MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 47. Jane Menantang Bram


__ADS_3

🔥🔥🔥


Malam di mana sesosok wanita sedang keluar dari sebuah restoran. Ia baru saja usai makan malam seorang diri.


Tiba-tiba di parkiran ia dihadang 2 pria bertato.


"Nona ikut kami," ujar salah satu dari 2 pria itu.


"Kalian siapa?" tanya wanita itu.


"Kami diperintahkan Tuan Almero. Jadi Nona Jane jangan banyak bertanya," ujar mereka. Ya wanita berkaca mata itu adalah Jane, mantan asisten dari perusahaan ALMERO GROUP.


"Tuan Almero?" gumam Jane sedikit gugup. Entah kenapa mendengar nama pemilik perusahaan yang telah tersegel itu membuat dirinya takut.


"Aku tidak bisa, katakan kepada Tuan Almero karena aku tidak ada urusan lagi," ucap Jane berusaha tenang.


"Baiklah jika Nona memaksa. Bawa dia!" Ujar salah satu pria itu.


Jane dipaksa masuk kedalam mobil. Dengan sekuat tenaga Jane memberontak tetapi bagaimanapun tenaganya tak sebanding dengan kedua pria itu.


"To-tolong....." Teriak Jane.


"Bius dia!" Sapu tangan berisi bius membungkam mulut Jane.


Buk buk


Tiba-tiba tendangan melayang dari arah belakang, hingga membuat kedua pria itu tersungkur.


Buk buk


Sekali lagi dua tendangan melayang menghantam wajah keduanya.


Dengan gerakan cepat pria bermasker itu membawa Jane, lalu membawanya kedalam mobil miliknya.


Dalam sekejap mobil itu melaju membelah kegelapan malam.


Di kursi bagian belakang Jane tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius.


Pria itu membawa Jane ke apartemennya. Jane digendong ala bridal.


Tiba didalam kamar pria itu membaringkan tubuh Jane di atas ranjang.


Glek


Seketika pria itu menelan ludah mendapati dua semangka menyembul dikarenakan beberapa kancing kemejanya terlepas. Mungkin akibat dipaksa oleh dua pria tadi.


Ssst....


Desisnya menyelusuri seluruh penampilan Jane, dan kini berpusat di bibir tebal menggoda itu.


Jiwa kelelakian sudah memuncak sehingga kini ia mencondongkan wajahnya untuk meraup bwbir tebal itu.


Seketika kedua mata Jane terbuka lebar. Hingga ciuman itu meleset.


"Kamu siapa?" gumam Jane masih dengan wajah kebingungan. "Bram! Kamu ingin memper kozaku Bram?" teriak Jane, langsung mengenali Bram.


"Tutup mulutmu Jane. Siapa yang ingin menyetubuhi wanita seperti kau," elak Bram dengan mulut pedasnya tak sesuai fakta.


"Sudah tertangkap basah masih saja mengelak," cecar Jane dengan sangat marah. Ia langsung bangun dari pembaringannya, denyut di kepala masih terasa berat.


"Sangat percaya diri. Aku hanya ingin memastikan kau masih hidup atau sudah mati jadi jangan berpikiran aneh. Kenapa kau diseret dua pria tadi?"


Jane merubah wajah serta sorot matanya. Ketika ia mengingat kejadian beberapa menit itu.


"Mereka ingin membawaku, atas perintah Tuan Almero. Tetapi aku menolaknya karena hubunganku dengan mereka tidak ada masalah lagi," terang Jane.


"Kenapa kau tidak ingin menuruti perintahnya?"


"Aku hanya tidak ingin ada masalah, sepertinya Tuan Almero menyembunyikan sesuatu. Misalnya Nona Almero sampai sekarang tidak ada kabar, menghilang misterius," imbuhnya.


Bram terdiam. Ia baru yakin bahwa Jane benar-benar tidak mengetahui keberadaan Arabelle.


"Sepertinya Tuan Almero bukan orang sembarangan," sambung Jane.


"Apa kau tau keberadaannya sekarang?"


