma menemanimu saja." sahut Devaly tanpa menoleh. Ia tidak peduli dan berusaha tegar.
"Sarapanlah untuk anak kita, sedikit saja. Aku suapi ya."
"Nanti kalau aku lapar pasti makan."
"Kokom tolong nanti siapin nona makan yang enak, jika mau beli diluar, salah satu dari kalian beli." pesan Aditya.
"Sebagai ibu hamil nona harus menjaga hati, jangan dibuai oleh rasa sedih, karena sangat berpengaruh terhadap bayi di kandungan. Makanya sering ibu hamil menempelkan musik Mozart di perutnya, supaya bayinya tenang dan pintar." Kokom menasehati Devaly. Sebenarnya ia berbicara supaya ada bahan gosip yang direkam oleh temannya.
"Semua ibu hamil ingin tenang dan bayinya juga sehat, tapi kita bukan hidup sendiri ada fihak lain yang ikut andil untuk menyempurna kan kebahagiaan itu. Makanya aku ingin single parent." kata Devaly dingin.
Aditya menatap Devaly, ia ingin berkata tapi urung. Tangannya bergetar memegang garpu untuk sandwich.
"Benar nona, lebih baik sendiri daripada sakit hati, buat apa mempertahankan orang yang tidak setia."
"Kokom jangan kamu mengompori, aku sangat mencintai istriku. Yang aku perbuat cuma iseng, tidak mungkin aku tertarik dengan wanita lain." Aditya menganggap kata-kata Kokom.
"Iseng kamu bilang, padahal setiap kita gelut kamu selalu membisikan kata Love you." tiba-tiba Thasy masuk ke ruang makan dan duduk di samping Aditya.
Wajah Aditya memerah, ia menggebrak meja dan keluar dengan cepat. Thasy ikut berdiri dan mengejar pria itu. Air mata Devaly bergulir jatuh. Sakit hatinya tidak terperi. Kokom cepat menghampiri Devaly.
"Sayank..yank....." teriak Thasy tidak tahu malu. Ia mendengar umpatan, caci maki pelayan yang pro Devaly. Thasy tidak peduli, ia cepat naik ke mobil Aditya.
"Turun kau!!" teriak Aditya marah.
"Sayank, kenapa kamu marah padaku, apa salahku. Kita melakukan atas dasar suka sama suka, apapun yang terjadi itu tanggung jawab kita berdua. Kita ini korban, Devaly hanya menduga-duga saja, sebenarnya ia tidak tahu apapun."
Aditya diam, ia malas bicara dengan Thasy yang cerewet dan tebal muka. Wanita ini tidak tahu malu dan terus saja menggoda imannya.
__ADS_1
Bayangan Devaly melintas dibenaknya, ia tidak tahu bagaimana perasaan istrinya mendengar dan melihat tingkah Thasy tadi di meja makan. Rasanya mau balik pulang tapi ia takut Thasy akan membuat Devaly tambah hancur.
"Aku yakin kamu memikirkan istrimu yang super manja itu, tapi pernahkah kamu memikirkan diriku yang menjadi korbanmu. Aku juga sedih, kesepian hidup sendiri, tidak ada orang yang peduli." tiba-tiba saja Thasy menangis sesenggukan.
"Thasy diam lah kantor sudah dekat aku tidak mau jadi tontonan karyawan."
"Biarin aku mati saja, begini caramu memperlakukan diriku yang sebatang kara."
Tangis Thasy bertambah keras, Aditya serba salah. Aditya menepikan mobilnya, ia harus mengalah supaya Thasy berhenti menangis.
"Kantor sudah dekat hapus air matamu, aku tidak ingin karyawan menggosipkan kita. Aku mohon berhenti menggodaku, aku tidak mau menyakiti hati istriku." kata Aditya membelai rambut Thasy.
"Aku benalu di rumahmu, biar aku mati saja buat apa hidup, orang yang aku cintai ternyata mencampakanku, aku putus asa."
"Tenangkan dirimu aku masih ada untukmu, kita bisa tetap berteman, tanpa membuat skandal yang membuat istriku menderita. Devaly sedang hamil besar, aku tidak ingin membuatnya bersedih. Sangat riskan kalau sampai ia mengetahui hubungan kita yang sebenarnya."
"Ya sayank, aku menurut omonganmu. Aku sangat mencintaimu dan rela tubuhku kamu miliki walaupun cintamu hanya untuk Devaly. Aku pasrah demi keselamatan rumah tangga mu. Apa sih artinya diriku, aku hanyalah remahan rengginang. Seberapapun perhatian yang aku berikan padamu, kamu tetap saja tak akan peduli, bahkan jika aku menghilang di lautan luas."
"Aku tetap peduli jangan pesimis, kamu cantik dan bergairah pasti banyak cowok menginginkanmu." hibur Aditya. Ia kembali memacu mobilnya menuju kantor.
Sampai di kantor Aditya mengambil jarak dengan Thasy, ia pura-pura berbicara dengan karyawannya supaya Thasy duluan berjalan. Wanita itu memang menggiurkan, sanggup memancing hasratnya, kalau diladeni sangat membahayakan kelagengngan hubungannya dengan Devaly.
Akhirnya ia masuk juga keruangannya, Thasy sudah duduk duluan di sofa dengan dua gelas teh manis dan sandwich.
