
Tangan Aditya sangat ringan melempar gelas yang berisi minuman keras ke wajah Thasy, efek dari lemparan itu membuat wanita itu murka. ia maju dan mengambil botol di atas meja serta melempar kearah Aditya.
"Praankk....." botol ditangkis oleh Aditya dan jatuh di lantai berserakan.
"Banci!! kau menghinaku sekarang, tapi ingat nyawa istrimu ada di genggamanku." pekik Thasy beranjak pergi dari mini bar.
DENDAM, itulah yang dirasakannya saat ini. Thasy baru menyadari, lenguhan Hot dan kata-kata Love you dari suami orang ternyata palsu. Aditya menganggapnya hanya pemuas nafsu saja.
Mendengar ribut-ribut pelayan mendadak keluar dari dapur, mereka melihat Thasy dan dua pelayannya membawa koper. Pelayan mengejek Thasy, serta berkata kotor. Thasy tidak menggubris karena dia tidak mengerti bahasa khatulistiwa.
Dia merasa jika semua pelayan memusuhi nya, tentu mereka berpihak kepada Devaly. Thasy yakin pelayan sudah tahu kejadian di kantor dari Kokom.
"Surti pelakor itu mau kemana?" tanya seorang pelayan kepada pelayannya Thasy.
"Di usir oleh nona Devaly, sekarang mau kost. Nanti aku ceritain." jawab Surti.
"Di deportasi saja daripada jadi pelakor."
"Udah ya..." pelayan itu lari mengejar Thasy.
Sampai di gardu satpam Thasy berhenti, pak Made keluar menghampiri Thasy. Ia sudah tahu masalahnya tapi pura-pura tidak tahu.
"Nona mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau pindah dari sini." jawab Thasy kesal.
Ekspresi wajah satpam tidak menunjukan kekagetannya, dia sudah tahu ada masalah antara Thasy dan Aditya.
"Apa nona mau naik taxi?" tanya pak Made sopan.
"Tidak, aku ngontrak di rumah sebelah." jawab Thasy penuh misteri. Giliran satpam yang kaget, dia tidak menyangka kelicikan wanita itu sudah akut. Sama saja bohong. Ini baru pelakor genius. pikir satpam itu geli.
Thasy berjalan tenang di atas trotoar dan membuka pintu gerbang rumah sebelah. Dua pelayan yang membawa kopernya saling pandang. Mungkin mereka kaget juga kalau Thasy mengontrak rumah disebelah rumah Aditya. Pelayan dan pak satpam ikut masuk, kepo dengan rumah yang dikontrak.
"Ternyata dia tidak mau jauh dari Tuan Aditya, tidak tahu malu." gerutu pelayan kesal.
"Kita semua dikadalin, besok apa lagi tingkah nya yang bikin nona Devaly naik darah." Pak satpam ikut nimbrung.
"Rumah sebagus ini pasti kontraknya mahal, siapa lagi yang bayar, tentu Tuan." gerutu pak satpam mondar mandir melihat rumah semi Villa yang mungil.
"Biarin saja yang penting dia sudah keluar dari Kastil. Pak satpam jangan ikut kesini, kamu jaga gardu." pelayan mengusir pak Made.
"Kalian juga cepat pulang nanti dilihat Kokom gaji kalian tidak dibayar."
"Ya..iya kami akan pulang." jawab Surti.
"Bawa semua koper kedalam, masukin ke kamar utama dan rapiin semua pakaian kedalam almari." perintah Thasy dari dalam.
"Nona Thasy sampai disini saja, kami keberatan disuruh bekerja." protes pelayan yang berdiri di beranda depan.
"Bantu aku, nanti aku tambah gajimu." rayu Thasy, tapi kedua pelayan itu pergi. Mereka lebih memilih pulang dan berkumpul dengan teman-teman di rumah Aditya.
"Tidak nona cari saja orang lain, kami tidak bekerja dengan pelakor, nanti ketiban sial. Kami akan pulang."
"Kalian jangan ngomong sembarangan, aku bukan pelakor." protes Thasy kesal. Ia tidak berdaya ketika pelayan meninggalkannya.
"Dasar pelayan gembel dikasi uang tidak mau aku sumpahi supaya kalian terus menjadi babu sampai kiamat." teriak Thasy mengeluar kan unek-uneknya.
