LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 34


__ADS_3

Kemoning bangun kesiangan, ia bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri. Pagi ini memang sial, ketika buru-buru ada saja yang jatuh kena senggol tangannya dan kakinya. Gelas yang biasa anteng di atas meja jatuh gelinding ke lantai, pecahannya keinjak kakinya. Terpaksa ia mengurus beling dan kaki yang sedikit berdarah.


Ia keluar dari Kastil dengan kesal. Akhirnya siang juga, rasanya ingin berlari supaya bisa ketemu Aditya dan melayani lelaki itu dengan mesra. Kemoning sengaja memakai pakaian sexy supaya bisa membuat Aditya tergoda. Bukankah tadi malam Aditya mengucapkan kata-kata cinta dan menciumnya mesra. Itu sudah membuktikan bahwa Aditya sudah jatuh cinta padanya.


Kemoning langsung masuk ke ruang makan. Dia kelihatan sedikit pucat dan mengurus. Di ruang makan ada Thasy dan Ghina. Kokom duduk dengan Sri dan Yeny. Terlihat Yeny sedang menyuapi Bintang Samudra sambil mengobrol.


Kemoning lalu duduk di samping Ghina, ia bingung mau duduk dimana. Lebih baik duduk dengan musuh real daripada duduk dengan orang yang setia dengan Devaly. Perasaannya mendadak bersaing dengan Devaly, padahal ia tahu Devaly wanita yang baik hati dan penyayang.


Kemoning harus tega melihat penderitaan Devaly, ia tidak boleh lemah seperti dulu. Tidak ada Leak lemah atau menyerah begitu saja. Hidup sekali jangan terlalu menyiksa diri, kebih baik jalani apa yang disukai. Hidup itu pilihan, mau terus jadi pelayan seperti Kokom atau hidup enak seperti dirinya. Melihat Kemoning datang Thasy tertawa tertahan. Ia melihat Kemoning salah kostum. Mau sarapan pakaiannya serba terbuka.


"Wahh...Kemoning semakin seronok saja, pantas kesiangan, make up nya lama ya." tegur Thasy tidak bisa menahan diri untuk berkomentar.


"Aku bersih-bersih kamar dulu, tidak seperti kamu, seenaknya pergi."


"Aku di rumah ini ratu yang dicintai oleh Aditya. Tidak seperti kamu dipakai lalu di buang."


"Itu dulu, sekarang kamu disini adalah babu yang tidak digaji."


"Aku tetap ratu kedua karena yang pertama adalah Devaly. Aditya setiap siang selalu menggoyang ku bagaimana menurutmu?" sahut Thasy membuat Kemoning marah.


"Aku tidak percaya, tidak mungkin anunya bisa mencoblos wanita lain karena aku sudah jampi-jampi, dia bisa sama aku saja."


Thasy dan Ghina kaget mendengar omongan Kemoning. Mereka yakin Kemoning mampu berbuat itu karena sakti. Thasy bergidik dan kasihan kepada Devaly. Senyum Devaly dan kemesraan Aditya palsu belaka, mereka tidak bahagia. Aditya tidak tahu dikadalin oleh Kemoning.


Perdebatan kecil mereka terhenti saat Aditya datang melewati meja mereka. Ntah Aditya sengaja atau tidak, Aditya sama sekali tidak menoleh apalagi mau menyapa mereka. Ia berjalan lurus menggandeng Devaly menuju meja di pojok, karena putranya duduk disitu.


Padahal momen "disapa" oleh Aditya mereka tunggu-tunggu dari tadi. Mereka sudah capek bergaya, yang digandeng tetap saja istrinya.


Begitulah Aditya, kalau tidak dipanasi, dia seperti es, dingin. Devaly hanya tersenyum tipis saja, ia terlihat tetap cantik dan anggun.


Kokom dan Sri berdiri siap melayani Aditya dan Devaly. Ia tidak ingin Kemoning atau Ghina ikut campur melayani bos mereka.


Melihat kemesraan Aditya dan Devaly, hati Kemoning jadi sakit. Ia marah dalam hati tidak dianggap oleh laki-laki itu.


