
🔥🔥🔥
Mendapati sapu tangan yang tidak asing itu membuat Ben merampasnya begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Arabelle kaget.
"Untuk apa?" tanya Arabelle polos.
Ben tak menjawab. Ia melebarkan sapu tangan lembut itu, matanya terbelalak melihat tulisan kecil di ujung sisi.
Tak lama pandangannya beralih kembali kepada Arabelle yang juga sedang menatap kearahnya.
"Kembalikan sapu tangan itu, hmm apa kamu juga menyukainya? aku mohon untuk soal ini tolong jangan di ambil, itu adalah satu-satunya barang aku aku miliki," lirih Arabelle seraya memohon agar sapu tangan itu kembali ke tangannya.
Ben tak bergeming mendengar perkataan Arabelle. "Dari mana kau bisa dapat sapu tangan jelek ini?" pancing Ben seakan ingin memastikan.
"Apa? dia mengatai jika sapu tangan pengobat lara ini jelek? apa matanya sudah rabun, tak dapat membedakan bagus dan jelek?" gumam Arabelle dalam hati.
"Kau mengatai mataku rabun Arabelle Almero?" suara bariton itu membuat Arabelle hampir saja cungkir balik.
"Jangan asal nuduh," elak Arabelle dengan raut wajah masih kaget.
"Katakan dari mana kau mendapatkan sapu tangan jelek ini?" Ben kembali memancing Arabelle. "Jika kau tidak memberitahu jangan harap benda ini kukembalikan!" Ancam Ben dengan tatapan membunuh.
"Apa penting untuk dirinya?" gumam Arabelle.
Arabelle menghela nafas panjang.
"Itu sapu tangan pemberian orang yang tak kukenali karena pada saat itu aku menangis akibat memergoki mantan calon tunanganku sedang bersama wanita lain," cerita Arabelle singkat dan padat.
Mata Ben melebar seraya rahang kokoh itu bergerak sana sini.
"Tolong kembalikan," mohon Arabelle dengan tatapan sendu.
"Kau sangat menyukai sapu tangan ini?"
Arabelle kembalikan tubuhnya dengan pandangan jauh ke depan. "Benda itu adalah pengobat lara di hatinya. Aku sangat berterima kasih kepada pemilik sapu tangan misterius ini, aku yakin seseorang itu memiliki pribadi yang baik. Seharusnya aku tidak menggunakan sapu tangan itu membersihkan lukamu karena aroma menenangkan dari sapu tangan itu seakan hilang," pungkas Arabelle panjang lebar.
"Jadi kau tidak ikhlas?" ujar Ben menekankan seraya melemparkan sapu tangan tersebut sampai mengenai wajah Arabelle. "Asal kau tau akulah orang yang memberi sapu tangan itu, dimana sapu tangan itu hanya aku yang dapat memilikinya," batin Ben.
Setelah mengatakan itu Ben beranjak bangkit, keluar dari kamar itu dengan perasaan campur aduk.
Arabelle menoleh karena mendengar bunyi daun pintu begitu kuat. "Ada apa dengannya?" gumam Arabelle.
Arabelle melirik jam di atas meja. "Masih ada waktu beberapa jam lagi," gumam Arabelle seakan mata terasa berat.
__ADS_1
Ia kembali membaringkan tubuhnya dengan pandangan ke langit-langit kamar, tidak lama mata itu perlahan menutup.
🔥🔥🔥
Keesokan paginya
Di meja makan Arabelle melahap sarapan yang ia buat sendiri.
"Pelayan apa kamu melihat suamiku?" suara manja Lexsi membuat kunyahan Arabelle terhenti sejenak.
"Tidak Nyonya," sahut kepala pelayan tersebut.
"Sungguh tidak sopan," gumam Arabelle dalam diam.
Lexsi berjalan mendekati meja makan, ia sedikit kaget karena ternyata sosok Arabelle ada di meja makan.
Tanpa bertegur sapa, Lexsi langsung menarik kursi tepat di sisi Arabelle duduk. Bahkan decitan kursi itu menimbulkan suara cukup nyaring karena memang disengaja.
Cih....
Lexsi berdecih melirik kearah Arabelle dengan tatapan sinis. Sedangkan yang ditatap sedang asik menyantap sarapannya.
