
Melihat Thasy berlari mengejar Tuan Aditya, semua pelayan keluar dan mencaci maki Thasy. Mereka sangat marah melihat tingkah Thasy yang super jahat.
"Manusia murahan, tidak ada harganya..." teriak pelayan kesal.
"Nona jangan menangis, telan air matanya. Tidak ada orang salah bisa menang. Thasy ingin menunjukan dirinya bahwa Tuan Aditya telah tidur dengannya, dia ingin di akui. Jika nona lemah dan cerai, bisa Thasy merebut kedudukan nona. Rata-rata pelakor sikapnya begitu. Sekarang nona harus memilih, cerai atau bertahan."
"Semoga perempuan laknat itu dapat karma yang setimpal dengan perbuatannya." teriak pelayan2 geram.
Namun yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginan. Devaly duduk dengan airmata berlinang. Kini ia menyadari Thasy memakai sistem hantam kromo, tanpa mengindahkan perasaan Devaly. Sifat Thasy memang begitu, apa yang ia inginkan harus dapat, tanpa peduli itu milik siapa.
"Aku akan bertahan, manusia libral seperti Tashy tidak bisa diajak berdamai. Harus di lawan sampai tuntas." kata Devaly disela- sela tangisnya.
"Bagus nona, kita semua berada di belakang nona. Kami akan membuang perempuan itu keluar dari Kastil, sudah tidak ada ampun lagi. Manusia tidak tahu malu seperti Thasy harus dijahui."
"Aku baru mengerti mengapa Devaly tidak pernah mau pulang ke Los Angeles, banyak sekali alasannya dan terakhir alasan hamil. Kemudian dia mengaku keguguran, semudah itu dan aku selalu percaya. Sungguh ajaib. Aku merasa kedudukan ini sudah ia incar dari dulu."
"Benar nona, belum ada sebulan Tuan sudah jatuh kepelukannya. Kalau wanita murahan pasti punya jurus jitu untuk menundukan seorang lelaki. Setiap ke kantor memakai Rok mini, baju kurang bahan. Dasar brengsek."
Berkat simpati para pelayan Devaly sedikit terhibur. Sudah dua kali Aditya berkhianat, dulu dengan Mayang dan sekarang Thasy. Sangat menyedihkan.
"Nona lebih baik beristirahat di kamar, kami mau bersih-bersih dan menyiapkan makanan untuk dibawa ke kantor, setelah ready saya akan panggil nona. Kita berdua kesana." kata Kokom membantu Devaly berdiri.
"Aku ingin rebahan dulu tadi malam tidak bisa tidur, banyak yang aku pikirkan. Nanti tolong bangunin aku pintu tidak dikunci."
"Baik nona, mari saya antar sampai kamar." ucap Kokom
Kokom mengantar Devaly ke kamar, ia sangat kasihan melihat nona nya sedang hamil besar di selingkuhi. Menurut survei cinta laki-laki seratus persen awalp menikah dan akan terus menurun menuju titik terendah kalau sudah lama menikah. Sebaliknya cinta wanita awal menikah dua puluh lima persen, semakin lama cintanya grafiknya semakin naik dan menjadi seratus persen. Mungkin itu sebabnya laki-laki suka selingkuh dan wanita bersabar jika tersakiti.
"Daripada nona terus bersedih lebih baik kita ke toko bayi. Nona harus merubah kamar ini atau kamar sebelah untuk bayi." kata Kokom setelah mereka sampai di kamar.
"Nona rebahan saja, nanti saya pijat kakinya." Devaly merebahkan tubuhnya dibantu oleh Kokom. Padahal baru pertama hamil kenapa perut Devaly terlihat besar. Di USG bayinya satu dan laki-laki. Tuan dan keluarga besar sangat senang mendengar berita itu, anak laki-laki adalah pewaris.
"Rencananya aku menyewa jasa orang untuk mendekor kamar sebelah. Aditya selalu sibuk tidak sempat mengantarku, waktu masih baik dengan Thasy aku pernah minta tolong, tapi Thasy tidak mau mengantar. Sekarang baru aku tau kalau dia senang sama Aditya."
