
Keadaan sangat krodit dan memusingkan, halaman depan rumah Aditya semakin hari bertambah mencekam. Gardu satpam menjadi tempat berteduh para Leak. Warga disekitarnya sering melihat Leak yang berupa Monyet, anak kecil loncat-loncat, Macan, Anjing gudig, Celoluk, Rangde dan banyak lagi bentuk mereka yang aneh.
Disamping sudah serem karena rumah tua, kini di depan rumah Aditya di pakai markas Leak oleh Leak-Leak yang mau berangkat ke kuburan. Apa boleh buat, penghuni rumah di hari-hari tertentu tidak berani keluar malam takut dihadang oleh Leak.
Semua pembantu menyarankan supaya Aditya pergi dari sana, tapi ia tidak meladeni usulan pelayan. Karena ia menuruti wasiat kakek dan ayahnya supaya ia tinggal di rumah tua. Jika ia pergi tidak bakalan ada yang berani disitu dan takutnya kehidupan anak istrinya, keluarga serta keturunan akan kena azab.
Disamping itu ada sesuatu yang tidak bisa di pungkiri, yaitu meroketnya bisnis Aditya dan dalam dua tahun dia bisa merampungkan hotel bintang lima milik Devaly. Yang kedua, lambat laun Aditya bisa mengontrol dirinya dan melawan Malamute dalam tubuhnya.
Tentu tidak mudah menjadi baik dan setia karena Thasy dan Ghina selalu mencari kesempatan untuk tidur dengannya. Apa yang harus ia lakukan, kecuali menghindar dari kedua wanita itu. Kadang ia harus
Hari berganti hari, bulan berganti tahun, Devaly masih melakoni hidup sendiri, tanpa Aditya dan kemewahan. Ia bersama putranya yang sudah berumur dua tahun. Bintang Samudra sudah bisa bicara dengan lancar. Sedang lucu-lucunya.
"Dev...sebentar lagi Bintang akan sekolah PAUD, apa kamu tidak berpikir untuk mencari ayahnya?" kata David sewaktu dia berkunjung ke tempat kost Devaly.
"Apakah kamu tidak bisa mendapati foto copy kartu keluarga kami?" balik Devaly yang bertanya. David mengerti, berarti Devaly tidak mau kembali kerumahnya.
"Aku tidak tahu dimana bos menaruh surat itu. Jika aku mengambilnya kalau ketahuan berarti aku siap di pecat."
"Aku yang akan mengambilnya, kapan Aditya tidak ada?"
"Di kantor sangat sibuk, jarang dia istirahat. Kapan pun kamu bisa datang asal jangan malam. Sekarang di luar rumah, dekat pohon mangga jadi markas Leak. Kalau malam tidak ada yang keluar, kecuali mendesak sekali. Bos datang dari kerja, masuk kamar, aku juga begitu."
"Kalian Tidak pernah ke Cafe atau club?"
"Akhir-akhir ini tidak pernah, takut pulang malam. Setahun lebih kita jadi anak rumahan."
"Kenapa begitu, apakah kalian sudah menjadi pertama?" tanya Devaly tersenyum tipis.
"Bos mendapat teguran dari keluarga besar, dan para tetua. Aku sendiri tidak tahu kenapa atau ada masalah apa, karena bos tidak mau berbagi cerita kepadaku. Dia terlihat banyak berubah semenjak itu."
"Mungkin sangat prinsip sekali sehingga dia berbuat begitu."
"Apa kamu masih mencintai Aditya?"-
"Aku tidak tahu pasti. Saat ini aku tidak punya perasaan cemburu atau marah kepadanya."
"Aku tidak yakin. Jika kamu tidak mencintai Aditya lagi kenapa kamu menyuruh Kokom mengintai setiap hari?"
"Aku tidak ada mengatakan bahwa aku tidak mencintainya, cuma aku mengatakan tidak cemburu lagi."
"Idihh...tadinya aku sudah senang akan menjadi orang kedua, nasib..."
"Cari wanita lain, aku ingin sendiri. Bukannya aku tidak mencintai suamiku, aku masih ingin menyendiri."
"Jika kamu sudah melupakan Aditya, pilihlah aku yang setia menunggu mu."
