
Dada Devaly berdebar ketika tidak melihat Yeny dan Bintang di kamar. Ia benar-benar takut dan melihat sekeliling ruangan. Tidak ada perubahan sama sekali. Tempat tidur tetap rapi seperti sediakala.
"Kom, kemana mereka?" tanya Devaly dengan suara bergetar. Ia batuk-batuk kecil.
"Saya curiga Tuan mengajak Bintang. Tuan pasti ingin memakai Bintang sebagai Sandra supaya nona tidak lari ke luar negeri." Kokom bersandar di daun pintu. Ia lelah bercampur takut ketika berlari sepanjang itu. Nafasnya terasa mau putus.
"Aku takut mereka dimakan Leak. Tadi David tidak kelihatan di kebun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia datang. Semoga saja dia selamat, aku yakin Kemoning pasti sangat marah ketika Aditya mencampakan dirinya."
"Saya tidak menyangka kalau sifat Kemoning sejahat itu. Saya sumpahi supaya dia cepat mati." geram Kokom.
"Dulu Kemoning baik dan bertanggung jawab. Pertama kalinya aku shock berat, sangat kaget, tapi tidak bisa menyalahkan Kemoning saja. Tuan juga genit, kalau salah satu tidak mau tidak akan terjadi perselingkuhan."
"Saya yakin Kemoning silau sama harta Tuan, dia juga iri dengan Ghina yang menggoda Tuan. Mereka berlomba mencari celah untuk menundukan Tuan."
"Aku rasa begitu, sudahlah semua telah terjadi, tinggal aku harus mengambil sikap."
"Berarti ATM Tuan banyak berisi uang, sampai bisa membuat Kemoning kinclong." ucap Kokom tertawa pahit.
"Ya biar saja dah lebih baik kita cari Bintang."
"Nona telepon Yeny supaya tahu keberadaan mereka. Kita keluar juga takut."
"Benar juga, aku tidak konsentrasi, pikiranku jauh."
Devaly mengatur nafas, kemudian duduk dipinggir ranjang. Ia membuka ponselnya dan menelpon Yeny. Agak lama ponsel baru diangkat oleh Yeny.
"Yeny kamu dimana?"
"Hallo nona saya berada di kamar Tuan bersama Bintang. Tuan mengajak kami kesini karena suasana di luar sangat mencekam. Saya minta tolong supaya nona mencari saya kesini, saya takut keluar."
"Tunggu, aku menjemputmu aku mengambil garam dan bawang dulu."
Devaly buru-buru menutup ponselnya, ia mengajak Kokom ke kamar Aditya. Padahal kamar Aditya sebelahan, tapi masuknya jauh, karena kamar utama luas dan panjang. Jadi terasa jauh.
"Nona tunggu dulu, saya mengintip keluar." kata Kokom pelan ketika Devaly mau keluar. Wanita itu membuka pintu dengan pelan, ia melongokan wajahnya dan memandang sekeliling.
"Nona aman." ucap Kokom menyuruh Devaly ikut keluar. Dengan membusungkan dada Devaly keluar. Kokom menutup pintu dengan keras, setelah itu mereka serentak berlari.
"Wuuzzzsss...." tiba-tiba mereka mendengar suara desiran angin yang kencang.
"Setannnn..." teriak Kokom gemetar. Ia cepat membuka pintu Aditya.
Mereka balapan masuk, ketika mau menutup pintu Devaly melihat kelebatan bayangan hitam.
"Lempar garam!!" teriak Devaly menahan daun pintu. Kokom mengujar mantra penolak Leak sambil melempar garam dan bawang.
"Makan ini!!" seru Kokom marah sambil melempar garam sembarangan.
Angin kencang mendorong daun pintu, Devaly merasa kewalahan. Aditya dan Yeny ikut membantu.
"Sayank masuk, kita kunci saja pintunya." kata Aditya.
__ADS_1
"ADITYA PULANGLAH...." tiba-tiba ada suara magis bergema membuat Aditya kaget, dia berdiri mematung.
"Aditya jangan terpengaruh oleh panggilan Leak itu, kamu lebih berkuasa daripada Leak jahat itu!" bentak Devaly melempar garam dan bawang ketubuh Aditya. Pria itu tampak spoyongan mau jatuh. Yeny menyangga tubuh Aditya.
