LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.14


__ADS_3

Ketika lampu tiba-tiba menyala, semua mata memandang ke atas meja. Kue ulang tahun sudah menjadi gundukan belatung. Mereka tadi sudah kena sihir.


"Astaga siapa yang berbuat ini?" kata Aditya menunjuk kue dengan wajah ngeri.


"Tenang-Tenang ini percobaan pembunuhan untuk nona Devaly, untung tadi dia lari ke kamarnya, kalau tidak dia sudah tinggal nama."


"Hanya suaminya yang tahu hari ulang tahun istrinya, semoga bukan Tuan yang punya rencana membunuh nona." kata Kokom sinis.


"Maksudmu apa? aku saja tidak ingat hari ultahnya." pungkas Aditya tegas.


"Terus siapa Tuan, hanya Tuan yang punya peluang. Nona sudah menderita, tolong jangan ditambah lagi. Dia mampu hidup sendiri, kalau Tuan sudah tidak senang lebih baik ceraikan saja." ucap Kokom menangis. Suasana seketika hening.


"Kokom, aku tidak sejahat itu, aku sangat mencintai istriku. Aku bersumpah tidak ada memesan kue ini." sahut Aditya.


Aditya tidak mau marah kepada Kokom. Mulut Kokom memang pedas tapi ia baik dan sayang kepada Devaly. Selama ini Kokom yang membuat Devaly kuat, walaupun Aditya sering dimusuhi oleh Kokom, tapi ia tidak apa-apa.


Semua memandang Aditya dan berusaha percaya, terus siapa yang mengirim kue? pertanyaan itu perlu jawaban yang jelas dan bisa dipercaya. Akhirnya mereka sepakat memanggil nona Devaly.


"Yank jelaskan siapa yang mengirim kue ultah?" tanya Aditya menatap istrinya yang bingung karena semua mata memandang padanya.


"Maksudmu apa, kirain kamu, jadi kamu tidak ingat ultahku?" tanya Devaly mau menangis.


"Aku malas menjawab, kenapa kamu tumben mau makan bersama kami?"


"Apa urusanmu? kau aneh!!" ketus Devaly, ia duduk disamping Kokom.


Aditya menghampiri Devaly dengan marah, ia menarik tangan Devaly supaya bangun. Devaly berontak.


"Tuan jangan kasar, nona belum sembuh betul." Kokom berteriak ikut berdiri.


"Katakan siapa dia?" teriak Aditya kesal.


"Maksudmu apa, aku tidak tahu mengerti?"


"Ini baca "Love youuu sayank/ Malamute" rupanya kau sudah berani berselingkuh."


"Kau yang berselingkuh nuduh aku."


Devaly akhirnya diam, dia berpikir Malamute yang mengirim kue dan Aditya curiga serta cemburu. Ia tidak mau bertengkar di depan pelayan, jatuh harga diri suaminya.


Malamute itu animal atau siluman? Devaly yakin Malamute semacam manusia Serigala atau Siluman Harimau. Mungkin orang lain menganggapnya aneh, tapi Devaly sangat menyukainya. Ia bahkan merasa nyaman berada dalam dekapan Malamute.


Kemoning menghampiri Devaly, mengajaknya duduk sedangkan David mengajak Aditya duduk. Mereka duduk berempat satu meja dan menyuruh yang lain pergi. Tapi Kokom dan Ghina tidak mau pergi.


"Maaf Tuan, jangan marah-marah, masalahnya nona Devaly tidak tahu duduk persoalannya. Kita bertanya pelan-pelan supaya masalah ini clear."


"Kamu saja nanyain, tidak ada maling mengaku." ketus suara Aditya. Devaly menjebikkan bibirnya mengejek.


"Maaf nona, siapa yang memberi nona kue ultah?" tanya Kokom perlahan.


"Mana aku tahu, sebenarnya aku ke meja makan untuk bagi Ang Pao kepada pelayan, karena hari ini ultahku. Aku kira dia yang kasi, ternyata dia hanya ingat ultah orang lain. Tapi aku bersyukur, karena aku bisa cepat melupakannya."

__ADS_1


"Hemm...jadi nona tidak tahu siapa yang memberi?"


