
Kematian Darmi sangat nengejutkan semua pelayan, kejadian itu membuat trauma bagi pelayan lain. Mereka semua khasak- khusuk menyalahkan Aditya atau Devaly, rasanya tidak ada figur lain yang perlu di salahkan. Bagi mereka kedua majikannya itu berpotensi untuk menjadi pembunuh.
Oh my good, begitu kejam tuduhan pelayan membuat orang yang berada dibalik tembok bersukaria. Thasy dan Mayang bertepuk tangan. Sepertinya dia makan nangkanya dan Aditya serta Devaly dapat getahnya, tapi itu cuma pribahasa, sejatinya Mayang dan Thasy tidak ikut andil dengan pembunuhan Darmi. Thasy masih pemula, baru tahap menjadi monyet, dia belum hafal cara mengujar bait mantra yang benar. Kadang mantra di ucap sepotong, jadi dia berubah wujud sepotong. Payah dengan Thasy apalagi logatnya aneh.
Setelah skandal Thasy dengan Aditya bubar kini Thasy diajarkan oleh Mayang menjadi maling. Pertama dia tidak mau, karena takut tertangkap polisi. Mayang meyakinkan Thasy bahwa Leak bisa menghilang asal hafal mantranya. Iming-iming uang, mobil, rumah yang selalu dibisikan Mayang, membuat Thasy mau. Tujuannya menjadi orang kaya untuk mengalahkan Devaly dan Aditya membuat mereka semangat.
Perjalanan pertama di mulai menyusuri desa mengikuti Mayang untuk mencuri mangga, masih belajar menjadi maling ayam atau telor Akhirnya berani mengambil uang di dompet atau di laci saudagar kaya.
Kini daerah yang dituju termasuk penduduk elite. Hanya rumah Aditya saja yang sulit di masukin. Setiap mau masuk api mengelilingi rumah atau terlihat laut. Bagi Thasy itu aneh, tapi bagi penduduk pribumi, itu hal biasa karena orang zaman dulu sakti-sakti, untuk penyengker rumah.
Malam ini Thasy bersiap akan ke rumah Raja kapal, pak 0ghis namanya. Disebut Raja kapal karena dia punya lima puluh kapal ikan, tajir melintir. Istrinya ada tiga orang, istri tertua paling kaya, mobilnya banyak. Wanita tua ini yang menjadi incaran Mayang dan Thasy karena hidup sendiri, tanpa pengawal. Dua anaknya sudah menikah dan tinggal jauh dilain pulau.
Thashy dan Ghina naik ojol dari rumah sampai jalan besar. Setelah itu mereka jalan kaki menuju pantai, rumah nyonya Oghis memang dekat pantai. Bias bulan purnama membentuk bayangan siluet di sekitar pantai, suara ombak menambah sentimentilnya hati. Mayang berjalan dengan hati yang hampa. Ia melihat bulan dan membayangkan wajah sangarnya yang bisa merobek dada orang.
Malam ini Mayang dan Thasy akan berubah wujud untuk memburu kenikmatan duniawi, apalagi kalau bukan harta. Leak lain mungkin stres punya ilmu Leak karena bagi mereka tidak berguna, malah dimusuhi masyarakat, selalu dihindari dan menjadi momok yang menakut kan. Tapi bagi Matang dan Thasy be menjadi Leak sangat menguntungkan.
"Tidak lama lagi kita sampai." kata Mayang memberi semangat pada Thasy. Mereka cukup jauh berjalan, setelah dekat mereka baru akan berubah wujud.
"Tidak apa-apa aku biasa jalan kaki, aku kagum melihat bulan purnama, orang-orang berpasang-pasangan duduk di pantai. Aku ingin begitu."
"Thasy kamu jangan mengkhayal, saat ini kita tidak bisa berbuat banyak, setelah kaya kamu bisa membeli apapun."
"Aku ingin cepat kaya." sahut Thasy lirih.
