MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 34. Ceraikan Aku!


__ADS_3

🔥🔥🔥


"Apa kalian mengerti??" ucap Lexsi sangat percaya diri.


Seketika semua pelayan memandangi Arabelle. Dimana Arabelle tanpa melepaskan tatapannya kepada Ben.


Jangan salah. Arabelle sama sekali tidak merasakan sakit hati seperti istri-istri yang tega di poligami.


Jangan harap ada rasa kecewa di wajah Arabelle. Hal itu memancing amarah Ben yang terpendam.


"Sangat mengerti!" Sahut Arabelle dengan wajah berseri-seri. "Dengan kamu memiliki istri lain, ini keberuntungan bagiku. Dalam arti aku bebas dalam naunganmu," batin Arabelle seraya mengembangkan senyuman.


Cih....


Lexsi berdecih melihat keangkuhan Arabelle. Padahal Arabelle tidak merasa dengan tuduhan itu.


"Kembali bekerja!" Seru Ben dengan nada meninggi seraya melepaskan pelukan Lexsi di tangannya. Sesuai perintah, semua pelayan meninggalkan tempat itu. Dan kini tinggallah mereka bertiga.


Bibir Lexsi mengerucut mendapat perlakuan Ben. Ia tidak terima Ben melepaskan pelukan dengan gerakan kasar.


"Honey dimana kamar kita?" tanya Lexsi sengaja untuk memanas-manasi Arabelle.


Ben mengeram melihat kelakuan Lexsi tetapi ia tidak dapat membantahnya karena mengingat pesan Arion.


"Kita pilih kamar lain saja," ujar Ben seraya menatap Arabelle yang sejak tadi masih berdiri seraya meremas jari-jemarinya.


"Tidak perlu. Aku akan pindah kamar dan kalian.... "


"Tidak ada kamar lain di sini!" Ujar Ben memotong ucapan Arabelle.


"Biar aku tidur di kamar pelayan saja. Kamar utama bisa kalian tempati," ucap Arabelle.


"Usulannya aku setuju honey," ucap Lexsi sangat setuju dengan usulan Arabelle.


Kau pergilah ke kamar!" Titah Ben kepada Lexsi. Dengan senang hati Lexsi beranjak dan berjalan, dengan sengaja ia menabrak batu Arabelle sehingga tubuh Arabelle oleng.


Setelah kepergian Lexsi, Ben bangkit langsung menarik tangan Arabelle membawanya ke ruang kerja. Arabelle menjerit karena tangannya di cengkram cukup erat.


Brak


Awww

__ADS_1


Tubuh kecil Arabelle seperti dilempar hingga mengenai pikiran sofa. "Sangat kasar," lirih Arabelle seperti menahan sakit di siku tangannya.


"Itu belum seberapa?" seru Ben tanpa merasa iba.


Hiks hiks....


Arabelle berusaha menahan tangisnya, dan menyembunyikan air mata itu. Sungguh sikunya sangat sakit, belum lagi batinnya saat ini. Padahal ia sudah berjanji tidak akan menyedihkan dihadapan Ben.


"Apa maksud kau ingin tidur di kamar pelayan? hah....?"


Ujung mata indah itu menyipit mendengar pertanyaan Ben. "Apa hanya ingin menanyakan hal itu ia membawaku sampai ke sini?" batin Arabelle bertanya.


"Bukankah seharusnya begitu? sangat mustahil bukan jika pengantin baru akan tidur di kamar khusus pelayan? bukankah yang harus keluar dari kamarmu itu aku?" ucap Arabelle cukup berani.


"Kau banyak bicara! Apa karena aku memberi kebebasan hingga kau berbesar hati?" suara itu memekak di gendang telinga Arabelle.


Arabelle menarik nafas perlahan. Entah apa yang salah dengan keinginannya itu sehingga Ben sangat marah. Wanita malang itu beringsut mendaratkan bokongnya di atas sofa dengan wajah menunduk.


"Ceraikan aku! Yah benar ceraikan aku," ucap Arabelle seraya menatap Ben.


Deg


"Sekali lagi kau berani mengatakan itu, maka lidahmu tidak akan utuh lagi," ancam Ben cukup mengerikan.


"Lakukan saja, aku tidak akan takut. Bukankah itu sangat menguntungkan bagiku?" ucap Arabelle seakan tidak takut sama sekali dengan ancaman Ben. "Aku ingin bercerai, bukankah sekarang kamu memiliki istri muda? jadi untuk apa diriku di sini?"


"Misi balas dendam!"


