
Aditya tidak ingin melarang Devaly dan pelayan turun, padahal ia ingin sekali sujud di kaki Devaly, tapi tidak berani. Memegang pipi Bintang saja ia tidak berani. Sebenarnya ia bertemu dengan Thasy kebetulan. Tidak ada hal istimewa yang perlu dikhawatirkan. Jika sampai trending topik di Twitter itu yang membuat Aditya marah dan kasihan kepada Thasy. Apalagi saat kejadian ia malah lari dengan Surti.
Sebenarnya mereka saling sapa di lampu merah, ia tidak sengaja menoleh kesamping dan begitu juga Thasy. Mereka sama-sama kaget.Tatapan mata mereka bertemu dan saling sapa. Thasy naik mobil Jazz warna merah, Aditya kagum melihatnya. Tanpa di komando mereka berdua menepi dan turun dari mobil.
Thasy tetap cantik dan sexy walaupun agak kurus. Body language nya tetap memukau. Yang membuat Aditya kepo adalah perhiasan dan mobil yang di pakai Thasy. Darimana dia mendapat semua barang itu. Apakah Thasy menjadi sugar baby?
"Thasy mau kemana, gimana khabarmu sekarang. Hebat, sudah punya mobil dan aksesori mu gemerlapan, kamu memikat ku."
"Miss you sayank, aku selalu merindukanmu cintaku terlalu besar untukmu..." Thasy memeluk Aditya.
"Jangan peluk-peluk ini jalan raya nanti dilihat orang." ucap Aditya melepas tangan Thasy.
"Semenjak kamu membuang aku, disitu aku menyadari bahwa tidak sepatutnya menaruh harapan padamu. Tiap hari menangisi kamu mengingat kenangan kita yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Sulit u?ntuk melupakan dirimu, padahal kamu tidak peduli padaku."
"Tidak baik mengenang masa lalu, mungkin kita bukan berjodoh. Apapun yang pernah terjadi anggap noda dalam hidup kita."
"Itu bukan noda tapi cinta kita yang terpaksa kandas gara-gara kecemburuan istrimu."
"Wajar istriku cemburu karena suaminya di pakai orang. Kamu juga tidak tahu diri, teman sebaik Devaly kamu khawatir."
"Elehhh..kamu juga senang. Apapun yang terjadi anggap kesalahan kita berdua."
"Sudahlah, aku mau makan besok-besok kita sambung lagi."
"Yank, makan di Ghosa kita sambung obrolan disitu. Aku tunggu disana." kata Thasy mengecup pipi Aditya.
Begitulah cerita yang sebenarnya, kalau istri dan pelayan memusuhinya salah besar. Dalam obrolan dengan Thasy di Ghosa Aditya belum Open BO, belum di kategorikan selingkuh, istri dan pelayan terlalu cepat menghakiminya. Dia kesal kepada Devaly dan pelayan.
Terserah pemikiran Aditya, Devaly tidak mau peduli, terlalu sakit hatinya punya suami yang cepat tergiur dengan wanita lain. Tidak perlu kaya, ia ingin suami setia dan bertanggung jawab. Berselingkuh adalah perbuatan yang paling dibenci.
Makanya ia tega meninggalkan Aditya saat sampai di pantai Kuta. Mereka turun semua kecuali Aditya, mungkin laki-laki itu tidak menyadari kalau dia akan ditinggal pulang oleh istri dan pelayan. Mereka naik Taxi ramai-ramai, seru.
Setelah dua jam menunggu barulah Aditya menyadari bahwa Devaly meninggalkannya. Dengan perasaan marah ia mengambil ponselnya dan menelepon Devaly, tapi ada notif bahwa ia di blokir. Akhirnya ia chat Kokom dan Kemoning dengan kata-kata yang penuh emosi.
"Kau semakin ngelunjak jadi perempuan, aku sudah diam dan mengalah malah kau pergi meninggalkan aku. Kau kira dirimu saja bisa marah, aku bisa lebih marah. Kau pikir kau siapa, apa kau bisa seperti Ghina atau Thasy yang bisa mandiri tanpa bantuan dariku. Jangan sombong jadi orang, kau tidak punya kelebihan apapun dibanding Thasy atau Ghina. Mereka giat bekerja, sedangkan kamu bangun tidur main HP lalu makan menimbun lemak. Mulai hari ini tidak ada uang untukmu. Kau juga tidak melayaniku secara biologis."
