
Dalam mobil Alphard tidak ada yang bicara, semua menangis. Terlihat David beberapa kali menyeka air mata, ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Perasaan sedih dan bersalah menghantui dirinya.
Bintang yang kelelahan tidur di pangkuan Yeny, David kasihan melihat anak kecil itu kebingungan dan tertekan mentalnya setiap saat melihat mamanya menangis. Sungguh ia tidak mengerti, kenapa Aditya sejauh itu menipu istrinya. Sedikit pun ia tidak resfek kepada kelakuan Aditya yang membuat anak dan istrinya menderita.
David membelokan mobilnya menuju pantai Pendawa untuk menenangkan diri. Sebelum pulang mereka harus rembugan dan bersatu dalam satu kata. David yakin para awak media akan datang kerumah Aditya untuk mencari berita.
Sepanjang perjalanan mereka diam, padahal pemandangannya sangat indah. Tidak bisa di lukisan dengan kata-kata semua terlihat biru dan menyejukan. Mereka turun dan mencari tempat yang teduh.
"Aku masih berpikir untuk pulang, Aditya atau saudaranya Kemoning pasti menunggu kita untuk membalas dendam. Semua orang yang mengerti ilmu Leak mengatakan bahwa desa Kemoning, tempatnya ilmu Leak klas tinggi.
David yakin, Aditya, Kemoning dan keluarga besarnya pasti sakit hati dan malu, karena rahasia Kemoning di buka ke media sosial. Keluarganya berkasta tinggi dan kedudukan ayah Kemoning sangat dihormati penduduk didesanya.
"Aku ingin pulang keluar negeri, hatiku sakit sekali. Tidak sanggup aku menahan beban ini. Setiap ingat aku terasa ingin mati." Devaly kembali menangis. Kepalanya sampai pening karena terus menangis.
"Pikirkan sekali lagi, karena disini ada hukum adat, dimana anak laki adalah milik suami."
"Lebih baik kita ke Guesthouse dulu, tinggal disitu. Setelah semua tenang, kita pikirkan lagi kemana nona akan pergi. Saya sendiri sudah tidak peduli dengan pekerjaan. Mau di gaji atau tidak terserah."
"Maafkan aku David, gara-gara aku kamu ikut terseret. Tidak seharusnya kamu berada disini dan menghancurkan pekerjaanmu." kata Devaly lirih.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, kalian pasti lapar." ajak David mengalihkan pembicaraan.
"Kita sudah kenyang, lebih baik Tuan memesan minuman saja." usul Kokom.
"Baiklah.."
David memencet intercom untuk pemesanan. Disini sudah canggih, turun dari mobil kita sudah disambut oleh sapaan ramah yang terdengar lewat speaker. Setelah itu kita diarahkan duduk di Gazebo atau Goa Emas. Setiap tempat sudah tertempel list menu lengkap harganya. Tinggal hitung dan bayar Bill, tidak ribet.
Pemandangan lautnya sangat indah, air laut berwarna hijau tosca dan pasir pantainya putih berkilau. Disini turis lumayan ramai, sehingga kemarahan berangsur reda. Devaly menarik nafas panjang, matanya kosong memandang jauh ke laut luas.
Mereka berbincang-bincang sampai sore, setelah merasa sudah tenang, mereka lalu sepakat pulang. Devaly sudah bisa diajak ngobrol tanpa menangis, begitu juga yang lainnya.
Bintang kembali gembira saat mengetahui mobil berbelok ke Queen Home. Sebelum datang, David sudah bertanya kepada Sri tentang keadaan di rumah.
"Tuan tidak datang, Kemoning juga tidak ada. Ghina dan Thasy paginya terlihat sebentar setelah tidak nongol untuk makan siang." itu kata Sri lewat telepon.
Mereka turun dari mobil sudah disambut oleh pelayan, terutama Bintang menjadi rebutan. Ternyata kejadian tadi siang trending di twitter. Semua pelayan sudah melihat dan seketika benci kepada Kemoning. Devaly tidak banyak bercerita karena kejadian itu terpampang jelas di sosial media.
"Nona istirahatlah, kami sudah masak banyak semua makanan kesenangan nona."
"Trimakasih Sri, apakah ada orang datang kesini?"
