LOVE YOU MALAMUTE

LOVE YOU MALAMUTE
Bab.18


__ADS_3

David sudah muak melihat tingkah Ghina yang manja. Sepanjang perjalanan wanita itu memeluk Aditya. Untung sudah dekat, jadi tidak lama Ghina bisa nempel di tubuh lelaki itu. Aditya melepaskan pelukannya bertanya saat mereka sudah sampai di garasi.


"Sebenarnya siapa laki-laki yang mau memperkosamu."


"Sayank, gendong aku ke kamarku nanti aku ceritakan semuanya."


"Tidak bisa Ghin, aku tadi bertengkar dengan Devaly karena nekat ingin mencarimu. Kamu harus mengerti posisiku, aku suami Devaly, aku sudah punya istri dan anak. Tentu aku tidak ingin menyakiti perasaan istriku, jangan sampai Devaly dan Bintang menjadi korban atas kegilaaku." kata Aditya menarik tangan nya ketika Ghina membawa tangan Aditya ke dadanya yang terbuka. Baju Ghina terlihat robek sehingga kelihatan toketnya.


"Aku paling benci melihat suami takut istri, Devaly juga tidak tahu apa yang kita perbuat. Kamu tega membiarkan aku tidur sendiri, aku takut sekali, terbayang pria itu menariku dan merobek bajuku. Hampir saja memperkosaku untung ada yang menolong."


"Makanya jangan suka keluar malam-malam berbahaya."


"Aku kesepian ingin kehangatan darimu, mari kita pergunakan malam ini sebaik-baiknya."


"Besok-besok saja, masih ada waktu yang panjang." kata Aditya


"Sayank cium aku....."


Aditya memagut bibir Ghina dengan buas. Mereka berpelukan dengan ketat. Tangan Ghina merayap ke Rvd4l Aditya yang mulai terasa menggeliat.


"Hem..hem..stop, pulang-pulang." kata David emosi melihat mereka berdua. Aditya sadar dan mendorong Ghina.


"Turun nanti ketahuan." kata Aditya cepat turun dari mobil.


Mereka masuk ke rumah, suasana terasa sepi mencekam. Perasaan Aditya berdebar kencang.


"David aku merasa ada sesuatu, perasaanku tidak enak."


"Aku juga merasa begitu, kemana pelayan, tadi pak Made juga tidak ada di pos."


Mereka masuk ke ruang utama. Ada Gendis dan Kemoning sedang berdiri di depan pintu ruang keluarga. Melihat Ghina Kemoning langsung mengusirnya.


"Ghina, pergi ke kamar. Jangan pernah masuk kesini!" bentak Kemoning dengan mata melotot.


"Ada apa Kemoning?" tanya Aditya pelan.


"Ada Gorila yang hampir membunuh putra Tuan, salah satu pelayan menyelamatkannya saya tadi telat datang.' kata Kemoning kesal.


"Dimana anakku?"


"Untuk apa Tuan, bukankah Ghina lebih berarti dari istri dan anak Tuan."


"Kemoning kamu tidak tahu apa-apa, kalau aku tahu akan ada bencana pasti aku tidak pergi." kata Aditya sewot.


"Maaf, istri Tuan perasaannya sangat terluka dia tidak ingin bertemu Tuan." kata Kemoning berlalu.


"Kemoning, kamu saudaraku jangan gara-gara kekecewaan istriku keluarga besar kita hancur, katakan dimana istriku?"


"Apa Tuan mau mengusirku? mala petaka memang tidak bisa di prediksi, tapi istri Tuan sudah memprediksi apa yang akan terjadi jika Tuan mencari Ghina. Apa Tuan bisa menolak pelukan dan ciuman Ghina, jangan menipu insting seorang istri. Jika tingkah laku Tuan baik-baik saja, nona Devaly tidak mungkin melarang."

__ADS_1


Aditya terdiam, ia bersandar di tembok. Tidak mungkin ia mengusir saudaranya. Jika ia lakukan itu pasti timbul perang. Lagipula ia sangat butuh tenaganya Kemoning untuk menjaga jeluarganya.


Kemoning tetap berlalu menuju kamar Ghina. Kebetulan kamar Ghina tidak terkunci, ia nyelonong masuk.


"Ada apa Kemoning?" tanya Ghina kaget.


