LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 29


__ADS_3

Kemoning menegur Ghina yang selalu ikut campur masalah Aditya dan menyuruh Ghina berhenti mendekati Aditya. Ghina pura-pura tidak tahu pernikahan Kemoning, dan tidak menjawab sepatah katapun. Tentu ia kecewa terhadap perlakuan Kemoning yang seperti musuh.


"Aku akan ada disamping Aditya dan selalu melayaninya. Kamu tidak perlu repot menarik kursi atau mengambilkan piring untuk Tuan. Intinya, menjauhlah dari kehidupan Tuan." Kemoning menyilangkan kedua tangannya di dada.


Ghina berusaha menahan diri dan tidak melawan, perasaannya tidak menentu kala mendengar larangan yang diucapkan oleh Kemoning. Kemoning sudah berubah menjadi otoriter dan overprotektif. Panas kupingnya mendengar ocehan Kemoning yang terlalu menekannya dalam berpakaian.


Perasaannya baru bisa lega saat berada di sadel sepeda motor ojek online. Ia terpaksa ke kantor naik ojek, tadi maunya dengan Aditya, tapi Aditya juga menolaknya. Hari yang sial.


Matahari pagi terasa menyengat tubuh, suhu 32 derajat celcius. Keringat di dahi Bintang bertaburan, putranya dalam keadaan demam. Devaly turun dari Taxì, ia melangkah tanpa menengok kiri kanan. Saat menyebrang jalan David menyambutnya.


"Met pagi Dev... aku menunggumu dengan setia. Bos baru saja berangkat." sapa David dengan senyum mengembang.


"Syukurlah, aku baru bisa datang, Bintang badannya demam."


"Tahu gitu aku jemput kamu sekalian bawa anak ke klinik. Sampai rumah kita panggil dokter Yogi saja."


"Baiklah, aku khawatir dia demam berdarah, karena di kost ada teman kena demam berdarah. Tadi aku sudah kasi obat penurun panas."


"Semoga saja demam biasa, coba aku gendong."


"Tidak usah David nanti dia bangun malah berabe." tolak Devaly terus melangkah.


Bintang menggeliat sebentar kemudian tidur lagi. Wajah bulenya terlihat bersemu merah dan berkeringat. Wajahnya perpaduan Aditya dan Devaly, tampan sekali.


Semua pelayan kaget melihat kedatangan Devaly, terutama Kemoning. Kokom yang baru selesai sarapan bergegas membuka pintu kamar Aditya dan memanggil dokter. Ia sudah tahu Devaly akan datang, karena tadi malam ia nginap di kost.


"Selamat datang nona, kami senang melihat nona kembali. Nona semakin cantik dan sexy. Kami semua kangen dengan nona."


"Aku juga kangen dengan kalian, bagaimana khabar kalian?"


"Baik nona, kami harap nona kembali tinggal disini. Kasihan Tuan kesepian."


"Aku akan menemani Tuan supaya tidak kesepian lagi." sahut Kemoning tiba-tiba. Air mukanya dingin dan aneh. Devaly menoleh, ia kaget melihat dandanan Kemoning seronok. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, ia melihat mata Kemoning menatapnya aneh.


"Kemoning lama kamu tidak ke kost, kamu sakit?" Devaly menghentikan langkahnya matanya memandang Kemoning naik turun.


"Tidak nona, saya sibuk mengurus Tuan. Suami kalau tidak diurus nanti diambil orang lain, semua pada genit tidak tahu diri." sahut Kemoning kurang jelas apa maksudnya, apa menyindir Devaly atau dia berkata ngawur.


"Halo kalian keluar semua, tunggu di ruang tamu. Dokter akan segera datang, Bintang lagi sakit, jangan ribut." kata David ikut keluar. Mereka menuju ruang tamu mempersiapkan minum dan kudapan untuk Devaly.


Tinggal Devaly dan Kokom yang berada di kamar, tidak menunggu lama dokter datang berdua. Kokom dan Devaly buru-buru pakai masker karena dokternya memakai masker.


"Pagi dokter..."


"Pagi nyonya, saya akan periksa dulu." sahut dokter Yogi memeriksa Bintang.


"Silahkan dokter, dari tadi malam anak saya badannya terasa panas, dia agak rewel." kata Devaly nerebahkan tubuh Bintang di ranjang. Ia membuka selimut dan mantel anak itu. Bintang terjaga dan membuka matanya seraya menangis.


