MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 53. Penyesalan Ben


__ADS_3

🔥🔥🔥


"Sekarang kalian puas! Sekarang waktunya kalian membayar penderitaan keluargaku selama ini." Ujar Ben. Sesaat ia menadah wajah ya ke atas. Bulir bening itu hampir saja bergulir. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang berhadapan dengan kedua orang yang selama ini ia buron.


Pria yang tega membunuh orang tua serta Kakaknya. Wanita yang tega meninggalkan mereka disaat terpuruk.


"Mommy apa Mommy pernah tau bagaimana perjalanan hidupku selama ini? tentu saja kau tidak pernah tau karena kau sudah terlena dengan harta kekayaan yang bukan milik pria itu. Apa Mommy tau bagaimana kerasnya aku menjalani kehidupan ini sampai bisa saat ini? tentu saja itu tidak penting bagimu karena hatimu sudah dibutakan cinta dan harta. Aku menyesal dilahirkan dari rahim wanita sepertimu!" Papar Ben seraya menangis. Sungguh saat ini ia tidak dapat membendung perasaannya. Seakan gelar mafia tidak berlaku padanya saat ini.


Gres menggeleng seraya memegang dadanya diiringi tangisan.


"Katakan jika Arabelle bukanlah putrimu? katakan jika kami bukanlah saudara kandung!


" Ben awas!"


Dor dor


Dua tembakan menembus sisi perut serta betis sesosok itu.


"Arabelle......" Teriak semua orang.


Ben membeku. Ternyata dua tembakan itu bukanlah menembus tubuhnya, melainkan Arabelle.


Arabelle merosot ke bawah dengan darah mengalir. Dengan segera Ben mendekap tubuh itu.


"Dad, A-Ara ke-kecewa ke-kepada Da-Daddy. Da-Daddy su-sungguh ke-kejam," lirih Arabelle terbata-bata seraya menahan rasa sakit luar biasa.


Arabelle memutar bola matanya kepada Gres.


"Ka-kamu su-sungguh se-seorang Ibu ya-yang ke-kejam," lirih Arabelle kepada Gres.


Arabelle sudah tak berdaya. Matanya terbuka tutup, tetapi ia berusaha untuk sadar sesaat. Ia berusaha menadah pandangannya ke atas, dimana tepat di wajah ben.


Arabelle menangis, air mata itu semakin mengalir deras. "Demi orang tuaku aku minta maaf, dan sekarang dendammu sudah terbalaskan. Aku sudah menanggung atas perbuatan mereka. Atas izinku jika kamu belum puas bunuhlah mereka," lirih Arabelle tanpa terbata.


Ben menggelengkan kepala dengan derai sir mata.


"Aku, aku mencintaimu....." Ucap Arabelle dan akhirnya tidak sadarkan diri.


"Arabelle, Arabelle......Tangis Ben seraya memeluk tubuh itu.


Dor dor dor


Bunyi tembakan, serta pertarungan dari dua kubu. Ben berusaha menyelamatkan Arabelle, membawanya segera pergi untuk langsung di tangani.


Brid maupun Gres sudah pasrah, mereka masih berjongkok dalam diam. Tidak peduli dengan apa yang terjadi. Keduanya seakan bagai patung tak bernyawa.


Keduanya melihat kepergian Ben membawa Arabelle.

__ADS_1


Dor dor


Dua tembakan berhasil menembus dada serta kepala Brid maupun Gres.


" Daddy minta maaf sayang," ucap Brid sebelum ajal menjemput.


"Ben, Mommy minta maaf," lirih Gres sebelum tergeletak.


🔥🔥🔥


Di rumah sakit


Ben membawa Arabelle ke rumah sakit terdekat. Saat ini keadaan Arabelle kritis.


Di pintu operasi Ben mondar mandir dengan pakaian penuh noda darah.


"Ara hiks hiks...." Tangis wanita paruh baya sejak tadi.


Bibi ikut dengan Ben, babakan waktu itu Bibi berusaha menahan Arabelle, tetapi karena tenaganya tidak sekuat Arabelle sehingga membuatnya tersungkur.


Ketika seseorang membidik pistol itu menuju Ben, disitu Arabelle berlari untuk menyelamatkan Ben. Mereka semua mendengar atas percakapan antara Ben, Brid dan Gres.


"Tuan, bagaimana keadaan Ara?" tangisannya tak berhenti.


Ben tak bergeming, sungguh saat ini ia sangat merasa bersalah. Wanita yang telah ia nikahi dan dibuat menderita, malah menyelamatkan nyawanya.


