LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.10


__ADS_3

Semenjak Devaly melahirkan kerjaan wanita itu hanya termenung, kadang menangis sedih dan menatap tanpa tujuan. Cobaan yang ia alami saat ini lebih dasyat dari sebelumnya, karena pelakunya temannya sendiri. Rasa sakitnya berlipat, lebih baik Aditya mencari cewek yang ia tidak kenal, daripada Aditya dengan temannya. Harga dirinya terasa merosot setelah Thasy mentertawakannya.


Kejadian itu membuat rumah tangga Devaly ambruk. Jangankan tersenyum, bernafas pun malas. Tiap hari Devaly tidur dikamar bayinya sambil membuat vidio perkembangan putra nya yang semakin hari, semakin menggemas kan.


"Bagaimana khabar nona hari ini? ini saya bawakan obat sinshe untuk mempercepat penyembuhan operasinya." Kokom datang bersama Surti.


"Katamu Bibi Ayu dan Kemoning akan datang aku ingin kamu dan Surti menyiapkan makan malam untuk sepuluh orang. Mereka datang rombongan."


"Saya akan siapkan untuk dua puluh lima orang nona, saya takut kurang. Tuan banyak tamunya dari hotel, sekalian saja."


"Tidak apa-apa Kom, yang penting ada kue dan minuman. Bikin saja rendang atau yang bisa dihangatin kalau sisa. Sayurnya gudeg, telor balado...aku jadi ngiler."


"Untuk sementara nona harus makan yang tidak berasa, setelah disapih baru boleh makan yang pedas."


"Aku juga tidak berani terlalu pedas." kata Devaly tersenyum.


"Sebenarnya semua sudah ready nona, saya harap tamunya tidak memaksa menengok si kecil. Saya takut kena virus atau di makan Leak."


"Iihh...ngeri, jangan sampai deh."


"Semenjak nona pulang dari rumah sakit, tiap malam anjingnya melolong dan suasananya serem sekali. Kemarin pak Made melihat orang tinggi besar di bawah pohon nangka."


"Saya juga melihat sesuatu di garasi waktu mau keluar rumah malam-malam. Tapi saya mencoba berpikir jernih dan menolak takut." kata Kokom.


"Kalian tahu waktu di Bungalow neneknya Aditya pernah mengatakan darahku wangi, ada juga nenek orang lain mengatakan darah bayiku wangi, Padahal waktu itu kandungan ku masih kecil. Aku tidak mengerti maksud mereka. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang membahayakan bayiku. Aku berharap semoga kemoning bisa membantuku."


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa, karena bayi yang baru lahir disenangi Leak." kata Surti menatap wajah Bintang Samudra yang tidur lelap di ranjang bayi. nona


"Saya kasihan sekali kepada nona, punya teman seperti Thasy. Waktu dia pergi saya melihat Tuan dan nona Thasy berantem di Mini Bar, mereka saling lempar botol dan berkata kasar."


"Seru dong, terus siapa yang menang?" tanya Kokom penasaran.


"Thasy lah, waktu itu saya ingin memukulnya dan menjambak rambutnya, kesal banget dah. Tapi tidak jadi, takutnya Tuan masih cinta padanya. Yang membuat saya tambah benci pada Thasy, ternyata dia mengontrak rumah di sebelah."


Wajah Devaly langsung berubah, matanya memandang putranya tanpa makna, Kokom perlahan duduk ditepi pembaringan dan memijit kaki Devaly.


"Jika saya diposisi nona, tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Keluarga nona begitu jauh, teman satu-satunya yang masih hidup sudah mengkhianati nona. Tapi nona tidak boleh terus bersedih masih ada putra nona yang membutuhkan seorang ibu. Apapun yang terjadi nona harus tegar, jika nona tidak bisa jadi pembunuh, jadilah malaikat untuk orang disekitar nona."


"Tuan tidak kapok-kapok, saya yakin uang untuk mengontrak rumah pasti dari Tuan. Pertahun tujuh puluh lima juta, kalau lima tahun sudah berapa itu."


"Saya tidak nemikirkan uangnya, manusianya yang perlu dipertanyakan, kenapa harus tinggal disebelah. Kalau tidak punya maksud tertentu tidak mungkin tinggal disitu. Dasar manusia tidak tahu malu."