Devaly lantas menggendong Bintang sambil mengelus punggungnya, perlahan anak itu diam. Kemudian Bintang dipangku oleh Devaly.


"Dokter, saya pangku saja sambil periksa, takutnya dia menangis."


"Tidak apa-apa, saya akan mulai periksa."


"Saya yang mangku nona." kata Kokom mengambil Bintang.

__ADS_1


Tapi tangan Aditya cepat meraih anaknya dan menggendongnya. Kokom yang tahu bahwa pria yang diajak dokter itu Aditya, mundur dan keluar kamar. Devaly diam saja, sambil mengelus punggung anaknya.


"Cup..cup...sayang......" kata Devaly dari belakang punggung Aditya. Bintang tidak menangis lagi dan melihatnya. Setelah Bintang reda tangisnya Aditya lalu duduk di pinggir ranjang dan memangkunya.


Devaly fokus kepada anaknya dan dokter, tidak menyangka kalau yang menggendong Bintang adalah Aditya. Ia cuma heran kenapa Bintang tidak menangis lagi. Perlahan ia mulai curiga melihat laki-laki yang dikira dokter. Walaupun sekarang kurus tapi rambut dan mata itu milik suaminya.


"Sini sayang mama yang pangku." kata Devaly dengan dada berdebar. Ia takut anaknya akan diambil Aditya.


"Tidak apa-apa nyonya, ia nyaman dengan papanya....."


Perkataan dokter itu menguatkan feeling nya bahwa laki-laki kurus ini adalah suaminya. Aditya dengan seksama mengikuti saran dokter sambil sesekali menjawab apa yang ditanyakan oleh dokter.


"Bagaimana makannya atau bab nya ada keluhan?"


"Mulai tiga hari lalu makannya sedikit, dan belum bab sampai sekarang." ucap Aditya. Devaly bengong mendengar jawaban Aditya semua benar. Seketika ia curiga kepada Yeny dan Kokom. Musuh dalam selimut, ternyata diam-diam mereka sekongkol dengan Aditya kurang ajar!!.


Devaly melepas maskernya setelah dokter Yogi keluar, pemeriksaan sudah selesai. Hasilnya, Bintang demam karena alergi debu dan mau pilek dan batuk.


"Hafal, seperti murid SD, padahal tidak pernah menengok, ternyata disini banyak ular dan sangat licik." kesal Devaly. Matanya menatap Aditya dengan tajam.


Aditya juga melepas maskernya dan memeluk Bintang sambil menciuminya. Mata Aditya berkabut, ia tidak tahan melihat anaknya.


"Yank, jangan pergi aku minta maaf..." Air matanya jatuh saking sedih, terharu dan takut kehilangan bercampur menjadi satu.


"Pa..pa..papa...don't cry i'm not naughty anymor (jangan menangis aku tidak nakal lagi)."


"Kamu sudah lancar bicara, tinggallah sama papa. Aku mencintaimu dan mamamu."


Devaly menahan marah dan khawatirnya jika anaknya setuju tinggal disini. Ia serba salah, disatu sisi ia tidak mau memperlihatkan rasa benci atau Pertengkaran di depan Bintang.


"Sayang, kita tidur di kost karena kamu mau sekolah supaya lebih dekat. Mama tidak mengerti yang mana papamu, apakah setiap laki-laki kamu panggil papa?" pancing nya, karena Bintang tidak mengenal Aditya, masih bayi sudah berpisah. Mereka bahkan tidak pernah komunikasi.


"I'm sorry mom..." ucap Bintang terbata-bata memandangnya.


"Sayank, maafkan aku..." Aditya berdiri sambil menggendong Bintang dia mendekati Devaly. Dia tahu Devaly marah dan kecewa kepada Yeny atau yang lain.


"Kita akan bicara, suruh David mengajak Bintang."


"Kenapa harus David, Kokom saja."


"Aku mau papa David..." ucap Bintang.


"Sayang, itu om David, ini papa Bintang. Apakah om David sering nginap di kamar Bintang?" tanya Aditya dengan wajah merah. Darahnya mengalir deras ke otak.


"Tidak papa.."


"Ternyata David juga dipanggil papa..." sindir Aditya tajam. Ia cemburu.


