LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 25


__ADS_3

Tapi perbincangan itu mendadak diam karena David datang. Pemuda ganteng itu masuk ke ruang makan. Ghina buru-buru melangkah ke ruang makan.


"Tuan David mau makan, saya ambilin." kata Ghina cepat mengambil piring. Wanita itu cekatan melayani David.


"Kemana yang lain Ghin?"


"Mereka paling ngerumpi di dapur, mana peduli Tuannya datang. Silahkan makan Tuan."


"Trimajasih Ghin...kenapa kamu basah kuyup, habis keramas?"


"Biasa lah kalau Tuan Aditya sudah kepingin. Kalau tidak dilayani nanti ngambek, Tuan maunya di kamar mandi, beginilah hasilnya."


"Huk..huk.. duhh..keselek aku."


"Minum Tuan, perasaan tidak ada tulang ikan di nasinya kenapa bisa keselek."


"Keselek mendengar omonganmu, aku tidak menyangka saja."


"Ada buktinya." sahut Ghina membuka ponselnya dan mengirim foto-foto dan vidio yang tadi dia bikin.


"Aku kirim semua bukti perselingkuhan ku dengan Tuan Aditya. Buka dong."


"Nanti aku lihat, masih enak makan takutnya tambah keselek kalau lihat sekarang."


"Aku tidak seperti wanita lain yang dipakai terus dibuang. Kedudukanku sederajat dengan nona Devaly, jadi Tuan Aditya harus menikahiku. Sebelum perutku membesar kami harus sudah sah."


"Jangan menambah dosa Ghin, kasihan nona Devaly. Tuan mungkin hanya iseng padamu, maklum Tuan jauh dengan nona Devaly."


"Itulah salahnya Tuan Aditya, aku orangnya serius dan tidak mau diperlakukan seperti Thasy. Habis manis sepah dibuang."


"Kasihan nona Devaly, kamu diajak disini supaya bisa menambah penghasilanmu dan menjadi wanita mandiri. Cari lelaki lain untuk sandaran hidupmu, jangan suami orang kamu rebut."


"Jodoh ditangan Tuhan. Aku yang berjodoh dengan Tuan, bukan nona Devaly. Ini bukti nyata. Setelah gonjang ganjing rumah tangga Tuan Aditya, tiba-tiba aku menjadi pilihannya bukan Thasy atau wanita diluar sana."


"Ada apa ini, kita menguping dari tadi diluar dan tertawa mendengar pengakuan Ghina. Seperti pungguk merindukan bulan, tidak bakal terjadi. Ekspektasi mu terlalu tinggi." ucap Kokom dengan suara meninggi. Dia sudah sebel mendengar perbincangan David dan Ghina.


"Kokom diam mulutmu, kamu pelayan hanya cocok di dapur, ini urusan level atas."


"Aku memang pelayan, tapi punya adab, tidak sepertimu modal tubuh seronok."


"Aku mau istirahat silahkan lanjut, bila perlu berantem ke lapangan." kata David berdiri.


Ia begitu saja pergi dari ruang makan, tidak ingin tahu tentang Ghina. Pikirannya tertuju kepada Devaly, antara ingin memberitahu keberadaan Devaly atau membiarkannya. David iseng masuk ke rumah utama menuju kamar David.


"Kleekk..." pintu tidak dikunci.


David nyelonong masuk dan mendapati Aditya tidur tengkurap dengan baju lengkap yang tadi pagi dipakai. Bibir David tersenyum penuh arti, berarti Ghina berbohong. bathin David. Ia keluar menuju kamarnya. Hati David plong karena bosnya tidak berselingkuh.

__ADS_1


Ghina boleh mati-matian mengaku di "kocok" oleh Aditya, tapi tetap saja tidak ada yang percaya. Karena foto yang di edit Ghina tidak bagus, kurang rapi sehingga kelihatan palsu. Aditya sendiri tidak percaya dan marah kepada Ghina.


"Apa maksudmu bikin editan begini? Dulu aku hampir khilaf dalam rayuanmu, sekarang aku lebih memilih sendiri."


"Apapun kata Tuan, kita sudah menyatu. Itu kenyataan bukan editan, Tuan tidak mau mengakui kita sudah tidur berdua. Jika saya sudah hamil, Tuan baru menyesal telah marah-marah kepada saya."


