
Malam ini jarum jam berputar bagaikan siput, sangat lamban. Mata Kemoning tidak lepas dari jam dinding yang terpasang di tembok. Selera makannya lenyap seketika saat Thasy dan Ghina masuk ke ruang makan. Pelayan kini bersikap berbeda kepadanya, mereka tidak peduli terhadap kehadirannya di meja makan..
Jam delapan malam Kemoning menghilang dari ruang makan. Tidak ada satupun yang ingin bertanya kemana wanita itu, termasuk Kokom. Kemoning merasa dimusuhi, apalagi mereka tahu kalau Aditya sempat tidur dengannya pastilah pelayan membunuhnya.
Aditya megendong Bintang ke kamarnya, ia memeluk putranya dengan gemas, anak itu sudah mulai mengantuk.
"Bobo ya sayank, Love you." kata Aditya mengecup pipi anaknya.
"Sebelum tidur berdoa dulu." imbuh Devaly menunggu putranya berdoa. Setelah Bintang tidur barulah Devaly meninggalkan. Devaly sudah mengajari Bintang tidur sendiri sejak umur setahun. Jadi sudah terbiasa.
"Yank aku ke dokter dulu, doain semoga aku sembuh." kata Aditya mengecup bibir istrinya.
"Apa sih yang tidak untukmu, doaku selalu untukmu, semoga kamu dalam keadaan sehat ." sahut Devaly tulus.
"Kamu tidak meninggalkan ku jika aku tidak bisa memuaskanmu?"
"Perkawinan bukan tentang *** saja, ada rasa cinta dan kesetiaan yang berjalan bersama. Aku selalu maklum, memaafkanmu apabila kamu salah melangkah." ucap Devaly tersenyum tipis.
"Aku banyak salah padamu, kamu pasti kecewa mempunyai suami seperti ku." bisik Aditya memeluk Devaly. Ia merasa kasihan melihat istrinya.
"Aku tidak bisa membungkus perasaanku dengan cara lebay dan memanipulasi setiap perkataan ku. Inilah aku apa adanya. Jika aku kecewa dan tidak mencintaimu aku akan lenyap dari kehidupan mu." Air mata Devaly bergulir, ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba menangjs dan merasa sedih.
Aditya memeluk istrinya tanpa bisa berkata apa-apa. Jauh dilubuk hatinya ia menyesal dan ingin memperbaiki kehidupan rumah tangganya. Kakinya gontai melangkah ke Garasi. Pertama ia harus menemui Kemoning setelah itu ia akan ke dokter.
Aditya sengaja membawa mobil kecil supaya bisa masuk ke Guesthouse, tempat parkir di situ cukup mobil kecil. Sampai di Guesthouse pintu gerbang sudah terbuka menandakan Kemoning sudah duluan sampai.
Aditya bergegas turun dan langsung mencari Kemoning. Ia menyalakan lampu dan rumah terlihat terang.
"Kemoning kamu dimana?" panggil Aditya celingukan.
"Aku disini, di kamar utama."
"Aku mau bicara, keluarlah, kenapa kamu tidur disitu ada kamar lain."
"Jadi Tuan menganggap aku pelayan, tidak boleh tidur disini. Badanku semua sakit Tuan, masuklah."
Aditya masuk kamar utama dimana wanita itu tidur. Kamar remang-remang karena Kemoning memakai lampu tidur. Ia melihat Kemoning tidur berselimut.
"Aku antar kamu ke dokter, aku juga ingin ke dokter."
"Tidak usah ke dokter, aku cuma merasa meriang saja."
__ADS_1
Aditya duduk di pinggir ranjang menempel kan tangannya ke kening Kemoning. Pria itu tidak sengaja menatap dalam wajah pelayan itu. Dalam keremangan terlihat wajah cantik Kemoning sangat mempesona. Tanpa di komando ia membuka selimut Kemoning. Aditya menelan salivanya saat memandang tubuh sexy yang tergolek pasrah tanpa sehelai benangpun.
Kemoning yang memakai ilmu jaran goyang menghipnotis Aditya supaya birahinya timbul. Reflek tangan Aditya mengelus tubuh Kemoning dengan lembut. Nafas pria itu mulai memburu.