"Tidak tahu.." jawab Devaly pendek.


"Tuan, ini perbuatan seseorang yang ingin nona Devaly meninggal."


"Aku tahu orangnya, ia adalah selingkuhan suamiku. Dia berpotensi untuk membunuhku, siapa lagi yang tahu ultahku selain dia."


"Kita sudah dapat tersangkanya. Kalian boleh bubar dan beristirahat."


Devaly berdiri dan bergegas pergi ke kamar, ia kesal sekali karena Aditya tidak ingat ultahnya. Ia merasa Aditya tetap menjalin hubungan dengan Thasy.


"Yeny istirahat dah, aku menjaga bayiku." kata Devaly menyuruh baby sitter nya pergi.


"Ya nona trimakasih, aku ngantuk sekali." Yeny menidurkan Bintang di box bayi.


Devaly merebahkan tubuhnya tidak lama ia tertidur, ia sudah tidak kuasa menahan kantuk. Mungkin ada Leak yang memasang sesirep sehingga semua penghuni tertidur.


-


Aditya masuk menggeledah tas istrinya. Ia curiga pengirim kue itu sebenarnya tidak ingin membunuh istrinya, tapi ingin membunuhnya. Logikanya setelah potong kue, Devaly pasti memberi kue pertama ke Aditya dan yang lain dan semua mati, hanya Dèvaly yang hidup. Bisa juga Devaly yang ingin membunuhnya karena ia sudah puas dengan Malamute. Semua bisa terjadi.


Setelah mengunci pintu Aditya merebahkan tubuhnya di samping Devaly, ia sudah tidak bisa membuka matanya lagi. Semua tertidur sampai Kemoning tertidur. Tidak ada yang bisa membuka matanya. ilmu Leak ini sangat sakti dan tertata.


Tidak seperti di rumah nenek, disini penghuni nya masih belum begitu faham dengan Leak. Mereka santai dan tidak begitu percaya Leak. Sehingga Leak bertingkah merajalela, sudah berani masuk sampai halaman luar.


Sekarang halaman luar dekat garasi menjadi tempat ngereh atau berubah wujud para Leak Pak Made yang biasanya kuat berjaga bisa tertidur malam ini, sehingga tidak tahu kalau Leak berbondong-bondong datang.


Di antara Leak itu ada Mayang dan Thasy yang sudah bisa menjadi Leak. Mereka berdua berjalan ke rumah tua itu, tapi setelah menjadi Leak dunia seperti berubah. Semua terlihat indah dan membuat Leak terpesona. Kadang ada yang sampai lupa tujuan utama.


Pukul. 04.15 dini hari Kemoning baru bangun dia telah kecolongan tadi malam. Ia merasa hawa mistis dari Leak menusuk kulitnya. Ia berjalan ke rumah induk dan melihat sudah ada beberapa orang pelayan yang sudah bangun.


"Tolooong...ada hantuuuu..." teriak salah satu pelayan membuat semua penghuni rumah keluar berhamburan.


"Mana hantu nya?" tanya Kemoning.


"DIbawah pohon belimbing dekat tempat sampah."


Kemoning dan pelayan lain ke belakang dan mereka sangat terkejut karena yang dilihat bukan Leak tapi jazad Darmi yang digantung.


"Jangan ada yang menyentuh jazad, ini sebuah pembunuhan. Kita harus memanggil polisi." kata Kokom emosi.


"Nanti dulu Kom, kita tanyakan Tuan Aditya, karena ini terjadi di rumahnya."


Kemoning yang biasa melihat orang mati dimakan Leak menjelaskan kepada Kokom bahwa yang berwenang adalah Aditya. Dia sudah tahu polisi sulit mengurus Leak dan perkaranya sering tidak diteruskan.


"Tookk...tookk...tookk..."


Suara ketukan di pintu membuat Devaly terbangun. Ia kaget melihat suaminya berada disampingnya. Setelah membenahi daster yang dilaksanakan Devaly menuju pintu. Kokom terlihat khawatir dan menangis, ia mulai bercerita bahwa Darmi meninggal.


"Tolong Tuan dibangunkan, ini sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh psikopat."

__ADS_1


"Yaya, tapi kenapa kamu tahu Tuan ada disini?" tanya Devaly menyelidik.