"Ghina, kenapa kamu bandel. Hapus vidio dan foto itu, kalau dilihat sepintas memang kelihatan benar. Tapi orang pintar tidak bisa kamu bodohin."


"Berarti istri Tuan bodoh?"


"Maksudmu? kamu mengirim vidio ini kepada istriku? begitu maksud mu."


"Ti..ti. dak Tuan. Mana saya tahu dimana nona Devaly berada."


"Sampai kamu mengirim foto atau vidio konyolmu ke orang lain, aku tidak segan-segan menyuruhmu pergi dari sini."


"Saya tidak berani gegabah Tuan." sahut Ghina berdiri.


"Saya permisi Tuan."


Ghina cepat keluar dari ruang tamu. Jantungnya berdebar mendengar ucapan Aditya. Sudah semua pelayan dia kirimin, kecuali Kemoning. Terus terang ia takut sama Kemoning. Jika Kemoning marah ia bisa dibakar hidup-hidup. Ghina mengirimi Thasy dan Devaly. Hanya Thasy yang marah dan meresponnya.


"Brengsek kamu Ghina, beraninya kamu merebut Aditya. ingat pembalasanku." Ghina tertawa membaca chat Thasy lewat whatsapp.


"Sebentar lagi aku hamil, Tuan sudah janji menikahiku dan memberi satu Villa padaku." balas Ghina kegirangan.


"Aku akan makan jantungmu sebelum kau lebih banyak mengkhayal. Tunggu aku nanti malam dibawah pohon mangga diluar rumah. Ingat, NANTI MALAM!!"


Mereka saling serang chat berdua. Ghina merasa di atas angin. Sedangkan Thasy panas hatinya. Ia keluar kamar menuju kamar Mayang.


"Tookk..tookk..tookk.."


"Mayang...kamu ada di dalam?"


"Masuklah, ada apa lagi. Aku tidak enak badan. Meriang, sakit kepala."


"Kamu kebanyakan begadang dan minum. Aku rasa kamu sudah kecanduan alkohol dan rokok. Hati-hati terjun ke dunia malam, banyak bisikan setan."


"Elehhh....apa yang aku harapkan dari hidup ini, Aditya tidak mungkin. Pak Made sudah mati. Jalan satu-satunya untuk menghibur diri, adalaDswwa4h menjadi liar."


"Terserah kamu, tapi aku minta tolong hadapi tetangga sebelah nanti malam. Aku ingin mereka seperti Gusde yang tercabik-cabik."


"Maksudmu Aditya?"


"Devaly, Kokom, Ghina yang berani merebut Aditya dan pelayan lain."


"Apa Devaly bisa ngeleak?"

__ADS_1


"Bisalah, tapi aku tidak tahu dia bisa jadi apa. Aku dengar gosip bahwa Devaly sakti."


"Okee...aku dendam dengan Devaly. Aku akan mencincangnya, kebetulan sekarang hari khusus untuk Leak, pasti seru sekali karena banyak Leak ajan keluar."


"Begitukah, aku juga akan nonton. Mulainya jam berapa?"


"Ini dikota, pasti agak malam. Sekitar jam dua belas malam atau lebih. Kita nongkrong di depan pasti ada yang lewat."


Thasy sangat senang karena Mayang mau membantunya dengan sukarela. Khayalannya tinggi sekali, terlintas dalam pikirannya untuk menyingkirkan Ghina, setelah itu Kokom dan Devaly. Terakhir menculik bayi Devaly dan menikah dengan Aditya.


Pukul.23.00 wita, malam sangat pekat dan lembab. Terasa sekali hawa mistis di sekitar rumah Aditya. Suasana itu didukung oleh lolongan anjing kampung yang seolah-olah melihat hantu. Sungguh menakutkan. Malam ini adalah harinya Leak. Mereka akan datang ke kuburan untuk mencari bayi yang mati dalam kandungan atau bayi yang meninggal.


Mayang dan Thasy sudah bersiap. Thasy menjadi monyet kecil, karena masih pemula dan Mayang menjadi Macan betina. Mereka berdua ada di atas tembok pembatas antara rumahnya dan rumah Aditya.