"Silakan Nyonya," ucap kepala pelayan seraya menghidangkan sarapan di atas meja tepat di hadapan Lexsi.
Arabelle meraih tisu, lalu mengelap bibirnya. "Hmm suami sendiri saja tidak tau, atau jangan-jangan jajan di tempat lain," sindir Arabelle ingin memanas-manasi Lexsi.
"Jangan asal bicara!" Seru Lexsi dengan lantang, bahkan menatap sinis.
"Opst aku salah ya? maaf...." Ucap Arabelle seraya beranjak bangkit, ia ingin segera menyudahi perdebatan yang tidak penting itu.
Arabelle berjalan menuju wastafel, seperti biasa mencuci gelas serta piring.
"Awas kau! Kau kira menang melawan seorang Lexsi? gumam Lexsi dengan tangan terkepal erat.
Mendengar gumam marah dari Lexsi membuat Arabelle menyunggingkan senyuman kemenangan.
"Apa semalam Ben tidur di kamar wanita itu ya?" pertanyaan itu akhirnya lolos dari mulut Lexsi. "Aku harus membuktikannya sendiri," imbuhnya seraya bangkit diam-diam.
Dengan langkah hati-hati Lexsi memasuki kamar sempit yang di tempati oleh Arabelle, ia ingin memastikan sendiri apakah pikirannya itu terjawab.
Mata Lexsi membulat mendapati dua pasang sepatu yang pastinya milik Ben tergeletak di bawah ranjang berukuran dua orang itu.
Hatinya memanas dengan aliran darah naik ke ubun-ubun. "Brengsek jadi mereka menghabiskan malam panjang di sini," gumam Lexsi dengan menggertakkan gigi
__ADS_1
"Lihat Ben kamu akan jatuh kedalam pelukan seorang g Lexsi, dan kamu tidak akan bisa menolaknya karena pesonaku," sambung Lexsi dengan senyuman menyeringai.
**
Di apartemen
Ben membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Ya setelah keluar dari kamar yang di tempati Arabelle, ia memutuskan pergi ke apartemen untuk dapat beristirahat. Jika tetap berada di Mansion malah semakin runyam akibat Lexsi.
Tatapan Ben tepat pada dinding kamar. Pikirannya kembali terlintas dimana saat Arabelle menjelaskan asal usul sapu tangan itu.
" Asal kau tau, akulah pemilik sapu tangan itu. Aku tak pernah menyangka jika wanita itu adalah kau," ujar Ben.
Tok tok
"Masuk!"
Klek
"Bos bagaimana keadaan bos?" ternyata sosok itu adalah Bram.
"Seperti yang kau lihat," ujar Ben tanpa membuka kelopak matanya.
"Bagaimana bisa bos terluka?" tanya Bram penasaran karena seorang Ben Brylee tidaklah mudah dijatuhi musuh.
"Ben menceritakan kronologinya sampai berakhir ia terluka.
" Sepertinya mereka orang kiriman baru bos, kita selalu waspada. Seperti yang di kabarkan dari kota x ada komplotan mafia yang sudah dibayar mahal untuk menemukan seseorang," ujar Bram.
"Entah lah! Urus semuanya, untuk beerapa hari ini aku akan beristirahat di sini. Untuk itu sampaikan kepada penghuni Mansion bahwa aku sedang berada di luar kota untuk 1 minggu ke depan," titah Ben.
"Baik bos," sahut Bram dengan wajah berseri-seri. Bagaimana tidak, ini kesempatannya untuk bertemu dengan Arabelle. Melihat dari kejauhan saja sudah membuat hatinya lega.
Karena saking senangnya Bram langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Apa ada hal lain lagi Bram? hingga engan membuatmu untuk beranjak," sindir Ben.
"Tidak ada bos," sahut Bram.
Ben segera membuka kedua kelopak matanya. "Ingat jangan macam-macam," ancaman Ben seakan tau apa yang sedang di benak Bram.
"Iya bos," sahutnya.
Bram akhirnya keluar dari kamar dan segera meninggalkan apartemen.
__ADS_1
"Sekarang saatnya ku seret pria brengsek itu, aku sudah puas bermain-main saat ini," ujar Ben kepada dirinya sendiri.
Bersambung 🔥🔥🔥