LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.19


__ADS_3

Hari berganti hari, sudah sebulan kejadian yang membuat Devaly pindah ke Guesthouse, perasaannya kembali normal, tapi tetap saja dalam pengawasan dokter. Devaly kembali beraktivitas seperti biasa. Ia menekan rasa kangennya kepada Aditya dengan cara pergi menyibukkan diri.


"Apakah nona ingin pindah ke kamar utama, Tuan setiap saat menanyakan keberadaan nona dan Bintang." kata Kokom ketika mereka duduk santai di beranda. Kemoning yang bersandar di tembok menatap Devaly dengan rasa kasihan.


"Jangan menjawab kalau kata-kata itu berat di ucapkan. Apapun pilihan nona kami setuju dan akan mendukung keputusan nona." Kemoning ikut berbicara.


"Aku ingin keluar makan di Ghosa, kalian juga ikut. Tapi mobil Van nya di rumah utama."


"Gampang itu nona, aku yang mengambilnya. Kita berangkat jam sebelas siang, kalian boleh siap-siap mulai sekarang." kata Kokom mengambil jaket bersiap ke rumah induk.


"Habis dari sana aku ingin pergi ke Kuta melihat temanku shooting film." ucap Devaly gembira.


"Ikut-ikut...semoga tidak ada Tuan Aditya atau Tuan David saat Kokom mengambil mobil."


"Aku ikut mengambil mobil kalau ada yang protes aku akan bilang nona yang suruh. Aku yakin mereka akan diam." kata Komang berdiri, dia mengejar Kokom menembus kebun buah.


Mereka berdua berjalan beriringan sambil ngobrol kesana kemari. Walaupun Kokom sudah berumur tapi berjiwa muda, ia hampir tidak pernah berbicara tentang lelaki.


"Kalian berdua datang dari mana?" tiba-tiba Aditya berdiri dibelakang Kokom. Tentu saja Kokom dan Komang kaget, apalagi mereka sedang ngomongin kelakuan Aditya dan Ghina.


"Ahh...Tuan datang dari mana?"


"Kamu aneh, aku dari rumah mau ke garasi."


Kokom baru menyadari posisinya berada di halaman depan mau ke garasi. Untung belum mengambil mobil.


"Maaf Tuan, saya salah jalur. Maunya ke dapur malah nyelonong kesini."


"Aku tahu kamu mau memata-matai aku, katakan kepada istriku kalau aku ke kantor sendirian, suruh dia kembali."


"Saya akan katakan yang sebenarnya Tuan, mana berani saya berbohong." jawab Kokom melihat Ghina datang dengan pakaian sexy.


"Morning sayank, ayo kita berangkat."


Wajah Aditya seketika memerah saat Ghina memeluknya dari belakang. Kokom dan Komang tersenyum sinis melihat Ghina sambil mengacungkan jari tengah kepada Ghina.


Mereka berdua melengos pergi meninggal kan pasangan Toxic itu. Aditya merasa para pelayan tidak hormat kepada nya lagi, tidak seperti dulu. Mereka berani mencela dan memusuhinya.


"Ghina, berhenti mengikutiku!!" bentak Aditya sambil melepaskan pelukan Ghina.


"Aku kangen, tiap hari Tuan menghindar dari ku. Sedih di cuekin."


"Istriku tidak mau kembali, mengertilah aku sangat mencintainya. Kita sudahi bibit perselingkuhan ini sebelum kita tenggelam lebih jauh. Lupakan apa yang pernah terjadi pada kita. Berhentilah menangisi apa yang tidak kamu miliki, biarkan masa depan menjadi dorongan untukmu."


"Aku mencintaimu, apapun yang kamu katakan tidak berpengaruh padaku. Kamu pikir cinta itu bisa dibuang begitu saja, biarkan aku menjadi istri kedua, aku rela. Aku berjanji tidak akan pernah membongkar perselingkuhan kita supaya hubunganmu tetap langgeng dengan Devaly."


"Tidak Ghin, kamu bisa naik ojol ke kantor." kata Aditya mendorong Ghina hampir jatuh.


Aditya naik ke mobil, ada saja yang membuat hatinya kesal. Nanti Kokom ngadu lagi, pikir Aditya.


"Gimana bos, kita jalan atau nunggu Ghina. Liat air matanya bercucuran.


