MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 22. Menikah


__ADS_3

🔥🔥🔥


"Awww.....hiks.... hiks...." Teriak serta tangis Arabelle. Bagaimana tidak kaki kirinya tersiram air keras yang tidak sengaja ia senggol. Seluruh pergelangan kaki serta telapak kaki tersiram.


Ben serta anak-anak buahnya mendekati Arabelle. Bahkan tangan Ben tidak dapat menarik tubuh Arabelle sepenuhnya sehingga musibah itu tak bisa dihindari. Andai saja Ben membiarkan Arabelle, mungkin saja air keras itu menyirami seluruh tubuh mulus Arabelle.


"Panas.... panas....." Teriak Arabelle disertai tangisan.


Tanpa aba-aba Ben menggendong Arabelle membawanya ke kamar mandi terdekat. Sampai kamar mandi ia menyalakan kran, lalu membasuh telapak kaki Arabelle dengan aliran air kecil. Arabelle meronta-ronta ingin menarik kakinya.


"Panas.... panas.... " Teriak Arabelle tak henti. Air matanya sudah membanjiri wajahnya. Rasa sakit luar biasa tidak bisa ia bendung lagi, bahkan ia tak peduli dengan wajah menyeramkan Ben. "Sakit, panas Bibi....." lirih Arabelle memanggil orang yang berjasa dalam hidupnya. Tidak lama ia kembali tak sadarkan diri.


"Panggil dokter," ujar Ben. "Siapa yang meletakan air keras itu sembarangan?" bentak Ben.


Semua anak buahnya hanya bisa menunduk melihat kemarahan Ben. Mereka sedikit heran kenapa Ben seakan peduli dan ada kekhawatiran di wajahnya. Mereka dapat melihat jelas raut kekhawatiran di wajah Ben karena kini Ben membuka topengnya.


Ben menggendong Arabelle ala bridal, membawa kembali ke kamar. Sedangkan para anak buahnya membereskan pekerjaan mereka.


Tiba di kamar Ben membaringkan tubuh Arabelle dengan penuh hati-hati. Tatapannya kembali ke wajah Arabelle. Ia menatap Arabelle lekat-lekat. Ia yakin jika tidak salah orang.


"Aku yakin gadis ini adalah dia. Lihat lesung pipi serta wajah manisnya itu," gumam Ben dengan jantung berdebar.


Deg


Seketika ingatannya ke misi awal sehingga membuatnya mengeram. Sorot mata tajam serta rahang mengeras kini sangat menakutkan. "Kau akan aku siksa perlahan, dan kau akan aku Sandra untuk alat balas dendamku. Daddy brengsek kau akan mengalami apa yang aku alami," ujar Ben dengan aura membunuh.


Tidak lama dokter pribadi masuk dengan menenteng tas medisnya. "Apa yang terjadi bos?" tanya pria berkaca mata itu.


"Kau bisa lihat sendiri. Obati dia dan hilangkan bekas bakar itu," ujar Ben.


"Tersiram air keras? ini luka bakar cukup serius," papar dokter tersebut langsung tahu. Dengan segera ia mengeluarkan alat medisnya, membersihkan luka itu dengan penuh hati-hati. "Ini memerlukan waktu beberapa minggu untuk kembali seperti kulit semula," imbuhnya.


"Apa tidak ada obat untuk sekarang juga? berapapun akan aku bayar," ujar Ben.


"Semua butuh proses. Sepertinya gadis ini sangat penting bagimu bos. Siapa Nona ini? sungguh cantik."


"Urus dia! Ingat jangan macam-macam." Ben langsung berlalu begitu saja.


"Siapa gadis cantik ini?" batin pria itu.


Awww....


Rintihan Arabelle sembari menghentakkan kakinya, ia tersadar karena merasakan perih. Lalu perlahan membuka mata. "Siapa kamu?" gumam Arabelle seketika melihat pria itu sedang memegang kapan dengan gunting. "Apa yang ingin kamu lakukan?" bentak Arabelle berusaha bangun dengan rasa takut.


"Jangan takut Nona, saya hanya mengobati luka anda. Mohon tenang agar saya dapat membalut luka itu," ujarnya lembut kepada Arabelle.


Arabelle akhirnya diam, jujur luka bakar ini sangat sakit luar biasa. Karena itu ia ingin segera diobati.


"Sakit sekali," lirih Arabelle menjerit tertahan. "Bisa kamu bantu aku keluar dari sini?" cicit Arabelle memberanikan diri. Mendengar perkataan Arabelle membuat dokter itu berpikir jika Arabelle pasti diculik oleh Ben.


"Itu bukan tugas saya Nona," sahutnya tanpa menghiraukan perkataan Arabelle, ia terus mengobati luka itu sampai selesai. "Ini salep harus digunakan secara rutin, dan ini obat pereda nyeri," imbuhnya sembari memberikannya kepada Arabelle.


