
🔥🔥🔥
2 hari sudah Arabelle di apartemen. Tentunya bersama Ben. Selama itu juga Ben tidak merasakan pusing bahkan mual seperti biasanya.
Keinginannya terus lengket dari Arabelle. Arabelle tentulah merasa aneh. Ben yang kejam tanpa perasaan kini berubah seperti anak bayi yang baru lahir. Ia akan bisa tidur jika dikelon seperti anak bayi.
Seperti yang terjadi sore ini, dimana saat itu mereka bersantai di balkon apartemen. Memandangi pemandangan kota Rusia.
Seperti biasanya Ben terbaring dengan kepala berada di kedua paha Arabelle.
Entah spa yang membuat Arabelle seakan nyaman dengan perlakuan Ben. Dimana Ben selalu membenamkan wajahnya di perutnya.
Bukankah seharusnya ia merasa gerah dan bahkan jijik, mengingat sekarang Lexsi sedang mengandung buah cinta mereka.
"Bagaimana jika malam ini kita makan....." ujar Ben menjedah karena tiba-tiba menginginkan sesuatu.
"Pinggir jalan....!" Seru keduanya serempak.
Hah..
Arabelle mengatup mulutnya karena tak menyangka bahwa mereka bisa serempak mengatakan kalimat yang sama.
"Baiklah, malam ini aku berbaik hati akan membawamu keluar, " ujar Ben.
Arabelle menatap Ben dengan seksama, ia hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Bagaimana jika kau mandikan aku lagi seperti tadi pagi," titah Ben.
Arabelle semakin merasa aneh dan perasaannya lebih kuat ke mendasar bahwa Ben sedang mengidam anak yang dikandung Lexsi. Tetapi kenapa ia memanfaatkan dirinya untuk mengurusi dirinya.
Mau tidak mau Arabelle menyanggupinya. Benar apa yang dikatakan Ben, Arabelle hanya menurut saja, bahwakan ia merasa senang untuk melakukannya.
**
Kini mereka sudah bersiap-siap untuk mencari makanan di luar. "Bagaimana jika kita berjalan kaki saja? sepertinya lebih seru," usul Arabelle tanpa merasa takut. "Biar memudahkan kita menyelusuri jalan," imbuhnya.
Ben berpikir sejenak. Apa yang diusulkan Arabelle sepertinya menyenangkan.
"Baiklah. Hmm Pakaikan mantel, cuaca dingin malam hari tidak baik untuk kesehatan," ujar Ben sepertinya sangat peduli.
Demi apapun seorang Arabelle tertekun dan percaya dengan perubahan Ben.
"Kok bengong?" ujar Ben hingga lamunan Arabelle membuyar.
"Baiklah. Kamu juga kenakan mantel," ucap Arabelle.
"Aku kuat jadi tidak perlu," sahutnya.
"Kamu lagi sakit, jadi jangan membantah," ucap Arabelle sehingga membuat Ben pasrah.
Keduanya keluar dari Apartemen. Saling bergandengan tangan.
Benar apa yang Arabelle katakan. Sangat seru, banyak warga sekitar menikmati jalan malam.
"Apa yang membuatmu berubah? seakan aku tak mengenal dirimu," ucap Arabelle karena merasa aneh.
Ben menghentikan langkahnya, sehingga membuat langkah Arabelle juga terhenti.
"Aku tidak ingin membahas soal itu, jadi jangan dibahas karena nanti bisa mempengaruhi mood," ujar Ben menekankan.
__ADS_1
Arabelle menunduk dan ia pasrah saja.
"Sepertinya kita salah arah. Lihat di seberang sana banyak makanan di pinggir jalan," ucap Arabelle seraya menunjuk ke arah seberang jalan.
Keduanya menyeberangi jalan. Dengan sabar Ben mengiring Arabelle. Apa lagi langkah Arabelle sangat lamban, sedangkan ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini sejak kecil.
Awww
Tiba-tiba Arabelle merasakan perutnya kram, mungkin akibat terlalu terburu-buru berjalan.
"Ada apa?" tanya Ben dengan wajah serius.
Arabelle menggeleng, tidak ingin mengatakannya hingga membuatnya berbohong.
"Kakiku tidak sadar menendang sesuatu," bohong Arabelle.
Ben mengangguk dan mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat jual makanan.
"Wah ada sosis, aku mau itu," gumam Arabelle.
"Sosisku lebih lezat serta nikmat dari sosis itu," goda Ben berbisik karena cukup panjang antrian.
Jleb
Seketika wajah Arabelle bersemu merah.
"Kau tunggu di sini biar aku mengatasi antrian ini. Aku tidak betah seperti ini," ujar Ben ingin menerobos dari barisan.
