MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 30. Biar Saja Aku Mati


__ADS_3

🔥🔥🔥


Ben meloncat meraih tangan Arabelle tanpa peduli dengan nyawanya. Kini keduanya saling bergantungan di atas ketinggian.


Dibawah sana heboh dengan teriakan. Meneriak kejadian di atas. Bram berusaha mencari pertolongan.


"Lepas, lepaskan tanganku," lirih Arabelle dibawah Ben seraya berusaha menepis tangan Ben. Sedangkan di atas Ben bersusah paya mengumpulkan tenaganya bergantung dengan tangan sebelah.


"Dasar wanita bodoh," umpat Ben seraya berusaha menarik tangan Arabelle sekuat mungkin.


"Lepas, lepaskan biar aku mati. Aku sudah tidak sanggup lagi hiks hiks..... " Jeritan tangan Arabelle menadah wajah ke atas. Tatapan keduanya bertemu. Arabelle dapat melihat urat-urat leher serta otot tangan Ben menahan agar mereka tidak terlempar ke bawah.


Ssst


Ben mendesis, kuat tenaga menarik tangan Arabelle perlahan.


Tes tes


Lelehan berwarna merah mengenai wajah Arabelle. Itu adalah darah segar dari telapak tangan Ben, akibat mencengkram besi untuk bertahan di atas sana.


Aa....


Erang Ben, seperti merayap tanpa memperdulikan rasa sakit luar biasa di tangan kanannya.


Melihat kegigihan Ben tak ingin melepaskan genggamannya, membuat hati Arabelle tergerak. Belum lagi melihat darah itu semakin mengalir.


"Aku tidak ingin kau mati secepat ini Arabelle Almero....." Teriak Ben sampai puncak.


Huh.... huh.... huh....


Deru nafas keduanya terkapar di atas. Ben memejamkan mata seraya mengatur nafas yang memburu, belum lagi tenaganya habis terkuras. Baginya soal loncat, memanjat sudah mainannya sejak bergabung dengan komplotan begal sampai komplotan mafia.


Arabelle membeku diam tanpa ingin bergerak dari atas tubuh Ben. Wajah pucat pasi serta keringat bercucuran di wajah cantik itu.


Tanpa sadar Arabelle memandangi wajah Ben yang masih menutup mata dengan dada naik turun. Wajah serta tubuh penuh keringat.


Tangan mungil itu terulur mengusap luka di telapak tangan kanan Ben sehingga membuat Ben terusik lalu segera membuka mata.


Bola mata keduanya tidak bisa dihindari lagi. Bola mata yang sama-sama indah itu beradu cukup dalam.


Masing-masing tidak ingin melepaskan tatapan itu. Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya. Apakah mereka tidak menyadari apa yang telah terjadi saat ini? sungguh bisa dikatakan lupa daratan.

__ADS_1


"Bos!"


"Tuan, Nona!"


Seruan dari Bram serta beberapa pelayan menyadarkan pikiran normal Ben maupun Arabelle. Hingga membuat keduanya membuang muka, lalu dengan cepat Arabelle menggulingkan tubuh lemahnya di samping Ben dengan wajah memerah.


"Bos terluka?" ujar Bram menyadari telapak tangan Ben bersimbah darah.


Ben bungkam, tidak ingin menanggapi perkataan Bram.


"Nona mari," ucap para pelayan ingin membantu Arabelle untuk bangun.


Arabelle menggeleng seraya berusaha bangun sendiri. Rasa syok tentu saja menyelimuti hatinya. Dalam beberapa detik, nyawanya melayang jika tidak lekas ditarik Ben.


Rasa bersyukur serta kecewa bercampur aduk dalam hatinya. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar, dan sebaliknya ia merasa kecewa karena masih dalam kekuasaan Ben.


Arabelle menyibak helaian rambut yang menutupi seluruh wajahnya, lalu diikat asalan seperti di cepol. Sehingga menampakan leher jenjang dipenuhi keringat.


Deg


Mata Bram melotot dengan tubuh membeku melihat wanita yang ada dihadapannya.


Untuk memastikan lagi Bram mengedipkan mata berulang kali. Tetapi wajah itu tetap sama. Ia memastikan lagi, mengusap matanya tetapi wajah itu tetap sama.


Mendengar namanya disebutkan, membuat Arabelle tertarik menadah kepalanya ke atas.


Sama halnya dengan Bram. Arabelle juga kaget tak menyangka orang yang beberapa hari ia kenal kini berada dihadapannya.