"Badanmu tidak panas, mungkin karena aku terlalu liar menggoyang mu tadi malam." ucap Aditya serak menahan gejolaknya.
"Kenapa Tuan kesini?" tanya Kemoning duduk. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aditya.
"A..ku..ingin . bersamamu." sahut Aditya lupa akan dirinya. Bibirnya mendarat lembut di bibir Kemoning. Ia mencium Kemoning dengan hasrat memuncak.
"Tuan, bukankah sudah ada nona Devaly kenapa kamu lagi mencariku?" tanya Kemoning ingin tahu.
Ia sudah membuat segel gaib untuk burung Aditya supaya tidak bisa berhubungan intim dengan istrinya atau dengan wanita lain. Ia ingin Aditya tergantung padanya.
"Itu yang aku mau tanyakan padamu. Kenapa aku tidak bisa dengan Devaly, apakah kamu memakai ilmu tertentu supaya burung ku tidak bisa masuk kandang?"
"Buka pakaian mu, kita tes. Mungkin Devaly tidak bisa membuat gairahmu bangkit karena Devaly menyimpan dendam dilubuk hatinya. Ia ingin kamu sengsara, atau ia benci saat melayanimu. Aku tidak mungkin memakai ilmu apapun, aku ikhlas melayanimu. Kamu bisa buas jika bersamaku, karena aku sudah menyerahkan jiwaku padamu."
"Mungkin saja. Devaly dendam padaku." sahut Aditya pendek. Ia tidak konsentrasi menjawab.
Aditya seperti Macan kumbang yang haus darah, seluruh tubuh Kemoning ia jelajahi dengan lidahnya. Perlahan ia naik ke tubuh Kemoning mencium bibir wanita itu lama.
Kemoning meladeni Aditya dengan ilmu ular, membelitnya, merayap dari atas kebawah. Kemoning yang sebenarnya sudah berubah wujud menjadi gadis cantik mengimbangi permainan Aditya. Mereka saling isap saling jilat tidak peduli apapun. Aditya sudah lupa janjinya kepada Devaly. Kesadarannya hilang karena guna-guna jaran goyang.
"Aku juga sayank, aku adalah istri keduamu, jadi kamu tidak salah melakukan semua ini. Kita tidak berzina, kita sudah menikah siri." ucap Kemoning dalam hati.
Rasa khawatir tetap terpatri di otak Aditya, walaupun tegang dan mengacung gagah, ia masih belum puas sebelum membuktikan.
Kemoning memaksa Aditya memasukkan burungnya, akhirnya, Jlebb.... hah..ternyata bisa. Dengan suka cita ia memeluk Kemoning dan menciumnya liar. Ia mulai berpacu dalam melodi. Inilah sorga sesungguhnya. pikirnya. Apalagi Kemoning seperti ular melilitnya dan menyedot pelan kejantanannya.
Sungguh heran, ntah ilmu apa merasuk ke badan kedua orang itu. Mereka bermain tanpa jeda. Bergulat terus ..terus...dan terus..
"Sayank, kita semburan bersama." teriak Kemoning. Mereka berteriak puas. Kemoning melenguh puas. Aditya seketika sadar dan turun dari ranjang. Sisa-sisa kenikmatan masih melekat dalam tubuhnya.
"Tuan kamu puas?" tanya Kemoning turun dari ranjang. Ia memeluk Aditya dan mengecup bibir laki-laki itu.
"Kau yang terhebat, aku serasa melayang, badanku merinding saat kamu menibanku. Aku puass.."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." bisik Kemoning manja.
"Ngomong-ngomong apa ilmuku sudah hilang?"
__ADS_1
"Belum Tuan, kalau sudah hilang tidak mungkin Tuan seliar ini. Tuan membuat tulangku serasa remuk. Tapi aku senang jika membuatmu bahagia." bohong nya.
"Jangan memanggil Tuan lagi, aku adalah milikmu dan kamu milikku. Kamu adalah butiran mutiara yang baru aku temukan."
"Aku tersanjung. Apa kamu ingin ronde kedua?"
"Aku pulang dulu mau nyoba ke Dèvaly, moga saja bisa seperti denganmu. Kamu sangat hebat." puji Aditya memeluk wanita itu dan menciumnya lembut. Kalau tidak ditahan ingin rasanya kembali bergumul dengan Kemoning.