Arabelle diam tanpa berniat meraih obat yang diberikan dokter tersebut sehingga membuatnya meletakkan di atas kasur.

__ADS_1


"Jika ingin cepat sembuh minum serta oles obat itu dengan rutin karena luka bakar itu akan membekas di kulit anda. Sangat disayangkan bila diabaikan karena akan mengurangi kecantikan anda," papar pria itu sengaja agar Arabelle tidak mengabaikan.


Mendengar cemoohan itu membuat Arabelle menyipitkan matanya dengan perasaan kesal. "Bantu aku keluar dari sini," teriak Arabelle ketika menyadari dokter itu berjalan menuju pintu.


Awww....


Desisnya merasakan luka bakar itu bergesekan dengan seprei. "Siapa pria dengan wajah menakutkan itu? atas dasar apa ia menculik serta menyandera diriku?" gumam Arabelle sembari menatap luka bakar di seluruh pergelangan kaki.


🔥🔥🔥


Beberapa minggu kemudian


"Kalian ingin bawa aku kemana?" ucap Arabelle dengan tatapan sendu. Selama 2 minggu ini ia hanya berdiam di kamar, bisa dikatakan dikurung. Sedangkan selama itu Ben tidak pernah menampakan dirinya di hadapan Arabelle.


"Jangan banyak tanya Nona. Ikut saja perintah kami karena ini adalah perintah bos," umar salah satu dari mereka. Sebenarnya mereka tidak tega melihat Arabelle dikurung seperti itu tetapi ini sudah tugas mereka.


"Aku ingin pulang, kasian Bibi sama Daddy. Pasti selama ini mencariku," lirih Arabelle sudah tidak bisa menahan air matanya. "Aku ingin pulang," ulangnya kembali dengan terisak.


"Itu yang aku inginkan!" Suara bariton itu membuat semuanya terdiam. Ternyata Ben menyusul ke kamar karena mereka cukup lama dengan setelan jas warna hitam dengan dalaman warna putih.


"Apa salahku?" ucap Arabelle dengan nada pelan.


"Nanti juga kau akan tau. Kenakan ini segera," ujar Ben sembari melemparkan gaun indah berwarna putih mengenai wajah sembap Arabelle. "Keluar!" Titah Ben kepada semua anak buahnya.


Kini tinggallah mereka berdua. Ben masih mengenakan topengnya, hal itu membuat Arabelle tak berkutik. Rasa takut tentu saja menyelimuti dirinya.


"Pria ini sungguh kejam. Apa wajahnya cacat sehingga betah menggenakan topeng? atau itu rupa sebenarnya? tetapi dari postur tubuhnya begitu sempurna," batin Arabelle sembari memperhatikan Ben dengan ujung Matanya.


"Untuk apa gaun ini?" tanya Arabelle dengan gugup.


"Kau bukan orang bodoh jadi bisa membedakan pakaian khusus apa itu. Segera kenakan karena aku tidak ada waktu," bentaknya kembali sehingga membuat Arabelle terkaget.


Arabelle melangkah cepat ke arah kamar mandi tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan Ben. "Mau kemana kau?" suara hentakan itu membuat Arabelle memejamkan mata.


"Mau memakai gaun ini. Menurutmu aku mau apa?" ucap Arabelle tidak sadar, sama saja ia berani melawan.


Ben melangkah maju mendekati Arabelle. "Kau berani menjawab?"


Arabelle menelan ludah, tenggorokannya tercekat mendengar bahkan menatap sorot mata coklat kebiruan itu. Mata itu sangat indah tetapi sayangnya si pemiliknya membuatnya tak seindah yang seharusnya. "Apa aku salah menjawab? tidak mungkin juga aku berganti di hadapanmu," ucap Arabelle dengan wajah menunduk sembari mencengkram gaun tersebut.


"Apa yang harus kau tutupi karena tubuhmu itu sebentar lagi menjadi milikku. Ganti sekarang juga," ujar Ben tanpa merasa tersentuh melihat wajah serta tatapan sendu Arabelle.


"Mak-maksud kamu apa?" lirih Arabelle dengan bibir bergetar.


Sorot mata membunuh Ben membuat Arabelle bergidik sehingga membuatnya taka bisa menolak. Dengan uraian air mata Arabelle mulai membuka kancing kemeja besar yang ia kenakan, mungkin saja itu milik Ben. Satu-persatu kancing dibuka dengan jari gemetaran. Melihat hal itu hati Ben bergerak, lalu membalikan badan menghadap ke arah lain.


Arabelle menyadari posisi Ben sehingga membuatnya bernafas lega sembari mengusap dadanya. Kini gaun indah itu melekat di tubuh anggunnya. Tetapi masalahnya tangannya tak bisa menggapai resleting.


