LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.26


__ADS_3

Thasy tidak mengerti apakah Macan akan menyerangnya atau melindunginya. Ia loncat ketembok, tapi Macan ikut meloncat. Untuk menghindari kesendirian monyet kembali lari ke tempat semula.


Tiba-tiba ada Leak Barak keluar dari rumah Aditya. Leak lain seketika diam, Thasy tidak tahu siapa yang menjadi Leak barak. Untuk apa dia muncul, apa tujuannya baik, ataukah mau ikut memangsa sesama Leak?


"Weerrr....Weehhh....." seperti biasanya Leak barak berjalan dengan wajah angker. Leak


barak menari kesana kemari sambil bersuara serem. Leak lain cepat melipir dan menonton sambil ketakutan. Mayang yang tadi hampir dapat menangkap monyet jadi kesal ketika Leak barak muncul.


Air liurnya menetes melihat monyet kecil yang terus memandangnya. Rasanya semua binatang buas ingin memajan monyet baru itu. Tapi Leak barak terasa menghalanginya, walaupun tariannya memang begitu.


Dari dulu selalu Leak barak ikut campur dan muncul tiba-tiba. Tidak tahu siapa yang jadi Leak barak, levelnya sudah tinggi dan sakti. Jika dia menari dan memutar kain mori yang berada di kepalanya, yang kena bisa celaka atau meninggal dunia, karena kain mori itu sudah di Rajah dengan aksara sakti.


Gorila hitam yang berada disampingnya juga ingin menyambar monyet, syukurlah si monyet berlari dan sembunyi di belakang Leak barak. Macan jadi esmoni, dengan gigi gemeletuk ia mencari celah menangkap monyet.


Sedang asyiknya Leak barak menari, Macan tiba-tiba meloncat menerkam monyet. Pada saat yang bersamaan Leak barak sedang memutar kain mori. Terdengar teriakan pilu dari Macan karena kain mori yang berubah menjadi pedang itu menusuk tubuhnya.


"Aduhhh....aduuhhhh....sakiiitttt.....panasss.." Macan terguling di tanah, ia berteriak sedih, monyet terlepas dari cengkramannya. Monyet berlari melompat tembok ketakutan, dadanya bergemuruh. Cepat-cepat dia masuk kamar dan mengunci pintu. Ia tidak tahu nasib Mayang selanjutnya.


Leak barak seketika lenyap ntah kemana, tidak satupun yang menolong Macan. Setiap Leak menoleh kepada Macan sekejap setelah itu pergi tidak peduli.


Lolongan anjing dan teriakan histeris Macan mengharu biru. Tidak ada manusia normal yang berani keluar untuk menolong, mereka menutup kuping supaya tidak tersentuh perasaannya dan berharap pagi cepat menjelang, supaya matahari membakar sisa Leak yang telat pulang.


Kepercayaan masyarakat di pulau ini sangat kental tentang hukum sebab akibat, karma akan datang pada saatnya, sesuai apa yang ditanam, itu yang di tuai. Sudah karma dari Mayang menjadi korban Leak barak.


Nenek bungkling tersentak bangun dari tidur lelapnya. Ia menyalakan lampu kamar dan melihat cicitnya menggeliat tidak tenang di atas tempat tidur. Putranya Mayang, sudah tumbuh sehat, berwajah hitam manis seperti Gusde.


Nenek mengusap wajahnya dengan kasar, firasatnya mengatakan ada yang terjadi dengan Mayang. Angin malam yang berdesir mengabarkan berita duka. Nenek bungkling membuka pintu kamar. Sudah jam dua pagi, cuaca tidak bersahabat, mendung dan dingin.


Nenek Bungkling berjalan ke pemujaan Leak, ia bersimpuh dan bertanya lirih. Air matanya mengalir saat api dari bejana gerabah sudah padam. Perasaannya tidak enak.


"Aku ingin tahu khabar dari Leak Macan, apakah kau tahu dimana dia sekarang." tanya nenek bungkling lirih.


"Tolong lah jiwa cucuku, anaknya masih kecil sedangkan aku sudah tua."

