
Lolongan anjing kampung membuat hati Devaly semakin mengkerut, perasaannya takut bercampur sedih, apalagi kalau ingat masa-masa dia buta di rumah nenek. Masa yang menyakitkan dan penuh penderitaan. Ntah kapan semua ini akan berakhir hanya Tuhan yang maha tahu.
Devaly memandang putranya dalam lelap, bayi mungil itu begitu perfect dimatanya. Hidung yang mancung, alis tebal dan bibir sexy. Bintang adalah perpaduan dirinya dan Aditya. Terlintas dalam pikirannya sosok Malamute, animal itu tidak pernah terlihat semenjak ia pindah ke kota. Kadang ia rindu memeluk Malamute yang berbulu empuk. Apakah ada darah Malamute ditubuh bayinya?
Dengan lesu ia menuju sofa, berusaha tegar saat mengingat pengkhianaan Aditya dengan Thasy. Tadi ia berantem hebat dengan Aditya, masalahnya laki-laki itu ikut sibuk mencari Mayang. Bukankah lebih praktis dengan cara menyewa jasa aparat untuk mencari Mayang. Dengan begitu akan cepat bisa diketemukan, kenapa harus mencari sendiri. Devaly tidak mengerti pikiran Aditya. Apa laki-laki itu masih terobsesi dengan Mayang. Ada saja yang membuat marah.
Mayang adalah Leak yang bisa menghilang sekejap mata. Kemanapun dicari tidak akan ketemu, kecuali nyarinya siang hari, pada saat ia tidak kuasa untuk berubah. Jika siang hari dia berubah, dia akan musnah menjadi abu terkena sinar matahari. Mereka sudah tahu tetap saja wara wiri di kebun belakang, mana ada Mayang ngumpet disitu.
"Tookk...tookk....tookk.."
Suara ketukan halus di pintu mengagetkan Devaly, ia melangkah ke pintu membukanya. Tidak ada siapapun, diluar sepi dan gelap. Ia celingukan, siapa yang suka bercanda malam begini. Pikirnya. Biasanya ada lampu serambi depan yang selalu menyala, kini lampu mati.
Devaly merinding, bulu kuduknya berdiri. Ia memegang lehernya dan kembali melangkah ke sofa, dengan dada berdebar ia mengambil bawang di atas meja, lalu mengoleskan ke telapak tangan dan kaki bayinya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Kemudian ia mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur. Suasana sejuk memenuhi ruangan.
Rasa takut menyelimuti perasaannya. Malam ini adalah malam yang membuat dirinya ketakutan luar biasa, merasa nyawa anaknya seolah terancam, ia membayangkan Mayang menjadi Macan atau kuda dan pelayan nenek satu persatu akan berubah, ada yang menjadi monyet, anjing, babi, bebek atau leak barak. sungguh mengerikan. Matanya sulit terpejam memikirkan Lesk.
Pukul.23.00 malam, Devaly rebahan di sofa, ia ingin sekali menelepon suaminya, tapi gengsi. Tidak mungkin ia mau merendahkan dirinya. Cukup sudah perlakuan suaminya selama ini, lebih baik pisah untuk sementara waktu daripada berantem tiap hari.
Malam semakin larut, mata Devaly sudah sepet rasanya menahan kantuk. Akhirnya ia tertidur di Sofa.
Aditya yang merindukan istrinya terpaksa berubah menjadi Malamute. Ia tidak tahan berhari-hari tanpa pelukan istrinya. Perlahan ia keluar dan tidak menyadari ada seseorang yang melihat tingkahnya yang mengendap- endap menuju kamar Devaly. Wanita itu lalu mengambil ponselnya dan "Kleekk" foto Malamute menjadi wallpaper ponselnya.
Malamute dengan mudah masuk ke kamar Devaly dan menemukan Devaly tidur di sofa. Wajah cantik itu terlihat sedikit pucat karena setiap hari begadanģ. Pipi yang dulu chubby kini tirus menandakan kegemukan meninggal kan tubuh Devaly yang sexy. Daster wanita itu tersingkap membuat Mata Malamute bebas menelusuri paha mulus itu.
