MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 48. Jangan Sakiti Dia


__ADS_3

🔥🔥🔥


Senyuman mengembang di bibir pria casanova, siapa lagi jika bukan Bram. Ia mendapati sisa percintaan mereka sepanjang malam, dengan pandangan pada moda darah di atas seprei. Itu bukti bahwa ia merenggut mahkota Jane.


Selama bermain dengan wanita, baru kali ini ia mendapati wanita perawan. Sungguh kebahagiaan tersendiri buat seorang Bram. Bahkan ia tidak sadar untuk menggenakan pengaman.


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Jane dengan handuk sebatas paha mungkar di tubuhnya.


Jane berjalan menunduk. Ia ingin meraih pakaian semalam.


"Aku sudah memesan pakaian untukmu. Semua sudah tertata didalam lemari," ujar Bram tanpa memutuskan pandangannya ke tubuh sintal menggoda Jane.


Mendengar perkataan Bram membuat Jane mengangkat kepalanya, hingga pandangan mereka bertemu.


Jane merasa canggung atas kejadian tadi malam. Ada penyesalan di hatinya. Ia berbuat dosa dengan pria bukan suaminya. Sebagaimana ia menyesalinya tidak akan pernah kembali lagi.


"Kapan kamu memesannya?" lirih Jane. Ia kaget melihat Bram hanya menutupi bagian bawahnya dengan handuk.


"Tidak penting itu," ujar Bram.


Jane mengerucut bibirnya, hal itu membuat Bram kembali tergoda.


Bram melangkah maju mendekati jane. Hal itu membuat Jane mundur beberapa langkah.


"Jane, aku suka dengan caramu tadi malam. Terima kasih kau mempersembahkan untukku," bisik Bram.


Glek


Jane menelan ludah, bayangan tadi malam membuatnya malu. Bagaimana tidak, mereka melakukan berulang-ulang, bahkan ia sendiri yang menggoda Bram.


Tangan Bram terulur menarik tengkuk Jane, lalu mendaratkan ciuman di bibir tebal itu. ********** sampai tertarik.


Jane berusaha mendorong dada Bram serta menggelengkan kepala, menghindari serangan Bram.


"Le, lepas Bram," lirih Jane dengan susah payah seraya menepuk. dada Bram.


Bram pun menghentikan serangannya di bibir Jane dengan jarak wajah sangat dekat.


"Ada apa? aku sangat menginginkannya lagi Jane. Sungguh tubuhmu menjadi candu buatku," ujar Bram dengan wajah memerah menhan hasratnya.


"Hentikan aku tidak ingin melakukannya lagi. Jika aku hamil bagaimana? ini perbuatan zinah bram," lirih Jane dengan wajah menunduk.


"Aku akan menikahimu, jadi jangan khawatir," ujar Bram entah itu rayuannya atau kebenarannya.


Jane menggeleng tidak percaya. "Aku tidak percaya," ucap Jane seraya membalikan tubuhnya membelakangi bram.


Ssst


Bukannya mendengar perkataan Jane. Melainkan Bram tidak tahan memandangi kemolekan tubuh Jane dari belakang.


"Bram...." Lirih Jane merasakan dua tangan mungkar di tubuhnya, serta merasakan benda tumpul menusuk di belakangnya. Jane mengigit bibir bawahnya.


Bram tidak menghiraukan Jane. Jari-jemarinya bermain di dua daging kenyal milik Jane. Entah kapan handuk yang melekat di tubuhnya merosot ke lantai.

__ADS_1


Ya ampun demi apapun Jane menolaknya akhirnya menyerah.


Tvbvh polos itu menggeliat merasakan sentuhan2 yang diciptakan sang mafia.


"A.....h. Bram.."


Jane menge rangg merasakan miliknya di obrak-abrik.


"Jane kau sungguh nik Matt.... aku suka baby. Teriak namaku baby....." bisik Bram dengan suara seraknya. Ia berhasil membuat Jane ba zahh.


Posisi Jane di atas seraya meremas miliknya sendiri. Hal itu membuat Bram di bawah sana menggelengkan kepala.


Tangan Bram bertumpu pada sisi pinggul Jane.


"Aaaa.....Bram..... Jane......"


Er angg mereka secara bersamaan.


🔥🔥🔥


Kembali ke Ben dan Arabelle


"Jangan bergerak! Jika tidak ingin kepalamu akan pecah saat ini juga."


Ben kaget mendapat serangan mendadak dari dua pria bertubuh besar tinggi dengan wajah tertutup, menodongkan pistol di kepala serta perutnya.


"Siapa kalian?" ujar Ben pura-pura berta ya padahal ia sudah tau perawakan dari kedua pria itu yang tak laun pasti komplotan mafia.


Ben baru sadar jika ia tidak ingat membawa senjata apapun, bahkan mengabari Bram serta anak buahnya. Entah apa yang membuat seorang Ben ceroboh malam ini.


