
Mereka masuk bertiga, 8Kemoning dan Ghina sangat kaget melihat kamar bernuansa biru yang luas. Kamar itu penuh dengan kado yang belum dibuka. Mainan anak laki-laki berjejer di etalase yang berada dipojok ruangan. Pokoknya keren, bagus dan rapi. Memang beda anak orang kaya.
"Sayank, ada Kemoning dan Ginha." kata Aditya ketika melihat istrinya tertegun melihat kedatangan mereka.
"Haii...aku kira siapa, kalian memakai masker, aku jadi tidak mengenali. Bagaimana khabar kalian berdua? silahkan duduk dulu." suara Devaly renyah.
Aditya membantu Devaly bangun dari ranjang ke sofa. Kesempatan itu digunakan oleh Aditya ikut duduk disamping Devaly. Istrinya kelihatan kesal.
"Kami kangen kepada senyum nona. Baru kali ini kita bisa bertemu. Mendengar nona sudah melahirkan kami berinisiatif datang bersama. Aku sendiri ingat pesan pendeta kalau putra nona rentan kena Black majic." ucap Kemonin membuka pembicaraan. Mereka duduk di sofa supaya agak jauh dari bayinya.
"Sebenarnya aku ingin menghubungimu dari pertama kali datang dari rumah sakit. Tapi aku tidak punya nomormu, aku malas nyuruh suamiku. Syukurlah kalian datang aku sangat surprise sekali." kata Devaly senang.
"Apakah kalian berdua mau bekerja disini, aku sangat butuh penjaga khusus yang bisa menjaga istriku dan anakku. Apalagi tiap malam terdengar anjing melolong persis seperti di rumah nenek."
"Maaf Tuan, rumah Tuan sudah angker, ada dan tidak ada Leak, suasananya mengerikan serem. Saya baru masuk sudah merinding."
"Apakah rumah ada pengaruhnya, rumah ini warisan dari kakek sudah dikatagorikan dan termasuk rumah antik, nilai jualnya sangat tinggi, sayang kalau terbengkalai. Lagipula ayah pernah berpesan supaya aku tinggal disini." jelas Aditya.
"Biarpun antik kalau bikin bahaya, takut juga. Apalagi menyangkut nyawa nanusia."
"Tidak ada masalah, kita disini berbanyak, kalau ada Leak kita lawan sama-sama." ucap Aditya ragu, dia sendiri merasa lemah berada di rumah ini.
"Iss...di rumah nenek kita juga berbanyak tapi tetap saja kecolongan, banyak teman kita yang meninggal." ucap Devaly.
"Karena pelayan bisa ngeleak, disini tidak ada yang bisa." Aditya lupa pada dirinya yang bisa ngeleak. Malah setiap malam Malamute ingin muncul dan tidur dengan Devaly.
"Tapi Tuan....." Ghina cepat menutup mulut Kemoning yang hampir membuka tabir Aditya. Hampir kebablasan, Devaly belum tahu kalau Aditya bisa ngeleak.
"Ada apa kalian berdua, aku curiga kalau kalian tahu sesuatu." ucap Devaly curiga.
"Tidak ada apa, saya hanya mengingatkan supaya Tuan berhati-hati karena masih ada Mayang berkeliaran. Kita tidak tahu dia berada dimana sekarang."
"Realita tak seindah ekspektasi, tidak semua yang diharapkan oleh Mayang bisa berjalan sukses seperti keinginannya. Disaat Mayang sadar bahwa harapannya musnah, dia malah memakai ilmu hitam untuk menundukan Tuan dan menyakiti nona."
"Aku menjadi korbannya, suamiku cepat sekali lengket dengan pelakor." ketus suara Devaly. Aditya diam saja merasa salah.
"Untunglah nona sudah disini kalau masih di kampung Mayang pasti berkeliaran."
"Semoga keluarga ku dijahui dari Leak. Kalau nenek tetap hidup aku yakin Aditya akan di wariskan ilmu Leak. Ngeri kalau punya suami bisa ngeleak. Bisa malamnya aku jerat pakai tali dan gantung di pohon mangga."
Ucapan Devaly membuat Kemoning, Ginha dan Aditya saling memberi kode rahasia. Yang tahu Aditya bisa ngeleak hanya Ghina dan Kemoning.