Air mata Devaly bergulir jatuh satu persatu. Dadanya sesak menahan kesedihan hatinya. Ia malu dan menganggap dirinya tidak berguna.
Tidak menunggu lama ada notif masuk ke ponselnya bahwa saldo dari ATM yang di pegang Devaly telah di pindahkan. Berarti Aditya mengosongkan, bukan memblokirnya yang bisa dibuka lagi.
"Sabar nona, aku ada tabungan untuk makan sehafi-hari." kata Kokom ikut menangis.
"Kita juga punya gaji, untuk makan sehari-hari cukuplah."
"Aku harus bekerja." kata Devaly menghapus air matanya.
__ADS_1
"Aduhh..kerja apaan nona, tidak usah."
"Aku masih bingung untuk meninggalkan Bintang, masalahnya aku masih warga negara asing dan bahasa juga menjadi kendala kalau mencari kerja disini."
"Jangan pulang keluar negeri nona, kami tidak ingin berpisah dengan nona."
Semalaman Devaly tidak bisa tidur, ia sedih memikirkan keperluan anaknya, tak mungkin ia meminta sama pelayan terus menerus. Minta bantuan keluarganya yang berada di Kanada ia malu. Ia harus kerja online.
Ia mulai mencari lowongan pekerjaan di perusahaan asing sebagai Government Relations Officer, karena pekerjaan ini bisa dari rumah, istilahnya Digital Nomad. Sebelum terjun ke dunia selebriti ia adalah staf kedutaan, karena background pendidikannya Hubungan Internasional.
Setelah dua hari mantengin iklan lowongan kerja dalam dan luar negeri, akhirnya ia dapat juga. Dengan gaji pertama lima puluh jutaan. Devaly bersyukur, tinggal membeli laptop dan pasang wifi. Setelah mendapat pekerjaan Devaly kembali mendengar berita duka.
"Saya, Kemoning dan pelayan lain kecuali baby sitter tidak diperbolehkan mendampingi nona." kata Kokom sedih.
"Tidak apa-apa, kalian bekerja sama Tuan, bukan sama aku, jadi dia berhak memakai kamu. Setiap orang punya cara pandang berbeda melihat permasalahan ini, sebagai istri aku tidak senang suamiku berselingkuh, sedangkan dia butuh wanita lain untuk menyegarkan pikirannya."
"To the point saja, Aditya egois, banci, tidak patut ditonton." kata Kemoning kesal. Dia tidak memikirkan putranya. Aku yakin tidak lama lagi dia tahu nona disini dan dia akan mengusirnya."
"Tinggal di rumahku nona, aku berhenti jadi pelayan Tuan." ucap Kokom.
"Jangan berhenti Kom, Tuan lagi marah dan mungkin kena santet Thasy. Kamu tetap dampingi Tuan supaya Thasy dan Ghina tidak leluasa masuk dan menggerogoti harta Tuan."
"Benar kata Kemoning, Thasy dan Ghina takut melihatmu. Kalau ada kamu Tuan juga segan berbuat yang aneh-aneh." imbuh Surti.
"Nona bersiaplsh mulai masukin pakaian ke koper, kami akan bantu pindahan. Sebelum kami pergi nona sudah pindah. Jika dia tahu nona berada disini, Tuan pasti mengusir nona. kami pura-pura tidak tahu kepindahan nona."
"Mungkin Thasy sudah belajar Leak, jadi Tuan kena sihirnya."
"Jangan mengkambing hitamkan santet atau Leak. Memang dasarnya senang selingkuh, ngaku sajalah."
"Biarin saja Kom, nanti setelah kena benturan baru dia sadar. Tidak semua orang silau akan harta dan bisa bertekuk lutut padanya. Aku sebenarnya bisa saja pulang ke negaraku, tapi aku kasihan meninggalkannya. Karena orang-orang seperti Thasy pasti akan pergi setelah tujuannya tercapai."