Bugh..... bugh...


Ben meninju dinding koridor rumah sakit seraya berteriak, menumpahkan kekesalan serta rasa kecewanya.


"Tuhan, selamatkan dia. Beri kesempatan untukku minta maaf kepadanya. Jika disuruh memilih, ambil saja nyawaku." Doa Ben.


**


Didalam ruang operasi


"Dok detak jantungnya kembali normal," ucap perawat melihat layar monitor yang pada awalnya sempat berhenti.


"Sungguh Mukjizat," ujar sang dokter.


Sekian lama dokter akhirnya keluar dari ruang operasi.


Klek


"Dok, istriku selamat kan dok?" ujar Ben dengan wajah sendu. "Katakan jika dia selamat," ujar Ben seraya mengguncang-guncang tubuh sang dokter.


Dokter menghela nafas sejenak.

__ADS_1


"Tenang Tuan. Kami berhasil mengeluarkan peluru di sisi perut serta betis Nona," pungkasnya dengan raut wajah penuh tanya.


"Katakan jika istriku selamat dok, katakan!" Bentak Ben tanpa melepas cengkramananya.


"Nona berhasil melewati masa kriti, tetapi belum sadarkan diri. Ada satu berita duka, kami mohon maaf tidak bisa menyelamatkan......"


Dunia seakan runtuh bagi Ben mendengar ucapan sang dokter yang belum selesai bicara, bagaimana bisa menyelesaikan ucapannya, jika tanpa sadar Ben mencekik leher itu.


"Tidak bisa selamat?" gumam Ben seraya cengkraman itu terlepas begitu saja. Tubuh Ben ingin tumbang.


Huk huk....


Pria berkaca mata itu mengatur batasnya, akibat cekikan itu membuatnya sulit untuk bernafas.


"Nona selamat Tuan, tetapi kami tidak dapat menyelamatkan bayi dalam kandungannya," ucap sang dokter dengan kepala menunduk.


"Bayi? maksud dokter?"


"Iya Tuan. Calon bayi Tuan serta Nona tidak selamat akibat peluru," ucapnya sekali lagi.


Duarr.....


Pernyataan dokter membuat dunia Ben seakan runtuh. Bayi? berarti selama ini Arabelle sedang mengandung buah hati mereka, tanpa ia sadari.


Ben merosot ke lantai, seperti bersujud. "Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mendengar doaku." Doa Ben. "Kenapa kau sembunyikan kehamilanmu?" lirih Ben seraya meremas dadanya. "Seharusnya kau tidak semestinya menyelamatkanku, biar aku saja yang tertembak." Lirih Ben seraya memukul lantai.


Bibi juga ikut terisak, di satu sisi ia sangat bersyukur karena Arabelle masih diberi kesempatan untuk hidup, dan di lain sisi ia sesak karena mendengar bahwa Arabelle sedang mengandung, dan bayinya tidak bisa selamat.


🔥🔥🔥


Ben melangkah masuk dimana Arabelle terbaring dengan beberapa alat medis melekat di tubuhnya.


Dengan kedua kaki gontai ia berusaha mendekat. Bayangan dimana ia menyakiti Arabelle memenuhi isi kepalanya.


"Seharusnya aku tidak pantas berada di sini setelah apa yang sudah aku lakukan," gumam Ben dengan mata berkaca-kaca.


Tangan Ben bergetar, ingin menyentuh wajah Arabelle. "Benarkah kau adalah Adikku? jika itu benar, saat ini juga lebih baik aku mati. Demi apapun bangunlah dan katakan jika kita tidak sedarah?" lirih Ben.


Sudah 5 jam tetapi Arabelle tidak ada tanda-tanda akan sadar. Hal itu membuat Ben semakin terpukul.


"Sayang demi apapun bangunlah, beri kesempatan untuk aku minta maaf. Aku tau permintaan maaf tidaklah membalikan semuanya seperti semula," pungkas Ben seraya menggenggam tangan Arabelle.


Merasakan usapan di bahunya membuat Ben menoleh, ternyata itu Bibi.


"Tuan, sebaiknya Tuan beristirahat. Apa tidak sebaiknya luka-luka di tubuh Tuan segera diobati?" ucap Bibi dengan mata sembap.


Ben menggeleng. "Luka ini tidak sebanding dengan apa yang dia alami," ujar Ben seraya menatap wajah Arabelle kembali.

__ADS_1


Bersambung 🔥🔥🔥


__ADS_2