"Hukk..hukk...huukk.." Aditya terbatuk-batuk untuk menyembunyikan kekagetannya kala mendengar ucapan Devaly.
"Minum dulu, aku kira kamu keselek sendal jepit atau biji kedondong. Baru cerita Mayang langsung batuk." sindir Devaly.
__ADS_1
"Aku baru ingat Mayang, apa dia sudah melahirkan?"
"Apa itu anakmu?" tanya Devaly menatap suaminya dengan wajah marah.
"Tidaklah sayank, itu jelas anak Gusde. Aku hanya ingin tahu saja, karena ada keturunan Leak yang akan diwariskan oleh Mayang." kilah Aditya.
Kemoning dan Ghina hanya bisa tersenyum tipis mendengar celoteh Aditya yang seolah membicarakan dirinya.
"Jangan lupa nona Thasy, dia juga punya anak Leak dari dukun sakti. Nama anaknya Barat Sony yang diasuh oleh nenek dari dukun sakti, mungkin sekarang sudah gede."
"Kalau nama itu Aditya tidak akan lupa!!" celetuk Devaly dengan mata merah.
"Hee...kita sudah bicara ngelantur, sebentar lagi malam. Aku ingin mengajak kalian tinggal disini berdua."
"Maaf Tuan aku bekerja dengan ayah, setiap hari berkeliling untuk menyelesaikan upacara dan membantu orang sakit, tidak bisa aku bekerja disini."
"Kemoning aku tidak memaksamu disini, aku hanya mengingatkan tentang umurmu yang sudah pantas untuk menikah. Kalian boleh membantu orang tua, jangan mengesamping kan kebutuhan diri sendiri. Kalau kamu disini bisa bekerja di hotel ku dan bertemu banyak lelaki. Siapa tahu salah satu dari mereka bisa tertarik padamu. Begitu juga halnya dengan Ghina, kalian berdua cantik, tidak kurang lelaki Brahmana di kota ini. Di desa orangnya itu-itu saja, orang berkasta juga sedikit."
Kemoning dan Ghina saling pandang mereka menjadi ragu untuk pulang ke desa. Mereka juga ingin menikah dan punya anak.
"Bagainana ya, ayah mau menjodohkan aku dengan saudara disana, tapi orang itu tidak kerja." sahut Ghina.
"Jangan mau, biarpun tidak kaya yang penting bekerja, kita butuh uang, setiap hari pengeluaran banyak." timpal Devaly. Ia berdiri karena baby sitter datang untuk memandikan bayinya.
"Tuan aku akan coba disini beberapa bulan, jika ada kemajuan aku terus akan tinggal disini." kata Kemoning, Ghina mengangguk.
"Ghina kamu boleh tanya David dia tangan kananku, merangkap sekretaris. Biasanya dia tahu bagian apa saja yang kosong."
"Ya Tuan trimakasih." sahut Ghina dengan senang. Disamping untuk menghasilkan uang Ghina juga ingin menikah. Walaupun terlihat tomboy, Ghina cantik dan hitam manis, body nya tinggi berotot.
"Tuan kami akan izin sama ayah, disamping itu tolong Tuan bicara juga, kami takut ayah murka."
"Baiklah aku akan menelepon ayah kalian."
Saking asyiknya mereka berbincang-bincang tidak terasa sudah menjelang malam. Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar. Surti langsung nyelonong ke kamar dengan nafas memburu.
"Tuan, bibi Ayu berantem dengan Mayang, tidak ada yang bisa melerai."
"Aahhh...kenapa ada Mayang di dalam sana. Apa kalian sengaja membawa Mayang satu rombongan, bagaimana maksudnya ini?!" teriak Aditya menunjuk Kemoning dan Ghina. Aditya berdiri dan matanya tajam menatap Ghina dan Kemoning.
"Suaramu membuat anaknya menangis." kata Devaly menenangkan Bintang dan membawa ke gendongan nya.
"Maaf...maaf...."
"Bagaimana krologisnya?"