"Kenapa wajahmu cemberut, apakah kamu cemburu tidak bisa menggapai cinta Aditya. Makanya jangan mengkhayal terlalu tinggi, jika jatuh akan terasa sakit sekali." bisik Thasy ketika mata Kemoning berkilat melihat Devaly dan Aditya sangat mesra.


"Bukannya kamu yang cemburu, kalau aku sudah lebih dari cukup melayani Tuan setiap hari." jawab Kemoning kesal.


"Kau bisa menikahi Aditya karena menipu, coba secara real, Aditya pasti terbirit-birit melihat yang diajak menikah adalah Leak."


"Pikiranmu negatif, aku dan Tuan saling mencintai. Kami saling membutuhkan satu sama lain. Hanya aku yang bisa memuaskan Tuan."


"Aku tidak percaya, bagaimana kalau suatu hari aku memberitahu Aditya bahwa kau telah menipunya."

__ADS_1


"Sebelum kamu memberitahu Tuan, hati dan jantungmu sudah pindah ke perutku. Aku tidak segan-segan menghabisimu."


"Aku tidak pernah takut padamu atau pada pendetamu, sudah puluhan kali kamu dan Ghina mengancam akan membunuhku, tapi sampai sekarang aku tetap berdiri disini." ucap Thasy sombong.


"Mulutmu lancang membawa nama pendeta, orang tuaku sekali bertindak matilah kau."


"Bunuhlah aku kalau mampu, hanya Tuhan yang bisa mencabut nyawa ku. Aku dari dulu tidak takut pada kematian."


"Nembunuhmu masalah kecil. Mayang yang lebih hebat darimu aku bisa bunuh. Apalagi kau yang cuma sebutin debu.." ejek Kemoning menyeringai sinis.


"Tapi sebelum bulan purnama rahasiamu sudah aku bongkar hahaha..." Thasy menahan tawanya.


"Tunggulah bulan purnama tiba, aku akan membunuh mu dan membuang jazadmu di depan Aditya, supaya dia tahu selingkuhan nya sudah dimakan Leak."


Mereka berhenti berdebat ketika David masuk, pemuda tampan itu sama dengan Aditya melewati mereka bertiga, kemudian duduk disamping Devaly.


Ntah apa yang diceritakan membuat Aditya merah wajahnya. Kemoning terus menatap suami palsunya berharap Aditya memanggil dirinya, tapi Aditya tidak peduli.


Lama juga Aditya ngobrol dengan David setelah itu ia terlihat berdiri menggendong Bintang dan menciumnya sebentar. Devaly dan David ikut berdiri. Aditya lalu memeluk Devaly, mengecup bibirnya mesra. Setelah itu kedua laki-laki itu keluar dari ruang makan.


"Tuan mau kemana?" tiba-tiba Kemoning mengejarnya.


"Ada apa Kemoning?" Aditya berhenti dan menoleh kepada Kemoning. David juga ikut berhenti.


"Jangan ditanggapi, atau kamu pindah ke Guesthouse. Bilang sama semua orang bahwa kamu berhenti bekerja." bisik Aditya supaya David tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Apa kamu mau membiayai hidupku, kalau aku berhenti bekerja?"


"Bawa satu ATM ku, Kamu bebas mau belanja apa." kata Aditya memberi Kemoning ATM silver.


"Trimakasih Tuan, aku akan segera pindah." Kemoning sangat diberi ATM, bayangan kemewahan berada didepan mata. Dengan ATM itu ia bisa membeli mobil, rumah atau apa saja.


Aditya dan David melanjutkan perjalanan, Walaupun David tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia melihat Kemoning di kasih ATM oleh Aditya. David tidak mau berspikulasi negatif mengingat Kemoning masih saudaranya dan orang kepercayaan Aditya. Tidak masuk akal saja.


"David dimana posisi Dewi aku akan kesana sendiri." kata Aditya ketika sampai di garasi.


"Di Restoran Koji, dia menunggu disitu." jawab David tidak jadi naik ke mobil.


"Dewi mengancam ku bukan bos, kalau aku tidak datang aneh saja. Seolah aku cemen dan berlindung pada bos."


"Elehhh...aku sudah tahu semuanya, tenang saja. Perempuan itu perlu dikasih pelajaran. Aku juga sering diteror oleh dia."


"Waduhh...kenapa tidak bilang bos, tahu begitu kita pecat saja. Aku bersyukur tidak jadi menikah dengannya."

