
Thasy tidak bisa mengelak dari kecurigaan polisi dan seisi rumah The Queen. Karena dari cctv terekam saat dia berantem dengan Surti ada ancaman pembunuhan yang sadis, dengan mengatakan akan merobek dada Surti dan memakan jantungnya.
Kematian Surti ternyata sangat persis dengan ancaman Thasy. Walaupun Thasy mengeluarkan segudang alibi dan sumpah pocong, tetap saja Thasy di gelandang ke tahanan polisi. Masyarakat ingin memberi efek jera kepada Thasy.
"Aditya tolonglah, aku bersumpah tidak membunuh Surti. Aku tidak tahu menahu masalah Surti, percaya padaku."
"Nanti di pengadilan kamu akan didampingi pengacara, saat ini aku tidak bisa membantu mu, karena kasus nya sudah Viral."
Begitulah keadaan Thasy yang merasa tidak makan Surti dituduh makan Surti. Ia jadi kesal saat polisi menahannya di polda. Polisi menahan untuk sementara, maksudnya supaya memberi shock terapi, supaya Leak lain juga takut. Walaupun belum ada pasal yang bisa menjerat pelaku klenik, atau semacamnya, masyarakat tetap ingin Thasy di jebloskan ke hotel prodio.
Thasy meradang dan sangat marah saat ia ditahan sebelum ada saksi dan bukti yang valid tentang pelaku pembunuhan Surti. Tapi ia tidak bisa berkutik. Malamnya ia tidak bisa tidur berada di ruangan sempit dan panas jadi satu dengan tujuh orang wanita yang menjadi teman sekamarnya. Wanita-wanita itu kebanyakan karena narkoba.
"Siapa namamu orang bule." seorang wanita mendekati Thasy.
Komunikasi menjadi tidak lancar karena sama-sama tidak mengerti bahasa. Thasy tidak diganggu, karena tidak mengerti bahasa.
"Pak kenapa bule ini ada disini?" tanya salah satu penghuni kepada petugas. Mereka kepo penyebab Thasy di penjara.
"Tadi malam dia membunuh orang." petugas ingin menakuti tujuh wanita ini yang biasanya bikin ribut.
"Aduh, bahaya ini, apa dia psikopat?" wajah para wanita itu pucat, siapa tidak takut dengan pembunuh.
"Dia bisa ngeleak, kalau malam dia berubah jadi monyet dan memakan jantung orang. Apalagi melihat kalian yang suka nyinyir pasti langsung dimakan."
"Iihh...ngeri, lebih baik di lepas saja kita tidak mau di makan. Aku merasa mulutnya ngomel atau ajhcb.komat-kamit membaca mantra." protes mereka ketakutan. Siapa berani sama Leak, makhluk gaib yang sangat mengerikan.
"Kalian merasa jagoan selama ini, tidak takut dengan hukum, tapi sama Leak kejerr, aneh. Coba kroyok, pasti menang."
"Bagaimana melawan Leak, dia gaib. Kami berdoa supaya bapak yang dimakan duluan." kata mereka kesal.
Petugas itu cepat-cepat pergi, takut terjadi sesuatu, karena bule yang mereka tahan terus ngomel. Dulu pernah terjadi di desa Dukuh Sari, seorang nenek bersembunyi di kamar bayi tetangga, untung bayi nya belum dimakan, karena masih sore. Atas anjuran masyarakat, polisi menahan nenek itu yang sering menjadi buah bibir warga, saking saktinya dalam ilmu Leak.
Kemarahan warga berujung pada laporan ke polisi. Penangkapan segera dilakukan oleh yang berwajib. Saat nenek dibawa petugas, dia ngamuk dan mengancam beberapa orang anehnya orang-orang itu mati satu persatu sebulan kemudian.
Yang tidak masuk akal, si nenek selalu bisa keluar dari sel tahanan dan tidur dirumahnya. Biarpun kakinya di rantai, tetap saja bisa di lepas. Akhirnya polisi membebaskan nenek.
Belajar dari kejadian itu, polisi mengabulkan permintaan Aditya untuk menebus Thashy dengan uang jaminan. Akhirnya Thasy bisa bebas bersyarat. Dia sangat gembira dan beberapa kali mengucapkan trimakasih.