Animal mengendus leher Devaly menjilatinya dengan pelan. Sentuhan Malamute membuat Devaly terbangun, ia membuka matanya dan,
"Aahhh...kau Malamute. Aku kangen padamu. Kemana saja kau berkelana?" Devaly bangun memeluk Malamute dan menciuminya.
Betapa manjanya Malamute ketika Devaly mengajaknya tidur di sampingnya. Seperti biasa Malamute akan menyusup kedada Devaly dan menjilati seluruh tubuh Wanita itu sampai Devaly geli.
"Malamute jangan nakal aku habis melairkan, tidak bisa melayanimu seperti dulu." Devaly mendorong tubuh Malamute yang besar.
Tapi Malamute bukan animal bodoh, ia bisa mengendus dan tahu bahwa Devaly telah terangsang. Ia mencoba menggunakan ilmu khufdu-khufdu supaya Devaly mau menuruti kemauannya. Ia tidak menyangka ilmu itu membuat Devaly menurut.
Malamute menjalani tutorial kamar sutra dengan gairah memuncak. Malam ini Devaly dibuat bercucuran keringat, ia sangat puas dengan Malamute.
"Love you Malamute." bisik Devaly enteng.
Air mata nya berlinang saat mengucapkan kata-kata itu. Ia merasa telah menggadaikan cintanya dengan seekor animal. Ia merasa telah mengkhianati perasaan cintanya demi kepuasan dan sakit hati.
Setelah pukul 03.00 dini hari Malamute turun dari sofa dan menyelimuti Devaly. Wanita itu tidur dengan lelap meninggalkan senyum di bibir. Malamute meninggalkan kamar dengan cara gaib, tidak mau keluar dengan normal takut ada yang melihatnya.
Keesokan harinya Devaly bangun kesiangan ia terpaksa keluar kamar karena para tamu mau kembali ke desa. Hanya Kemoning dan Ghina yang tinggal dengan Devaly selebihnya pulang ke Desa, kerumah nenek. Devaly mendekati Kokom yang sedang sibuk memberi bingkisan kepada setiap orang.
__ADS_1
"Tuan Aditya dan David kemana?" Devaly bertanya kepada Kokom.
"Bekerja nona, ini sudah jam sepuluh, kata Tuan banyak kerjaan yang terbengkalai."
"Ohh...aku bangun kesiangan." kata Devaly tersipu malu.
Ramai sekali di pendopo, saat Devaly datang semua kagum melihat kecantikan Devaly yang terlihat anggun dan sexy. Keramaian ini membuat dirinya terharu, mereka bergembira walaupun agak kecewa karena tidak bisa melihat Bintang Samudra.
Bayi itu ada di kamar dengan baby sitter, ia sedang rewel dari tadi pagi. Rasanya ingin membawa babynya dan dipertontonkan. Tapi takut ada yang jahil.
"Nona Devaly, kuharap nona dalam keadaan sehat, aku sangat khawatir jika jauh darimu." bibi Ayu menghampiri Devaly.
"Bibi aku kangen, Bagaimana khabar di rumah nenek masih sering ada Leak?"
"Disitu tempat sarangnya Leak, sudah biasa banyak Leak." sahut bibi datar. Untung yang bertanya nona Devaly kalau orang lain ia akan semprot.
"Hehe...bikin takut saja, sekarang disini juga akan seperti di rumah nenek, banyak Leak."
"Nona, banyak yang perlu nona ketahui jika sudah menjadi istri pewaris The Queen. Disamping ilmu Leak ada beban adat juga yang harus dilakukan." kata bibi Ayu ketika mereka duduk di pendopo.
"Aku mengerti, aku menyayangkan bibi tidak bisa disini denganku, aku sebenarnya butuh bibi untuk membimbing diriku, maklum aku kurang faham adat istiadat disini."
"Pelan-pelan pasti akan mengerti. Nanti bibi akan sering datang, kalau ada waktu luang dan habis panen bibi datang. Sekarang kita tidak memakai sistem ijon, jadi segala hasil panen akan langsung dibawa ke kota, kita sudah punya toko khusus dibeberapa kota."
"Kita tidak berani meninggalkan Bungalow terlalu lama, banyak barang berharga di dalam. Suatu hari nanti Tuan Aditya suruh mengambil barang nenek."
