LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 28


__ADS_3

Pendeta mengujar mantra, delapan orang saksi tersenyum senang saat Aditya tidak protes kala menjalani prosesi itu. Ghina yang mengintip dari dapur kaget bukan kepalang karena Tuannya menjalani prosesi nikah siri. Ia tidak habis pikir kenapa Aditya melakukan itu, apakah acara ini untuk membuang ilmu yang dia punya atau ada maksud lain dari Kemoning.


Ghina tidak tahan lebih lama mengintip, ia bersandar di tembok sambil mengatur nafas. Jika Aditya menikah siri dengan Kemoning, ia harus tahu diri, Kemoning sudah dianggap seperti gurunya. Ilmu putih Kemoning jauh di atasnya, mana berani ia melawan.


Mengingat pernikahan Aditya Ghina menjadi geram, kenapa harus Kemoning? hanya satu kesempatan untuk meraih mimpinya yaitu mengatakan kepada Devaly bahwa Aditya bisa ngeleak. Ia sudah pernah mengambil foto Malamute ketika Devaly masih berada di rumah ini.


Pukul sepuluh malam sudah selesai prosesi yang mungkin tidak dimengerti oleh Aditya, ia berpikir tujuan prosesi ini untuk melenyapkan ilmunya. Ghina tahu sekali sifat Aditya yang tidak akan sudi menikahi orang lain, apalagi macam Kemoning yang kampungan. Thasy yang seorang model dunia saja cuma di "icip-icip" habis itu dibuang. Ia juga tidak dapat menjangkau cinta Aditya, padahal sudah dengan segala macam tipu muslihat.


Kemoning adalah gadis yang baik berilmu tinggi, masih sepupu jauh dengan Aditya. Dia tidak sombong punya saudara kaya seperti Aditya, ia tetap memanggil Tuan kepada Adit dan nona kepada Devaly. Jiwanya bersih dan suka menolong.


Itu dulu, tapi belakangan ini pikirannya jadi berubah. Melihat Tuannya hidup sendiri dan diburu oleh banyak perempuan binal, ia jadi ketakutan kalau Aditya akan terjerumus. Setelah berpikir berbulan-bulan, akhirnya ia berubah pikiran.


Suatu hari ia pulang kerumah orang tuanya. Dengan menangis sedih ia berkata serius kepada ayahnya yang seorang pendeta. Waktu itu hanya ada mereka berdua di Bale periangan.


"Ayah, maafkan saya jika masalah ini terpaksa saya utarakan kepadamu. Tidak bisa saya menahan terlalu lama." katanya sopan membuka percakapan.


"Ada apa nak, wajahmu sangat serius. Duduklah, ayah siap mendengar keluhanmu." sahut sang pendeta memutar badannya dan menghadap kepada Kemoning yang berdiri sambil mencakupkan kedua tangannya.


"Mengenai Aditya, akhir-akhir ini saya sangat kasihan melihat penderitaannya. Devaly sudah lama minggat dari rumah, Aditya tidak mencarinya karena ilmu Leak nya belum bisa hilang. Ia takut Devaly tahu dan langsung meninggalkannya keluar negeri."


"Bukankah ilmu Leak tidak bisa hilang dari tubuh, kecuali diwariskan kepada anak atau istrinya. Kecuali ilmunya tinggi sekali baru bisa ia wariskan kepada sembarang orang, asal ia senang kepada orang itu. Sedangkan Aditya ilmunya setengah, dia hanya bisa mewariskan kepada anak dan istrinya."


"Untuk itulah Aditya meminang saya dan saya tidak bisa menolak ayah. Rasa kasihan saya terlalu tinggi melihat dia setiap hari sibuk mengurus keperluannya. Itu yang membuat saya setuju dan menyanggupi permintaan Aditya untuk menjadi istrinya."


"Ayah tidak percaya, Aditya bukan tipe lelaki begitu. Dia bukan tipe mu Kemoning, jangan memaksakan diri nanti kamu menyesal."


"Percayalah ayah semua akan baik-baik saja, kami akan berbahagia."


"Jika dia serius suruh kesini bicara, ayah curiga ini akal-akalanmu saja." ucap sang pendeta menatap putrinya.


"Aditya sangat sibuk sering keluar kota, jangankan kesini, makan saja harus saya suapi." pungkas Kemoning untuk meyakini ayahnya.


