
Pandangan mereka bertemu, sama-sama kaget. Yach, ampun...mau sembunyi sudah kepalang tanggung. Akhirnya Devaly berucap,
"Maaf, saya kira anda dalam masalah. Jika ada yang bisa dibantu, kami siap bantu." ucap Devaly datar. Ia membalikan tubuhnya dan lenyap disamping kamar Dewi.
"Nona-nona...tolong buka pintunya." David melepaskan Dewi yang berada dalam pelukannya. Pintu akhirnya terbuka, wajah Yeny nongol dengan wajah tidak bersahabat.
"Maaf Tuan David, nona tidak mau diganggu."
"Tolonglah Yen, aku ingin ketemu Bintang, aku sangat merindukanmu." David memohon dengan wajah sedih, tentu pemandangan itu membuat Dewi dan penghuni kost lainnya mengira Devaly adalah istri David yang kabur dengan putranya. Tanpa menunggu penjelasan Dewi menutup pintu kamarnya.
"Pulanglah Tuan, nona tidak ingin bertemu."
"Jika kalian tidak mengizinkan aku masuk, lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan."
Ancaman itu sangat mengena, membuat Yeny terdiam dan wajahnya menghilang dari pintu. Tidak berapa lama pintu terbuka lebar.
"Silahkan masuk Tuan." ucap Yeny seraya mengeluarkan kemasan air mineral dan Sandwich, sisa sarapan.
"Trimakasih Yen..."
David masuk ke kamar yang luasnya 4x4, sangat kecil menurutnya. Devaly bukan wanita sembarangan, sudah biasa hidup mewah, tapi kini yang ada di kamarnya satu TV 21" dan almari satu pintu, ada AC 1/4pk. Sangat sederhana, David salut kepada Devaly yang bisa beradaptasi dan hidup sederhana.
"Kita tidak sengaja bertemu, aku harap pertemuan ini bisa kamu lupakan, aku tidak mau temanmu tahu." kata Devaly dingin, matanya menatap kosong ke depan.
David duduk di lantai bersandar di tembok, seperti Devaly dan Yeny. Ada satu kursi kayu dan meja kecil, di atasnya komputer serta tumpukan map.
"Saya akan menutup mulut kepada siapapun, percayalah nona. Selama nona pergi saya sangat kangen kepada nona....maksud saya Bintang." kata David keceplosan.
"Kamu sangat perhatian, trimakasih David. Kamu boleh gendong Bintang kalau dia mau, kalau tidak tinggalkan kami."
David sangat bersyukur Devaly mau diajak berbincang-bincang, apalagi Bintang tidak menolak saat David menggendongnya. Tidak banyak yang diceritakan oleh Devaly, tapi David merasa Devaly punya uang karena kerja.
"Aku akan menanggung kebutuhan kalian."
"Tidak usah David, aku pantang minta kepada orang lain, selain suamiku. Jika aku ingin, keluargaku mampu menanggung kami."
"Aku tidak merendahkan mu, aku hanya ingin sering kesini membeli apa yang kurang."
"Nanti temanmu curiga kalau kamu sering datang kesini."
"Bos lagi banyak masalah, banyak Leak dan pembunuhan. Semenjak nona pergi Tuan jadi alim, selalu menolak kalau di goda Thasy atau wanita lain. Tuan jarang makan, kerja terus sampai kurus."
"Biarkanlah, supaya ia lebih dewasa dan mengerti arti kehilangan."
"Nona, aku ingin kost disini supaya dekat dengan Bintang." kata David.
"Sudah penuh." jawab Yeny pendek.
"Ikut saja nyamber, serius aku nyaman disini daripada di rumah Tuan, ngeri disana."
"Gadis tadi itu pacarmu?" Dèvaly bertanya pelan. David menatap istri bos nya dengan seribu makna. Sungguh ia terpesona dengan Devaly yang cantik, anggun dan Sexy.
__ADS_1
"Dewi? ya nona, itu dulu. Kami hampir dua tahun pisah karena orang tuanya menolak hubungan kami, kita beda kasta dan beda harta. Aku orang tidak punya, sedangkan Dewi bekerja di kapal pesiar dengan gaji lumayan."
Devaly tersenyum tipis, ia menarik nafas dan membuangnya kasar. Matanya yang coklat mendadak membulat saat melihat Dewi berada diambang pintu.