"Trimakasih sayank, telah mengeluarkan aku dari tempat ini. Aku semakin mencintaimu."
"Syukurlah polisi sudi melepaskanmu, jika tidak kamu bisa di gebukin seisi kamar."
"Mereka takut padaku, tidak ada yang berani dekat denganku."
"Bukannya takut, mereka mungkin merencanakan kematianmu. Karena orang yang bisa ngeleak tidak disenangi warga." Aditya sengaja menakut-nakuti.
"Kenapa David tumben tidak ikut, apa kamu punya rencana menginap di hotel denganku."
"David menjaga rumah, aku hanya ingin menebusmu saja sebagai teman istriku. Semua aku lakukan demi kebaikan istriku."
"Mskam ini aku butuh kehangatan darimu, lama tidak tidur bareng."
"Aku tidak bisa meninggalkan rumah, pelayan sedang stres." kilah Aditya. Ia tidak ingin menjalin hubungan dengan Leak, takut seperti Gusde. Saat jadi Leak mana tahu pacar atau suami, kalau lapar dimakan.
__ADS_1
"Kakau begitu aku menginap di rumahmu, semakam saja." bujuk Thasy.
"Tidak boleh, seisi rumah bisa ngamuk melihatmu."
Thasy kesal di tolak, ia berjanji suatu hari akan membuat Aditya merengek-rengek padanya.
Malam semakin larut cuaca mendung, sebentar lagi pasti turun hujan. Aditya menurunkan Thasy di gardu. Ia bersyukur bisa menolak Thasy malam ini, biasanya sulit sekali menolak ikan teri, walaupun ada ikan ayam dirumah.
"Turunlah Thasy aku lelah sekali."
"Trimakasih sayank, semoga kamu bisa berpikir ulang tentang diriku. Kapanpun kamu butuh kehangatan aku pasti siap."
"Kapan-kapan Thasy, selamat malam." kata Aditya meninggal kan Thasy turun di depan gardu. Aditya melanjutkan masuk ke rumah menuju parkiran.
Thasy agak dongkol ditolak mentah-mentah oleh Aditya, ia merasa sikap Aditya berubah, tidak semesta sebelumnya.
"Nona Thasy baru pulang, sudah beres persoalannya?" tanya pak Made, kepalanya nongol dari gardu.
"Polisi salah tangkap aku tidak bisa ngeleak, di tuduh ngeleak. Untung Tuan klarifikasi dan akupun di bebaskan."
"Benarkah itu, jadi nona tidak bisa ngeleak? Syukurlah. Saya tadi takut dekat dengan nona."
"Sekarang mau tidak ke kamarku?"
"Mau dong, tapi saya jaga. Suasana genting membuat saya harus selalu siap."
"Sebentar saja, tidak ada satu jam." pak Made mengikuti Thasy ke rumahnya.
Rumah sepi, Mayang pasti sudah tidur. Thasy tidak tahu kenapa Mayang akhir-akhir ini jarang pulang. Kelihatan dia sibuk, dandanan nya semakin glamour. Mungkin saja rejekinya tambah moncer. Mobilnya juga sudah ganti Jazz warna putih.
"Nona sabar... .." kata pak Made membuka pakaiannya. ia berdoa supaya bisa melayani Thasy karena baru saja ia dibikin K.O oleh Mayang.
Ciuman Thasy begitu liar membuat pak Made berusaha mengimbangi dengan baik. Thasy mendengus kesal saat tangannya aktif bermain dibawah perut pak Made, tapi tidak ada hasil.
Thasy bersabar, ia memakai mulutnya untuk membangun gairah pak Made, tapi tetap juga loyo.
"Kenapa bisa begini, apa kamu lagi lelah?" tanya Thasy pelan. Ia akan maklum jika pak Made kurang sehat. Mungkin pak Made perlu istirahat sebentar, ia akan sabar menunggu.
"Aku malu tidak perkasa malam ini. Besok kita lanjut lagi." kata pak Made meraih pakaiannya.
"Jangan seenaknya, kamu bisa dengan cara lain untuk memuaskanku."
"Maaf nona saya lelah sekali."
"Jadi jamu mengakui sudah tidak mampu, sudah tua Bangka!!" ketus Thasy.