Ntah apa yang ia cari di pulau ini, mungkin kalau pulang ke negaranya ia akan lebih kaya. Kadang ada rasa penyesalan menjadi Leak, tapi sudah terlanjur. Thasy menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
Ia mengira Aditya adalah mimpi yang dapat dikejar, tapi nyatanya Aditya bagaikan bulan yang hanya dapat dipandang. Ekspektasi nya terlalu tinggi, mengira Aditya bisa di gapai dengan mudah, nyatanya Devaly tetap nomer satu bagi Aditya. Seperti bintang yang tak pernah jauh dari bulan.
"Kita tunggu lampu rumah semua mati, setelah itu kita pasang sirep supaya mereka tidur semua." kata Mayang pelan.
Malam semakin larut Mayang dan Thasy dengan leluasa melewati penjaga, kebetulan tidak ada anjing dan rumah ternyata sepi. Thasy yang biasa bermain di tempat orang kaya tahu dimana orang kaya menyimpan hartanya.
Thasy berlomba masuk ke kamar utama dan melihat nyonya tidur dengan lelap. Mereka mencari brankas, ternyata barang itu berada disamping almari. Thasy bingung membuka karena tidak tahu sandinya. Mayang yang berubah menjadi Macan memakai gigi taring untuk menarik tombol. Ia bersyukur tombol bisa tertarik dan remuk.
Mereka mencari tas dan memasukkan semua benda yang berada di Brankas dan berusaha cepat pergi dari sana.
"Surat-surat tidak perlu di ambil, uang dan emas saja di masukin tas." bisik Thasy. Mereka keluar kamar setelah selesai menggasak uang dari Brankas. Sampai di luar Mayang melihat sepeda dan mau mengambilnya.
__ADS_1
"Jangan ambil bisa ketahuan." kata Thasy ketika Mayang iseng mengambil sepeda anak-anak. Tampak Thasy lebih pintar dari Mayang.
Keberuntungan berada di pihak Thasy dan Mayang malam ini. Mereka sangat bahagia banyak mendapat harta karun, berupa uang, perhiasan emas bertahta berlian. Surat-surat penting mereka kembalikan lewat online.
Kehilangan itu membuat polisi kebingungan karena yang terlihat di cctv adalah seekor Monyet yang duduk dipunggung Macan. Tidak mungkin animal bisa mencuri uang di Brankas, tapi menurut polisi kerusakan tombol Brankas seperti digigit binatang buas.
"Kita beli mobil Alphard." kata Thasy ketika sampai di rumah dan menghitung hasil pendapatannya.
"Aku tidak setuju, uang bagi dua saja, aku mau renovasi rumah dan untuk keperluan anakku."
"Oke, kita itung."
Mayang dan Thasy menghitung uang sampai jontor. Mereka begitu semangat sampai mata tidak bisa melek. Begitulah keadaan Mayang dan Thasy sekarang, mereka kaya mendadak dari hasil mencuri.
Beralih ke kantor Aditya. David dan Aditya jalan berendeng menuju restoran. Mereka makan sambil ngobrol. Tiba-tiba Aditya terpaku, matanya tertuju kepada sosok Ghina yang baru masuk. Aditya nampak kaget saat melihat penampilan Ghina yang seronok dan beda. Saat ini Ghina terlihat cantik dengan rambut coklat dan riasan wajah yang natural serta pakaian ketat berleher rendah yang menonjolkan toketnya. Kulitnya yang coklat eksotik membuat Ghina terlihat menarik.
"Selamat siang bos, boleh duduk disini?" tanya Ghina langsung duduk. Bau wangi parfum nya menyeruak hidung Aditya.
"Kenapa kalian bengong, heran ya melihat penampilanku. Cantik khan aku?" celoteh Ghina sambil tersenyum manis. Nantang!
"Ingat istri dirumah bos, jangan membuat perang dunia lagi." David mengingatkan.
"Istri hanya sebagai pasangan di rumah, yang selalu memberi ikan asin. Kalau aku adalah pasangan ideal yang menghibur kekosongan dan kejenuhan kaum adam. Menu harus diganti setiap hari, kalau makan itu-itu saja pasti bosan." sahut Ghina dengan suara serak-serak basah. Busyet.