__ADS_1
"Tuan jangan cepat marah, dengar cerita saya dulu. Rombongan sudah pas lima puluh orang, ntah bagaimana caranya ada Mayang disini. Waktu pembagian minuman dan snack belum ketahuan, karena kami berpikir walau ada yang hilang, pasti ada yang mengambil dua. Saat nasi kotak dibagikan baru ketahuan karena yang membagikan bibi Ayu."
"Ketahuan bagaimana?"
"Bibi diam-diam menghitungnya, ternyata orangnya lebih. Perasaan bibi tidak enak dia dengan sabar menunggu siapa kira-kira yang angkat kaki dari situ, ternyata tidak ada. Tapi ada seorang wanita memakai cadar ikut makan. Bibi lalu mendekati orang itu, merasa dicurigai wanita itu lalu berdiri, bersiap lari tapi tangan bibi cepat menggapai cadarnya."
"Teruss...." Devaly tidak sabar.
"Aku keluar melihatnya." tiba-tiba Aditya berdiri ingin keluar.
"Heiitt...kangen ya sama Mayang!!" bentak Devaly menarik baju Aditya ketika pria itu mau keluar.
"Lanjut Surti..."
Aditya terpaksa kembali duduk, Surti pun melanjutkan ceritanya.
"Setelah cadarnya lepas bibi kaget, karena mengenal wanita itu bernama Mayang. Bibi marah menuduh Mayang ingin makan bayi Tuan. Mayang tertawa dan bersumpah akan makan istri dan bayi Tuan. Setelah itu wanita itu lari membawa nasinya. Semua mengejar, sayang sekali satpam marah dan menyuruh semua masuk kedalam. Semua kembali dengan perasaan kecewa." Surti mengakhiri ceritanya.
"Kurang ajar, siapa yang mengajak iblis itu kesini, apa bau darah ari-ari bisa menarik kedatangan Leak."
"Kita tunggu Kokom sama David siapa tahu ada berita baru. Atau kita keluar bersama, kasihan bayinya terganggu." kata Aditya.
"Lebih baik kita keluar semua, termasuk nona Devaly, bayi nya baby sitter yang mengajak." usul Surti.
"Nona Devaly harus kelihatan karena mereka menjenguk nona dan Bintang, tapi hati-hati, tidak boleh ada yang mengelus perut nona atau memegang ***********, karena sangat berbahaya. Setelah kembali dari pertemuan nona harus mandi, jika nanti bayinya tidak mau ***** panggil saya, berarti ada yang memasang sesuatu dan ingin membunuh bayinya." pesan Kemoning membuat Dèvaly mundur dan tambah merinding.
"Kebih baik istriku tidak keluar kalau sangat berbahaya. Aku akan katakan besok saja ketemu."
"Tuan, mereka dari jauh datang kesini apa Tuan tega. Nanti bibi Ayu merasa tidak dibutuhkan lagi."
"Aku tanggung jawab daripada istri dan anakku mati."
"Terserah Tuan, semoga mereka maklum."
"Begini saja, aku mau mandi dulu dan kalian juga mandi. Selesai mandi aku menemui kalian." kata Aditya.
Mereka pun setuju dan kembali ketempat masing-masing. Aditya tidak habis pikir kalau Mayang bisa berada disini. Kenapa dia bisa ikut bersama rombongan. bathin Aditya.
Kemoning dan Ginha menemui bibi Ayu dan Kokom, mereka semua terlihat sedang sibuk membersihkan serta memasang kasur busa di pendopo, karena tidak ada yang mau tidur di Kastil atau di kamar lain yang banyak kosong. Padahal sudah dipersiapkan. Mereka juga ajan bergantian tidur.
"Tuan David, Kokom, Tuan Aditya nenyuruh kalian mandi, setelah itu akan diajak rapat darurat membahas Leak."
"Kamu tidak mandi Surti?"
"Mandi Kokom, aku tumben merasa dadaku berpacu kencang saat Mayang bersitegang dengan bibi Ayu. Aku tidak mengenal Mayang walaupun pernah ke rumah nenek, kalau bibi Ayu aku kenal sepintas."
__ADS_1
"Aku semua tidak kenal karena baru berada disini. Yang membuat heran Mayang itu bekas pelayan nenek yang hampir menjadi istri Tuan Aditya. Berarti kedudukannya di nenek sangat tinggi." kata Kokom takjub.
****