
Semakin ditolak Devaly tambah curiga. Ia jadi kesal dengan Aditya. Suara ponsel Aditya terdengar nyaring, buru-buru ia mengambil dan keluar dari kamar. Kemarin-kemarin jika ponsel Aditya berbunyi ia tidak peduli, tapi hari ini Devaly menajamkan pendengarannya.
"Hallo, aku sudah siap..."
"Kenapa tidak jadi, oh..ya. tidak apa-apa..."
Devaly melirik sekilas terlihat wajah Aditya kecewa. Kemudian suaminya duduk di sofa, ntah apa yang dipikirkan. Devaly ikut duduk di sofa iseng mencari Facebook Kemoning. Ia kaget melihat foto profilnya, wajah Kemoning berubah cantik. Mungkin editan. pikir Devaly.
Ia menscrol cerita Kemoning dari hari kehari. Disitu Devaly baru mendapatkan petunjuk bahwa Kemoning mencintai Aditya. Karena ada beberapa foto Aditya yang sendiri atau bersama keluarga.
-Kamu adalah matahariku, yang menerangi hidupku. Aku nekat mempersembahkan milikku yang paling berharga supaya kamu tahu begitu dalam cintaku padamu. Maaf sayank, manipulasi ini terpaksa aku lakukan padamu karena dorongan yang mendalam-
Dada Devaly sesak, ternyata mereka sudah berhubungan intim. pikir Devaly sedih. Dulu Kemoning sering nengatakan Aditya artinya Matahari atau Surya. Banyak puisi atau kata cinta yang ditujukan kepada Aditya.
Menurut Devaly hubungan mereka belum begitu lama, tapi sering bertemu. Berarti Kemoning pergi dari rumah hanya pura-pura sedih, mereka takut ketahuan dan pindah ke tempat lain.
"Yank, aku tidak jadi pergi." kata Aditya.epe Temanku ada keuntungan mendadak.
"Kamu pasti sedih, apakah temanmu ini ppsangat berarti bagimu?" tanya Devaly menahan amarah yang berkecamuk dihati.
"Dia penolong dan aku wajib memberi Apa yang dia minta." sahut Aditya mengusap wajahnya.
"Apa yang membuat kamu mencintainya?" Devaly berusaha menahan marah tapi mulutnya keceplosan juga. Aditya kaget dan menatap Devaly.
"Sayank, ini laki-laki. Tidak mungkin aku mencintainya, aku bukan gay."
"Karena kamu banyak berubah, akhir-akhir ini kamu nampak sibuk sendiri. Tidak pernah peduli kepada anak kita, apalagi denganku. Aku tidak apa-apa seandainya kamu punya selingkuhan, yang penting jujur." ucap Devaly mengatur nafas. Ia berdoa dalam hati supaya tidak mengamuk.
"Sayank, omonganmu ngelantur, aku mau duduk di teras saja."
"Rupanya kamu sangat kecewa malam ini. Tunggulah pacarmu menjadi menjemputmu dalam wujud LEAK!!" ketus suara Devaly. Ingin ia menendang laki-laki di depannya ini.
Aditya tetap keluar menuju teras, Devaly menutup pintu dan menangis. Ia yakin Aditya berselingkuh dengan Kemoning. Hancur, itu yang dirasakan saat ini. Kenapa terulang lagi dan kamu jatuh ke lubang yang sama? bisik Devaly dalam hati.
Devaly meraih ponselnya dan menghubungi David. Ia menumpahkan seluruh isi hatinya dan kesedihannya kepada laki-laki itu.
"Tenangkan dirimu jangan cepat mengambil kesimpulan, mungkin Aditya banyak pikiran. Aku sarankan supaya kamu melupakan ini sejenak, karena Aditya sudah membuat kejutan untukmu."
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin dia setia." sahut Devaly menghapus air matanya.
Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya Devaly keluar dari kamar menuju kamar anaknya. Suasana malam ini sangat mistis, mencekam. Kesedihannya hilang berubah menjadi ketakutan yang luar biasa.
"Tookk..tookk.,,saya..tookk..." Devaly mengetuk pintu dengan keras, bulu kuduknya merinding.
"Masuklah nona." Kokom membukakan pintu.
"Kalian belum tidur?" tanya Devaly heran.