Di seberang sana Rebecca memandangi arah Ben berdiri. Tetapi sayangnya ia tidak melihat dua sosok pria yang sedang mencegat atau mengancam Ben di karenakan lampu penerangan tidak terlalu terang.


Ben membalas tatapan Rebecca yang tengah tersenyum kepadanya. Ia sedang mengantri membeli minuman untuk dirinya karena tadi ia sempat batuk.


Entah kenapa melihat senyuman Arabelle membuat jantung Ben berdebar, senyuman yang pertama membuat hatinya bergetar


"Lepas dasar brengsek!" Umpat Ben.


"Sekali saja kau bergerak maka wanita cantik di seberang sana akan tinggal nama," ancam mereka.


"Silahkan saja aku tidak peduli, dia bukan siapa-siapaku," sahut Ben dengan tenang.


"Benarkah? kau lihat wanita besar yang ada di posisi belakang kekasihmu itu? perhatikan dengan baik-baik," ujarnya dengan bibir melengkung.


Mata Ben membulat melihat seorang wanita gemuk menodongkan pistol tepat di belakang bagian jantung Arabelle. Itu tanpa diketahui siapapun karena semua mengantri.


"Oke jika itu yang kau inginkan." Ancam mereka.


Ben ingin sekali membunuh kedua pria yang sedang menodongkan pistol kepadanya. Tentu ia akan menang tetapi nasib Arabelle terancam. Bisa saja wanita itu membidik pistol itu.


"Aku akan ikut tetapi lepaskan dia. Jangan sakiti dia!" Ujar Ben.


"Sepertinya kau sangat mencintainya. Kau rela demi wanita itu!"


Ben tak menghiraukan, ia masih menikmati senyuman manis Arabelle. Entah kenapa Arabelle melakukan itu.

__ADS_1


"Jangan banyak omong. Bawa aku dan lepaskan dia!" Ujar Ben. Ia ingin memberi pelajaran pada kedua pria itu didalam mobil.


**


"Duh seperti akan lama. Bagaimana jika aku segera kembali, lagi pula apartemen sudah dekat. Kenapa perasaanku tidak enak. Aku ingin segera bersama Ben," batin Arabelle.


Arabelle keluar dari barisan antrian. Wanita gemuk itupun sudah menghilang.


"Ben...." Teriak Arabelle melihat dua sosok pria membawa Ben.


Arabelle berusaha berlari kencang mengejar.


"Ben..... Ben.... " Teriak Arabelle dengan tangan melambai.


Awww....


Ia tersungkur jatuh seraya memanggil nama Ben yang sudah dibawa pakai mobil hitam.


Didalam mobil Ben melihat apa yang terjadi kepada Arabelle. Arabelle berlari mengejar mobil itu sampai terjatuh seraya memanggil namanya.


"Siapa mereka? kenapa mereka membawa Ben?" ucap Arabelle sembari terisak, masih terduduk di rerumputan.


Dengan segera Arabelle bangkit, ingin kembali ke apartemen. Keadaan pun sudah mulai sepi.


Tiba-tiba langkahnya terhenti karena kakinya menginjak benda. Dengan penasaran Arabelle berjongkok ingin melihat benda yang ia injak.


"Ponsel," gumam Arabelle masih mengeluarkan air mata. "Apakah ini milik Ben?" imbuhnya karena wallpaper itu menampilkan sebuah gambar Singa.


Arabelle menggenggam ponsel tersebut, berjalan setengah berlari menuju apartemen. Ada rasa takut menyelimuti dirinya.


Beberapa menit ia sudah tiba di apartemen, tepat di unit milik Ben. Sayangnya ia tidak tau sandi pintu apartemen tersebut.


"Bagaimana ini? aku juga tidak tau sandi ponsel ini?" lirih Arabelle seraya mondar-mandir.


Arabelle ingin pergi ke pihak manajer. Tetapi langkahnya terhenti melihat ponsel bergetar dan nama tertera adalah Bram.


"Bram," lirih Arabelle dengan mata berbinar-binar.


["Bram ini aku Arabelle. Cepat datang ke sini? di apartemen Ben. Aku tidak bisa masuk karena tidak tau sandi."]


Arabelle tidak menunggu sahutan dari Bram. Ia langsung mengatakan Bram harus segera datang ke apartemen milik Ben.


Arabelle mendapat sandi itu dari Bram, dan sebentar lagi Bram akan datang menemuinya.


"Angka ini?" seketika Arabelle tersadar dengan angka yang disebutkan Bram dalam sambungan telepon setelah ia berhasil membukakan pintu apartemen itu.


Angka sandi itu adalah tanggal pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu.


Arabelle menggelengkan kepala. "Apa aku yang salah?" gumamnya tidak percaya dengan angka tersebut.


Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting. Arabelle kembali mengingat Ben yang dibawa orang tidak dikenal.


"Ya Tuhan semoga tidak terjadi sesuatu dengan dirinya," gumam Arabelle berdoa. Rasa benci seakan menghilang saat ini.


Bersambung 🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2