LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab. 22


__ADS_3

àYa ampun, apa salah dan dosaku sehingga di datangi dua wanita bonyok. bathin Aditya menatap Thasy yang menangis pilu. Wajah nya bonyok bekas bogem mentah.


"Gigiku hampir copot dihantam kakinya. Aku akan visum muka ku dan laporkan ke polisi. Dasar wanita iblis, dia belum tahu kekuatan yang ada padaku, siang aku kalah malam aku robek dadanya dan makan jantungnya hiks.. hiks.."


"Sabar Thasy jangan keburu nafsu, nanti aku suruh pak Madesu mengantar ke dokter."


"Kamu tidak mengerti penderitaan ku, kalau aku hamil pasti sudah keguguran kena tendangnya yang keras."


"Makanya mulut dijaga, jangan suka memaki dan menghujat orang. Banyak orang yang lebih hebat darimu, contohnya ini. Kamu dibikin bonyok."


"Nanti malam aku cari dia dan aku makan jantungnya."


"Hahaha...apakah kamu sudah bisa ngeleak? atau kamu yang jadi monyet tempo hari."


"Siapa bisa ngeleak, tidak mungkin aku bisa, Itu pekerjaan memusingkan."


"Tadi kamu bilang mau makan jantung Ghina, nah Ghina juga ingin makan jantungmu. Runyam, mendingan kalian jadi ibu rumah tangga saja, diam di rumah."


"Jangan ajarkan aku menjadi wanita pemalas seperti istrimu yang kerjanya minta uang setiap hari. Amit-amit, wanita seperti itu tidak ada harganya di mataku."


"Dia istriku, wajar aku kasih dia uang. Jika dia bekerja siapa ngajak anakku?"


"Tookk..tookk...tookk..."


"Selamat siang pak ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Madesu sopan.


"Pak tolong antarkan nona Thasy ke dokter. Kalau ada yang keseleo langsung therapy."


"Baik pak."


"Yank, transfer lima juta, kalau tidak mau aku laporkan kejadian ini ke polisi." ancam Thasy.


"Tidak usah main ancam, aku pasti memberi kamu uang." kata Aditya kesal.


"Love you sayank..."


Aditya sudah dongkol sekali dengan ulah Thasy yang bertingkah mesra di depan karyawannya. Kenapa kedua wanita itu malah menjadi beban pikirannya, menyusahkan.


Pukul. 16.00 wita Aditya sudah bersiap untuk pulang, tidak ada telepon dari siapapun kalau Devaly meminta uang untuk beli keperluan bayi, mungkin masih sisa untuk minggu ini. Aditya yakin bulan depan Devaly pasti pulang minta uang. pikirnya.


Seperti biasanya David dan Aditya pulang bersama. Mereka menyetir mobil, sambil mendengarkan lagu. Tapi Aditya mematikan Spotifi dan memberi kode pusing. Hari ini ia merasa lelah sekali.


"Bos tidak enak badan, aku antar ke dokter mumpung satu jalur."


"Aku lelah lahir bathin, kangen banget dengan istri dan anakku."


"Cari orang untuk mencari mereka, atau pasang iklan." usul David. David menggeleng.


"Kamu paksa Surti atau sri, sampai dia ngaku. Suruh tunjukin dimana dia berada."


"Baik bos."


Sepanjang perjalanan Aditya terdiam, dia menutup matanya seolah sudah malas melihat dunia. Pengalaman hidupnya yang. pahit di tempat nenek membuatnya sering terbawa halusinasi berdarah. Seperti orang tak beradab atau lebih cocoknya disebut psikopat.


"Saya harap bos jangan banyak berpikir tentang kantor, semua sudah di handle oleh Devisi masing-masing. Yang perlu bos pikiran hanya Devaly dan Bintang. Jangan mikirin Ghina atau Thasy, mereka benalu."


"Aku merasa terganggu dengan Thasy dan Ghina yang datang ke kantor, mereka di depan karyawan memanggil sayank padaku, mau marah mereka dalam keadaan sakit."


"Sakit apa, tadi pagi baik-baik saja?"


"Berantem, saling pukul dan keduanya bonyok. Mereka minta uang untuk ke dokter. Thasy aku transfer lima juta, Ghina satu juta."