"Kami lagi melawan ngantuk. Suasananya malam ini sangat mencekam, seolah Leak akan mencari tumbal. Dulu saya lebih tenang karena ada Kemoning, sekarang wanita itu mungkin sudah menjadi ratunya Leak dan siap memakan kita."
"Dia sudah memakan hati dan jantungku." ucap Devaly lirih.
__ADS_1
"Nanti kita buntuti Tuan jika dia keluar rumah, supaya ada bukti kuat kalau mereka sedang berselingkuh." ucap Yeny prihatin melihat nonanya bersedih.
"Dimana Tuan sekarang?" tanya Kokom pelan.
"Duduk diteras setelah mereka tidak jadi bertemu." sahut Devaly menceritakan kejadian tadi. Kokom dan Yeny mendengar cerita Devaly dengan perasaan marah dan mereka berkali-kali mengutuk perbuatan Kemoning.
Perbincangan mereka terhenti saat terdengar langkah kaki dan berhenti di depan pintu mereka.
"Kokom bangun melempar bawang dan sejumput garam kepintu sambil membaca mantra penolak Leak. Mereka duduk bersila mengurung tubuh Bintang yang tidur gelisah. Jemudian Kokom turun dan menempel di pintu.
"Leak apapun jau jangan ganggu kami, karena kau tidak berhak atas nyawa kami." teriak Kokom, terdengar suara tangan memukul pintu. Mungkin Leaknya kaget saat mendengar teriakan Kokom.
"Nona lebih keras baca mantra supaya Leak itu terpanggang." teriak Kokom lagi. Suaranya yang keras membuat Bintang menangis.
"Cup..cup...sayank, mama mau mengusir pelakor dulu." Devaly membelai kepala Bintang. Setelah Bintang tidur kembali Yeny ikut ke pintu.
Saat itulah pintu seolah tergoncang, suara Leak terdengar nyata. Mereka merafal mantra semakin cepat.
"Pergilah kau, kami tidak ada urusan dengan kau. Jika kau tidak pergi, aku akan menyiram kau dengan air garam campur ekor ikan pari."
Tiba-tiba pintu terbuka keras, angin dingin masuk bersamaan dengan teriakan Devaly, Kokom dan Yeny yang begitu kaget. Ia cepat menutup Bintang dengan ekor ikan pari putih. Sedangkan Kokom dan Yeny melempar air garam ke keluar. Mereka berdua mengunyah bawang merah dan menyemburkan keluar.
Serentak mereka berdua menutup pintu dan menguncinya. Devaly terus membaca mantra setelah itu dia berdoa dengan khusuk supaya Tuhan melindungi mereka. Perasaan marah, sedih menjadi satu. Ia yakin Kemoning ada dibalik semua ini. Kokom dan Yeny kembali naik ke ranjang, mereka bersila mengurung Bintang sambil memanjakan Doa. Setelah jam tiga dini hari baru mereka berani tidur.
Dimanakah Aditya?
Ternyata laki-laki itu tidur nyenyak di sofa ruang tamu. Dia menyingkir dari kamar setelah Devaly mencurigai nya. Tentu Aditya sangat ketakutan jika Devaly sampai tahu apa yang terjadi. Itu yang tidak diinginkan oleh Aditya.
Aditya ke kamar putranya, ia kaget banyak bawang, garam di depan pintu. Perasaannya sangat khawatir.
"Tookk..tookk..tookk.."
Lama sekali pintu dibuka. Mata Kokom setengah terbuka melihat siapa yang berani mengetuk pintunya.
"Pagi Tuan, kirain siapa. Tuan mau mencari nona atau Bintang?"
"Apa maksudmu, aku mencari istri dan putra ku." kata Aditya menerobos masuk.
"Kirain Tuan sudah lupa punya istri dan anak."
"Pagi-pagi kamu sudah ngajak berantem. Aku rasa kau lebih bawel daripada nonamu."
"Saya kasihan melihat nona tiap hari menangis, saya hanya seorang pelayan. Jika saya menjadi David, istri Tuan sudah saya angkut."
"Mulutmu kurang dijahit." ketus suara Aditya, ia menghampiri Devaly dan membelai rambutnya.
"Kenapa banyak garam dan bawang diluar?" tanya Aditya duduk di pinggir ranjang.