"Mulai sekarang nona harus mandiri. Uang yang dikasi Tuan ditabung diam-diam. Jika suatu hari nona ditinggal Tuan, nona sudah bisa hidup sendiri. Bila perlu minta rumah dan mobil atas nama nona."
"Kom kenapa kamu banyak mengerti, apa kamu pernah disakiti oleh seorang lelaki?"
"Tidak pernah, tapi ibuku, kakak-kakakku semua diselingkuhi oleh suaminya. Aku jadi trauma berat dan berusaha menjauh dari kehidupan lelaki."
"Kita butuh keturunan dan seseorang yang bisa melindungi diri kita."
"Itu jawaban klise, saya merasa lebih kuat dari seorang lelaki. Kemana saya pergi tidak ada yang melarang, saya enjoy dan bebas. Jika butuh anak kandung saya inseminasi buatan, dan menjadi single parent. Gampang, zaman sekarang peralatan rumah sakit sudah modern dan canggih. Tapi saya sudah punya keponakan yang sayang kepada saya, dia membantu dengan ikhlas, rasanya saya belum butuh anak kandung saat ini. Saya cuma butuh uang dan petualangan."
__ADS_1
"Dulu aku punya pemikiran seperti itu, setelah takdir mempertemukan aku dengan Aditya, pandangan tentang hidup mandiri seketika berubah. Aku menjadi cengeng dan lemah, kekuatan ku lenyap."
"Kalau semua orang punya pemikiran seperti kita banyak orang akan protes, karena menikah itu kodrat." kata Kokom tersenyum.
"Saya ke dapur dulu menyiapkan makanan untuk Tuan, setelah ready nona saya panggil, Nona harus mandi lagi dan bendandan yang cantik." sambungnya lagi.
Kokom keluar dari kamar Devaly dengan pikiran bercampur. Ia menyayangkan kenapa orang cantik seperti Devaly bisa diselingkuhi apakah selingkuh itu gaya hidup zaman now atau karakter Tuannya.
Pukul.12.00 tepat, Devaly dan Kokom sudah sampai di kantor The Queen. Mereka berdua naik mobilnya Aditya, yang menyetir Kokom. Memang Kokom wanita serba bisa, sangat piawai menyetir dan bisa diandalkan. Tidak rugi mempekerjakannya.
Akhirnya mereka mobil berhenti di gardu Scurity. Devaly menurunkan kaca jendela mobil.
"Selamat siang nyonya, apa yang bisa saya bantu?" seorang Scurity menghampiri mobil mereka.
"Aku mau bertemu Tuan." jawab Devaly. Dia berharap Aditya ada di kantornya.
"Silahkan nyonya Tuan berada di lantai tiga."
"Trimakasih pak."
"Sama-sama nyonya, salam sehat."
Kantor Ini semacam Real Estate membawahi semua Hotel dan Villa Queen. Megah dan menjulang tinggi. Kokom mengajak Devaly naik lift menuju lantai tiga.
Devaly dan Kokom menuju ruangan Owner, ada orang berdiri di depan pintu.
"Siang pak, ada nona sekretaris?" Kokom bertanya dengan ramah. Wajah orang itu mendadak pucat melihat Devaly.
"A-da di dalam tapi dilarang masuk." orang itu mengambil ponselnya tapi Devaly cepat masuk ruangan.
"Mana scurity nya." bentak Kokom marah, dia membiarkan Devaly masuk dan Kokom menjaga orang itu.
"Saya disuruh berjaga, scurity nya izin istrinya melahirkan."
Devaly menutup pintu dengan pelan, ia tidak melihat suaminya atau Thasy. Dadanya tiba-tiba berdebar ketika mendengar suara air di kamar mandi. Devaly mendekati kamar mandi, ia melihat pakaian kerja Aditya dan Thasy teronggok di sofa panjang yang berada tidak jauh dari kamar mandi. Biasanya sofa ini dipakai Aditya untuk istirahat jika terlalu lelah. Kini sofa ini berubah menjadi tempat mesum.
"Tuhan tabahkanlah hatiku, berikan aku kekuatan menghadapi semua ini." bisik Devaly dalam hati.