"Nona tolong saya, ajak Tuan ke ranjang. Tuan berat sekali." kata Yeny.
Devaly ikut menahan tubuh Aditya, namun tubuh Aditya tetap saja merosot kelantai. Aneh sekali. Aditya tergeletak linglung.
"Aditya sadar, bangun...bangun...." teriak Devaly menepuk-nepuk tubuh Aditya.
"Iblis, jangan ganggu suamiku. Dasar pelakor, pengecut. Beraninya waktu menjadi Leak. Berubah kau menjadi manusia baru hebat namanya." pekik Devaly marah.
"ADITYA PULANGLAH, JIKA KAU TIDAK PULANG KAU AKAN AKU BUNUH!!"
"Kokom cepat ambil senter!" perintah Devaly.
"Aku juga bisa membunuh pecundang seperti kau." teriak Devaly marah sekali.
Kokom mengambil dua senter besar dan menyoroti sosok hitam yang berada dibawah pohon mangga. Ketakutan Devaly berubah menjadi amarah.
"Mati kau Leak, pergi kau ke neraka!!"
Senter itu hanya menyala sebentar setelah itu mati dan gelap kembali. Kokom panik karena sosok itu mendekat.
"Sini mendekat, aku bunuh kau!!" teriak Devaly melempar sepatutnya ke sosok itu.
"Ambil pisau aku tusuk Leak ini!!"
"Geerrrr...Geerrrr..." sosok hitam itu semakin mendekat dan tiba-tiba melayang menabrak Kokom dan Devaly.
Yeny berteriak-teriak ketakutan ketika sosok itu menggendong tubuh Aditya yang berada di depannya dalam keadaan linglung.
"Tolong...tolong....tolong..."
Yeny berusaha menarik kaki Aditya, tapi Leak itu begitu cepat mencelat dan kabur. Semua pelayan mendengar teriakan Yeny tapi mereka takut keluar. Bukan egois, tapi Leak sulit dilawan. Kalau keluar mereka pasti mati karena tidak punya ilmu penangkal Leak.
Teriakan Yeny membuat Bintang menangis. Yeny tambah bingung antara mengambil Bintang dan menolong Devaly dan Kokom. Akhirnya ia putuskan menarik Devaly dan Kokom ke dalam kamar, terus ia mengunci pintu. Setelah itu ia mengambil Bintang yang kebingungan melihat Yeny dan mamanya serta Kokom.
"Apa yang terjadi? jenapa mama?" tanya Bintang dalam bahasa Inggris, tangisnya sudah reda dan ia beberapa kali menguap.
"Don't worry honey, there's nothing to worry about, mom is fine." Yeny menenangkan Bintang dan berusaha tidak menangis.
"Dimana papa?" Bintang terus bertanya dan rewel. Ia berontak mau turun, tapi Yeny berusaha menahannya.
"Yeny aku ingin mama!!"
Yeny terdiam, pura-pura tidak mendengar. Pikirannya kacau balau. Devaly dan Kokom tetap tergeletak di kantai membuat hati Yeny ketar ketir kebingungan.
Merasa tidak berdaya Yeny menulis di grup chat antar pelayan dan meminta bantuan supaya ada yang mau datang menolong mereka.
Setelah lama tidak ada respon akhirnya Sri dan kawan-kawan sanggup membantunya. Mereka serentak keluar dari kamar dan berbarengan menuju kamar Aditya.
__ADS_1
Yeny kembali menidurkan Bintang sambil berdoa dalam hati supaya tidak ada masalah dengan Kokom dan Devaly. Ia berharap kedua orang itu sadar kembali. Yeny sendiri takut luar biasa, seluruh badannya tremor.
Tidak menunggu lama pelayan berdatangan, Yeni cepat-cepat membuka pintu. Yeny memberi kode supaya jangan ribut karena Bintang baru saja tidur kembali.
"Ada apa ini?" tanya mereka pelan.
"Nanti aku ceritakan, tolong angkat nona dan Kokom ke ranjang, sebentar kita rembugan untuk mencari solusi." ucap Yeny dengan suara bergetar.