"Waduhh....tanda-tanda gak benar ini, bos harus tegas dan memilih istri atau kedua wanita ini."


"Aku pilih anak dan istriku."


"Pertahankan kalau begitu." kata David datar.


Mobil memasuki The Queen Home, rumah tua yang angker. Padahal baru jam lima sore suasana terasa mistis. Suasana ini membuat Aditya merinding, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Mereka akan datang lagi, siapa yang dicari? Devaly dan Bintang tidak ada." kata David kala melangkah ke halaman dalam.


"Mungkin harinya Leak, mereka akan berlomba mencari anak bayi."


"Ngeri sekali, aku kira Leak itu isapan jempol saja, tenyata real adanya."


"Tuan-Tuan....saya mau bicara." Surti datang dengan tergopoh-gopoh."


"Saya datang dari warung depan memberi bawang dan garam."


"Saya minta maaf sebelumnya karena memberi masuk nona Devaly ke rumah."


"Dia datang terus dimana dia sekarang?"


"Saya minta maaf karena tidak bisa menahan nona disini. Dia terburu-buru dan sangat cepat menghilang."


"Loh, ngapain dia kesini?"


"Nona Thasy yang vidio call menantang berantevyabg dm. nona Devaly datang sendirian. Seperti yang sudah diharapkan Devaly di kroyok, oleh Thasy dan Ghina.


Pelayan emosi mau membantu nona Devaly, tapi mereka semua kaget melihat Devaly pintar membela diri kedua pengeroyoknya babak belur."


"Jadi Devaly yang membuat mereka bonyok, syukurlah, aku senang mendengarnya. Dimana Devaly sekarang?"


,"Ksmi tidak tahu, cepat sekali nona pergi, kami sudah berusaha mengejarnya, tapi kami dihalangi oleh Thasy dan Ginha."


"Sudahlah, aku mandi dulu." Aditya masuk ke ruangkan utama.


Pukul.22.00 anjing kampung mulai melolong, suasana mistis semakin mencekam. Di jalan raya nampak orang berpakaian adat berjalan beriringan merayakan salah satu hari raya.


Aditya duduk diserambi depan dengan David sambil membicarakan pekerjaan dan hotel yang akan dihadiahkan kepada Devaly. Kedua pria itu tidak menyadari ada Leak berkelebat di belakang mereka.


"Bulu kuduk ku berdiri, kamu merasa aneh?" tanya Aditya menggosokan jarinya kelengan.


"Aku malah ngantuk padahal baru jam sepuluh."


"Ini sirep, ada Leak di sekitar rumah ini menyebarkan aji sirep. Aku mau ke dapur mau mencari garam dan bawang."


Mereka berjalan ke dapur melewati kamar para pelayan. Suasana hening, tapi di kamar Surti terdengar rintihan yang menyayat hati.


"Tookk...tookk...tookk..."


"Surti kamu kenapa, buka pintunya."


"Tidak apa-apa ..." terdengar suara lirih dari kamar. Aditya saling pandang dengan David, dan mengajak David pergi dari sana.


David merasa curiga dan tetap di depan pintu sedangkan Aditya kembali ke serambi depan duduk di sofa, ia heran kenapa Kemoning atau pelayan tidak satupun bangun. Apa ia terlalu berhalusinasi dengan berpikiran negatif.


Tiba-tiba lampu mati hidup beberapa kali dan akhirnya mati, seluruh rumah gelap gulita. David gemetaran saat terasa kulitnya brsentuhan dengan sesuatu yang lembut. Dia berlari sambil berteriak ketakutan.


"Boss ada Leak." teriaknya mencari Aditya.


Mendengar teriakan David, Aditya meloncat masuk ke dalam.


"Boss..."


"Aku disini."


"Aoww......" David menubruk sesuatu yang membuat teriakannya membahana.


"Ada apa David? cepat kamu masuk kamarku." kata Aditya meraba-raba David.


"Tunggu!" sahut David merangkak. Untung lampu menyala.


"Astaga, kenapa kau disitu." kata Aditya heran melihat David merangkak. Ia membantu David berdiri.


"Ada apa?"


"Aku merasa ada seseorang yang sengaja mengikutiku dan menabrak tubuhku. Sangat nyata sahat kulitnya menyentuh tubuhku."