Devaly mengambil taplak meja membungkus pakaian pasangan selingkuh itu, kemudian menaruh di wastafel. Ia kemudian membuka kran membubuhkan sabun pencuci tangan. Air busa mengalir membasahi baju dan jatuh ke lantai.
Tidak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, Devaly sudah siap dengan ponselnya dan kedua wajah mesum itu kaget melihat Devaly. Mereka keluar setengah telanjang.
"Sayank...." teriak Aditya mencari pakaiannya. Devaly memasukkan ponselnya ke tas dan menatap mereka dengan dingin.
__ADS_1
"Pasangan iblis, kalian cocok menjadi Leak. Aku tidak mengira tabiat kalian seperti animal, sangat menjijikan." teriak Devaly. Suaranya gemetar menahan marah.
"Sayank aku bersalah...aku minta maaf..." Aditya bersimpuh di kaki Devaly. Sedangkan Thasy kebingungan mencari pakaiannya.
"Aku jijik melihatmu, baru kemarin kau minta maaf nangis-nangis dikakiku, sekarang kau ulangi perbuatanmu. Bajingan kau!!" Devaly menjambak rambut Aditya. Ia berteriak histeris mengeluarkan kemarahannya.
"Pukul aku sepuasnya, bunuh aku." Aditya ikut menangis.
"Kalau aku tidak hamil, sudah kucincang kau, hanya banci yang punya sifat seperti kau!!" maki Devaly memegang perutnya. Ia menoleh ke Thasy dengan jijik.
"Perempuan murahan, teganya kau kepada teman sendiri. Mulai sekarang kau keluar dari Kastil dan keluar dari kantor ini, aku tidak ingin melihat kau berada di sekitar kami. Sifatmu tidak lebih dari binatang."
"Apa hak mu mengusir aku, hanya pacarku yang berhak mengusirku."
"Bajingan, kau pecat iblis ini atau aku laporkan kalian ke polisi. Aku tidak malu punya suami di penjara!!" bentak Devaly emosi.
"Kita bicara pelan-pelan jangan kamu emosi, aku mengaku salah." Aditya berdiri gemetar, nyalinya menciut baru mendengar kata penjara.
"Brengsek kau, dasar bajingan. Sekali lagi aku melihat monyet ini bertemu dengan kau, aku akan penjarakan kalian berdua."
Tiba-tiba Thasy maju menampar Devaly dan mendorongnya sampai jatuh, dengan bringas ia merebut tas Devaly. Teriakan Devaly yang kencang membuat Kokom masuk dan kaget melihat Devaly tergeletak.
Aditya dan Thasy buru-buru lari ke kamar mandi, ketika melihat ada yang masuk.
"Nona...." Kokom berteriak melihat Devaly tergeletak di lantai.
"Hanya manusia setan saja yang tega menganiaya wanita hamil. Aku bersumpah semoga kau mendapat karma buruk. Kalau ada apa-apa aku yang pertama melaporkan kalian ke polisi!!" teriak Kokom marah. Kokom terpaksa keluar mencari penjaga tadi.
"Pak tolong saya."
"Ada apa, saya sudah bilang jangan masuk, ini akibatnya. lebih baik tidak melihat kenyataan daripada suami lebih membela pelakor." kata bapak itu enteng.
"Jangan ceramah pak, tolong matikan wastafelnya, airnya hampir kesini." kata Kokom melihat busa membumbung tinggi. Ia berusaha menyadarkan Devaly tapi tidak bisa.
"Kita angkat nona ke sofa setelah itu baru bawa ke rumah sakit." usul bapak itu.
"Ambil alkohol di P3K, kita sadarkan nona dulu setelah itu baru ajak ke rumah sakit."
Badan Devaly sangat berat, ia berdua tidak mampu mengangkat. Jika memanggil karyawan akan membuat suasana tambah kacau. Mereka berdua sibuk menyadarkan Devaly, setelah Devaly membuka matanya. Mereka baru bisa memindahkan ke Sofa.
"Minumlah nona setelah tenang saya akan mengajak nona ke Rumah Sakit."
Devaly tidak menjawab, ia seperti patung, wajahnya kaku dan dingin. Kokom dan bapak itu terpaksa cepat-cepat menuntun Devaly ke mobil sebelum pegawai keburu datang.
__ADS_1
*****