"Tadi malam ada Leak menyerang kesini, tujuannya untuk membunuh nona dan putra Tuan. Untung Tuhan melindungi kami sehingga Leaknya pergi."
"Astaga, siapa Leaknya?"
__ADS_1
"Kata nona selingkuhan Tuan. Benar atau tidak jawabannya ada pada Tuan."
"Percaya saja dengan Devaly..." ucap Aditya lalu beranjak pergi.
Hari ini Aditya tidak bisa ketemu Kemoning karena saudara dan orang tuanya menginap sampai besok. Perasaan rindu kepada istri sirinya membuat Aditya setiap saat vidio call. Pagi-pagi ia sudah ke kantor menyibukkan diri untuk persiapan peresmian hotel Queen Ii. Walaupun pergi sendiri tanpa David, Aditya tetap semangat.
Kadang Aditya kesal sama David karena pria itu selalu dekat dengan Devaly. Semenjak Devaly kost, David sering membela Devaly, ia terang-terangan mengatakan suka dengan Devaly.
Sampai di kantor Aditya hanya bertemu dengan beberapa karyawan, belum banyak yang datang, Aditya menuju ruangannya.
"Pagi bos, anda datang pagi sekali."
"Aku sengaja datang awal, banyak sekali yang harus di kerjakan." jelas Aditya.
"Maaf bos, apa bos mau breakfast di ruangan atau ke restoran?"
"Bawa ke ruanganku saja." jawab Aditya.
Ia sebenarnya tidak begitu lapar, hanya haus saja karena buru-buru ke kantor. Aditya lalu duduk di kursi kebesarannya dan melihat kartu undangan yang separuh nya belum dikirim.
Di rumah Devaly sudah bangun, kini berada di ruang makan bersama pelayan dan David. Ghina dan Thasy tidak kelihatan, tidak tahu apa mereka sudah bangun atau belum, Sri yang kepo tidak mendapat jawaban.
Semua pelayan membicarakan tentang Leak yang tadi malam menyerang mereka. Devaly mengajak David, Kokom dan Yeny ke ruang tamu. Mereka lalu membahas keadaan Aditya yang seperti kena peletnya Kemoning.
"Apa tindakan selanjutnya?" tanya David.
"Aku akan pergi ke luar negeri, tidak kuat kalau Aditya terus menerus berselingkuh." sahut Devaly sedih.
Akhirnya ia menceritakan tentang ketidak mampuan Aditya di ranjang dan telepon dari Kemoning untuk Aditya. Puisi di Facebook dan sikap Aditya yang memilih keluar dari kamar ketika Kemoning menolak bertemu.
"Jika letoy tidak mungkin dia berselingkuh, kamu jangan terlalu percaya omongan orang. Bisa saja Thasy dan Ghina yang jahat." ucap David menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kasihan Tuan, kita terlalu cepat men judge. Aku merasa berdosa telah bersikap buruk kepada Tuan."
"Untung aku belum memaki Tuan. Jujur aku curiga kepada Kemoning, karena Tuan tidak marah padanya dan ia berani memarahi kita. Hampir aku menjadi mata-mata dan marah kepada Kemoning." kata Yeny datar.
"Tapi aku percaya mereka selingkuh." Devaly kekeh pada pendiriannya.
"Walaupun aku sayang padamu, tapi tetap aku membela Aditya. Kecuali kamu melihat dengan mata kepala sendiri, atau mereka tertangkap basah." pungkas David.
Sebenarnya David ingin menceritakan kalau Aditya pernah memberi Kemoning ATM. Tapi dia urung karena kasihan melihat Devaly sedih.
Devaly terdiam, ia menyeruput kopi kocok yang dihidangkan oleh Kokom. Matanya memandang Bintang yang asyik bermain lego di temani Yeny. David juga memandang putra kesayangan semua pelayan dengan gemas.
"Ting Tong."
Suara notif dari ponsel Devaly terdengar jelas. Devaly membuka hape nya, ia kaget membaca chat dari privat number.
"Devaly, dengarkan rekaman ini, aku hanya memberi informasi saja. Jika kamu tidak percaya gak apa-apa karena bukan aku istrinya." tulis orang itu.
*****
__ADS_1