"Para wartawan, saya sudah menyuruh Pak Scurity libur. Palang gardu saya suruh pasang dan yang mau keluar rumah cukup lewat pintu samping, karena pintu gerbangnya saya akan kunci untuk beberapa hari."
"Baguslah."
David merasa aman karena pintu semua di gembok, tidak mungkin Aditya bisa datang. Seharusnya Aditya datang mengobrol secara dewasa, memutuskan kelanjutan hubungan mereka. Tapi biarlah, itu urusan Aditya. pikir David.
Devaly mempersiapkan surat-surat penting, seandainya Aditya tidak datang dan tidak membicarakan masalah pernikahan mereka, Devaly berencana pulang ke negerinya. Ia ingin bertemu dengan suaminya dan minta izin membawa Bintang.
Malam harinya Devaly, David dan Kokom akan ke Guesthouse. Mereka bertiga akan melihat situasi di Guesthouse terlebih dulu, kalau sudah bersih baru Mereka pindah.
__ADS_1
"Tidak usah membawa senter nanti ketahuan lagipula kita hanya melihat kondisi rumah saja dan kebersihannya."
"Baiklah mari kita jalan." kata Devaly berjalan di depan. Mereka menembus kebun buah yang gelap. Suara binatang malam dan nyamuk sangat mengganggu perjalanan mereka.
"Aku melihat seperti ada nyala lampu, Jangan-jangan pelayan lupa matiin lampu waktu kita pindahan dulu." ucap Devaly heran.
"Setiap bulan cleaning servise bersih-bersih disini, tidak mungkin mereka lupa matiin lampu. Kita lanjut masuk kedalam, buka pintunya, mudah-mudahan pintu tidak dikunci."
"Benar pintu tidak dikunci."
Mereka masuk ke dalam dan heran melihat rumah seperti ada penghuninya. Disana sini ada perabot, hemuran yang msih basah.
"Aku mau ke ruang utama, kalian periksa kamar lain." ucap Devaly pelan. Mereka lalu berpencar.
Devaly menjijit kakinya menuju kamar utama. Lampu kamar terlihat menyala, Devaly berdiri di depan pintu, ia salfok mendengar suara mesum yang datang dari kamar utama.
"Sayank...ya...oh...ahh..." darah Devaly mendidih mendengar suara Kemoning. Ia yakin yang di dalam Aditya.
"Doobraakk...." pintu ditendang dari luar. Kemarahan Devaly memuncak saat melihat suaminya dan Kemoning dalam keadaan bugil.
"Dasar iblis, kalian binatang!!" teriak Devaly tidak bisa mengontrol diri. Kakinya melayang menendang kedua sosok manusia itu.
"Devaly sadar...sadar..." teriakan Aditya bergema saat tubuhnya terbentur tembok.
"Aduhhh....sakiiitttt....." Kemoning juga terpental di tendang Devaly.
"Aku akan membunuhmu setan!!" kembali kaki Devaly melayang menghujan ke tubuh Kemoning.
"Devaly ampun-ampun..." Kemoning menjerit saat rambutnya di tarik oleh Devaly.
"Bajingan!! Beraninya kau memelukku, aku tidak akan pernah memaafkan kalian." Devaly berontak dan melepaskan pelukannya.
Mendengar suara ribut-ribut, David dan Kokom berlari menuju kamar utama. Mereka kaget melihat Aditya dan Kemoning.
"Kokom rekam mereka, aku akan melaporkan kelakuan mereka berdua. Manusia tidak tahu malu⁴, tidak punya perasaan."
"David, jangan ikut campur!!"
"Aku akan terus ikut campur sepanjang kau menyakiti Devaly. Aku tidak menyangka, babu kau keloni, istri kau yang tidak bersalah kau telantarkan."
"******!! ambil semua pakaian kau, pergi dari sini sebelum pikiranku berubah untuk menelpon polisi.
"Tapi aku istrinya, kau tahu apa!!" bentak Kemoning menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Apa kau bilang? istrinya? kau hanya pemuas nafsu setannya, kau budak, kau ******."
""Devaly maafkan aku, aku tetap suamimu." Aditya sangat ketakutan.