"Jalan, bikin masalah saja." jawab Aditya pendek.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tidak banyak yang di omongin, kepala Aditya pusing memikirkan Devaly dan putranya yang tidak mau pulang. Dimana mereka berada, hanya Kokom dan Kemoning yang tahu.


"Boss wajahmu pucat kelihat semakin kurus, aku sarankan sewa detektif untuk mencari Devaly. Atau paksa Kokom dan Kemoning untuk menunjukan dimana Devaly sekarang."

__ADS_1


"Biarin saja, supaya Devaly kembali normal dan bisa menerimaku apa adanya."


"Kasihan bos sudah sebulan tidak bertemu, apa tidak rindu kepada Bintang?"


"Pasti rindu..." ucap Aditya pendek. Dia bersandar di Jok mobil sambil memejamkan matanya.


Pukul. 11.30 Devaly sudah berdandan santai, dia memakai celana pendek dari jean dan tank top warna putih. Rambutnya di kuncir kuda. Dia memakai sepatu pantai dan topi lebar serta kaca mata hitam. Flawless!.


"Nona Devaly sexy sekali, semenjak nona disini badan segar, wajah makin cantik. Kalau begitu lebih baik nona terus tinggal disini jangan balik lagi." puji Kokom dengan tulus.


"Secantik apapun, suami akan tetap selingkuh karena dia bosen daging ayam setiap hari, maunya ikan asin."


"Dia pikir wanita tidak bosan, kalau bisa muntah..udah muntah dari dulu, tapi kita tahan demi kelanggengan rumah tangga."


Mereka semua tertawa, kalau sudah gosip tentang lelaki. Akhirnya mereka berangkat menuju Ghosa, Bintang gantian dipangku karena menggemaskan.


"Taruh di Stroller, kita tidak mungkin memangku saat makan." kata Devaly ketika mereka sudah sampai di Ghosa.


Mobil terpaksa parkir di pinggir jalan jauh dari restoran karena parkiran penuh. Maklum restorannya tidak terlalu besar, tapi sangat terkenal. Mereka turun satu persatu dan masuk restoran.


"Siang nona silakan naik ke lantai atas kalau rombongan, disini sisa satu meja saja yang lain sudah Open table." kata pramusaji sopan.


Mereka naik ke atas karena sulit membawa Stroller, Devaly dan baby sitter terpaksa makan di bawah.


"Nona naik saja, aku jaga Bintang." kata Surti mengalah.


"Tidak, kalian naik saja aku bisa sendiri disini, takutnya dia menangis minta *****."


"Kalau mau diatas aku bisa pangku Bintang sambil makan."


"Tidak bisa, kita akan masak sendiri, riweh kalau ngajak anak. Naik saja kalian aku sudah pesenin makanan. Makanannya harus habis supaya tidak rugi."


Devaly penasaran siapa orang yang open table, dua meja dijadiin satu. Ada buket bunga mawar putih. Makanannya penuh satu meja dan ada Red whine dan Sake.


Dada Devaly berdebar kencang ketika melihat yang open table adalah Thasy dan Aditya. Sakit hatinya, apa yang harus ia lakukan?


"Makan nona mumpung Bintang tidur." ucap Yeny diantara kunyahannya.


Yeny begitu lahap makan, untung dia duduk memunggungi Aditya, jadi konsentrasinya tidak terganggu.


"Yeny, kamu bisa bikin video di ruangan ini. Tanganku agak tremor memegang ponsel. Nanti setelah habis makan."


"Bisa nona, saya sudah kenyang tidak bisa masuk makanan lagi, harusnya nona pesan satu paket untuk berdua."


"Tidak boleh begitu, setiap orang harus satu paket. Tidak habis sudah resiko sisanya juga tidak boleh dibawa pulang."


"Sekarang gantian nona makan." kata Yeny pindah duduk kesamping Devaly.


"Siapa yang jadi sasaran nona saat ini?"


"Ada dua Leak duduk di depan. Jangan kaget dan berisik, anggap kedua manusia itu iblis yang tidak tahu malu." bisik Devaly.


"Ya Tuhan, kurang ajar. Sabar nona, manusia terkutuk!!" geram Yeny. Tangannya gemetar menahan marah. Tanpa sadar ia memeluk Devaly.