"Nona Devaly, manusia seperti Thasy akan dapat karma buruk dan nona akan mendapat kebahagiaan yang hakiki."


"Semoga saja."

__ADS_1


Devaly hanya bisa menarik nafas, dia sudah mati rasa, air mata terasa kering akibat terus menerus menangis. Setelah Surti dan Kokom capek ghibah mereka keluar. Tinggal Devaly sendirian di kamar.


"Sayank, sudah makan?" tiba-tiba Aditya nyelonong masuk dan mendekati Devaly yang berbaring.


"Aditya, tolong berhentilah berbuat vaik padaku. Kau tidak usah menanyakanku atau menengokku, anggap aku sudah mati. Aku juga akan bersikap begitu, karena aku sudah muak denganmu. Aku tidak mencintaimu lagi kita cari jalan masing-masing." kata Devaly dingin. Ia tidak mau menatap laki-laki yang dulu sangat ia cintai.


"Sayank, aku minta maaf. Aku mencintaimu tidak mungkin aku pisah darimu. Tolong jangan berkata begitu."


"Kita pisah ranjang, dan putus hubungan. Jika kau tidak mau aku akan pulang ke negaraku!!" ancam Devaly. rasanya dadanya ingin meledak saking sakitnya. Devaly menumpahkan air matanya.


"Sayank.. aku mencintaimu." lirih suara Aditya ingin sekali dia memeluk istrinya tapi takut.


"PERGI..PERGI!!" teriak Devaly membuat putranya menangis. Aditya mengalah ia keluar dengan perasaan sedih. Tidak sampai hati ia melihat Devaly terus bersedih dan menangis.


Aditya pergi menuju mini bar, ia ingin minum dan mabuk. Saat tangannya mengambil Black label, David nemegang tangannya. Ia menepis tangan David dengan kasar.


"Bos, saat ini Devaly lah yang menjadi korban, bukan dirimu dan bukan juga Thasy. Kenapa bos yang ingin mabuk? apakah bos mengira Dèvaly peduli, dia sudah mati rasa akibat ulah bos yang meremehkan cintanya dan tidak menghargai dirinya. Kalau tidak ada Bintang mungkin dia sudah bunuh diri." kata David menaruh kembali minuman keras itu dan menggantikannya dengan air mineral.


"Aku juga ingin mati. Devaly mengusirku dari kamarnya, dia tidak ingin bicara denganku lagi, dan mengatakan tidak mencintaiku lagi." ucap Aditya dengan air mata mengalir.


"Disaat kita marah kepada pasangan, atau sedang bertengkar, akan keluar kata-kata sadis yang membuat pasangan ikut marah atau menderita. Itu biasa terjadi, tenangkan hati dan jauhkan perasaan pesimis."


"Tapi aku tidak kuat menahan sakit hatiku saat Devaly berterus terang bahwa dia tidak mencintaiku."


"Sudah terlanjur dan aku menyesal. Aku minta maaf, terus apa lagi??"


"Bos jangan emosi, jalani hidup sebagaimana mestinya. Biarkan Devaly dengan pilihannya untuk sementara, nanti waktu yang akan menjawab. Kembali bekerja untuk keluarga dan bertingkah laku baik demi nama baik keluarga, apapun tindakan bos atas nama keluarga." kata David berceramah panjang lebar.


Pada saat suasana hati Aditya lagi galau datang Kokom menambah suasana menjadi panas, untung ada David.


"Halo bos, saya bawa berita penting hari ini. Bibi Ayu dan beberapa orang kolega akan datang sore ini. Nona Devaly menyuruh para pelayan menyiapkan makan malam." kata Kokom duduk semeja dengan Aditya.


"Kalian jangan gosipin aku, kasihan Devaly!!" bentak Aditya.


"Bos ada apa, tidak ada yang gosipin. Bos kasihan nona Devaly atau Thasy? mereka pasti bertanya tentang keduanya, kita jawab apa. Apa saya katakan nona Thasy ngontrak rumah di sebelah rumah ini?" sahut Kokom kesal.


"Apa Thasy ngontrak disitu, siapa bilang?" tanya Aditya khawatir.