Thasy menggeret satu persatu kopernya dan menaruh di kamar utama. Disini ada dua kamar dan tiga kamar mandi. Rencananya ia akan mencari pelayan, tidak mungkin ia bisa hidup tanpa pelayan. Akhirnya ia keluar mencari pak satpam.
"Pak Made bantu aku mencari pelayan."
"Sulit nyari pelayan sekarang, lebih baik mereka kerja diluar negeri gajinya besar."
__ADS_1
"Aku akan memberi gaji sesuai UMR di kota ini." kata Thasy.
"Kalau begitu masukan iklan ke Facebook atau Twitter, nanti saya bantu nona."
"Oke, aku tunggu." sahut Thasy kembali ke rumah kontrakannya.
"Dasar wanita tidak punya etika, bukannya bertrimakasih, pergi begitu saja.' gerutu pak Made membuka ponselnya. Ia membuat iklan mencari pembantu rumah tangga yang bisa berbahasa inggris dengan gaji UMR.
Tidak ada satu jam sudah banyak yang melamar, akhirnya pak Made memilih tiga orang untuk datang. Banyak yang butuh kerja di zaman resesi ini, mungkin karena gajinya juga lumayan. Pak Made menyuruh mereka datang ke gardu. Setelah di tes maka terpilih Mayang, sudah berpengalaman dan bahasa inggrisnya bagus.
"Kamu tinggal dimana?" tanya pak Made genit di depan Mayang.
Umur pak Made sudah tiga puluh tahun punya istri dan satu anak. Di antara ketiganya Mayang paling seronok membuat pak Made lupa istri di rumah.
"Aku dari desa delod setra."
"Owh..masih wilayah kuburan, saya pernah dengar nama desa itu. Kata orang Leaknya sakti-sakti."
"Jangan percaya pak Made, saya dari kecil disitu tidak pernah melihat Leak."
"Seandainya kamu menjadi Leak, aku akan serahkan tubuhku supaya kamu makan."
"Tunggu nanti malam aku makan kamu."
"Sekarang juga boleh." pak Made langsung memeluk Mayang.
"Aku tidak tahan melihat kemontokanmu." bisiknya. Bibir Mayang menjadi sasaran selanjutnya. Mereka saling berpelukan dan berciuman panas.
"Tinnnn....tiinnn!!" suara klakson membuat Mayang cepat jongkok. Pak Made kaget dan cepat keluar pura-pura habis ke Toilet. Dia melihat Tuan Aditya dan Tuan David di atas mobil. Pak Made membuka plang gardu.
"Kemana kau?" mata pak David melotot menatap pak Made yang cengengesan. Pak Made buru-buru menghampiri.
"Maaf bos saya dari Toilet."
"Jangan berbuat aneh-aneh di gardu ada cctv." ketus David. Pak Made baru ingat, untung dia belum mencoblos Mayang.
Kepalanya puyeng memikirkan keberadaan Devaly sekarang. Berkali-kali Kokom di chat dan di telepon, tapi tidak ada balasan.
"Kurang ajar Kokom, telepon tidak diangkat, chat tidak dibalas, apa dia mau bertanggung jawab kalau ada masalah. Harusnya dia yang melapor apa yang terjadi, malah dia ikut marah padaku." gerutu Aditya geram.
"Kenapa ponsel Devaly bos yang pegang, biarin Kokom yang bawa. Kita tidak tahu bisa saja ponsel Kokom lowbat atau kouta habis, dia kan pelayan. Kokom sudah bertanggung jawab sebagai pembantu."
"Ponsel ini yang membuat aku jadi berantem dengan Thasy. Dia menampar Devaly dan merebut ponselnya, karena ada vidio kami yang direkam Devaly. Saat itu mau menolong Devaly, tapi Kokom masuk, ntah siapa yang diajak. Panik saat itu jadi tidak bisa berpikir waras."
"Makanya jangan aneh-aneh, apalagi istri hamil tua. Kasihan nona Devaly semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan."
"Aku sangat khawatir." sahut Aditya lirih sambil menghubungkan ponselnya ke bluetooth mobil.