Jane menggeleng. "Aku sama sekali tidak mengetahuinya, bahkan beberapa hari yang lalu Nyonya Almero mengajakku bertemu untuk menanyakan keberadaan Tuan Almero. Sangat aneh bukan? istri sendiri tidak tau dimana keberadaannya. Selama 1 bulan ini mereka tak bertemu dan sama sekali tak mendapat kabar," papar Jane.

__ADS_1


Bram berpikir sejenak, mencerna semua ucapan Jane. Apa yang Jane katakan benar.


Aaaak......


Teriak Jane seraya menutup dadanya ketika baru sadar jika kini dua bukit kembarnya menyembul.


"Baru sadar?"


"Ini, ini pasti perbuatanmu?" tuduh Jane dengan tatapan tajam menatap Bram.


"Terlalu percaya diri. Sedikitpun dua biji mataku ini sama sekali tak melirik benda sekecil itu, asal kau tau!" Ujar Bram.


"Gede begini dibilang kecil, apa matanya bermasalah," batin Jane tidak Terima dikatai oleh Bram bahwa bukit kembarnya kecil.


Jane membalikan tubuh, merapikan kembali penampilannya.


"Aku ingin pulang. Tidak baik berada di apartemen seorang pria mezvm," sindirnya.


Bram menyipitkan mata mendengar umpatan Jane. "Aku sudah menyesal menolong wanita sepertimu. Sedikitpun tak ada niat ucapan terima kasih," ujar Bram.


Jane tertekun, benar yang di sindiran Bram. Sepertinya kedua pria tadi berniat jahat kepadanya. Untung saja ada Bram yang tepat waktu.


Pada saat itu Bram ingin makan malam di restoran tersebut. Turun dari mobil, ia mendengar sayup-sayup perdebatan diseberang mobilnya. Ia mencoba mendekat ternyata ia mengenai wanita tersebut.


Setelah Jane pingsan, Bram langsung bertindak.


"Terima kasih Bram. Jika kamu tidak tepat datang aku tidak tau apa yang terjadi. Hmm bolehkah untuk sementara ini aku berdiam diri di apartemenmu? aku takut. Mereka pasti akan mencari keberadaanku," ucap Jane serius, bahkan ia melangkah mendekati Bram.


Bram terdiam, mencerna setiap ucapan Jane.


"Aku tidak memiliki keluarga lagi, jadi hanya kamu orang yang bisa aku minta bantuan selain Nona Almero," sambung Jane dengan wajah menunduk.


Bram menghela nafas.


"Bukankah tadi kau mengatakan ingin pulang, dan tidak baik satu apartemen dengan pria?" ujar Bram mengulangi ucapan Jane. Ia hanya ingin mengerjai Jane.


"Baiklah jika kamu keberatan. Aku akan pulang," lirih Jane dengan wajah sendu.


Jane membalikan badan, lalu meraih tas jinjingnya yang tergeletak di atas ranjang.


"Terima kasih," lirihnya.


Mata Jane membulat dengan tubuh membeku merasakan kedua tangan kekar melingkar di pinggangnya.


Hah....


Mulut Jane menganga merasakan pelukan itu semakin erat.


Bram membalikan tubuh sintal Jane agar menghadap kepadanya. Tangannya terulur merapikan helaian rambut Jane yang menghalangi wajahnya.


"Tinggallah di sini selama yang kau inginkan," ujar Bram dengan lembut, bahkan nada lembut ini baru pertama untuk Jane.


Jane mengangguk gagap karena posisi mereka sangat intim.


Sorot mata Bram tak lepas pada bwbir tebal menggoda itu.


Cup


Bram menjangkau bwbir Jane, meraupnya sampai penuh. Mata Jane membulat tak menyangka apa yang dilakukan oleh Bram.


Civman itu semakin dalam sehingga pertahanan Jane runtuh. Bram menarik bibirnya merasakan civman itu mendapat balasan.


Jane mengimbangi. Keduanya larut dalam kenik mattan.


Hmmp


Keduanya kehabisan oksigen. Lalu terpaksa menyudahinya. Tatapan penuh hasrat dari keduanya, itu menandakan menginginkan sesuatu yang lebih dalam.