__ADS_1


"Jadi itu bekas pacarmu?" tanya Aditya kaget.


"Ya, dia itu satu kost dengan Devaly." jelas David.


David mulai bercerita tentang Dewi dari awal bertemu dan pacaran. Bagaimana ia dihina oleh keluarga Dewi karena tidak selevel.


Aditya mendengar dengan geram. Akhirnya Aditya juga bercerita kalau Dewi sering mengirim foto David dan Devaly sedang di kost, dan menghasut supaya Devaly di cerai.


"Kita balik kerumah, tidak usah ditanggapi ancamannya. Senin besok kita pecat. Dia tidak bermaksud kerja, tapi ingin membuat kamu di penjara. Akhirnya mereka balik kerumah.


Cinta Kemoning berlipat-lipat kepada Aditya saat pria itu memberikan kartu ATM. Serasa menjadi istri sungguhan, dipercaya untuk membawa ATM. Devaly dulu juga pernah di kasih ATM oleh Aditya, ketika Devaly minggat isi ATM dikosongkan oleh Aditya. Untung Devaly bekerja dan bisa menghasilkan uang. Kalau tidak Devaly dan Bintang bisa mati kelaparan. Kemoning belajar dari kejadian itu, ia tidak akan meninggalkan Aditya seburuk apapun sikap Aditya padanya.


Sebenarnya Devaly tetap seperti dulu, tidak ada masalah dengannya, hanya Kemoning mengambil jarak, takut kalau Thasy atau Ghina mengadu. Seandainya Devaly tahu pasti hancur hatinya.


Kemoning ke rumah utama dan memanggil semua pelayan. Ada Ketut yang baru datang dari kampung. Di belakangnya ada Ghina dan Thasy berjalan sibuk dengan ponselnya.


"Ada apa ramai-ramai, pembagian sembako atau mau arisan menjadi Leak." ucap David memandang Kemoning sinis.


David tiba-tiba benci melihat Komoning yang pongah mengambil ATM dari tangan Aditya. Apapun alasannya itu tidak baik. Masalahnya sampai sekarang Devaly menolak ATM dari Aditya, ia trauma.


Aditya langsung masuk ke kamar memeluk Devaly. Dia tidak tahu kalau Kemoning di belakangnya.


"Maaf nona, saya mau pulang kampung dan tidak kembali lagi." Aditya kaget ada suara di kamarnya.


"Iih..Komoning ketok pintu kek!" sru Aditya. Kemoning langsung mukanya merah.


"Aku biasa dari dulu begini, kamu sudah tahu tapi selalu berpura-pura." kata Kemoning dengan suara tinggi.


"Ya ampun, jaga bicaramu. Kamu berhadapan dengan Tuan." kata Devaly kaget. Ia memeluk suaminya supaya tidak memukul Kemoning.


Kemoning tidak menggubris omongan Devaly ia pergi begitu saja. Hatinya panas ketika melihat Adit memeluk dan mencium Devaly. Ia telah jatuh cinta kepada Aditya dan tidak rela kalau Aditya bermesraan dengan wanita lain.


Devaly mau turun dari ranjang namun Aditya cepat memeluknya. Aditya merasa Kemoning cemburu. Tambah gawat saja. Sampai Devaly tahu hancurlah hidupnya.


"Sayank, biarkan Kemoning dia lagi setres diancam mau dibunuh oleh Thasy. Tadi dia sudah pamit denganku untuk pergi dari sini." kata Aditya mengunci pintu kamar dan kembali memeluk Devaly.


"Pantesan dia akhir-akhir ini kasar dan berani melawan. Aku kasihan padanya, dia begitu baik dengan kita."


"Dia sangat baik, apapun dia korbankan demi menolong ku. Aku kasihan padanya. Dulu aku tidak peduli padanya, menganggap pelayan biasa, tapi dia luar biasa." sahut Aditya pelan.


"Memang dia luar biasa dan berani berkata jika kita salah jalan. Seharusnya kamu tahan Kemoning supaya tidak pergi." usul Devaly.


"Iklaskan dia pergi, jika ada yang mengadu tidak-tidak jangan di gubris. Thasy sama Ghina adalah racun, yang tidak ada akan diadakan." kata Aditya mengecup bibir Istrinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2