Tentu semua yang ia bicarakan kepada ayahnya bohong belaka. Ia nekat berbohong supaya bisa menikah dengan Aditya. Ia juga akan berbohong kepada Aditya, kalau tidak begitu Aditya tidak bisa lepas dari ilmu Leak. Kalau ia dan Aditya sudah suami istri dan punya anak, ilmu Aditya bisa di wariskan kepadanya atau anak mereka. Dia sudah siap mengorbankan diri demi Aditya.


Pemikiran Kemoning simpel, tanpa berpikir efek sampingnya. Makanya ayah nya tidak percaya, tapi Kemoning terus mendesak supaya ayahnya mau menikahkan dirinya dengan alasan yang membuat ayahnya menyerah.


"Jika ayah tidak menikahkan kami, dosa kami akan menumpuk, karena kami sudah tidur sekamar."


"Ya Tuhan, apa katamu? sudah aku duga kamu tidak bisa membawa diri, tidak punya akhlak. Perubahanmu sangat besar."


"Maafkan saya ayah."

__ADS_1


Kebohongan demi kebaikan tidak membuat Kemoning beban. Ia berdoa dalam hati semoga Aditya dan ayah nya tidak banyak bertanya. Tanpa menunggu lama, malam harinya Kemoning beserta ayahnya kerumah Aditya. Kemoning membawa ayahnya ke Bale delod, ia langsu ng menjemput Aditya di kamarnya.


"Kalian sekarang sudah sah, semoga kalian berdua berbahagia." kata saudara Kemoning sambil mencipratkan air suci.


Kemoning menarik nafas lega, nikah siri ini berjalan dengan lancar, tanpa tanya jawab yang berbelit-belit dari Aditya. Ayahnya juga tidak banyak menuntut, apalagi Kemoning terlanjur mengatakan bahwa Aditya akan menghadiahkan sebuah hotel, ayahnya jadi semangat. Ia menyesal mengatakan itu, tapi apa boleh buat.


Malam ini Kemoning tidak tidur bersama Aditya, maklum hanya dia saja yang mengerti kalau saat ini mereka sudah menikah siri, sedangkan Aditya tidak tahu sama sekali. Kepalanya tiba-tiba berdenyut-denyut sakit, karena ia banyak berbohong. Menyesal berbohong kepada ayah dan Aditya. Rasanya ingin lari membangunkan Aditya dan minta maaf serta berterus terang apa yang telah terjadi. Ia kembali ingat kepada omongan ayahnya.


"Nak, kamu sederhana dan kampungan, tidak mungkin Aditya tertarik padamu. Walaupun Aditya memaksamu jangan kamu mau. Ayah yakin Aditya dalam keadaan mabuk."


Duhh...begitu jelekah aku sampai ayah sendiri meremehkan ku. Kenapa Ghina yang juga kampungan, Aditya mau, apa bedanya aku dengan dia? bathin Kemoning.


Besok ia akan memakai pakaian sexy dan melayani Aditya di ruang makan, apakah Aditya akan tertarik atau ia akan kecewa? Kemoning sedih memikirkan semua itu. Ia baru bisa memejamkan matanya jam lima dini hari.


Pagi ini Aditya keluar dari kamar dengan wajah sumringah, harapan untuk sembuh dari ilmu Leak kembali muncul. Bayangan Devaly menari-nari di pelupuk matanya. Ahh... ia sangat rindu kepada istri dan anaknya.


"Pagi Tuan, apakah anda nyenyak tidur semalam?" tanya Kokom yang baru saja datang dari tempat kost Devaly.


Selama Devaly di kost Kokom dan Kemoning hampir tiap malam datang untuk menjaga Devaly, Bintang serta Yeny. Tidak ada yang menyuruh, itu kemauannya sendiri.


"Kamu datang dari mana Kom, kamu tidur dimana?" Aditya pura-pura tidak tahu kalau Kokom dan Kemoning sering tidak ada di rumahnya, karena ke kost Devaly. Dewi pernah beberapa kali mengirim foto Devaly dan ada Kokom dan Kemoning, makanya ia tidak pernah marah atas menghilangnya mereka berdua.


"Jogging Tuan, supaya sehat." sahut Kokom. Aditya hanya tersenyum simpul.


"Pagi Tuan, silahkan ....." Ghina buru-buru berdiri dan menarik bangku untuk Aditya.