Bram kembali mencumbu Jane lebih dalam lagi. Bohong jika ia tak tergoda dengan tvbvh sintal Jane.


Awww....


Bukan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Jane tetapi kenik mattan yang baru pertama kali ia rasakan. Dimana saat ini Bram bermain di salah satu daging kenyal yang selalu dikatai kecil oleh Bram.


Bram membawa tvbvh Jane, meletakkannya di atas meja makan.


Bagaikan seorang bayi yang sudah kelaparan ia menghisap pucuk daging kenyal itu secara silih berganti.

__ADS_1


Ssst


Kicauan Jane.


Jari-jemari kasar Bram turun ke bawah, mencari inti utama. Tepat di inti utama, jari telunjuk itu digesek-gesekan hal itu membuat saraf-saraf Jane tak terkendali.


"Kau menyukainya baby?" bisik Bram dengan suara serak seperti menahan sesuatu.


"A...... Bram aku, aku ah...."


Jari itu mengobrak-abrik gua sempit milik Jane.


Bram menghentikan aktivitas itu, hal itu membuat Jane kecewa.


"Kau sudah ba sahh."


"Kenapa, kenapa berhenti?"


Bibir Bram melengkung mendengar protes dari Jane. Ia bersorak girang karena berhasil menggoda Jane, wanita sok jual mahal selama ini.


"Kau kaku Jane, aku tidak suka. Aku suka wanita liar, yang mampu memimpin." Bram sengaja memanas-manasi Jane karena ia tau Jane pasti tak terima.


Seketika darah Jane mendesir mendengar Bram meremehkan dirinya. Memang hal ini baru pertama kali tetapi bukan berarti ia tak berpengalaman. Ia suka menonton adegan dewasa jika ada kesempatan disela kesibukannya.


Jane menurunkan kedua kakinya. Lalu mendekati Bram. Ia ingin membuktikan bahwa tuduhan Bram itu tidaklah benar.


"Akan aku buktikan, kamu tidak akan bisa melupakannya," bisik Jane halus seraya menji latti daun telinga Bram.


Tangan halus Jane membuka satu-persatu kancing kemeja yang dikenakan Bram. Kini tvbvh bagian atas Bram sudah polos.


Jane melakukan seperti yang Bram lakukan tadi pada tvbvhnya.


Ssst


Bram mengeram mendapati seluruh dada serta lehernya di Hi sapp oleh Jane.


Kini pandangan Jane ke bawah, memandangi sesuatu yang menonjol di balik celana. Tentu saja jantungnya berdebar mendapati benda keramat itu.


Dengan tangan bergetar serta wajah memerah Jane memberanikan diri membuka celana yang dikenakan oleh Bram.


Senyuman mengembang di bibir Bram ketika lihat kegugupan Jane. Ia paham jika Jane tak pernah melakukan itu.


Hah....


Mulut Jane menganga melihat benda keramat itu dengan nyata. Seumur-umur baru kali ini melihat langsung benda keramat orang dewasa.


Waww.....


Kicauan Bram merasakan miliknya berada dalam rongga mv lvvt Jane. Memainkan li dahh nya di batang benda keramat itu.


Tidak tahan lagi Bram mengangkat tvbvh Jane, membawanya ke kamar. Dibaringkannya dengan lembut di atas kasur.


Kembali lagi ia mencumbu bwbir Jane, memberi rang sangan.


"Aku akan mulai."


"Aku takut. Apakah sakit?"


"Aku akan pelan- pelan."


Aaaa.....


Teriak Jane seraya meremas seprei serta rambut Bram.


Bram me g hentikan sejenak, ini hanya setengahnya saja yang masuk.


"Sakit."


Bram berinisiatif membungkam mvlvt Jane dengan mvlvt nya, serta jarinya memelintir pucuk daging kenyal itu hingga benda keramat itu menerobos gua milik Jane.


Sakit awal yang di rasakan berubah menjadi kenik mattan tiada tara.


Bram semakin memacu dengan kecepatan lebih, ingin mencapai puncak.


A..... a....


Er anggan keduanya memenuhi isi kamar malam itu. Menandakan mereka mencapai puncak.

__ADS_1


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2