"Semua pria yang dekat dengan ku dipanggil papa, maklum dia anak yatim."


"Bicara jangan sembarangan. Kata-kata itu doa, aku papanya dan seterusnya menjadi papanya." sahut Aditya.


"Tookk...tookk...tookk..."


Pintu dibuka, yang datang bukan David atau Kokom, tapi Kemoning. Dandanan Kemoning

__ADS_1


"Untung kamu datang Kemoning ajak Bintang main di luar aku mau bicara dengan Devaly."


"Tuan, kenapa tidak ke kantor, Tuan David sudah dari tadi jalan. Jangan karena ada nona Devaly Tuan lupa tugas utama. Kalau Bintang sudah selesai di periksa, biarkan nona Devaly pulang."


"Kemoning ajak Bintang di luar, dia haus dan lapar." perintah Aditya.


Tapi Kemoning tidak bergerak mengambil Bintang. Ia tetap menyuruh Aditya pergi ke kantor. Melihat tingkah Kemoning yang aneh, Devaly curiga kalau kemoning menginginkan Aditya. Jika itu terjadi, Bintang bisa terancam jiwanya.


"Kemoning kamu kenapa, aku sudah tahu tugasku di kantor. Jika kamu ngomel-ngomel keluar saja, aku lagi stres." kata Aditya kesal.


"Saya adalah pendamping Tuan, wajar marah kalau Tuan kelewat batas."


"Kemoning, apakah Tuan punya ikatan denganmu, atau semacamnya?"


"Tentu nona...."


"Kemoning ada tamu." belum usai Kemoning bicara, Kokom sudah memotong.


"Siapa?" Kokom cepat keluar, ia takut kalau yang datang saudaranya. Kemoning yakin khabar pernikahannya sudah tersebar di desanya.


Aditya mengunci pintu kala Kokom sudah keluar dengan Bintang.


"Yank, aku kangen sekali...."


"Sudahlah, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kita sudah punya kehidupan sendiri. Aku bosan menikah."


"Aku tidak nenyuruhmu mencintaiku, aku tahu diri apalagi David sering kesana. Aku hanya ingin mengajakmu dan anak kita disini. Aku tidak akan ikut campur jika kamu ingin selingkuh." kata David bicara sekenanya.


"Ya akan aku pikirkan, sekarang aku mau pulang." jawab Devaly berusaha tenang, tangannya menepis tangan David yang ingin memeluknya.


"Yank, aku hanya memelukmu saja tidak lebih. Jangan takut." bisik Aditya memeluk Devaly dari belakang.


Ntah karena masih saling mencintai atau karena lama tidak bermesraan, tahu-tahu bibir Aditya sudah mendarat di bibir Devaly. Tidak bisa membendung cinta, keduanya sama-sama liar


"Love you sayank...."


Tangannya bergerilya ke gunung kembar Devaly, dan bibirnya mulai turun menyentuh sepasang benda kenyal itu.


"Sudahlah, kita sudah kebablasan. Kasihan Bintang diluar, aku tidak tenang."


"Kokom sudah mengerti keadaan kita yang sedang di mabuk cinta."


"Aku tidak tenang melihat Kemoning yang seolah memusuhiku. Lama Kemoning tidak datang ke kost, ketemu sekali tingkahnya aneh. Apa dia senang denganmu?"


"Stop bicara." kata Aditya mempererat pelukannya.


"Tookk...tookk...tookk.."


Suara ketukan pintu membuat Aditya dan Devaly melepaskan pelukan nya. Aditya dongkol, ia pun turun dari ranjang serta membuka pintu.


"Ada apa Kemoning?" tanya Aditya membuka pintunya sedikit. Ia melongok memandang Kemoning.


"Tuan sudah siang, makan dulu. Saya sudah siapkan makanan kesukaan Tuan." kata Kemoning berharap.


"Kalian makan saja, nanti aku menyusul."

__ADS_1


"Tuan jangan berbuat aneh dengan Devaly. Tidak boleh, nanti ilmu Tuan tidak bisa hilang. Tuan hanya boleh anu dengan saya saja." kata Kemoning serius. Aditya kaget bukan kepalang. Ia ragu atas omongan Kemoning, tapi Kemoning biasanya benar.


*****


__ADS_2