__ADS_1


"Mungkin Leak, cepat masuk ke kamarku." teriak Aditya. David buru-buru masuk ke kamar Aditya dan mengunci pintu.


"Aku belum pernah melihat Leak, Jangan sampai dia menampakan diri di depanku."


"Aku telepon Kemoning, kenapa bisa ada Leak dia tidak tahu." sebelum sempat menelepon Kemoning suara ketukan pintu terdengar nyaring.


"Tookk...tookk ...tookk..."


David membuka pintu tapi tidak ada orang, dia melongokan mukanya keluar sambil bertanya,


"Siapa yang mengetuk pintu?"


"Halo...halo...jangan main petak umpet."


Hening, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Biasanya terdengar lolongan anjing, malam ini tidak terdengar.


"Tidak ada orang, siapa main-main dengan kita. Manusia kurang ajar."


"Kunci saja pintunya jangan ditanggapi." pesan Aditya.


David menarik nafas lega, tadi ia sangat hampir salah jalan, untung lampu cepat menyala. Mendengar kata Leak semua orang akan takut, itu makhluk gaib yang bisa membunuh orang.


"Tookk...tookk...tookk..." kembali ada ketukan dipintu. Aditya dan David tidak bereaksi, tapi ketukan pintu semakin kasar. Aditya bangun dan membuka pintu. Di pintu berdiri Sri dengan wajah pucat sambil menangis.


"Tuan, Surti dalam keadaan sekarat. Apa perlu saya panggil dokter?"


"Panggil polisi dan keluarganya." perintah Aditya panik.


"Aku yakin ini pekerjaan Thasy, dia pasti sudah bisa ngeleak." imbuh David marah.


Suasana yang tadi sepi mendadak ramai, Kemoning dan Kokom tidak ada, nembuat Aditya semakin marah.


"Kemana Kemoning dan Kokom, dari tadi tidak kelihatan." tanya Aditya kesal.


"Mereka pulang kampung, ada upacara agama di kampung." jawab Komang takut.


Semua menuduh Thasy yang membunuh


karena Thasi pernah mengancam Surti.


Akhirnya Thasy bisa dihubungi oleh David dan dibutuhkan untuk keterangan di polisi.


"Hallo Thasy kamu dimana?"


"Aku ditempat dugem, kenapa?" tanya Thasy diseling-seling suara musik yang ramai.


"Mulai jam berapa kamu berada di club?"


"Dari jam sebelas, ada apa sih? kamu ada rencana kesini."


"Tidak apa-apa, ingin tahu saja. Kebetulan lewat di sekitar sini. Besok mampir ke rumah Aditya ada penting."


"Okee....." hubungan terputus, David menutup ponselnya. Alibi Thasy cukup kuat, tidak ada yang bisa mencari celah kesalahannya.


Aditya semakin puyeng oleh pertanyaan polisi, ia dan David saat itu memang belum tidur, tapi tidak melihat ada wujud Leak ke kamar Surti. Ia kembali dihadapkan masa- masa sulit seperti di Bungalow nenek.


Mata sudah sepet rasanya karena menahan kantuk, Aditya turun dari mobil, ia baru saja datang dari kantor polisi bertemu dengan keluarga Surti. Setelah memberi santunan barulah keluarga Surti mau berdamai.


"Maaf Tuan saya baru datang." Kemoning dan Kokom menghadap Aditya, mereka berdua merasa bersalah.


"Kenapa kamu tidak bilang mau pergi, begitu pentingkah acara keluargaku?"


"Saya mendadak pergi karena keponakan saya terus sakit di cari Leak. Saya kira bisa sebentar pergi, tahu-tahu malamnya Leak hampir melarikannya, saya bersyukur bisa diselamatkan."


"Tidak ada yang lebih penting dari pekerjaan disini, karena aku yang menggajimu, bukan mereka."


"Maaf saya Tuan, mungkin untuk nanti malam saya lagi kesana."


"Tidak boleh Kemoning, apa kamu menunggu korban kedua?"

__ADS_1


"Jangan-jangan ini perbuatan nona Thasy, lebih baik dilaporkan ke polisi." kata Kemoning.


*****


__ADS_2