"Saya tadi melayani Mayang empat jam dan dia puas...."
"Plookk..."
Thasy menampar pak Made dengan keras. Ia baru tahu kalau pak Made berselingkuh dengan Mayang.
"Kurang ajar, beraninya kau menamparku, dasar murahan...."
__ADS_1
"Desss....Bugg...."
Pak Made mendidih, dia memukul Thasy sekaligus mendorongnya. Thasy murka, ia menyerang pak Made dengan cara menggigit dan mencengkramnya. Mereka saling pukul, Thasy sangat marah ketika pak Made bringas dan mencekik lehernya.
Tanpa disadari ia sudah berubah menjadi monyet dan menggigit leher pak Made, tubuh pak Made hancur digigit dan di cakar monyet. Dalam hitungan menit pak Made sudah tidak bernyawa.
Pukul 06.00 dini hari, seorang pelayan mau pergi ke pasar, sampai di halaman depan dekat garasi, ia tiba-tiba melihat seorang laki-laki tergantung di pohon mangga dalam keadaan telanjang. Seluruh tubuhnya tercabik-carik. Darahnya sudah membeku dan badannya kaku.
"Tolooong...Tolooong..." teriaknya balik ke dalam rumah.
Semua pelayan berhamburan keluar dan ada yang membangunkan Aditya, serta ada yang menelpon polisi.
Tidak berapa lama polisi dan ambulans datang. Mereka menurunkan jazad pak Made dan memasukkan ke kantong jenazah.
Seperti yang sudah-sudah tidak ada tindakan apapun dari polisi, padahal anjing pelacak sudah di kerahkan. Yang membuat heran anjing pelacak tidak mampu mencari sampai ke rumah Thasy, ia mandeg sampai gardu saja. Sungguh ajaib.
"Aku ingin pergi dari rumah beberapa hari." kata Aditya ketika ia dan David pulang dari polisi. Ia capek berurusan dengan Leak dan polisi. Sedangkan urusannya sendiri dengan Devaly masih menggantung.
"Sebaiknya bos healing ke Ubud atau kemana saja yang bisa membuat otak fresh. Aku juga untuk sementara waktu akan menginap di teman seminggu."
"Ngapain ikut pergi, tidak ada cowok di rumah."
"Temanku datang luar negeri, dia mau bikin pesta kecil-kecil-an, tidak enak kalau gak datang."
"Di luar negeri kerja apa?"
"Berlayar, jadi anak buah kapal pesiar. Gajinya lumayan besar."
"Kapan kesana?" tanya Aditya tidak bergairah ia juga ingin pergi tapi terpaksa pulang.
"Sekarang, tolong antarkan aku kesana. Tidak jauh dari sin."
"Okee...aku anterin, malas sekali pulang." keluh Aditya memacu mobilnya ke kota.
"Kita belum sarapan, bos mampir saja ke kost temanku, dia pasti sudah siap sarapan."
"Tidak enak, aku antar kamu kesana saja." kata Aditya menuju tempat yang ditunjuk David.
"Sudah sampai bos, trimakasih. Sampai ketemu hari senin di kantor."
David turun dari mobil masuk ke dalam kost. Tempat ini cukup nyaman, berisi sepuluh kamar elite dan semua penuh. Sebelum David memencet bel, temannya sudah duluan membuka pintu.
"Miss you...." Dewi menghambur kepelukan David.
"Miss you too..." sahut David mencium pipi gadis itu.
"Sudah setahun kita berpisah, kamu hanya mencium pipiku?"
"Aku tidak mau lebih, takut kamu melendung masalahnya aku tetap seperti dulu, belum kaya."
"Jangan berkata begitu, aku mencintaimu David. Susah payah aku bekerja keluar negeri supaya bisa beli rumah untuk kita berdua. Hargai pengorbanan ku."
"Dulu aku mencintaimu, tapi setelah keluarga mu menghinaku, aku mundur teratur dan tak kembali lagi. Masih banyak pemuda yang lebih dariku dan berkasta tinggi, maafkan aku Dewi."
__ADS_1
"David aku mencintaimu, tidak mau yang lain." teriak Dewi membuat seisi kost keluar. Dan termasuk Yeny dan Devaly.
*****