Mereka menunggu dalam diam, kesabaran mereka perlu diacungi jempol. Satu jam telah berlalu, akhirnya satu persatu Leak datang dan bercanda dibawah pohon mangga. Pak Ketut yang sudah tahu hari Leak dari pukul sepuluh sudah pulang, dia takut kejadian pak Made terulang.


Padahal Mayang dan Thasy matanya sudah jeli, tapi tidak satupun manusia keluar dari rumah Aditya. Bagi orang awam kadang tidak melihat Leak, tapi merasakan kehadirannya.


Akhirnya Mayang ikut turun dan bergabung dengan Leak lain. Thasy turun dan kembali ke kamarnya, ia kecewa karena tidak melihat penghuni rumah Aditya. Tidak ada gunanya bermain dengan mereka, tujuannya hanya ingin membunuh Ghina.


Seperti dicocok hidung semua Leak ikut pergi menuju kuburan, Mayangpun ikut. Dia lupa kepada tugasnya membunuh keluarga Aditya. Masuk ke rumah Aditya dalam wujud Leak tidak bisa, karena di sengker oleh ilmu Agni dan Segara.


Pupus sudah impian Thasy, ia hilir mudik di kamarnya tanpa tujuan. Wujudnya tetap monyet kecil tak berdaya. Iseng dia keluar dari kamar dan kembali melompat ke tembok Ternyata suasananya sangat sepi sekali, berarti Ghina pembohong. pikirnya geram.


Thasypun mengelilingi rumah Aditya dari luar, tidak ada celah masuk ke dalam. Kalau dipaksa bisa bahaya. Akhirnya dia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Dia keluar menuju gardu satpam. Kebetulan pak Ketut tidak ada, jadi dia tenang menelepon Ghina.


Berkali-kali dia menelepon Ghina tapi tidak ada jawaban, untuk menghibur hatinya Thasy mulai mengganggu pengguna jalan. Dia senang melihat ekspresi takut di wajah orang dia berhenti mengganggu orang, sampai dia mendengar suara panggilan seseorang.


"Thasy kesinilah, aku ingin melawan mu."


"Siapa kau?" Thasy melompat keluar dari Gardu dan mencari sumber suara. Dia yakin suara itu keluar dari pohon mangga.


Tiba-tiba dua bola api melayang hampir menghantam tubuhnya, Thasy dengan ringan mengelak. Perasaannya menjadi terbakar, darahnya mendidih. Thasy melompat ke pohon mangga, dia kaget karena ada tiga monyet di pohon mangga.


Ntah apa salahnya, ketiga monyet itu menyerangnya. Thasy berusaha menyerang dan memukul sembarangan. Dia tidak tahu darimana datangnya, segala macam Leak saling pukul satu dengan yang lain.


Thasy tidak mengenal mereka, tapi tetap saja ada yang memukul. Bola api semakin banyak datang, membuat area itu terang dan sangat menarik. Tempat itu seolah basecamp bagi para Leak.


Pada saat itu Thasy tidak tahu mana kawan mana lawan, sejujurnya baru kali ini dia turun dan bergabung dengan Leak. Seekor Macan yang dia tenggarai Mayang mendekatinya.


"Mayang kaukah itu?" suara Thasy membuat yang lain menoleh. Tidak ada yang bicara, karena tidak boleh memanggil nama teman, nama sendiri atau bicara membuka identitas. Jika itu dilanggar para Leak bebas bertindak.


Mayang cepat melompat karena dia sangat gemes melihat monyet kecil yang bodoh. Dalam pandangannya monyet ini sangat enak bila dimakan di semak-semak. Tapi Singa, anjing dan Leak lain juga menginginkan monyet kecil itu. Mereka akhirnya berburu monyet, karena ada empat monyet.


Sebelum mendapat monyet, mereka satu persatu bertarung melawan sesama Leak. Korban mulai berjatuhan, pemenangnya semua binatang buas. Mangsanya diseret ke atas pohon mangga atau ke semak-semak.


Thaxy sendiri meloncat ke atas tembok dengan perasaan mulai ketakutan melihat Singa menyeret monyet lain. Macan ikut meloncat dan mengejar Thasy.

__ADS_1


"Mayang, ini aku Thasy..." teriak Thasy takut. Bagi Leak yang buas tidak mengenal siapapun, ia hanya lapar dan menginginkan makanan.


****


__ADS_2