"Dimana lagi nona, orang kamarnya kosong. Cepatlah nona supaya polisi menjaga kita. Saya takut kalau psikopat itu membunuh kita dan memutilasi badan kita."


"Jangan menakuti aku." kata Devaly menutup pintu. ia naik keranjang dan menggoyang badan Aditya.


"Kenapa yank, aku masih ngantuk." kata Aditya serak, ia malah tidur tengkurap.


"Pelayan ada yang meninggal dimakan Leak."


Mendengar itu Aditya melompat bangun, ia cepat ke wastafel membasuh wajahnya.


"Yank, kamu mandi. Jangan keluar sebelum aku suruh keluar."


"Oke..cepat temui mereka." sahut Devaly.


Bintang menangis keras membuat Devaly memangku bayinya yang ikutan bangun. ia melihat ponselnya ternyata sudah subuh. Padahal sudah pagi kenapa di luar masih gelap, apakah mendung?


Tidak berapa kama baby sitter nya datang dengan wajah takut. Devaly maklum karena disini tidak ada Leak seperti di rumah nenek.


"Nona Devaly saya mau berhenti kerja, saya takut terbunuh."


"Tidak segampang itu Leak membunuhmu, jika kamu ada salah baru bisa dibunuh."


"Tapi saya takut, tadi malam saya ikut melihat monyet dan belatung."


"Lebih takut tidak punya uang daripada melihat leak. Sulit cari kerja zaman sekarang. Pikir keluargaku di rumah, kalau aku gampang mencari baby sitter karena gajinya besar."


Tampak Yeny berpikir sebentar, kemudian ia tidak jadi berhenti. Dia pun mulai mengambil Bintang, memandikannya dan mulai ceria. Devaly mandi, setelah selesai ia mengintip dari jendela kaca, ternyata di luar ramai ada polisi dan ada keluarga Darmi.


"Yeny kamu sarapan disini saja, bikin disana sendiri, aku yakin tidak ada yang masak atau selera makan, karena kejadian ini."


"Baik nona saya ke dapur dulu." Yeny keluar. Devaly mengambil ponselnya, dia melihat Instagram dan Facebook. Ada satu akun yang ngepost kejadian ini, nama akun itu "gigitjari" orang itu blow up semua kejadian tadi malam.


Ada musuh dalam selimut yang ingin keadaan semakin keruh dan dirinya hancur. pikir Devaly. Siapa dia, Thasy, Mayang, kemoning atau Kokom? itu saja yang menonjol.


"Tookk...tookk...tookk.."


"Pagi nona, saya jadi ke salon. Sebenarnya tidak enak ninggalin orang banyak, terlanjur janji, saya sudah suruh Kemoning tinggal dirumah." kata Ghina nyelonong masuk.


"Tidak apa-apa pergilah." sahut Devaly mengambil dompet dan memberi Ghina uang.


"Nona ini kebanyakan, saya cuma nge cat rambut."


"Bawa lah." kata Devaly dengan tulus. Ghina sudah manis kurang bersih saja. Apalagi bisa dandan pasti cantik.


"Trimakasih banyak nona saya pergi dulu." Ghina mohon diri.


Ghina sudah berumur dua puluh lima tahun dan agak tomboy. Dia dari keluarga kasta Brahmana yang sangat disiplin, serta punya ilmu pengusir Leak, walaupun tidak sesakti Kemoning tapi Leak tingkat bawah takut sama Ghina.


Devaly bersyukur kalau Kemoning dan Ghina mau tinggal disini. Dua orang gadis itu bisa membuat Devaly agak nyaman jika Aditya tidak ada di rumah. Semoga saja yang terjadi pada Darmi adalah pembunuhan pertama dan terakhir, tidak ada korban lagi seperti dulu-dulu.

__ADS_1


Devaly memberi perhatian lebih kepada akun gigitjari, dia display name supaya bisa saling follow dan tidak dicurigai. Mungkin ia terlalu sensitif dengan khabar yang beredar hari ini sehingga membuat Devaly sedikit nevous. Belakangan Devaly hanya bisa gigit jari ketika banyak orang memberitakan kejadian itu.


****


__ADS_2