Mereka mengangkat tubuh Devaly dan Kokom ramai-ramai. Wanita cantik itu pingsan akibat ulah Leak yang mencuri Aditya. Besok pasti terekam CCTV kejadian yang menegangkan itu. Pelayan ingin tahu bagaimana bentuk sosok hitam itu yang semena-mena menubruk Devaly dan Kokom.
"Sri kita bawa ke rumah sakit supaya kita bisa tenang. Jangan mengobati sendiri nanti fatal akibatnya."
"Tenang Yeny aku mau periksa dulu, bantu aku membersihkan wajah mereka. Setelah itu ambil alkohol dan kapas." perintah Sri memandang Devaly dan Kokom.
"Kita panggil ambulans mengajak nona ke rumah sakit. Aku takut kalau terjadi sesuatu, kita percayakan pada dokter saja."
"Resikonya banyak, kita melewati pintu gerbang tempat Leak berkumpul. Lebih baik kita rawat dulu dengan mengusir sosok gaib di tubuhnya."
Akhirnya mereka melakukan pengobatan seperti orang-orang tua sering lakukan. Lambat laun Devaly dan Kokom sadar, Sri memberi kedua orang itu minum.
"Nona berdoalah supaya terhindar dari imbasan ilmu Leak. Yang lain jangan tidur, tolong tahan kantuk sampai jam tiga pagi."
"Baik, kita siap menjaga nona."
Mereka bercerita sambil mencari solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi saat ini. Kecil kemungkinan Aditya hidup karena dibawa kabur oleh Leak. Tapi Devaly dan Kokom yakin Aditya masih hidup, kemungkinan untuk kembali sepertinya tidak mungkin, karena Kemoning mencintainya.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu besok kita berembug lagi. Aku merasa kurang enak badan dan sangat lemah." kata Devaly menguap. Mereka akhirnya tertidur.
Jam sembilan pagi Devaly dan pelayan serentak bangun. Mereka akhirnya catering karena telat makan. Suasana mistis tetap terasa membuat Devaly ketakutan.
"Aku minta tolong supaya kalian mengantar aku ke Guesthouse. Kita kosongkan rumah itu supaya Kemoning tidak bisa tinggal disana lagi."
"Beres nona, mungkin juga Tuan masih disana bersama Kemoning. Kita sekalian mencari David."
Selesai makan mereka ke Guesthouse, rumah sudah terlihat sepi dan kosong. Tapi mobil Jazz masih ada. Pakaian Kemoning dan beberapa pakaian Aditya masih ada. Akhirnya mereka mengeluarkan pakaian dan barang yang tidak berguna untuk dibakar.
"Nona Tuan David." teriak ketut. Devaly cepat berlari menuju belakang rumah. Benar ada David tergeletak bersimbah darah.
"David meninggal kita telpon polisi. Ini pembunuhan." sahut Devaly menahan air matanya.
"Nona, lebih baik kita laporkan kejadian tadi malam ke polisi, katakan supaya polisi mencari Tuan."
"Baiknya bagaimana, jika kita lapor Polisi takutnya Kemoning ngamuk dan membunuh kita semua."
"Tapi jika tidak di laporkan Kemoning malah akan merajalela dan menjadi momok yang menakutkan di kemudian hari. Ia bisa masuk ke rumah ini dan menjajah kita semua. Ilmu Kemoning semakin tinggi."
Akhirnya disepakati kalau Kemoning akan di laporkan kepada polisi. Siang itu polisi serta anjing pelacak memeriksa rumah Aditya dan Guesthouse. Disamping mayat David, ada juga di ketemukan mayat Thasy dan Ghina sudah bau dan sedikit membusuk.
Keluarga Kemoning juga di gelandang ke polisi sebagai jaminan untuk Kemoning supaya menyerah. Tapi tidak satupun yang tahu kemana Kemoning dan Aditya. Apakah mereka masih hidup atau sudah mati?
Untuk mengurus bisnis Aditya, akhirnya Devaly terpaksa tetap tinggal di pulau ini. Dia pindah dari rumah tua Aditya ke hotel dan mengajak Kokom ikut serta. Sedangkan rumah tua itu dijual dengan harga murah. Uang dari penjualan itu dipakai untuk membeli Villa.
__ADS_1
***** TAMAT *****