Jantung Aditya dag dig dug plas mendengar pernyataan Ghina, wanita itu seolah memberi sinyal selingkuh yang perlu di apresiasi. Uhh.. Aditya menelan salivanya saat wanita itu menonjolkan toketnya yang tidak begitu besar.
"Kamu dulu bukannya tomboy?" tanya Aditya penasaran akan perubahan Ghina yang seratus persen.
"Di kampung tomboy, tapi hidup di kota perlu cuan, aku harus berubah dong."
"Jadi kamu sekarang nyambi jadi sugar baby?" tanya David kurang bersimpati dengan Ghina yang terlihat genit.
"David!!" Aditya menegur David yang terlalu kasar bicaranya.
"Tidak apa-apa Tuan Aditya, Tuan David tidak salah. Kenyataan memang begitu. Aku mau mengumpulkan banyak uang untuk beli rumah, mobil di kota ini. Jadi apa yang ada ditubuhku aku obral." Waduhhh!
"Sadar bos, ingat Devaly di rumah." kata David ketika tangan Aditya sudah nemplok dipaha Ghina.
__ADS_1
"Tuan David jangan menghalangi perahu yang mau berlayar." kata Ghina, tangannya agresif meremas tangan Aditya.
"Ghina, jangan makan teman. Kau tidak kasihan melihat nona yang sudah baik hati membiayai kau ke salon?"
"Aku tidak merebut Tuan dari nona Devaly, aku malah ingin membantu supaya biduk rumah tangganya bergairah, tidak menoton dan gersang. Tuan perlu healing dan suasana anyar yang bisa membuat fresh, dan itu ada padaku. Tidak perlu setiap hari, seminggu sekali, aku akan membuat Tuan bahagia." ucap Ghina terus terang.
"Ghina, apapun alasannya itu hal konyol, aku tahu orang-orang tipe kamu. Pertama kamu membantu, nanti kamu merampas hak nona Devaly." sinis David.
"David, tidak sebegitunya, aku masih waras kamu tidak usah khawatir. Aku mencintai istriku, dia satu-satunya yang bisa membuat aku bahagia."
"Hampir semua suami bicara begitu Tuan, aku sangat faham kata-kata puitis itu, tapi Rud4l Tuan jangan di pakai menembak sasaran lain, itu saja pesanku."
"Hahaha...Tuan David ada-ada saja. Idealis saat masih jomblo, setelah menikah sama saja broo, bisa lebih parah. Jika Tuan David mau aku bersedia jadi sugar babymu."
"Isss...jangan ganggu David." tangan Aditya menarik tangan Ghina.
"Waduhhh...parah nih, Tuan kita ke kantor saja, Ghina awas kamu mengusik Tuan, aku aduin ke nona Devaly." dongkol David melihat Aditya sudah main kode dengan Ghina.
"Suka-suka Tuan David." kata Ghina menatap Aditya dan meleletkan lidahnya.
"Aku ke kantor Ghin..." Aditya melepaskan tangannya dari remasan Ghina.
"Sampai ketemu di lautan cinta Tuan, Love you baby." bisik Ghina.
David menarik bos nya dengan cepat. Ia memaki dalam hati tingkah Ginha yang super genit. David yakin di otak bosnya ada wajah Ghina. Brengsek wanita itu. Gerutu nya kesal.
"Tuan jangan cepat tergoda kasihan Devaly dan Bintang. Apa Tuan dapat dari Ghina? paling hanya kepuasan semu yang merusak rumah tangga bos." semprot David setelah mereka sampai di ruangan.
"Aku juga tidak mengerti, dulu aku anti dengan wanita, setelah aku mendapat ilmu dari nenek sifatku berubah. Aku tidak bisa nengontrol diriku setiap melihat wanita lain." kata Aditya serius.
"Buang saja ilmu itu, itu pasti ilmu mesum."
"Begitulah." jawab Aditya singkat. ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tahu jalan keluarnya, bos harus rajin sembahyang seperti dulu. Berpikiran positif dan lebih mesra dengan nona." kata David ikut kesal kalau melihat Aditya nyeleneh.
*****
__ADS_1