"Hahaha...David pulanglah, besok aku akan ke rumah."
__ADS_1
"Aku tunggu, kamu agak pagi datangnya supaya aku tidak terlalu siang ke kantor."
"Siipp...aku pulang dulu." Devaly mengantar David sampai pintu gerbang.
Pemuda tampan itu berjalan keluar kamar, ia tidak menyadari kalau seseorang telah mengambil gambarnya. Walaupun ia sangat mengharap Devaly menjadi belahan jiwanya, tapi ia tidak mau main paksa. Ia menunggu kesediaan Devaly dengan tulus ikhlas.
Sampai di rumah ia melihat Aditya duduk di serambi depan berpangku tangan. David malas menyapa karena ada Ghina dan Kokom Disebelah nya.
"Datang dari mana David?" tanya Kokom memandang David.
"Biasa, seperti yang kamu lakukan tiap hari." kata David sekenanya. Dia begitu saja pergi tanpa peduli Tuannya.
Aditya juga tidak menegurnya, ia kembali mendapatkan foto-foto kedekatan Devaly dengan David. Semenjak Dewi menjadi karyawan di kantornya, hampir seminggu sekali ia dikirimi foto-foto istrinya dan David.
Sepanjang tidak ada keanehan ia biarkan, ia sangat percaya kepada istrinya. Ia juga tidak mau mencari tahu kenapa Dewi mengenal istrinya dan untuk apa dia mengirim foto atau video Devaly dan David. Untuk sementara waktu ia biarkan David dan Devaly sebelum peresmian hotel yang di peruntukan untuk Devaly.
"Kenapa David, tidak sopan sekali." gerutu Ghina kurang senang.
"Biarkan dia, yang penting dia tidak merugi kan dirimu." sahut Kokom.
Ia tahu bahwa David benci melihat Ghina nempel dengan Aditya. Rasanya semua pelayan begitu.
"Tidak ada sopannya, disini ada Tuan dan aku. Itu didikan Devaly, semua yang dekat dengan Devaly ngelunjak." ketus Ghina.
"Bukannya kamu yang ngelunjak, dikasi hati minta jantung." sindir Kokom sambil berdiri.
"Maaf Tuan saya dipanggil Kemoning." kata Kokom beranjak dari teras. Aditya hanya mengangguk.
"Tinggalkan aku sendiri, tolong kamu cari tahu karyawan yang bernama Dewi. Pulang kantor aku melihat dia seperti bertengkar dengan David, tapi aku malas bertanya."
"Untuk apa Tuan, apa Dewi telah membuat Tuan kepincut?"
"Tidaklah, aku tidak tertarik dengan wanita lain selain istriku. Kecuali istriku mati baru aku menggantikannya."
Ghina tersentak ketika Aditya berkata begitu. Ia tertawa dalam hati setelah tahu bahwa Aditya tidak mencintai Dewi. Tidak seperti cerita Dewi yang mengatakan Aditya ada hati dengannya.
Semenjak Dewi menjadi karyawan di kantor Aditya, gadis itu selalu mencari celah untuk ketemu dengan Aditya. Bahkan Dewi berkata ia punya rahasia besar tentang Devaly, jika ia buka rahasia itu Aditya bisa jatuh hati padanya.
Cerita itu dihembuskan Dewi, bergulir begitu saja membuat karyawan penasaran. Dewi merasa seolah menjadi primadona di kantor Aditya, padahal masih banyak yang aduhai.
"Mungkin David tahu sesuatu, bagaimana kalau saya bertanya padanya?"
"Tidak usah ditanyakan, kamu langsung saja tanya Dewi, kamu bisa telepon atau chat dia."
"Saya nginap di kamar Tuan malam ini ya."
"Pergi ke kamarmu aku lagi stres." sahut Aditya masuk ke dalam. Ia malas diganggu. Ghina terdiam, Aditya akhir-akhir ini terasa menjauhinya.
__ADS_1
Setiap hari Aditya mengobati dirinya dengan cara memutar tasbih sampai 108 kali supaya ilmu Leaknya hilang. Sebelum hilang ia takut mencari istrinya. Masalahnya anaknya sudah semakin besar, sedangkan Malamute seekor binatang yang menggemaskan. Jika ia tiba- tiba berubah takutnya ditangkap oleh istri dan anaknya.