"Jadi ini jawabannya sehingga kamu menolak ku. Tidak terlintas dalam pikiranku bahwa kamu cepat melupakan ku." Air mata Dewi jatuh, Devaly mau menjelaskan tapi David melarangnya.
"Maaf Dewi, aku tidak bisa membela diri. Apa pun yang kamu pikirkan pasti benar. Kita tetap berteman, lupakan aku."
Dewi tidak menjawab, dia membalikkan badan dan beranjak dari hadapan David.
"Dia keluar dari kost ini." ucap Yeny ketika melihat Dewi keluar membawa koper.
"Lebih baik putus sekarang daripada setelah menikah banyak problem. Aku ingin menikah dengan wanita selevel, tanpa memperbudak hidupku."
"Menikah harus memakai akal sehat, cinta itu akan hilang dengan berjalannya waktu. Jika cinta membuat sengsara, cepat berbenah dan buang penderitaan dengan konsisten."
"Kamu hebat David, aku malah diperbudak cinta. Walaupun sekarang aku bisa mandiri, tapi hatiku tetap rapuh. Airmata ku selalu jatuh bila ingat dia. Rasa benciku seimbang dengan rasa cintaku."
"Kamu harus bisa memanage dirimu, kalau tidak begitu kamu pasti hancur." ucap David serius.
Devaly mengakui cintanya kepada Aditya seratus persen, sampai-sampai ia enggan pulang ke negaranya. Ia percaya suatu hari nanti Aditya akan sadar dan mereka hidup bahagia kembali. Benarkah begitu?
Setelah mengantar David sampai di tempat kost, Aditya pulang dengan badan lelah karena belum sempat tidur. Sampai di rumah Aditya mencari kemoning dan Kokom yang selalu hilang kalau makam hari.
"Ada apa Tuan?" tanya Kokom kecut, dia melihat wajah Tuannya merah padam menahan marah.
"Setiap ada masalah kalian berdua tidak di rumah, aku jadi curiga, Jangan-jangan kalian yang jadi Leak memakan teman sendiri."
"Maaf Tuan, tuduhan Tuan tidak beralasan. Apakah Tuan mengerti setiap orang yang dituduh bisa ngeleak akan menerima sanksi sosial dari masyarakat, pembunuhan karakter secara permanen. Padahal belum tentu tuduhan itu benar, seperti Tuan menuduh kami." sahut Kemoning maklum kakau Tuannya marah.
"Bukan setiap malam Tuan, kebetulan saja malam itu saya pulang kampung dan malam kemarin ketiduran. Pak Made meninggalnya bukan disini, jadi saya tidak tahu kejadiannya. Beliau meninggal ditempat lain bukan disini." kilah Kemoning.
"Aku curiga kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku, kalian ingin aku mati?"
"Tuan sudah mulai ngelantur, tidak ada yang kami sembunyikan, apalagi mau membunuh Tuan. Percayalah kami mengabdi untuk Tuan dan nona serta Bintang."
"So sweet...ternyata kalian pelayan yang bisa diandalkan. Sayang sekali dua pembunuhan tidak bisa kalian hentikan, lewat begitu saja. Apa kesaktian kalian sudah luntur?"
"Hahaha...pagi-pagi kamu sudah datang nona Thasy, apa di rumahmu tidak ada kerjaan. Kami berdua tidak sakti, tapi kalau disuruh membunuh mu sangatlah gampang." ucap Kokom tertawa sinis.
"Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." sahut Thasy tak peduli, ia duduk disamping Aditya, tangannya mulai meremas paha Aditya.
"Thasy pulang lah aku sangat lelah." ucap Aditya menepis tangan Thasy. Ia akhir-akhir ini ngeri dekat dengan Thasy. Malamute yang ada ditubuhnya ingin keluar saja.
"Tuan sarapan dulu, setelah itu Tuan mandi dan istirahat."
"Kemoning jangan ngatur Bos, sekarang hari sabtu kita mau healing ke Ubud."
"Nona Thasy, biarkan bos istirahat saja. Tuan belum sempat tidur."
"Kemoning jangan ikut campur." Tashy marah.
__ADS_1
"Ramai sekali, lagi-lagi Thasy. Kirain sudah dipenjara, masih saja nongol." kata Ghina menyeringai.