Tawa kecil, lolos dari mulut Arabelle. Ia sangat bodoh menanyakan sesuatu yang tidak penting, jelas-jelas ia berada di sini adalah tawanan balas dendam dari pada Ben.


"Sama juga kamu mempermainkan kepercayaan. Bukankah hal itu sangat di tentang dalam ajaran yang kita anut? seharusnya kamu menceraikan aku terlebih dahulu baru menikahi dia. Bukankah dengan perceraian itu tidak menganggu misi balas dendammu? karena aku tetap berada di sini sebagai hewa* peliharaan yang kamu sematkan pada diriku," pungkas Arabelle panjang lebar dengan mata berkaca-kaca.


"Kau sungguh banyak bicara. Jangan sekali-kali mengajari aku Arabelle Almero! Siapa kau yang sangat berani menasehatiku?" ujar Ben dengan tegas, menentang apa yang dikatakan Arabelle.


Arabelle terdiam. Tidak ada gunanya lagi ia berbicara panjang lebar, sampai mulut ini berbuih tetapi sama sekali tak didengar oleh Ben.


"Pergi!"


Arabelle beranjak bangkit. Tanpa mengatakan apapun ia keluar dari ruang kerja itu dengan perasaan dongkol.


Selepas kepergian Arabelle, Ben berteriak didalam sana. Entah apa yang membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


🔥🔥🔥


Selepas dari ruang kerja, Arabelle bingung ingin kemana. Ke kamar itu tidaklah mungkin karena sekarang itu bukan kamarnya lagi.


Bruk


Lexsi melemparkan sebuah koper yang berisi semua milik Arabelle, yang terdapat di kamar yang akan ditempatinya.


"Ini milikmu bukan? kamu tidak perlu capek-capek membereskan semua milikmu yang ada dalam lemari karena aku sudah membereskannya," ucap Lexsi.


"Terima kasih, kamu memang sungguh perhatian. Hmm tahu saja apa yang ingin aku lakukan," sahut Arabelle.


"Kamu benar karena malam ini adalah malam pertama kami, jadi aku tidak ingin ada yang menganggu, maka dari itu aku membereskan semua milikmu," ucap Lexsi yang berhasil membuat Arabelle termangu.


Mendengar pengakuan Lexsi. Tiba-tiba dadanya sesak, seperti dihantam sesuatu.


"Kamu tenang saja karena semua ketakutanmu itu tidaklah benar," ucap Arabelle dengan bibir melengkung seraya meraih koper itu.


"Apa kamu tidak marah bahkan sakit hati?"


Mendengar pertanyaan Lexsi membuat Arabelle mengangkat kepalanya, lalu menatap Lexsi dengan saksama. "Marah? sakit hati? tentu saja jawabannya tidak!" Sahut Arabelle menekankan bahwa ia sama sekali tidak merasakan hal itu. Malah sebaliknya ia merasa keberuntungan karena Ben memiliki istri lain, dalam arti dirinya bebas dari ranjang pria ganas itu.


"Sangat aneh."


"Tentu saja tidak aneh karena alasan dia menikahiku demi misi balas dendam. Camkan itu! Misi balas dendam. Aku adalah tawanan serta hewa* peliharaannya," papar Arabelle kembali menekankan.


"Bagus jika kamu sadar diri akan keberadaanmu di sini. Asal kamu tahu Ben hanya milikku seutuhnya," pungkas Lexsi sangat percaya diri.


Arabelle menarik koper itu, ia sudah malas berbicara panjang lebar dengan madunya itu. Wanita cukup angkuh serta banyak omong.


"Siapkan makanan untuk makan malam," titahnya hingga menghentikan langkah Arabelle.


Arabelle membalikan badan. "Dia tidak akan sudi memakan makanan yang aku buat, jadi sebaiknya kamu atau pelayan yang mempersiapkan," ucap Arabelle sekenanya.


"Sungguh sangat kasihan, begitu malang nasibmu. Dasar anak pembunuh, jadi ini karma bagimu atas perbuatan orang tuamu!" Ejek Lexsi seakan mengetahui masalah itu.


"Ben menceritakan kepadanya, seakan dia sangat tahu betul," batin Arabelle seperti di hujam pisau tajam tetapi tidak mengeluarkan darah, ucapan Lexsi seperti nyata.


Tidak ingin larut, Arabelle melanjutkan langkahnya menuju kamar khusus para pelayan dengan dada sesak. Betul yang dikatai Lexsi karena aku adalah wanita malang serta nasibku juga malang.


Bersambung 🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2