David memacu mobilnya dengan tenang, suasananya menjadi hening. Tiba-tiba ponsel Aditya berbunyi, Aditya langsung menghubungkan ke Bluetooth mobil.
"Hallo..."
"Tuan ini Kokom saya pinjam ponsel dokter.."
"Kom cepat katakan kamu dimana?"
"Rumah Sakit Kasih Ibu, Tuan harus kesini."
"Aku kesana sekarang, bagaimana...."
"Tuutt..tutt...tuuttt." Kokom memutuskan hubungan sepihak.
"Kampret, belum selesai. Kasih Ibu itu kan luas mereka berada dimananya?"
__ADS_1
"Kita putar balik, sampai sana tanya dibagian informasi."
"Aku sudah tidak sabar ingin ketemu Devaly, aku mau mencium kakinya."
"Buat apa drama bos, hilangkan dulu gigitan drakula di leher dan di dada bos. Aku rasa Devaly pingsan bukan karena ditampar, tapi karena melihat kiss mark di leher boss."
"Brengsek, Thasy sengaja membuat tanda merah ditubuhku supaya aku cerai, jadi ilfeel gimana cara menghilangkannya?"
"Di strika bos hahaha...."
"Ngawur kamu, aku jadi tidak pede ketemu Devaly." keluh Aditya menyesal.
Mobil memasuki tempat parkir kasih ibu. Mereka turun dan langsung kebagian informasi.
"Masih diruang observasi pak." kata petugas rumah sakit.
"Trimakasih bu."
Perasaan Aditya berdebar ketika membuka pintu observasi. Semua dokter dan suster menoleh. Tidak terlihat Kokom yang ada hanya Devaly yang hidungnya diisi alat bantu nafas.
"Pak..pak..jangan kesini disebelah." seorang suster menarik tangan Aditya dan mengajak keruang sebelah.
"Sore dok saya suaminya Devaly."
"Pak Adit ya, istri anda sudah pecah ketuban. Tadi saya mau induksi, rupanya nyonya tidak berkenan. Untuk menjalani operasi perlu persetujuan keluarga, terutama suami. Jadi saya menyuruh untuk menghubungi anda."
"Apa itu induksi?"
"Proses untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi. Tapi nyonya meminta supaya langsung sectio caesarea. Dia tidak mau melahir kan alami." jelas dokter Rahman.
"Kalau begitu lanjutkan saja, boleh saya bertemu dengan istri saya?"
"Maaf jangan dulu, istri anda dalam keadaan kurang baik, dia perlu penanganan khusus." kilah dokter. Sebenarnya Kokom yang ember kepada dokter menceritakan perihal pelakor.
.
Degg!! dada Aditya seperti dihantam palu godaan. Kekhawatirannya memuncak.
"Dokter apa aman kalau operasi."
"Pak Adit bantu dengan doa semoga semuanya berjalan lancar."
"Trimakasih dokter."
Aditya keluar setelah membubuhkan tanda tangan. David menghampiri Bossnya yang sedang galau.
"Kita tunggu di kantin, bos harus makan supaya sehat. Tidak usah khawatir nona Devaly dalam pengawasan dokter."
"Aku merasa bersalah, semoga Devaly selamat saat melahirkan dan bayiku dalam keadaan selamat, normak kekurangan apapun. Aku kapok menyakiti istriku."
Mereka duduk dimeja kantin, memesan nasi campur lengkap dan teh kombucha. Aditya kaget melihat makanan yang disuguhkan ayam bertutu satu ekor, sayur urap, sate lilit, sate plecing, kuah balung.
"Ya ampun, bagaimana menghabisinya?"
"Bos kita panggil Kokom, dari tadi aku tidak melihatnya. Dia pasti belum makan."
"Aku baru ingat, tapi ponselnya mati."
"Kita makan pelan-pelan sampai habis, kata dokter operasinya dua jam, setelah itu masuk ke ruang observasi, setelah dapat kamar baru kita boleh menengok."
"Berarti lama sekali, aku sudah tidak tahan untuk melihat Devaly dan minta maaf."
"Sabar saja kita sambil berdoa." hibur David.
__ADS_1
Mereka lalu makan dengan lahap. David memang lapar dari siang. Semoga dengan adanya kejadian ini bisa membuat Aditya kapok dan tidak mengulanginya lagi.
*****