Kemoning harapan terakhir untuk bisa menyembuhkan dirinya. Apapun Kemoning minta ia akan lulusan asal Kemoning mau membantunya.
Ghina mengalah dan melangkah menuju kamarnya. Ia mulai chat Dewi, sebenarnya ia kesal kepada Dewi yang berani ngaku-ngaku bahwa Aditya menyukainya.
"Dewi kamu lagi ngapain?" tulis Ghina.
"Hehe...tumben, kirain siapa. Ada apa Ghin?" balas Dewi tidak berselera.
"Aku dengar kau memegang rahasia bos kita, benarkah itu?"
"Benar, tapi aku tidak mau umbar rahasia ini padamu, karena kamu rival beratku."
"Aku tidak peduli kau memegang rahasia bos atau rahasia siapa pun, aku cuma mengingat kan jangan kau bangunkan Macan tidur. Bos hanya milikku, kami saling mencintai."
"Siapa boleh mengaku, akupun bisa bicara begitu. Kenyataannya bos tetap punya istri dan tetap punya anak sebagai pewaris. Aku punya ilmu yang membuat perceraian itu sah adanya, ilmu itu yang kamu tidak punya sedangkan aku sudah melangkah kesitu." balas Dewi percaya diri.
Ghina mengangguk-angguk kecil membaca chat Dewi, ia berpikir Dewi akan membunuh Devaly dan putranya dengan ilmu Leak. Berarti Dewi bisa ngeleak. pikir Ghina mulai curiga.
"Aku tahu ilmu itu, apapun yang kamu rencanakan tidak akan berhasil, karena Devaly sangat hebat."
"Lihat saja nanti, siapa yang kalah dan siapa yang menjadi permaisuri."
"Hahaha.... yang seperti Thasy saja bos membuangnya, apalagi wajah pas-pasan seperti kamu." tulis Ghina.
Tidak ada balasan dari Dewi, Ghina juga tidak melanjutkan chat nya yang tidak bermutu sama sekali. Ekspektasi Dewi terlalu tinggi berani membawa nama Aditya dalam gosip. Apa rahasia itu? apakah Dewi pernah tidur dengan Aditya atau Dewi tahu tentang Aditya.
Masalah ini tadinya dianggap remeh, kini malah menjadi beban pikiran. Ghina tidak bisa tidur gara-gara memikirkan rahasia Dewi, ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa.
Ghina iseng keluar ia melihat Aditya dan Kemoning memakai pakaian putih-putih menuju Bale delod, agak jauh dari rumah utama. Ghina mengikuti dari jarak jauh. Ia tidak tahu apa tujuan dua orang itu.
Ternyata di Bale delod sudah ada delapan orang tua, dan salah satu dari mereka adalah Ayahnya Kemoning yang menjadi pendeta. Ghina terus membuntutinya, ia berhenti di dapur. Dari dapur ia bisa mengintip apa yang dikerjakan Aditya.
"Silahkan duduk Aditya dan Kemoning, kalian ikut mengucapkan apa yang pendeta ucapkan." kata saudara Kemoning dengan ramah.
"Apakah acara ini bisa membuat saya normal kembali?" tanya Aditya sopan.
"Tuan ikuti saja jangan banyak tanya." kata Kemoning menunduk. Selama ini Aditya sangat tergantung kepada Kemoning dan percaya bahwa adik sepupunya itu bisa membuat dirinya menjadi manusia normal, jauh dari ilmu Leak.
"Apakah kamu sudah tahu risikonya, jika belum siap kamu boleh mundur." kata ayah Kemoning memandang mereka silih berganti.
"Ayah lanjutkankah, kami sudah berbicara satu sama lain. Tuan sudah setuju dan saya hanya meluluskan permintaan Tuan."
"Kalau begitu baiklah, semoga tidak ada gangguan di kemudian hari."
"Kalian berdua yang khusuk, ikutin ucapan pendeta."
__ADS_1
"Kami siap pendeta...." sahut Kemoning dengan dada berdebar. Apapun yang terjadi ia akan lakon.
*****