"Pagi bos, tumben glowing, ada kundangan atau rendezvous?" David masuk ruang makan menggoda Aditya. Ia khawatir kalau-kalau Aditya tahu Devaly akan datang. Tapi ia cepat menepis pikiran itu.


"Aku rendaman di bak jacuzzi, sejam haha.." sahut Aditya sambil makan.


"Pantas, wajah bos merah seperti wajah Bintang Samudra hahaha..." kata David keceplosan.


Mendadak tawa Aditya menggantung dan wajahnya muram. Yang membuat hatinya ngilu selama ini adalah putranya, ia sangat merindukan Bintang.


"Maaf Tuan..."


"Tidak apa-apa David, aku senang kamu ingat dengan anak dan istriku." sindir Aditya. Giliran David yang tergugu, tidak berani mengangkat wajahnya. Ia ragu apakah Aditya tahu kalau ia mencintai Devaly?


"Hanya David yang ingat Devaly, kita semua sudah lupa. Jangan-jangan kamu ada hati dengan Devaly." Ghina seolah memojokannya matanya tajam menatap David.


"Aku selalu berpihak kepada orang baik, bahkan aku ingin menikahinya kalau Tuanmu membuangnya." sergah David. Ia kesel kalau Ghina selalu ikut campur.

__ADS_1


"Jangan mimpi bro, Devaly tetap nomer satu dihatiku."


"Diapa tahu


"Bos sudah jam delapan, silahkan duluan berangkat saya mau belakangan." ucap David baru ingat kalau Devaly akan datang mencari kartu keluarga.


"Aku ikut Tuan sekali saja, ada hal penting yang harus aku ceritakan." Ghina menyudahi makanannya.


"Ghina, biarkan Tuan berangkat sendiri!!" semua menoleh ke suara itu.


Astaga naga, Aditya kaget melihat Kemoning memakai tanktop dan hotpants. Kemoning terlihat salah kostum, dandanannya menor. Ghina terdiam ditegur, ia maklum kalau Kemoning mulai berubah. Semoga saja Tuan muntah melihat Kemoning. doa Ghina dalam hati. Ia jadi benci kepada Kemoning.


"Kemoning tumben kinclong mau kemana?" tanya David tersenyum.


"Mau jalan-jalan, saya ingin refreshing seminggu, jenuh di rumah terus."


"Hemm...rencana mau kemana, ke ubud atau ke laut?" Aditya bertanya penuh perhatian. Ia merasa berhutang budi kepada Kemoning yang selama ini baik padanya.


"Tuan ada waktu?" tanya Kemoning menatap Aditya. Laki-laki itu seketika salah tingkah. Ia menyesal bertanya.


"Bos banyak kerjaan di kantor mana sempat nganterin kamu. Nanti aku yang nganterin ramai-ramai." David cepat menyelamatkan Aditya. Ia tahu bos nya hanya basa basi.


"Aku ingin pergi bersama Tuan, ada yang akan aku bicarakan." tolak Kemoning.


"Kapan-kapan saja, Tuan dalam keadaan tidak sehat. Kamu harus mengerti, cerita apa yang pantas disampaikan, jangan membuat Tuan menderita setelah mendengar ceritamu." Kemoning kaget, Ghina seolah memperingatinya. Apakah Ghina tahu pernikahannya. bathin Kemoning.


"Tidak apa-apa, kalau aku tidak sibuk pasti akan mengajak kalian healing. Kita akan ke Bungalow." kata Aditya menengahi.


"Setuju Tuan, Aku juga ikut!" sru Ghina.


"Tapi saya ...."


"Semua sudah oke, biarkan Tuan ke kantor." David cepat memotong perkataan Kemoning, ia berdiri supaya Aditya ikut berdiri. Aditya yang dari tadi melihat David gelisah menjadi curiga, apalagi David selalu melihat ke arlojinya.


"Kamu jangan lama-lama, kita mau meeting dengan pak Anwar." kata Aditya.


"Jam sebelas Tuan, aku sudah siapkan file nya di atas meja."


"Aku berangkat." ucap Aditya beranjak dari ruang makan. Sedikit pun ia tidak menoleh. Kemoning merasa kecewa.


Aditya mengeluarkan mobilnya dari garasi, memacu mobilnya dengan pelan. Kemudian ia berhenti tiga ratus meter di pinggir jalan raya. Apa yang dia lihat?

__ADS_1


*****


__ADS_2