"Sabar nona, yang jahat akan dapat karmanya."


"Aku sudah super sabar, kamu ambil vidio mereka, hati-hati jangan sampai mereka tahu."

__ADS_1


Yeny mengambil gambar kedua orang itu. Rasanya ingin memukul mereka satu persatu. Jika ia di posisi Devaly daritadi ia sudah labrak kedua orang itu. Devaly sabar sekali.


"Yeny cukup segitu. Sini bawa ponselnya." kata Devaly. Yeny menyimpan vidio itu dan mengembalikan ponsel Devaly.


Kemudian ia mengirim vidio itu ke Kokom dan Kemoning. Tidak lama ada balasan dari Komoning.


"Hati-hati nona, jangan kesalahan nona di pakai alasan untuk menyerang nona." balas Kemoning.


"Nona duduk manis ditempat kita akan turun, suruh Yeni duluan ke mobil mendorong Stroller, kasi Yeny kunci mobil." balas Kokom.


"Okee...aku sudah tidak tahan melihatnya."


"Tenang nona, jangan memperlihatkan kelemahan nona. Anggap mereka iblis." balas Kokom lagi.


"Yeny, ajak Bintang ke mobil, kamu lempeng jalannya, jangan menoleh ke setan itu." perintah Devaly memberi kunci.


Seperti yang diharapkan, Yeny duluan berjalan, Aditya memandang Stroller lewat, pasti dia tidak menyangka itu putranya.


Kemudian Kokom turun dari atas membawa nampan berisi piring dan makanan sisa dan rombongan di belakangnya membawa gelas berisi minuman. Mereka berjalan beriringan menuju tempat Aditya.


"Sorry..sory...titip Tuan...." kata Kokom sinis membuat Aditya kaget. Rombongan itu menumpahkan makanan di meja Aditya.


"Apa-apaan ini?" Thasy marah. Tapi tidak ada yang peduli. Surti yang dari tadi kesal menyiram rambut Thasy dengan kuah. Ada yang memakai air. Thasy berteriak marah dan nemaki.


Devaly meloncat dan memegang tangan Thasy yang mencoba memukul Surti. Kaki Thasy menendang Devaly, tapi mengenal meja. Keadaan semakin kacau karena Surti dan yang lain Ikut-ikutan berteriak pelakor.


Kemoning memberi Aditya masker dan menarik tangannya keluar.


"Manusia sampah tidak tahu malu!!" bentak Kokom menampar Thasy. Mereka bubar setelah scurity melerai mereka.


"Aku akan balas perbuatan kalian." teriak Thasy dengan wajah amburadul.


"GOO TO HELL!!" teriak Surti melempar tissue bekas ke wajah Thasy.


Pengguna Gadget memburu Aditya, untung ada Surti yang membawa Aditya ke mobil Van. Sampai di Van mata Yeny menatap tajam Aditya sambil menyeringai.


"Syukur punya istri Devaly, kalau aku sudah tak bunuh mereka berdua." terdengar suara Kokom dari mobil. Aditya diam saja tidak berani berkutik.


Mereka satu persatu naik ke mobil dan semua kaget melihat Aditya berlinang air mata sambil menunduk.


"Tuan mobilnya dimana?" tanya Kokom garang.


"Kokom kamu yang bawa mobil Tuan, aku yang nyetir mobil ini." kata Devaly berpindah duduk ke belakang Stir.


"Aku saja yang nyetir." sahut Aditya serak.


"Jangan Tuan, pikiran Tuan lagi kacau, takutnya Tuan jatuh ke jurang."


"Bukannya sudah jatuh ke jurang hahaha..." Sri tertawa mengingat Thasy. Aditya diam di bully pelayannya.


"Aku menyesal tadi menyiram rambut Thasy dengan air..." kata Komang sedih.


"Harusnya pakai sambel hahaha..."


Ingat buka HP kalian pasti ada di Instagram, Facebook dan Tribun, banyak yang like."


Devaly memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak peduli dengan keberadaan Aditya, walaupun mata Aditya terus ke spion mobil. Rupanya Devaly tidak pulang ia membawa mobil ke Kuta. Semua turun dari mobil kecuali Aditya.

__ADS_1


*****


__ADS_2