
Devaly gelisah menunggu suaminya pulang, ia keluar dari kamar menuju ruang utama. Perasaannya menjadi tidak enak, dan merasa malu mencurigai suaminya. Perlahan Devaly membuka pintu depan dan melihat suaminya datang dengan bergandengan tangan sambil bercanda. Darahnya tiba-tiba berdesir, ia gugup dan seketika wajahnya panas.
Walaupun sudah malam lampu di halaman luar menyala terang. Jadi Devaly sangat jelas melihat pasangan itu berpegangan tangan dengan mesra. Darahnya tiba-tiba berdesir, ia gugup dan seketika wajahnya panas.
Melihat Devaly berada diambang pintu, Thasy cepat melepaskan tangannya dari Aditya dan ia menyunggingkan senyum tak berdosa.
"Devaly, kamu sudah dari tadi disini?" tanya Thasy menatap Devaly.
"Baru saja, bagaimana pekerjaanmu hari ini, pasti sibuk sekali."
"Ya..ya..kami sibuk sekali." sahut Aditya yang berada di belakang Thasy. Rupanya Aditya sudah mulai berbohong. Devaly mengabaikan Aditya, biasanya kalau Aditya pulang Devaly memeluk suaminya dan mengecup bibirnya. Tapi saat ini tidak, ia malah berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja.
"Thasy masuklah, kita makan bersama." ajak Devaly menggandeng tangan Thasy.
Mereka langsung ke ruang makan. Devaly sendiri yang mengambil makanan untuk Thasy dan Aditya.
"Sayank duduklah, biarkan kami sendiri yang mengambil makanan." kata Aditya tenang, ia merasa Devaly tidak tahu menahu.
"Tidak apa-apa, biarkan aku menjamu kalian. Lagi beberapa hari aku akan melahirkan, aku sangat gugup dan stres berat. Kata orang kalau melahirkan kita mempertaruhkan nyawa, maka dari itu aku ingin berbuat baik menjamu kalian supaya kalian ingat diriku, siapa tahu pas melahirkan aku mati."
"Sayank kamu bicara apa." sontak Aditya berdiri dan memeluk Devaly.
"Bicara yang benar Dev..jangan bikin suami panik. Zaman sudah canggih, tidak akan terjadi sesuatu padamu." Thasy menimpali. Dia kesal melihat resfek Aditya.
"Kamu akan baik-baik saja, Tuhan selalu melindungimu." kata Aditya dengan mata berkabut, dia menyesal menerima Thasy bergumul di sofa kantornya.
"Maaf, aku memang terlalu lebay. Kamu tidak usah panik atau berpikir keras, santai sajalah Jika kamu sakit siapa yang bekerja di kantor, kasihan Thasy tidak ada yang mengantar." ucap Devaly melepaskan diri dari pelukan Aditya.
"Jangan khawatir Dev..aku bisa ke kantor sendiri jika kamu butuh suami dirumah."
"Kamu yakin Thasy, bagaimana kalau kamu aku beliin sepeda motor, tidak baik nunut terus sama Owner."
Wajah Thasy mendadak merah, matanya berkilat menatap Aditya. Pria itu diam menunduk, dia merasa Devaly curiga padanya.
"Aku bisa beli mobil sendiri." ucap Thasy dengan suara tinggi. Ia benci dengan Aditya yang tidak membelinya.
"Hebat sekali belum ada sebulan kerja sudah bisa beli mobil. Ternyata suamiku sangat baik. Trimakasih sayank kamu sudah transfer uang untuk teman baikku."
"Sayank, aku..aku..." Aditya tidak jadi melanjutkan perkataannya setelah Thasy melotot kepadanya. Pemandangan itu membuat hati Devaly teriris.
"Ada apa suamiku, apa kamu takut bicara karena ada Thasy, tidak usah takut. Thasy itu teman baikku dari dulu dan kamu suami yang paling mencintaiku. Jika Thasy ada bersalah maafkanlah. Begitu juga sebaliknya. Manusia tidak ada yang sempurna, tapi berusahalah menjadi sempurna untuk orang terdekat."
"Maaf suamiku dan sahabatku, aku ke dalam dulu silahkan kalian berembug, mau beliin Thasy motor atau mobil, tapi ingat potong gaji. Zaman sekarang mana ada yang gratis suamiku, kecuali istri, baru bisa gratis." sindir Devaly beranjak dari ruang makan.