"Plookk...plookk..." tamparan keras dari Kemoning membuat Ghina sempoyongan. Ghina memegang pipinya yang merah, ia tahu Kemoning menampar dengan ilmunya.


"Maafkan aku...." ucap Ghina gemetar. Ia takut kepada Kemoning.


"Aku tidak mau berkomentar karena kau sudah tahu salahmu." ucap Kemoning dingin, ia lalu keluar dari kamar Ghina.


Kemoning menuju Guesthouse, rumah besar ini jarang ditempati karena letaknya jauh di belakang. Biasanya rumah ini untuk saudara yang datang dengan rombongannya. Disini ada lima kamar mewah dan modern seperti hotel bintang lima.


Walaupun jarang di tempati, tapi dua minggu sekali petugas cleaning servise dari Hotel Queen selalu datang membersihkannya. Dan Bagusnya lagi tinggal disini punya jalan keluar sendiri lewat samping, tidak melalui rumah utama. Seolah terpisah, padahal satu pekarangan.


Di Guesthouse tinggal nona Devaly Bintang Samudra. Ada Kokom, Surti, Komang Sri dan baby sitter. Dokter sedang merawat Devaly yang syok karena kejadian tadi. Devaly akan tinggal disini untuk sementara waktu, supaya jauh dari tingkah Aditya dan Ghina yang membuat sakit hati.


"Bagaimana keadaan Tuan?" tanya Kokom ketika Kemoning nongol di pintu. Wajahnya terlihat lesu, karena beban pikiran. Ia yang mengajak Ghina kesini, betapa malunya jika nona tahu apa yang di perbuat Ghina.


"Biasa saja dia menanyakan keberadaan Devaly, aku sempat bersitegang dengannya. Tidak usah dipikir, nanti juga baik-baik saja. Tugas kita menguatkan Devaly supaya dia kembali normal dan menjaganya dari Leak." jelas Kemoning.


Malam ini mereka terpaksa mengungsi dari rumah utama, untung ada pelayan yang tahu tempat ini. Mereka sekarang berada di ruang keluarga menggelar kasur. Sedangkan Devaly dan Bintang ada di kamar dengan dokter dan seorang perawat.


"Suatu hari nanti, pasti Tuan tahu dimana nona berada."


"Aku tahu itu bakal terjadi, setidaknya malam ini sampai dua tiga hari kedepan nona bisa memulihkan tenaganya dan ingatannya. Aku tidak ingin Tuan berpisah dengan istri dan anaknya. Kadang tingkahnya membuat aku muak. Tuan semakin parah."


"Itu quotes yang tepat untuk sang play boy. Aku yakin dia kebingungan mencari istri dan anaknya. Pasti pelayan dan pak Made yang di ubek-ubek diajak ikut mencari." kata Kokom puas. Ia kesal melihat Tuannya tidak tegas, selalu bikin ulah.


"Kapan kita ke rumah sakit, walaupun ada pelayan dan keluarganya kita harus datang."


"Masalah Ketut kita harus laporkan kepada Tuan, karena itu tanggung jawab Tuan. Terus terang aku cepetan emosi kalau bicara dengan Tuan, kalau itu anak kecil aku sudah jewer kupingnya." ucap Kokom.


"Surti...tugasmu ke rumah utama, katakan masalah ketut, boleh ceritakan semuanya. Kamu sudah tahu apa yang terjadi. Jika Tuan bertanya tentang Devaly, bilang kalau kamu tidak tahu dimana nona berada, katakan kamu sibuk mengantar Ketut ke rumah sakit."


"Beres, aku sudah pintar ngibul semenjak bergaul dengan kalian." canda Surti.


"Kita boleh bohong untuk kebaikan hehe..." Kokom tertawa.


"Kom, Ini sudah hampir jam satu, aku tidak berani berjalan di kebun sendirian."


"Ini mah kecil, seperseratusnya kebun nenek. kalau begitu ajak Sri ikut kesana. Besok aku panggil petugas taman supaya merapikan kebun." kata Kokom.


"Sri tolong temani Surti, kalau ada apa-apa teriak yang kencang, aku datang membawa pentongan."


"Aku tidak takut Leak, aku lebih takut ular." sahut Sri berdiri.


"Kami pergi, doain supaya Tuan dalam keadaan waras."