"Ya bi, Kapan-kapan saja. Aku masih trauma kesana, sekarang disini juga ada Leak seperti Mayang. Orang itu nekat sekali dan tidak tahu malu."
"Watak nya memang begitu, apa yang dia inginkan harus tercapai. Melawan orang begitu harus sabar, jangan nona turun tangan bayar orang lain, baru dia kalah. Sifat Leak memang begitu, mereka akan terus mengusik orang yang tidak disenanginya. Setelah orangnya terpancing baru dia tembak."
"Mencari-cari kesalahan orang. Aku lebih baik diam di kamar, takut anak kena sasaran Leak."
"Maaf nona, baby nya menangis." bisik baby sitter nya datang menghampiri Devaly.
"ohh...bibi aku ke kamar dulu, bayiku rewel silahkan mencicipi, kue disini kreasi pelayan."
"Enak nona kreatif sekali."
Devaly berjalan menuju kamarnya, perutnya terasa lapar, beberapa hari belakangan ini ia sulit makan, tapi hari ini ia lapar. Apa ada pengaruh dari pelukan Malamute?
Hidup itu penuh misteri, ntah hari esok kita masih bisa bernafas atau kita malah hancur. Sejujurnya Devaly tidak ingin memikirkan masalah itu.
Di saat Devaly menenangkan bayinya yang rewel, Kemoning dan Ginha masuk. Mereka tersenyum aneh melihat Devaly.
__ADS_1
"Pagi menjelang siang nona, saya mengajak babynya, nona sarapan dulu." kata Kemoning mengambil alih menggendong.
"Untung kalian datang dari pagi bayinya menangis, kenapa ya,
"Mungkin tadi malam ada Leak lewat, saya mau membacakan mantra."
Kemoning dan Ghina membacakan mantra sambil menimang-nimang bayinya. Perlahan tenang. Keinginan untuk menikah menyeruak dari sanubarinya ketika melihat Bintang Samudra.
"Ingin punya anak, tapi tidak punya pacar?" ledek Kemoning. Ghina tertawa, melihat Kemoning meledeknya.
"Aku mau manjangin rambut, seluruh tubuhku akan kurawat, setelah itu aku akan mencari suami."
"Bagus semoga kamu sadar dan cepat nyari pacar, tidak dapat yang muda yang tuapun okey!!"
"Hahaha....awas bayinya bangun. Kalian sudah sarapan?" tanya Devaly.
"Sudah nona, trimakasih. Makanannya enak dan kuenya juga enak-enak."
Rombongan dari desa barusan pergi, mereka puas dijamu mewah dan masing-masing orang dapat uang bonus. Kepergian mereka menyisakan kesedihan bagi Devaly, ia ingat dengan bibi Ayu yang baik hati.
ⁿAku kasihan dengan bibi Ayu sampai sekarang belum menikah, dia baik sekali mengurus kebun. Mengurus segala macam, orangnya jujur. Hidupnya untuk nenek." kata Devaly.
"Dulu bibi punya pacar, tapi nenek melarang pacaran. Sampai sekarang tidak pacaran, umur sudah tua dan bisa ngeleak lagi, siapa yang mau."
"Kecuali om-om duda." kata Kemoning mereka tertawa.
"Nona saya mulai besok akan bekerja di perusahan Tuan, bukan di hotel. Kira-kira berapa gajinya?"
"Tidak baik ngomongin gaji, belum kerja setelah kerja baru boleh." kata Ghina.
"Kalian berdua boleh tinggal di Kastil, disana ada dua kamar, kamar mandi dalam, ruang tamu yang lengkap." jelas Devaly.
"Agak jauh saya dari nona, tidak apa-apa sih. Saya bertrimakasih nona."
"Aku yang bertrimakasih karena kalian mau tinggal disini ikut menjaga bayiku."
"Semoga ayahku dikampung mau mengerti alasan yang aku katakan."
"Pasti mengerti, sudah sewajarnya kalian berdua mencari kehidupan sendiri. Siapa tahu jodoh kalian ada di.kota ini." kata Devaly memandang mereka berdua.
Jodoh memang ada ditangan Tuhan, tapi kalau jodoh tidak dicari sama juga bohong. Semoga tercapai apa yang di inginkan.
*****
__ADS_1