MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 21. Dia, Dia


__ADS_3

🔥🔥🔥


Hmmp


Arabelle menggeliat, sesaat matanya terbuka perlahan. Kepalanya sungguh terasa berat. Pandangannya ke atas langit-langit kamar serba hitam. Seketika ia baru menyadari sesuatu, seharusnya saat ini ia masih berada di parkiran supermarket tetapi apa ini? kamar siapa ini? wangi maskulin yang tertinggal membuatnya memejamkan mata sesaat, wangi maskulin yang tidak asing baginya, tetapi ia lupa kapan itu.


Arabelle bangun dengan kepala pusing. "Aku dimana?" rasa takut mulai menghantuinya, apa lagi seluruh isi kamar itu memiliki aura menyeramkan. Di dinding terpajang lukisan hampir keseluruhan menyerupai rupa singa, hewan paling buas.


Melihat gigi taring tajam itu membuat Arabelle bergidik ngeri, seperti ingin mencabik tubuhnya sehingga membuat tatapannya ke bawah.


Klek


Pintu kamar terbuka. Muncullah dua pria berotot serta wajah sanggar, menghampiri Arabelle. Hal itu membuat Arabelle ketakutan sehingga memundurkan langkahnya. "Ka-kalian siapa?" tanya Arabelle dengan gugup. Siapa yang tidak takut melihat penampilan seperti dua pria itu. Tubuh mereka dipenuhi tato, serta di wajah terdapat bekas jahitan gitu.


"Ikut kami, jangan banyak tanya," ujar salah satu dari mereka.


"Aku tanya kalian si-siapa?" tanya Arabelle memberanikan diri. "Ke-kenapa kalian menculikku?" imbuhnya.


"Bawa dia! Nanti juga Nona tahu," ujar teman si pria tadi.


"Lepas! Jangan sentuh aku! Lepas....." Teriak Arabelle menepis tangan kekar pria itu yang ingin menjangkau lengannya.


Ergh...


Erang kedua pria itu. Mengeram kepada Arabelle. "Jika tidak ingin dipaksa, ikuti perintah kami," bentaknya. "Ikut kami, bos sudah menunggu." Bentaknya kembali, hal itu membuat Arabelle menurut.


Mereka membawa Arabelle menuruni anak tangga tanpa menyentuh tubuh Arabelle karena bisa saja mereka mendapat amukan dari bos mereka.


"Gadis ini sangat cantik. Lihat tubuhnya sangat adu...."


Buk


"Kau berani mengagumi gadis itu? apa kau sudah bosan hidup? andai bos dengar mulut mezvm kau itu maka tamatlah riwayatmu," bisik temannya.


"Tolong jangan katakan itu kepada bos," pungkasnya dengan wajah pucat pasi, tadi ia tidak sadar mengatakan itu.


Hmm


"Asalkan si montok Alice serahkan kepadaku," ancam temannya seakan tertarik dengan wanita milik pria itu.


"Baiklah, akan aku serahkan Alice untukmu tetapi tutup mulutmu tentang ini," ujarnya. "Alice sayang aku tidak bisa bermain denganmu lagi," gumamnya dengan wajah datar.


"Apa yang kalian bisikan?" ucap Arabelle menghentikan langkahnya menuruni tangga, hal itu hampir saja membuat dua pria itu menubruk punggungnya, jika saja mereka tak hati-hati.

__ADS_1


"Bukan urusanmu Nona," bentak mereka. "Jalan," perintahnya agar Arabelle melanjutkan langkahnya.


Di ruang tengah Ben baru saja tiba.


"Mana gadis itu? bawa sekarang juga. Aku sudah tidak sabar ingin menyiksanya!" Ujar Ben dengan mata tajamnya sembari mengepalkan tangan. Bahkan ia belum sempat melepaskan topeng kulitnya.


"Ada di kamar bos, belum sadarkan diri," ujar salah satu dari mereka.


Ben menatap dengan aura membunuh. "Apa kalian membiusnya dengan dosis tinggi? jika dia mati bagaimana?" bentak Ben. Bukan dalam arti ia kasian atau iba jika hal itu terjadi tetapi kesempatan besar untuk membalaskan dendam lenyap begitu saja. "Bawa dia sekarang juga!" Bentak Ben sehingga membuat mereka bergegas.


Tepat di sekat ruangan Arabelle berpura-pura ingin ke kamar mandi dengan alasan sudah tidak tahan lagi.


"Kamar mandi di sana. Jangan macam-macam Nona, karena tempat ini ketat," ujar salah satu pria itu memperingati Arabelle.


Arabelle menatap tajam. "Apa seharusnya aku melakukannya di sini saja?" ancamnya.


"Bos sudah menunggu, jangan banyak tingkah," ujarnya dengan wajah menakutkan.


Arabelle melangkah hati-hati menuju kamar mandi. Sedangkan kedua pria itu berjaga-jaga tidak jauh dari letak kamar mandi. Sepanjang langkah pandangan Arabelle ke seluruh arah ingin mencari cela untuk melarikan diri. Benar saja apa yang dikatakan oleh dua pria itu, tempat ini tidak ada cela sama sekali. Arabelle yakin tempat ini adalah gudang singa.