"Orang kampung ingin terlihat glamour, lipstik sekilo, bedak seperti cat tembok, pakaiannya seronok." Thasy mulai julid.
"Tuan kita sarapan, jangan dengerin Leak, salah sedikit Tuan dimakan." Ghina menarik tangan Aditya.
"Aku mau ngajak Tuan sarapan diluar!!" bentak Thasy melotot.
"Pergilah Thasy, aku lelah." Aditya menepis tangan Ghina dan Thasy ia beranjak dan pergi ke kamarnya.
Thasy dan Ghina saling menyalah kan, Thasy mengejar Aditya, tapi Ghina menghalangi.
"Kamu budeg Thasy, Tuan tidak mau di ganggu, hargailah privasi orang."
Thasy berhenti dan memandang punggung Aditya yang masuk ke kamarnya. Ia berbalik tanpa peduli dengan Kemoning dan Kokom, hatinya masih sakit gara-gara omongan pak Made yang menghinanya.
Ternyata membunuh orang pada saat menjadi Leak sangat mengasyikkan. Tidak ada beban mental, malah seperti pemburu yang berhasil menembak binatang.
Thasy berjalan keluar melewati Kokom dan Kemoning, pikirannya kosong dan perutnya mual akibat makan pak Made saat menjadi Leak. Ia takut periksa ke dokter, takut ketahuan kanibalis.
Setelah Thasy pergi Ghina langsung masuk ke kamar Aditya. Ia mengunci pintu dan melempar tubuhnya ke ranjang.
"Jangan marah aku hanya menumpang tidur disini." kata Ghina sengaja tidak menyentuh tubuh Aditya.
"Tidurlah di sofa panjang kalau kamu ingin bersamaku di kamar." sahut Aditya tanpa membuka matanya.
"Trimakasih Tuan..." Ghina kegirangan dikasi sekamar. Sedikit lagi dia akan menaklukkan Aditya.
"Aku akan melempar mu jika kamu berani menyentuh tubuhku." ketus Aditya.
Siap Tuan..."
Tidak menunggu lama Aditya tertidur pulas. Ghina mulai beraksi, ia membuka pakaian dan mengeluarkan ponselnya. ia tidak kekurangan akal, dengan banyak editan, ia bisa menghasilkan foto mesra tanpa curiga.
Sekitar dua jam ia berada di kamar Aditya, karena mandi keramas dulu, supaya vidio yang ia akan kirim ke Thasy benar-benar berkesan dan Thasy percaya, bahwa terjadi perselingkuhan antara Ghina dengan Aditya.
Ghina keluar kamar Aditya dengan rambut basah, ia menuju dapur pura-pura tidak peduli kepada pelayan yang kepo melihatnya.
"Hemm..mandi dimana Ghina, nyebur di kolam ya." celetuk Kokom yang kurang sreg melihat penampilan Ghina basah-basah.
"Ganti baju dan keringin rambut, setelah itu baru makan." tegur Kemoning sedikit kesal.
"Aku mau ngambilin Tuan susu, jangan berisik deh. Apa kalian tumben melihat orang habis main kuda lumping." sahut Ghina dengan wajah dibikin lesu.
"Semua heran karena kamu tega menikam perasaan nona Devaly dengan tingkahmu yang tidak beradab." ketus Kemoning.
"Tuan kesepian, nona Devaly tidak pernah pulang. Wajar kalau Tuan menginginkan aku, jika aku menolak Tuan mengancam memecat ku. Aku serba salah. Andai kalian tahu betapa ganasnya permainan Tuan, kalian pasti akan kasihan padaku."
"Tidak ada yang sedih, melihat tingkahmu sudah bikin kami eneg semua. Aku sih tidak percaya omongan mu." ledek Sri mencibir.
"Aku tidak peduli kepadamu Sri, bagiku kamu hanya butiran debu yang berada di ujung sepatuku. Sekali tiup kamu terbang diempas angin. Pikirkanlah nasibmu yang buruk."
__ADS_1
"Ghina jangan sombong, karma itu tetap akan kamu terima. Apa yang kamu perbuat itu yang kamu akan tuai. Sadarlah, semua yang kamu perbuat itu salah." kata Kemoning mengingatkan Ghina.
*****