"Tuan Bram...." Gumam Arabelle seraya membungkam mulutnya.


Ben segera bangkit, dan kini sejajar dengan tubuh Bram yang masih betah menatap Arabelle dengan perasaan pilu.


Ada perasaan lega di hati Arabelle melihat Bram karena ia tidak tahu apa hubungan Bram dengan Ben saat ini, karena pikiran Arabelle belum sepenuhnya normal.


Arabelle beringsut mendekati kaki Bram. Lalu berusaha bangkit. "Tuan Bram, tolong bawa aku dari tempat ini," mohon Arabelle seraya menarik-narik tangan Bram. "Bawa aku pergi, aku tidak ingin di sini," lirih Arabelle tanpa melepaskan pegangan erat dari tangan Bram.


Bram menatap sendu dengan keadaan Arabelle yang sangat menyedihkan.


Darah Ben mendidih melihat tangan Arabelle melingkar di tangan Bram serta memohon untuk membantunya pergi.


Ben mengangkat jari, sehingga para pelayan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Apa kau tahu Bram? ternyata klien yang pernah mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita adalah wanita ini, wanita yang tak lain adalah putri dari musuhku!" Ujar Ben dengan suara meninggi, bahkan gendang telinga Arabelle sakit mendengarkannya.


Bram menggelengkan kepala atas keterkejutannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa wanita yang dinikahi Ben adalah wanita pujaan hati, bidadari surganya.


Rahang Bram mengeras menahan sesuatu gejolak dalam hati. Perasaan sakit tentu saja ia rasakan, bagaimana tidak wanita yang memporak-porandakan hatinya kini berdiri memohon kepadanya dengan kehancuran berkeping-keping.


Sungguh hati seorang Bram kini, seperti di siram oleh timah panas.


"Kau salah orang, karena orang yang kau minta mohon adalah anak buahku Arabelle Almero!" Ujar Ben seperti mengejek.


Arabelle terpaku sehingga kini tangannya terlepas dari tangan Bram.


"Pergi kau Bram," fitnah Ben tidak ingin mendengar sepatah katapun dari mulut Bram. Dari cara Baram memandangi Arabelle, ia sudah tahu arti dari tatapan itu. Oleh karena itu ia tidak ingin mempertemukan mereka kembali.


Bram tak bergeming, tatapan itu masih lekat kepada Arabelle.


Tangan Ben terkepal erat. "Apa kau tidak dengar Bram!" Seru Ben dengan murka.


"Bos," Bram ingin protes karena ia ingin sekali bertanya. Tetapi seorang Ben Brylee sangat membenci orang yang berani membantah.


Mau tidak mau Bram mengikuti perintah Ben. Dengan berat hati ia berusaha melangkahkan kaki meninggalkan rooftop.


Kini tinggalah sepasang suami istri, ya tepatnya hewa* peliharaan.


Ben menatap Arabelle dengan tatapan membunuh, lebih pantas di ibaratkan ingin menelan hidup-hidup.


Arabelle tidak berani membalas tatapan mengerikan itu, ia hanya bisa tertunduk lemas.


"Jangan kau kira semudah itu untuk mati karena aku orang pertama yang akan menghalangi. Malaikat iblis belum saatnya menjemput karena misi balas dendam ini belum usai. Camkan itu!" Serkas Ben dengan menekankan. Jangan ditanyakan lagi bagaiman ekspresi wajah serta mata itu.


Hahaha....


Tawa terbahak-bahak itu membuat seorang Ben terbelalak. Bagaimana tidak, tawa itu berasal dari mulut Arabelle.


Arabelle tertawa terbahak-bahak dihadapan Ben. "Pasti kamu mengatai aku kerasukan setan? gila? ya apa yang ada dalam pikiranmu itu, itulah kebenarannya," ucap Arabelle seakan tidak takut.


Setelah mengatakan itu serta menertawakan dirinya sendiri Arabelle melangkah gontai menjauhi Ben. Arabelle berusaha menaiki tangga akses menuju balkon.


Ben memandangi tubuh lemah itu sampai menghilang di balik pembatas.


Tiba di balkon. Arabelle merosot ke lantai dengan memeluk kedua lututnya, tepat di pojokan kolam renang. "Hiks..... hiks....sampai kapan aku seperti ini?" tangis Arabelle begitu pilu.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Arabelle, ternyata Ben memperhatikannya dengan jarak beberapa meter. Entah apa yang ada dalam pikiran serta hati Ben melihat kerapuhan istri yang terpaksa ia nikahi demi misi balas dendam.


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2