Didalam kamar mandi Arabelle bukannya melakukan seperti yang ia katakan tetapi berusaha berpikir bagaimana cara ia keluar dari tempat ini. "Bagaimana caranya keluar sedangkan segala jendela tidak ada di rumah ini," gumamnya mondar mandir tak jelas.


Tok tok


"Nona!" Panggil mereka sembari mengetuk pintu kamar mandi karena Arabelle cukup lama berada didalam sana.


Klek


Dengan terpaksa ia menyudahi dan segera membuka pintu.


"Apa yang Nona lakukan?"


"Tentu saja membuang gas," sahut Arabelle dengan nada kesal. "Jika tidak percaya periksa saja," imbuhnya dengan wajah marah.


Kedua pria itu saling memandang dengan mengedikkan bahu. Melihat kedua pria itu lengah membuat Arabelle berkesempatan melarikan diri.


"Tunggu Nona," teriak mereka sembari mengejar Arabelle.


Arabelle berlari cukup kencang. Kembali menuruni anak tangga. Ia berharap bisa menemui pintu keluar. Semoga saja arah berlarinya tepat sasaran. Rumah ini cukup luas tetapi anehnya satu jendela pun tak terdapat di sana.


"Nona.... " Teriak mereka.


Mendengar teriakan kedua pria itu membuat langkah kaki Arabelle berlari semakin kencang, tanpa memikirkan resiko yang akan datang.

__ADS_1


Tepat di persimpangan dua arah, Arabelle sedikit bingung akan berlari ke arah kanan atau kiri. Tanpa berpikir panjang lagi ia berlari ke arah kiri.


Melihat arah berlari Arabelle ke arah kiri membuat dua pria itu menghentikan langkah mereka menjadi santai karena Arabelle sendiri yang akan menyerahkan diri ke kandang singa.


Arabelle berlari kencang sekuat tenaga. Ia tidak peduli lagi tubuhnya menabrak sengaja benda yang berserakan di sana.


Seketika matanya berbinar melihat cahaya terang di depan sana. Arabelle yakin jika itu adalah pintu akses untuk keluar dari rumah ini yang tak ada ubahnya seperti gudang.


Prang prang.....


Arabelle berusaha membuka dan memukul pintu ternyat dari besi itu. Sedangkan tanpa Arabelle sadari pria yang sedang duduk di kursi goyang menatap kearahnya dengan tajam. Untung saja Arabelle tidak melihat tatapan itu karena posisinya membelakangi.


Arabelle masih berusaha membuka pintu besi itu sampai-sampai tangan mulusnya memerah.


"Kau mau kemana?"


Suara bariton mengancam itu membuat gerakan tangan Arabelle terhenti. Apes tentu saja ia alami, ia yakin tidak akan bisa bebas. Sedangkan ia sudah tertangkap basah.


"Mau kabur?" seru Ben masih tetap betah berdiri dibelakang Arabelle hanya berkisar beberapa senti.


Ben memperhatikan tubuh Arabelle dari ujung kaki sampai bawah. Arabelle menggenakan rok span hitam dengan panjang di atas lutut, dipadukan kemeja warna putih. Rambut warna pirang sudah acak-acakan. Tiba-tiba jantung Ben berdebar, lekuk tubuh itu mengingatkannya kepada wanita, wanita yang ia tiduri.


Dengan segera Ben mengusap wajahnya karena itu tidaklah mungkin. Tangannya terulur kasar menarik tangan mulus Arabelle sehingga membalikan tubuh menghadap ke arahnya.


Aaak.....


Teriak Arabelle ketika mendapati wajah Ben mengenakan topeng. Dimana wajah itu sangat menyeramkan, menggambarkan wajah singa menyeramkan.


Arabelle memundurkan tubuhnya sedikit demi sedikit menjauhi Ben. Ben tidak dapat melihat jelas wajah Arabelle karena sebagian ditutup oleh gumpalan rambutnya.


Ben mengikuti alur langkah mundur Arabelle. "Berhenti!" Ancam Ben agar Arabelle menghentikan langkah mundurnya.


Arabelle menggeleng. Sesaat ia mengangkat wajah sembari menyibak seluruh rambutnya sehingga wajah cantik itu terpampang.


Deg


Seketika langkah Ben terhenti dengan tatapan membulat. Wajah cantik itu tentu saja membuatnya sangat kaget. Bahkan tidak percaya hal ini. Ben mengusap matanya untuk memastikan sekali lagi tetapi ia tidak salah melihat. Sedangkan Arabelle tetap mundur sembari menggeleng kepala dengan wajah ketakutan.


"Dia, dia...."


Mata elang itu tak berkedip.


"Berhenti! Awas....." Teriak Ben seketika menyadari sesuatu yang akan di senggol Arabelle sembari berlari kencang.

__ADS_1


Awww..... hiks.... hiks....


Bersambung.....


__ADS_2