"Apakah sudah siap? aku tidak ingin membuang waktu!" Ujar Ben.


Arabelle tak menjawab karena sibuk dengan resleting gaun tersebut. Hal itu membuat Ben membalikkan tubuh dan melihat apa yang dilakukan Arabelle.


Ben mendekat lalu menepis tangan Arabelle yang sejak tadi mengambang. Seketika pandangan Ben berpusat di punggung mulus Arabelle, seketika ingatan di malam itu. Tidak ingi terjebak perasaan Ben segera me arik resleting itu. Sedangkan jantung Arabelle tak karuan, denyut nadi ingin meledak begitu saja merasakan gesekan jari-jemari kekar Ben menyentuh kulit polosnya.

__ADS_1


Hening itulah yang terjadi sesaat. Jujur Ben terkagum dengan penampilan Arabelle dengan mengenakan gaun itu. Cantik tentu saja, padahal Arabelle dengan wajah polos no make-up. Masalah tubuh jangan ditanyakan lagi, semua kaum adam akan melelehkan liur menikmati keindahan lekuk tubuh bak biola Arabelle.


"Permisi bos. Pendeta sudah menunggu," ucap anak buah Ben.


"Pendeta? apa Pendeta?" gumam Arabelle dengan mata membulat. Ia yakin dipaksa menikah dengan pria buruk rupa itu.


Tanpa berkata apapun Ben menarik tangan Arabelle cukup kasar, hal itu membuat Arabelle menjerit.


Tepat di ruang bawah anak buah Ben sudah menunggu di sana. Ben membawa Arabelle tepat di hadapan Pendeta.


"Apa sudah siap?" tanya Pendeta.


"Silahkan Pendeta," ujar Ben.


Arabelle menggelengkan mata. Bagaimana ia akan melangsung pernikahan konyol ini dengan orang asing, bahkan ia tidak tau rupa wajahnya. "Aku tidak mau, jangan lakukan itu," lirih Arabelle tanpa henti menggelengkan kepala.


Tangan Ben mencengkram erat lengan Arabelle sehingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Atas dasar apa kamu menikahiku?" ucap Arabelle.


"Sebentar lagi kau akan tau Arabelle Almero," ujar Ben dengan menyebut nama lengkap Arabelle.


Mata Arabelle membulat mendengar namanya disebutkan, sedangkan ia tidak tahu sama sekali siapa pria yang kini ingin menikahinya.


"Silahkan Tuan, Nona." Pendeta kembali mempersilahkan.


Ben memberi kode untuk sesaat. Tangannya terangkat ke atas, membuka topeng kulit kesayangannya. Perlakuan Ben tidak lepas dari perhatian Arabelle. Sedangkan semua anak buah Ben sejak tadi hanya bisa menunduk.


Deg


Tubuh Arabelle membeku dengan mata melotot mendapati rupa wajah Ben yang sangat tampan. Seketika darahnya berdesir. Apa yang sudah ia tuduh ternyata terbalik. Pria itu memiliki rupa rupawan, bahkan baru kali ini Arabelle bertemu pria penuh kesempurnaan itu tetapi ia kembali menelan pil pahit karena pria itu tidaklah memiliki hati setampan wajahnya.


Arabelle tak bergeming, tatapan kagumnya tak lepas. Itu membuat Ben tersenyum menyeringai. Ia tahu Arabelle kagum dengan ketampanannya.


"Silahkan!" Sekali lagi Pendeta mengingatkan mereka sehingga membuat kesadaran Arabelle membayar. Lalu ia menundukkan kepala.


"Turuti perintagku! Jika kau ingin kedua orang tuamu tetap hidup," bisik Ben sembari mencengkram erat lengan Arabelle.


Tatapan mata Ben membuat Arabelle percaya jika pria ini tidak main-main.


"Arabelle Almero, saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan me g hargai, sampai maut memisahkan kita."


"Ya Tuhan apa ini? aku disuruh terpaksa menerima pernikahan ini. Daddy, Mommy, Bibi hari ini Ara mengucap janji suci pernikahan dengan pria asing yang sama sekali Ara tidak kenal. Ara terpaksa karena tidak ingin sesuatu terjadi kepada kalian," Arabelle membatin.


"Ben Bryled, saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai-lamanya; Pada waktu susah maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


"Sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri."


Arabelle meneteskan air mata sepanjang pengucapan janji suci pernikahan. Semua orang menyaksikan itu. Bukan karena tangisan bahagia seperti pasangan pengantin pada umumnya, tetapi ini adalah sebaliknya. Tangisan kesedihan dan masa depan yang akan mendatangkan kehancuran.


Ben tersenyum puas. Sedikit demi sedikit misi balas dendamnya berjalan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2