"Sayank duduklah, isi perutmu supaya fokus bekerja." Thasy berdiri dan mengajak Aditya duduk di sofa. Aditya juga tidak protes saat Thasy menciumnya lembut.
Aditya tidak sempat menjawab karena Thasy kembali ******* bibirnya. Aditya dengan liar membalas dan tangan kekar itu sudah mulai meraba gunung kembar Thasy. Mereka terpaksa menghentikan permainannya karena ada ketukan pintu.
"Tookk...tookk...tookk.."
Devaly menyeret kakinya ke pintu dan membukakan pintu. Ia kesal karena yang datang scurity yang biasa jaga didepan pintu.
"Ada apa, mengganggu saja dasar bodoh."
"Maaf nona, saya izin mau ke Rumah Sakit mengantar istri melahirkan."
"Sana-sana..aku bosan mendengar orang hamil dan mau melahirkan." kata Thasy mendorong scurity itu keluar. Dengan kesal Thasy menutup pintu dan menguncinya. Baru mau duduk kembali ada ketukan pintu, wajah Thasy sudah kaku saat membuka pintu.
"Masuk!!" Thasy setengah berteriak.
"Maaf nona saya mau bertemu bos untuk membahas pembangunan hotel baru." Thasy tidak menjawab, dia ngedumel.
"Masuklah ibu Lusi, kamu duduk di sini." kata Aditya berdiri menunjuk sofa di depannya.
"Permisi bos." Lusi duduk sambil menaruh map berisi laporan RAB dan lain-lain.
__ADS_1
Melihat Aditya sibuk dengan Lusi, Thasy menyelinap ke belakang untuk mengganti baju kerja. Dia tidak mau dari rumah memakai baju kerja karena kurang sexy.
Setelah memakai pakaian kantor Thasy mulai bekerja di belakang laptop. Sesekali matanya tertuju kepada Aditya yang sibuk dengan ibu Lusi, kontraktor hotel yang sedang dibangun atas nama Devaly.
Ia menyesal atas kebodohannya yang tidak peka terhadap kekayaan Aditya. Tau begitu ia duluan menggaet pria itu dan menjadi Ratu di The Queen. Kenapa harus Devaly, kecantikan dan tubuh sexy nya hampir serupa. Malah ia merasa lebih berpengalaman di ranjang dari pada Devaly. Tapi sudahlah, sekarang ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut hati Aditya.
Sebenarnya menjadi pekerja kantor bukan impiannya. Ia lebih senang menjadi model, berlenggang lenggok di atas catwalk dan memilih lelaki kesukaannya.
Sudah berapa kali Thasy memberi kode supaya Aditya menyudahi kerjaannya dengan ibu Lusi, tapi Aditya tidak faham. Setelah capek menunggu baru selesai dan ibu Lusi mohon diri.
"Ayank lama banget aku kangen..." Thasy duduk di pangkuan Aditya.
"Hehe.. rapiin dulu berkas-berkas ini dan masukan file." kata Aditya mendorong tubuh Thasy.
Aditya berdiri dan melangkah kemejanya, tapi Thasy cepat menarik pria itu menuju kamar mandi.
"Thasy aku mau kerja." protes Aditya.
"Sebentar aja yank, aku bisa sakit kepala kalau belum tuntas." sahut Thasy membuka pakaian Aditya.
Mata Aditya melotot melihat kemolekan tubuh Thasy, ia menelan salivanya. Sayang toketnya tipis tidak seindah punya Devaly. Thasy menaruh pakaian mereka di sofa panjang, tempat yang biasa mereka pakai bergumul.
"Sayank kita akan main di kamar mandi." bisik Thasy menarik tangan Aditya.
Thasy dengan liar mencium bibir Aditya, dan merambah ke bawah. Aditya tidak kuasa untuk menolak saat tangan Devaly menurun kan penutup rudalnya. Mereka sekarang sudah polos, tidak ada hambatan yang bisa menghalangi tangan dan bibir mereka untuk menjelajahi setiap inci tubuh mereka.
Ntah kenapa Aditya selalu membandingkan permainan Devaly dan Thasy. Dalam soal tehnik Thasy yang menang, tapi dalam kenikmatan Devaly kebih kenyal dan nikmat. Dua-duanya memabukkan.
"Sayank, manisku...kau membuat aku tidak ingat dengan dunia, Love youuu...oohh..." bibir Aditya meracau ngawur kalau sudah mencapai puncak.
"Sayank, ada ronde kedua...diam disini aku akan mengambil minum." kata Thasy mau keluar, tapi Aditya memeluknya.
"Jangan pergi, aku butuh kamu...." mereka kembali berpelukan dan berciuman.
Keringat membasahi tubuh mereka, wanita kedua rasanya lebih menggairahkan. Beda sekali bermain dengan istri sah, pelakor serasa lebih berdenyut. hehe...
"Sayank aku minta rumah sama mobil untuk kita rendezvous."
"Jangan buru-buru, Devaly telah curiga dengan kedekatan kita. Aku minta jangan terlalu mesra di depan Devaly. Kita akan tetap berhubungan secara diam-diam."
"Aku setuju sayank, jangan pernah pergi dari sisiku. Aku sengaja tidak pulang ke Los Angeles karena aku mencintaimu."
"Aku tahu itu." sahut Aditya mesra.
*****
__ADS_1
Thasy