__ADS_1


Nenek Bungkling sesambat sendiri, ia terus memohon supaya cucunya bisa selamat dan kembali. Mayang adalah tulang punggung di rumah nenek. Tidak ada Mayang siapa yang ngasih makan.


Ia lalu membuka peti kecil yang berisi mayat bayi yang di awetkan. Mayat bayi ini sudah mati dalam kandungan, usianya sudah dua puluh tahun kalau dia hidup. Perut bayi ini isinya rempah-rempah tua yang sangat menyengat. Bayi ini adalah sarana untuk menyakiti orang dan membunuh orang.


Nenek Bungkling kembali menaruh bayi itu kedalam peti, tapi tidak menutupi. ia mengisi cawan dengan air dan bunga kantil. Bergegas menyalakan api bejana dan memotong anak ayam guna diambil darahnya. Sekepel nasi putih, Tuak, arak, kapur sirih ditaruh dalam satu piring.


Nenek cepat mengganti pakaiannya dengan kain kafan yang sudah ditulis aksara kuno. Terakhir nenek menutup kepalanya dengan kain putih berusia gambar Leak.


Nenek kembali ketempat tadi dan duduk bersila sambil komat kamit membaca mantra. Angin berhembus dengan kencang bersamaan dengan suara ranting pohon yang berjatuhan. Suara binatang malam saling bersahutan membuat suasana tambah mencekam.


"Wahai...bebai...pergilah kau menuju ninimu, khabarkan aku tentang jiwanya, apa dia masih bernyawa atau sudah kalah dalam pertarungan. Aku memerintahkanmu supaya jazadnya kau bawa pulang dan lawannya kau bunuh satu persatu. Tetesan darahmu di setiap tembok lawannya."


Selesai berucap begitu jazad bayi itu bangun seolah bernyawa, nenek Bungkling kemudian meniupnya keras. Tidak bisa di percaya nalar tiba-tiba bayi itu seperti terbang dan hilang dikegelapan malam.


Nenek lalu berdiri dan menari-nari kerasukan Leak, matanya terpejam, ia mengandalkan suara angin serta bisikan kalbu menerawang apa yang akan diperbuat oleh "bebai". Kain kafan penutup kepalanya dipegang dengan kedua tangan dan diputar-putar di atas kepala.


Sekitar satu jam nenek menari-nari, angin dingin datang menembus raga. Bau anyir darah segar tercium keras dan rintihan pilu suara kesakitan membangunkan nenek dari terawannya. Matanya melotot melihat jazad Mayang melayang, kemudian⁓ turun di atas kain kapan yang sudah disiapkan oleh nenek.


Nenek langsung membuka bejana yang tadi dibungkus dengan kain kafan dan mengambil kelapa muda gading, membuka ujungnya dan membuang airnya. Setelah kosong nenek komat kamit tangannya menangkap sesuatu yang kasat mata dan dimasukkan kedalam kelapa itu.


Nenek menyimpan kelapa di dalam peti kayu yang sudah lengkap isi beberapa ramuan rempah-rempah dan sesaji.Kemudian peti di tutup dengan kain kafan. Kemudian komat kamit lagi di barengi nyanyian sinom yang syahdu, nenek berlinang air mata. Jazad Mayang di bungkus pakai tikar pandan dan dimasukkan kedalam lubang yang jauh-jauh hari mereka sudah siapkan.


Selesai sudah prosesi ala nenek Bungkling yang mengubur cucunya sendirian, tanpa warga yang menemani, karena tidak ada warga yang peduli kepada orang semacam mereka yang kerjanya mencuri dengan wujud Leak.


"Aku mengubur badan fisik mu yang sudah tidak berguna dan mengurung roh mu yang akan membantuku menjalani hidup ini."


Nenek kemudian kembali duduk di tempat pemujaan Leak dan memanggil "bebai" supaya pulang. Sudah jam tiga pagi, batas waktu petualangan mencari mangsa. Ketika bebai datang sudah membawa rambut para korbannya.


"Istirahatlah kau!!" perintah nenek sambil memasukkan bebai kembali ke peti kecil dan menutupnya. Rambut yang dibawa disimpan sama nenek.