"Kamu tidak mandi dulu sayank?"
"Sampai rumah saja. Oke..aku pulang."
"Lewat jalan samping saja, lebih cepat dan tidak ada yang melihat. Mobil tinggal saja disini untuk jaga-jaga kalau kita mau main di luar. Bulan purnama, lagi dua hari kita pergi ke pinggir pantai, kita honeymoon sambil melihat langit."
"Aku setuju idemu, kalau begitu kunci mobil aku taruh disini saja." kata Aditya.
Aditya kembali merasa fresh dan energik. Ia meninggalkan Kemoning begitu saja. Wanita itu berdiri di ambang pintu menyeringai sinis. Ia tahu ini salah, jika orang tuanya tahu pasti ia dimusnahkan.
Kearifannya mendadak sirna ketika merasa nikmat tiada tara saat ia bergumul dengan Aditya. Tujuan utamanya hanya ingin supaya ilmu Leak Aditya hilang. Tapi ketika ia tidak sengaja memegang burung Aditya, otaknya traveling, ia ingin merasakan seperti yang dirasakan Devaly dan ini membuatnya mabuk kepayang.
Siapa yang harus disalahkan?
Kemoning masuk ke kamar dan merafal mantra untuk mengembalikan wujudnya seperti sediakala. Dengan malas ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kemoning menarik nafas panjang dan membuang nya kasar. Baru terasa badannya seperti remuk, lelah. Ia mulai mengantuk.
Ia ingat perkataan orang sakti, jika ingin membersihkan ilmu Leak lawan jenis, harus betul-betul bisa menguasai diri. Karena ilmu Leak itu berada dipangkal lidah, jangan sampai terpancing birahi. Jika melanggar orang itu akan menjadi liar dan budak nafsu dan sulit hilang. Kemoning sangat mengerti soal itu, ia terlalu muda dengan ilmu putih dan ilmu hitam yang kini berkecamuk di tubuhnya.
Kemoning memakai pakaiannya, tanpa sengaja ia melihat jarum. jam di dinding. Astaga, sudah jam dua belas malam. Tidak terasa, begitu hebatnya mereka tadi bergumul. Tentu Aditya baru sadar dan bingung mencari alasan.
Kemoning cepat-cepat mematikan semua lampu dan mengunci pintu gerbang. Ia keluar lewat samping menembus kebun yang gelap. Orang biasa pasti takut lewat sini, terkesan angker. Ia baru ingat kepada Thasy yang menantangnya. Thasy pasti bingung karena tidak ada di kamarnya.
Tidak berapa lama ia sudah sampai di Kastil, sekarang ia tinggal sendirian, Ghina sudah ia usir karena mengira Aditya akan menemui nya di Kastil setiap hari. Tapi Aditya memilih Guesthouse, tempat tinggal Devaly waktu minggat. Tidak apa sih malah lebih terjaga privasi nya.
Kemoning memandang situasi halaman yang gelap gulita. Kenapa tidak ada lampu halaman yang hidup, apa Thasy ngeleak tadi, atau ada kebijakan lain?
Ia masuk ke Kastil dan langsung menuju kamar, tidak peduli apakah Thasy ada di depan atau sudah tidur. Thasy pasti tidak tahu kalau Kemoning pulang lewat jalan belakang. Ternyata banyak orang bodoh disini dan gampang ditiru.
Kemoning menjatuhkan bobotnya di ranjang, ia nenyetel ac lebih cool, hawa dingin menyapu badannya yang kurus. Ia ingat saat Aditya membuka segelnya, laki-laki itu sampai mengulangi beberapa kali karena terlalu sempit.
Tiba-tiba khayalannya lenyap, ia mendengar suara tapak kaki masuk ke Kastil. Kemoning meloncat dari tempat tidur dan berjongkok di lantai sambil telunjuknya menulis sesuatu. Suara langkah kaki itu hilir mudik. Sekitar lima belas menit langkah kaki menghilang.
__ADS_1
Kemoning lega karena malam ini ia sangat lelah, kalau diajak bertempur bisa-bisa ia kalah karena tidak konsentrasi. Syukurlah orang itu pergi. Mungkin yang datang Thasy atau Ghina. pikirnya lalu berdiri. Ia pun naik ke ranjang untuk merajut mimpi.
*****