"Benar nona, hargai diri kita supaya orang lain menghargai kita. Kalau sudah tidak cocok buat apa bertahan, cerai saja cari yang baru laki-laki lebih baik dari Tuan." kata Surti penuh emosi.
"Surti, jangan nona disuruh mencari laki-laki lain, Aditya jodohnya." Kemoning mendelik.
"Wkwkwk...marah saudara Aditya."
"Kejadian ini adalah cermin hidup, sebagai wanita harus punya prinsip dan pekerjaan, jika suami sudah tidak senang kepada kita, kita sudah punya pegangan hidup."
"Tidak semua lelaki begitu, orang lain biasa saja, kalau cerai masih tetap ditanggung anaknya. Hanya Tuan saja yang aneh." ucap Sri kesal.
Mereka menemani Devaly mengepak barang sampai malam dan tidur sebentar, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, dan memesan Taxi untuk pindahan ke tempat kost elite.
Devaly sengaja mencari kost agak jauh dari rumah Adtya, supaya pikirannya lebih tenang, karena ia mulai akan bekerja online.
__ADS_1
"Nona kami akan ke rumah Tuan, jika ada yang mengganggu nona kami akan datang untuk membela nona. Ingat garam dan bawang, harus selalu ada." pesan Kemoning.
"Disini tidak ada Leak, aku tidak begitu takut. Lagian banyak orang." kata Devaly menatap anaknya.
"Nona kami langsung ke rumah The Queen, semoga nona selalu dalam lindungan yang Kuasa."
Seperti mau pergi keluar negeri saja, mereka menangis semua. Devaly terharu melihat kesetiaan pelayannya. Akhirnya mereka pamit meninggalkan Devaly dan Yeny. Sedih!.
"Aku kasihan melihat nona." kata Kokom saat sudah berada di mobil Taksi. Mereka nyewa dua Taxi, Kokom bersama Kemoning dan Sri.
"Nasib nona selalu sial, mungkin tidak berjodoh dengan Tuan. Kalau aku menjadi nona tidak mau lagi dengan Tuan."
"Semoga nona mendapat jodoh baru."
"Kokom, jangan mendoakan mereka yang jelek, doain semoga mereka bersatu kembali. Aku tidak setuju kalau mereka cerai."
"Mentang-mentang Aditya saudaramu, terus dibelain." protes Kokom.
"Aku sayang sama Devaly dan Bintang, sedih rasanya kalau mereka pergi."
"Kita hanya bisa berharap yang terbaik, nona yang akan menjalani, jika ia merasa berat menjalaninya dia akan berhenti untuk mencari jalan baru." kata Kokom.
Mereka akhirnya sampai di rumah tua Aditya. Ada Tuan David dan Tuan Aditya duduk di beranda depan.
"Hai, kesini kalian semua." panggil Aditya melambaikan tangannya.
"Kami datang Tuan." Kokom yang berada di depan mewakili yang lain bicara.
"Kalian bukan pelayan Devaly, kalian adalah pelayan ku. Berani sekali kalian melawan ku dan membela Devaly. Sekarang dia tinggal dimana?"
"Kami tidak tahu, Devaly sudah dewasa sudah tahu baik buruk, biarlah dia pergi supaya bisa memilih hidupnya sendiri."
"Maksudmu apa?"
"Tadi nona mengatakan mau pergi, ntah kemana. Karena Tuan memanggil kami, jadi kami tidak sempat bertanya nona mau kemana."
"Bodoh sekali, harusnya kalian bertanya kemana nona pergi. Dia membawa anakku."
"Maaf Tuan."
Aditya berdiri bertolak pinggang, wajahnya terlihat kusut. Ia melangkah keluar, tiba-tiba Thasy datang memeluk Aditga.
"Thasy duduk saja, kamu mau kemana?" tanya David menunjuk bangku yang berada di sampingnya.
"Aku ingin membalas dendam kepada babu-babu yang berada disini." kata Thasy menatap satu persatu pelayan.
__ADS_1
"Jika kau berani menyentuh kami, kau salah besar. Kau baru bisa menjadi monyet, sudah sombong." Kemoning maju membawa bawang. Semua kaget mendengar Kemoning mengatakan Thasy bisa ngeleak.
*****