__ADS_1


"Uss...ngaco kamu, sana pergi." kata Kokom melihat ke kebun yang gelap gulita. Mereka berjalan berdua meninggalkan Guesthouse.


"Surti kita gandengan tangan, tega banget Kokom dan Kemoning menyuruh kita jalan gelap-gelap." kata Surti menyalakan senter ponselnya.


"Gak apalah, mereka berdua lebih capek dari kita. Setelah ini kita tidur di kamar, biarin mereka berdua jaga sampai pagi hahaha..."


"Betul itu, aku setuju." sahut Sri tertawa.


Mereka akhirnya sampai di rumah utama, ada Tuan David dan Tuan Aditya duduk ngobrol sambil minum kopi.


"Malam Tuan, saya Surti dan ini Sri. Kami berdua mengabarkan bahwa pelayan yang menolong putra Tuan sekarang dalam keadaan kritis di rumah sakit."


"Apa?? kenapa baru kalian katakan?" Aditya berdiri dengan wajah tegang,


"Kalian duduk dulu, katakan apa yang terjadi." pinta David menatap Surti.


Surti dan Sri duduk dengan canggung, mereka tumben semeja dengan pria ganteng dan wangi. Dada Surti berdebar-debar tidak karuan. Kedua lelaki itu memandangnya. Akhirnya Surti bercerita,


"Waktu Tuan nekat menjemput Ghina, nona menangis sedih lalu masuk kamar, dia duduk di tepi ranjang tidak melihat baby sitternya, tapi box bayinya terus bergoyang. Lampu agak suram karena lampu tidur saja hidup. Akhirnya nona memanggilnya."


"Yeny kamu dimana?"


"Perasaan nona mulai tidak enak. Ia cepat menyalakan lampu kamar dan mengambil garam, bawang di nakas. Dengan kesal ia melemparkan kedua benda itu kebawah box bayi sambil minta perlindungan dari Tuhan. Tiba-tiba...."


"Geerrrr..Geerrrr..."


"Seekor Monyet yang agak besar keluar dari bawah box bayi. Tangannya yang berkuku panjang itu cepat menyambar Bintang."


"Setan kau, iblis, tolong...tolong..."


"Nona berteriak kecang membuat semua pelayan keluar berlari menuju kamar nona."


"Nona Devaly tanpa takut melempar garam dan bawang ke tubuh monyet itu. Tangisan putranya membuat nona histeris dan kita semua ikut menangis saat monyet itu membawa putra Tuan ke atas genteng."


"Kurang ajar kau, aku tahu siapa kau iblis."


"Tiba-tiba Ketut keluar dari dapur membawa bungkusan dan melemparkannya ke monyet itu. Tiba-tiba monyet itu meletakan Bintang di genteng, ia turun membantai Ketut. Kita semua ketakutan dan menangis. Pada saat itu Kemoning dan Kokom baru datang dari depan, mereka marah dan monyet itu hilang."


"Nona Devaly sudah pingsan, Komoning dan Kokom mengambil Bintang di atap. Untung putra Tuan selamat, nyaris putra Tuan meninggal." Surti menghentikan ceritanya.


"Aku yang salah terus dimana istri dan putra ku sekarang. Aku akan minta maaf." suara Aditya terdengar serak.


"Saya tidak tahu Tuan, waktu itu saya dan Sri pergi ke rumah sakit. Saya dengar-dengar nona stres berat. Lebih baik Tuan ke rumah sakit supaya keluarga ketut lega, mereka tidak punya uang untuk membayar obat dan sebagainya."


"Aku ingin melihat istri dan anakku. Sekarang Kokom dan Kemoning ada dimana?"


"Tidak tahu Tuan, saya juga ingin bertemu, tapi saya sangat lelah dan ngantuk."


"Kalian boleh istirahat, kirim alamat rumah sakit dan nomer kamarnya. Aku segera kesana bersama David." kata Aditya berdiri.

__ADS_1


Setelah Aditya dan David pergi, Surti dan Sri menuju ruang keluarga. Semua sudah tidur lelap, seandainya ada Leak mereka tidak tahu. Surti dan Sri ikut merebahkan badan nya. Sebelum memejamkan matanya mereka berdoa supaya tidak ada Leak yang datang.


*****


__ADS_2