"Surti sudah gosip keliling, sampai nona Devaly dikasi tahu."


"Busyett, pantesan Devaly marah-marah tadi. Apa lagi diomongin oleh Surti,"


"Biaya yang Tuan keluarkan untuk ngontrak rumah selama lima tahun dan biaya hidup Thasy. Saya yakin nona Devaly ingin bunuh diri. Saya juga heran setelah berpisah kenapa Tuan lagi berhubungan dan memberi Thasy uang untuk ngontrak rumah?"


"Karena dia mengancamku akan blow up masslah ini ke publik."

__ADS_1


"Elehhh..percaya saja Tuan, blokir saja dia, daripada Tuan terus di peras dan diancam. Saya heran kenapa Tuan takut sama Thasy, Tuan orang kaya gampang kalau ingin melenyapkan nya."


"Aku tidak menyangka jika Surti sudah memberitahu Devaly."


"Tuan ini sudah rahasia umum, pak Made juga sudah tahu. Malah pak made bilang Thasy sudah punya pembatu."


"Ya sudahlah, aku pasrah." kata Aditya.


Suasana menjadi hening, Kokom merasa terlalu berani menegur majikan seperti dengan teman sendiri. Kelihatan tidak punya etika. Tapi ia gregetan melihat Tuannya terlalu lemah, tidak percaya diri dan aneh. Dulu Tuannya tidak begitu, tegas, berwibawa dan sportif. Semenjak datang dari Bungalow semua berubah.


"Kokom, Tuan, rombongan dari Bungalow sudah datang. Mereka tidak bisa menunggu untuk melihat nona Devaly dan bayinya. Kami masih melarang masuk. Saya takut ada yang bisa ngeleak." Surti datang tiba-tiba mengagetkan mereka


Serempak mereka berdiri, mereka bergegas ke depan. Ada sekitar lima puluh orang berdiri di halaman.


"Selamat sore semuanya, mari kita duduk di pendopo." ajak Aditya.


Mereka berdehem melihat kegantengan Aditya. Kebetulan yang datang hampir semua cewek.


"Tuan kami ingin melihat nyonya Devaly dan putranya."


"Nanti kalian pasti lihat, saat ini istri dan putraku sedang beristirahat."


Mereka di arahkan ke pendopo yang berada dua ratus meter dari rumah induk, dekat Kastil. Aditya tidak berani mengambil resiko karena bibi Ayu dan pelayan yang berada di Bungalow bisa ngeleak.


"Silahkan duduk Nona-nona dan Tuan, kenalkan saya Kokom kepala pelayan disini." kata Kokom menyelamatkan ketakutan Aditya yang di grudug oleh lima puluh orang. Kemoning dan Ghina yang ikut datang cepat menghampiri Aditya, mengajak duduk agak di luar.


"Saya bibi Ayu yang mengurus di Bungalow, kami ingin melihat nyonya dan putranya. Kami juga sudah memakai masker, sudah mencuci tangan dengan bersih."


"Semua akan dapat melihat, tapi sebelum menemui nona Devaly, kalian boleh lihat lewat vidio dulu ya." David maju menghidup kan proyektor dan mengarahkan ke dinding. Mereka semua berteriak kagum, karena seperti nonton film di bioskop padahal di tembok. Karena masih sore dan ruangan terbuka film tidak begitu jelas.


Sementara itu beberapa pelayan membawa kudapan dan minuman. Ramai sekali dan mereka semua gembira. Kokom merasa aneh melihat tingkah-tingkah mereka yang over. David dan Kokom serta pelayan lain melayani mereka yang sebagian besar para wanita, prianya ada lima orang.


Di luar Kemoning mendesak Aditya supaya mengizinkan melihat Devaly dan putranya.


"Tuan aku mau melihat nona Devaly."


"Tapi kalian ganti pakaian dulu, itu ada Toilet, ingat cuci muka."


"Baik Tuan." sahut Kemoning. Walaupun Kemoning masih ada ikatan persaudaraan dengan Aditya, dia tetap memanggil Tuan.


Aditya mengajak Kemoning dan Ghina ke kamar Devaly setelah merasa steril.


"Mari masuk..." kata Aditya.


*****

__ADS_1


__ADS_2