Hancur hati Devaly, Aditya dan Thasy tidak berusaha menghalanginya, mereka berdua tetap duduk. Kokom benar, dirinya yang bersalah memberi ikan kepada kucing. Air matanya bergulir jatuh.
"Nona mari saya antar ke kamar, tenang nona jangan terburu nafsu, saya sudah tahu apa yang terjadi." kata Kokom mengajak Devaly ke kamarnya.
"Masuklah nona, duduk di sofa. Walaupun kamar ini sempit tapi bersih dan rapi."
__ADS_1
"Aku hancur Kom, perasaanku sangat sakit. Mereka tega mengkhianatiku. Tidak pernah terbesit dalam pikiranku kalau mereka akan menusuk ku dari belakang."
"Minumlah nona, Tenangkan hatimu dulu, setelah itu baru kita bicara. Saya akan keluar menjadi spionase dan pura-pura mau membersihkan meja makan. Nona diam disini, tunggu khabar selanjutnya." kata Kokom cepat keluar.
Kokom mengendap-endap ke ruang makan, ia melihat Tuan dan nona Thasy sedang berdebat walaupun suara mereka pelan.
"Maaf Tuan saya kira ruangan sudah kosong, masalahnya tadi saya melihat nona Devaly keluar dari sini."
"Tidak apa-apa aku mau pergi juga." kata Aditya buru-buru keluar dan nona Thasy ikut keluar.
Kokom benci sekali melihat Thasy yang tega mengkhianati temannya. Padahal Devaly sudah sangat baik sekali menampung Thasy di sini. Sambil membersihkan meja makan Kokom iseng mengintip dari jendela kaca walaupun agak remang-remang Kokom bisa melihat nona Thasy menuju ke Kastil.
"Kokom, kamu nengintip siapa?" jantung Kokom hampir copot mendengar suara Tuan Aditya. Kokom berbalik melihat Tuan Aditya menatapnya tajam.
"Sa..sa-ya mengintip nona Thasy." kata Kokom jujur.
"Untuk apa?" tanya Aditya heran, ia maju mendekati Kokom yang berdiri kaku.
"Karena akhir-akhir ini saya sering melihat nona Devaly menangis sendiri. Dia sering membahas soal teman makan teman dan suami yang tidak setia." Kokom mulai bohong dan mengarang cerita.
Tubuh Aditya mencelos ia memegang kursi makan dan duduk. Ternyata Devaly tahu tapi tidak bereaksi, dia menahan sakit hatinya. Pantas Devaly tidak mau diajak berhubungan alasannya sudah dekat lahiran. pikir Aditya sedih dan malu.
Belum ada sebulan Thasy bekerja, ia dan Thasy sudah selingkuh dan Aditya tunduk di s3l4ngk4ng4n wanita itu. Betapa jahatnya dirinya, sedangkan Devaly begitu baik dan setia. bathin Aditya.
"Kokom, adakah nona mengatakan sesuatu?"
"Dia hanya mengatakan mau pergi, berharap ada seorang peria mau menampungnya."
"Apa kamu tahu nona pergi kemana?"
"Saya tidak berani bertanya Tuan, dia keluar dan ntah mau pergi kemana." sahut Kokom senang. Ia ingin membuat Tuannya bingung.
"Rasain, dasar tukang selingkuh." gerutu Kokom setelah Tuannya berlari ke garasi.
Kokom cepat-cepat ke kedapur menyuruh temannya membersihkan meja makan.
"Gawat, tolong bersihin meja makan aku mau mencari nona Devaly." Kokom berlagak panik.
"Apa yang terjadi?" tanya para pelayan ingin tahu. Walaupun mereka sama-sama menjadi pembantu, hanya Kokom yang paling respek akan keadaan di rumah itu, mungkin karena dia sudah berumur.
"Ini rahasia, kalian bersepuluh tidak boleh membocorkan, siapapun tidak boleh tau."
"Oke mbak, kita akan rahasiakan." sahut temannya berbarengan. Mereka tidak peduli rahasia atau tidak, yang penting mereka puas mendengar gosip.
"Kalian tau Tuan berselingkuh?"
"Aahhh..berselingkuh??"
"Stop dulu, besok aku sambung lagi." kata Kokom berlari keluar. Ia sangat senang kalau temannya penasaran. Sampai dikamar dia tidak melihat Devaly. Busyet kemana nona?