"Jangan! Kasian mereka sudah sejak tadi mengantri. Hmm apa kamu tidak kasian dengan Ibu-ibu hamil itu?" ucap Arabelle, baru menyadari ada 5 Ibu hamil.
Melihat wanita hamil membuat Ben tiba-tiba mengarah ke perut rata Arabelle. Sedangkan yang ditatap terus saja memandang ke depan.
Dengan mata berbinar Arabelle menggenggam tangan Ben membawanya mendahului para antrian.
"Nona ingin memesan apa?"
Arabelle menunjukan beberapa makanan di sana. "Kamu tidak pilih?" bisik Arabelle kepada Ben.
"Samakan saja," sahut Ben.
Arabelle membeli berbagai macam makanan jajanan di sana. Hal itu membuat Ben membelalakkan mata saking banyaknya.
"Berapa semua?" tanya Ben seraya merogoh dompet dalam kantong celananya.
"Untuk calon orang tua muda kami gratiskan semua," ujar sang penjual tanpa terduga.
Ben maupun Arabelle saling menatap dengan dahi mengerut, tidak paham dengan yang dikatakan wanita paruh baya itu.
"Selamat menikmati. Silahkan memberi akses jalan," ucapnya dengan.
"Terima kasih Nyonya," ucap Arabelle.
Arabelle membawa Ben duduk di bundaran. Bukan hanya mereka saja yang menikmati malam indah itu.
Dengan tidak sabar Arabelle memasukan sosis bakar dalam mulutnya. "Wah enak sekali," cicit Arabelle seraya mengunyah. "Aaa...." Arabelle memberi potongan sosis baru kedalam mulut Ben.
"Sosis kok makan sosis," ujar Ben.
"Biar kamu juga dapat merasakan, bagaimana rasa sosis," sahut Arabelle membenarkan ucapan Ben, tentunya sebuah candaan.
__ADS_1
Dalam sekejap makanan itu habis, keduanya melahap sampai tak bersisa.
"Kenyang," cicit Arabelle seraya mengusap perutnya.
"Diam," ujar Ben seraya mengusap kedua sudut bibir Arabelle menggunakan Ibu jarinya, lalu tanpa merasa jijik menjilat jari jempol itu.
Mata Arabelle membuat mendapati apa yang dilakukan Ben. Arabelle menjadi canggung.
Ternyata disekitar mereka duduk, banyak pasangan yang saling bermesraan. Sepertinya pasangan pengantin baru karena keromantisan mereka masih sangat kuat.
Ben maupun Arabelle hanya bisa terdiam.
"Mereka pasti pasangan suami istri yang sedang berbahagia," batin Arabelle.
Mata Arabelle membuat dengan mulut menganga mendapat kedua lengan melingkar di tubuhnya. Ben memeluk Arabelle dari samping, tidak lama ia mengangkat tubuh kecil itu kedalam pangkuannya.
Kecupan demi kecupan mendarat di tengkuk mulus itu. Geli tentu saja menyelimuti tubuh Arabelle.
Angin malam semakin menambah keromantisan bagi setiap pasangan di sana. Termasuk pasangan ini yang tak tau kelanjutan hubungan mereka.
Butiran salju semakin besar sehingga membuat satu-persatu pasangan mulai meninggalkan tempat itu.
"Apa sebaiknya kita pulang saja?" ucap Arabelle masih dalam pangkuan Ben. "Curah salju semakin besar, tidak baik untuk kesehatan. Apa lagi kamu masih sakit," imbuhnya seakan mengkhawatirkan penyakit Ben.
Yang paling utama lagi perasaannya tiba-tiba tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang menimpa mereka. Dengan cepat Arabelle menepis rasa itu, ini hanya perasaannya saja.
"Baiklah."
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang.
Huk huk....
Tiba-tiba Ben batuk tak berhenti, sedangkan di tangan keduanya tidak ada persediaan air mineral.
"Kamu tunggu di sini, biar aku beli minum di sana," ucap Arabelle sembari menunjuk ke arah sana.
Huk huk
Ben kembali batuk. Tenggorokannya kering.
"Tidak perlu, apartemen sudah dekat," ujar Ben.
"Tunggu sebentar saja."
Cup
Setelah mengatakan itu tanpa disangka Arabelle mengecup pipi kanan Ben.
Ia pun berlari kecil menuju kedai di sana.
Ben membeku tak percaya. Ia memandangi Arabelle sampai di kedai itu. Jarak mereka hanya beberapa meter saja.
Tiba-tiba
"Jangan bergerak! Jika tidak, kepalamu akan pecah saat ini juga."
Bersambung🔥🔥🔥
"
__ADS_1