"Aku akan memaafkanmu asal rumah ini di kosongkan, tendang keluar pelakor ini. Ambil ATM, mobil dan apa yang kau beri padanya. Suruh pelakor ini mencabut jampi-jampi dan peletnya, yang selama ini membuat kau terpesona padanya. Kalau kalian berdua tidak menurut, aku akan melaporkan kejadian ini ke polisi."
"Kemoning pakai pakaianmu dan ambil ATM, apa yang aku kasih padamu kembalikan."
__ADS_1
"Aku tidak mau, kau sudah kaya." teriak Kemoning menangis.
"Dasar rampok, tebal muka. Tujuan mu hanya ingin mengambil milik Aditya, bisa-bisanya kamu membawa semua keluargamu ke hotel. Dasar tidak tahu malu. Lagi sekali aku melihat kamu berduaan dengan laki-laki ini, aku akan laporkan kau berdua ke polisi."
"Sebelum kamu laporkan, anakmu sudah jadi mayat. Berani kamu dengan ratu Leak?!"
Devaly berdecih, bibirnya menyeringai sinis. Amarah meluap ketika nama Bintang disebut.
"Aku salah menilaimu dari dulu, di antara pelayan yang lain, kamulah yang paling licik. Demi harta kamu rela menjual tubuhmu."
Pertengkaran Devaly dan Kemoning tambah memanas. Aditya serba salah, perlahan ia memakai pakaiannya dan ngeloyor pergi tanpa peduli.
"Sayank jangan tinggalkan aku, jika kamu nekat meninggalkanku, aku akan bunuh diri." pekik Kemoning meneteskan air mata. Ia takut Devaly mengusirnya.
"Supaya kamu tahu, laki-laki beristri akan kembali ke istri pertamanya karena kamu hanya tempat pelampiasan sesaat."
"Aku istrinya dan kami sudah menikah menurut agama. Jika Aditya menceraikanku aku minta harta gono gini."
"Hahaha....perkawinan mu tidak ada buktinya dianggap tidak sah dan cacat hukum. Karena pernikahan mu tanpa persetujuan Devaly selaku istri pertama. Semua saksi dan juga pendeta yang mengesahkan bisa dipenjara. Yang paling berat hukumanya adalah kamu." kata David dengan suara tinggi. Ia sangat jijik melihat tingkah Kemoning yang kemaruk.
Kemoning mendengkus, ia tiba-tiba berdiri dan memandang tajam Devaly dan David. Reaksi Kemoning yang mencurigakan membuat Kokom yang berada di belakang Devaly berteriak kencang.
"LARII.... dia jadi Leak...." Devaly dan David meloncat dan berlari keluar. Mereka lari terbirit-birit menembus kebun yang luas itu. Suasana gelap gulita, tapi Devaly dan Kokom sudah terbiasa jalan itu. Kebetulan Devaly menguasai Taekwondo, jadi ia tidak gentar melawan Kemoning, asal Kemoning tidak memakai ilmu Leak.
"Nona, David tunggu...saya takut..." teriak Kokom dengan nafas ngosngosan.
Kokom berlari sekuat tenaga mengejar David dan Devaly. Wanita itu memperlambat larinya dan kemudian menyalakan senter ponselnya.
"Baca mantra Kokom...."
"Sudah nona, Tuhan bersama kita, jangan takut!!"
"David...David...dimana kamu." panggil Devaly curiga. Dari tadi ia tidak mendengar suara David. Ia pun berhenti.
"Tuhan lindungi kami, terangkanlah jalan yang kami tempuh dan jauhkanlah kekuatan jahat dari kami."
"David....David...berdoalah jika kamu tidak bisa bergerak. Jangan takut karena Tuhan melindungi kita." gantian Kokom yang memanggil David.
"Nona kita terus berlari siapa tahu David sudah sampai dirumah."
"Okey...mari kita lanjutkan."
Kokom dan Devaly terus berlari, akhirnya mereka sampai di rumah. Rasa senang menggelayuti hatinya. Devaly cepat-cepat masuk ke kamar Bintang.
"David dimana ya, aku khawatir dia ditangkap Leak. Kasihan kalau sampai David bertemu Kemoning."
"Semoga dia selamat."
"Yeny dan Bintang dimana?" Devaly heran kala melihat ranjang kosong.
"Mungkin berada ditempat Aditya " kata Kokom menenangkan Devaly.
__ADS_1
****
Mereka berdua saling pandang