Kematian Mayang membuat nenek terpukul, dirinya sudah tua renta. Sedangkan anaknya Mayang masih kecil, perlu makan, rasanya dia tidak mampu untuk merawatnya. Lama nenek duduk berpikir, kemana dibawa anak ini?


Keesokan harinya nenek mengajak cucunya pergi. Nenek tidak punya jalan lain kecuali membuang anak ini ke tempat keluarga kaya. Ingatan nenek ke jalan drakula, tempatnya Mayang bekerja dahulu. Berarti ia menunggu malam tiba, tidak mungkin ia berangkat siang begini.

__ADS_1


Setelah malam tiba nenek berbenah akan mengajak cicitnya pergi. Tapi sebelumnya ia memberi "Rerajahan" atau tatto macan di punggung anak ini. Nenek tidak memberi warisan ilmu Leak saat ini, karena cicitnya masih kecil. Ia hanya memberi sedikit energi negatif lewat ubun-ubun cicitnya.


"Kita akan pergi Gus, kamu akan tinggal di rumah orang kaya." kata nenek Bungkling menggendong cicitnya. Anak itu hanya bisa "huhu..huhu" saja karena masih kecil, belum berumur satu tahun.


Matahari terbenam begitu menakjubkan bahkan nenek pun menyaksikannya sambil berharap. Apakah malam ini ada hasil buruan atau nyawa yang melayang. Harapan tinggal harapan, karena yang ditunggu sudah sirna.


Pukul 02.00 dini hari nenek membawa cicitnya ke jalan drakula. Anak ini sedang tidur lelap, dia tidak akan menyangka dibuang begitu saja. Nenek yang berwujud Leak sangat gampang menaruh anak itu di dalam rumah, walaupun pintu terkunci.


Sedih rasanya melihat cicitnya tidur lelap tergeletak di lantai teras depan. Perlahan nenek pergi meninggalkan bayi Malang itu. Dada nenek terasa sesak menahan rasa pilu, hanya ini jalan satu-satunya untuk cicitnya. Semoga orang di rumah ini mau menjadi orang tua angkatnya. bisik nenek dalam hati. Ia menaruh tas isi susu formula dan sedikit pakaian.


Pukul 04.00 dini hari, bibi kaget mendengar suara anak menangis. Ia buru-buru keluar kamar dan mencari arah suara. Bukan dia saja keluar kamar, hampir semua pelayan keluar gara-gara mendengar suara tangisan anak kecil.


"Astaga ini anaknya." kata bibi Ayu membuka selimut dan memeriksa anaknya.


"Sini sayang, ini bibi..." bibi Ayu mulai merayu anak itu yang terus menangis. Mereka membawa anak itu ke dalam dan memberi susu formula yang dibawa oleh nenek.


"Siapa yang menaruh anak ini, anehnya dari mana dia masuk. Anaknya ganteng, hitam manis."


"Aku merasa anak ini sengaja ditinggal disini, dan orang tuanya sudah tahu keluarga disini. Atau orang sakti yang pernah bekerja disini.


"Apa anaknya nona Devaly?"


"Tidak mungkin, bisa saja selingkuhan Tuan Aditya. Tuan mungkin tidak tanggung jawab." kata bibi Ayu.


"Siapapun anak ini kita wajib mengurusnya. Tuhan sudah menunjuk orang itu memilih rumah ini sebagai tempat berlindung nya."


"Anak segini apa bisa makan nasi atau bubur, atau salah satu dari kalian bikin bubur tim sedikit." perintah bibi Ayu.


Untung anaknya anteng tidak rewel lagi. Sehingga semua senang mengajaknya. Hari ini mereka lupa bersih-bersih karena sibuk mengurus bayi itu. Semua ingin mengajak tidur dan mengangkat anak. Tapi bibi Ayu yang kesehatan mau mengambil anak itu. Mereka mengalah mengingat bibi tidak menikah dan perlu seorang pewaris Leak.


Mulai saat itu anaknya Mayang menjadi penghuni rumah di drakula. Bibi Ayu dan semua pelayan memberi nama Timur Sinaga.


*****

__ADS_1


__ADS_2