__ADS_1
Kokom berlari ke rumah induk menuju kamar Devaly, ia khawatir memikirkan wanita itu.
"Tookk..tookk...nona Devaly...nona..." panggil Kokom berkali-kali.
"Kokom masuklah." nona Devaly sendiri yang membukakan pintu dan menarik tangan Kokom kedalam kamar.
"Saya keliling mencari nona, tadi juga sempat bertemu dengan Tuan Aditya, dia bertanya keberadaan nona, saya katakan nona sudah pergi jauh."
"Gapapa...biarkan saja, kamu mendengar apa yang mereka lakukan di meja makan?"
"Tuan dan nona Thasy berdebat kecil dan saling menyalahkan. Besok kita ke kantor untuk mencari bukti tentang perselingkuhan mereka."
"Kenapa nasibku jelek sekali, baru merasa bahagia sedikit sudah tertimpa masalah. Cobaan selalu datang silih berganti."
"Sabar nona, saya juga tidak menyangka kalau Tuan akan berselingkuh, kalau nona Thasy saya sudah mengamati dari dulu gerak geriknya mencurigakan."
"Aku buta mata buta hati, tidak bisa melihat kejahatan Thasy. Aku selalu welcome dan sangat mempercayainya."
"Tookk...tookk..." Kokom membukakan pintu, ternyata Tuan yang datang.
"Tuan, baru saja saya membawa nona ke kamar. Sepertinya nona kurang sehat, semoga tidak terjadi apa-apa."
"Trimakasih Kokom, biarkan kami berdua." kata Aditya mendekati istrinya.
"Baik Tuan. Nona Devaly kalau ada masalah panggil saya. Malam ini saya tidak akan tidur untuk menjaga nona." sahut Kokom keluar dari kamar Devaly.
"Trimakasih Kokom..."
"Sama-sama nona, saya Permisi dulu." kata Kokom keluar dari kamar.
"Yank sudah minum susu?"
"Hemm....mandilah, aku tidak mau ada bau parfum orang lain di tubuh suamiku."
"Sayank maafkan aku." Aditya bersimpuh di kaki Devaly sambil menangis.
"Jika kau sudah sadar aku akan memaafkan dirimu, aku masih ingat janji mu saat aku buta, kekejamanmu sudah diambang batas. Aku bertahan bukan karena hartamu, aku bertahan karena mencintaimu." kata Devaly sedih. Air matanya kembali bergulir jatuh, dadanya sesak menahan sakit hatinya.
"Kau tahu, dari dulu aku menghindari lelaki karena aku takut terluka, penyesalanku yang paling dalam adalah jatuh cinta kepadamu. Aku terlalu naif menerima mu sebagai suami, mengabaikan kata hatiku yang senantiasa menolak kehadiranmu. Tapi semua sudah terjadi. Apa pun yang kau lakukan, cepat atau lambat, waktu akan menjawab. Semua yang telah engkau perbuat kepadaku, sekecil apa pun kejahatan itu, akan tetap menuai karma buruk untukmu." ucap Devaly menggeser kakinya dan duduk di tepi ranjang.
"Aku salah..aku salah...." Aditya berdiri dan memeluk Devaly.
"Jangan memelukku, aku bukan Thasy yang culas yang tega menikamku dari belakang." Devaly mendorong tubuh Aditya. Pria itu mundur dan bersandar di tembok, wajahnya menunduk terlihat kuyu.
"Kau sudah tahu siapa diriku, aku bisa pergi dan mulai merintis karier di Hollywood. Aku masih muda dan cantik, aku yakin hidupku akan bahagia bersama anakku disana."
"Tidak sayank, kamu tidak boleh pergi. Aku bisa mati jika kamu tinggalkan. Thasy yang merayuku dan menaruh obat diminumamku."
"Jika kamu menginginkan Thasy sebagai pengganti ku aku tidak apa-apa, kadang aku merasa tidak becus menjadi istrimu, karena sudah dua kali kamu selingkuh. Aku hanya menyayangkan kenapa harus Thasy." Ucap Devaly menghapus air matanya.
__ADS_1
Jika sudah nasib membawa dirinya ke arah yang lebih buruk, ia akan tabah menjalani. Semoga ada hikmah dibalik cobaan ini. Ia berharap suaminya bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
*****