
🔥🔥🔥
"Sayang......geli, stop!" Teriak Arabelle.
Ben langsung meraup bwbir menggoda itu. Ciuman panas tak terhindar lagi.
Hmmp
Keduanya terpaksa melepaskan ciuman itu karena kehabisan oksigen.
"Sayang kita berenang," ajak Ben dengan maksud lain.
"Sepertinya asik," sahut Arabelle dengan polos.
Ben membawa Arabelle masuk kedalam kolam renang yang hanya ketinggian sebatas dadanya saja.
Ben menyudutkan Arabelle ke dinding kolam renang, meraup bwbirnya kembali.
Jari-jemari membuka semua kain yang melekat di tvbvh Arabelle hingga kini ia tanpa sehelai benang.
Ssst
Desis Arabelle merasakan dva bvkit itu diraup oleh Ben.
Reaksi Ben seperti anak bayi yang benar-benar mendapat hadiah. Tangan Arabelle meremas rambut Ben menahan gejolak luar biasa, ada rasa geli serta nik Matt.
Ben mengangkat tvbvh itu, mendudukkannya di atas.
Li dahh itu menyapu semakin turun ke bawah, tepat pada inti utama.
Hmmp
De sahh Arabelle seraya menjepit kepala Ben.
Ben tersenyum penuh kemenangan, dimana orang yang ia cintai mencapai puncaknya.
"Sayang kamu sudah ba zahh," bisik Ben dengan nada menggoda. Wajah Arabelle memerah mendengar hal itu. "Belum apa-apa kamu sudah merasakan kenik mattan."
Arabelle memicingkan mata, rasa malu tentu saja. Apa lagi ini pertama kalinya mereka melakukannya dengan penuh rasa cinta.
"Kita melakukannya di kamar saja," ujar Ben. Ia kembali menggendong Arabelle masuk kedalam kamar.
Ben menurunkan Arabelle di atas ran jangg. Ia ingin membaringkan Arabelle tetapi dengan cepat Arabelle menepisnya.
Arabelle mendorong tubuh kekar itu hingga Ben terbaring di atas kasur.
"Sekarang giliranku," goda Arabelle seraya mengedipkan mata, padahal saat ini wajahnya memerah.
Ben tersenyum senang bahkan ia sangat menyukai tantangan itu.
Arabelle mulai menyapu Li dahhnya dari atas, berhenti di le herr, meninggalkan stempel sesuka hati di sana.
Hmmmp
Ben mengigit bibir bawahnya menahan geli luar biasa.
Wawww
Er angg Ben merasakan pistol bajanya sedang dimainkan oleh Arabelle.
"Sayang aku benar-benar tidak kuat," gumam Ben mengeram.
Mendengar Ben ingin menyerah membuat Arabelle menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Aku akan memimpin," bisik Arabelle tepat di telinga Ben dengan nada sensualnya.
__ADS_1
Ben pasrah karena ia memang sangat menyukai gaya ini.
Arabelle langsung duduk di atas tvbvh Ben. Ia kembali meraup bwbir sek si menggoda itu.
Lalu ia memasukan pistol baja itu ke ladang miliknya hingga tertanam dalam-dalam.
Awww
Kicauan merdu keduanya setelah merasakan jepitan yang luar biasa setelah penyatuan mereka.
Arabelle mulai menggoyangkan pinggulnya dengan irama perlahan. Sedangkan Ben sibuk dengan dva bvkit menggantung itu. Hal itu membuat sensasi luar biasa bagi Arabelle.
Aaaaa.......
Kicauan panjang keduanya ingin mencapai puncak. Ben semakin mempercepat gerakan pinggul Arabelle dan akhirnya pistol baja itu membidik di ladang milik Arabelle.
Nafas keduanya menggebu-gebu dengan pemandikan keringat.
Arabelle menggulingkan tvbvhnya di samping Ben, mengistirahatkan tvbvhnya sebentar.
Tidak lama pistol baja itu kembali bangkit. Ben segera beraksi. Ia memberi pemanasan yang sangat disukai oleh Arabelle.
Benar saj Arabelle tak berkutik hingga keduanya kembali menyatu untuk sekian kalinya sampai keduanya menyerah.
Huh.....
Deru nafas keduanya saling memejamkan mata.
"Semoga kembar 12 tumbuh di sini," doa dan harapan Ben seraya mengusap perut rata Arabelle.
Mendengar doa atau harapan Ben membuat Arabelle segera membuka matanya.
"Sayang jika berdoa jangan berlebihan, cukup yang sewajarnya saja," protes Arabelle.
"Sayang berharap tidak ada salahnya, diaminkan saja karena di dunia ini tidak ada yang mustahil," ujar Ben.
🔥🔥🔥
2 bulan kemudian
Uwek.....uwek.....
Arabelle mengerutkan dahi mendengar suara seperti muntah di kamar mandi. Ia baru saja menyisir rambutnya.
Sekali lagi ia mendengar suara itu hingga membuatnya segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang ada apa? apa yang terjadi?" tanya Arabelle dengan wajah panik karena melihat wajah pucat serta keringat dingin bercucuran di wajahnya.
"Tidak tau sayang. Kepalaku pusing serta perutku sangat mual," lirih Ben dengan lemas.
"Sepertinya kamu masuk angin akibat melewatkan makan makan kemarin," ucap Arabelle mengira akibat hal itu.
"Sayang bantu aku keluar," titahnya dengan mata terpejam.
Arabelle langsung memapah tubuh lemah itu. Ia segera memakaikan pakaian ganti untuk Ben. Lalu segera membaringkannya.
"Biar aku panggilkan dokter dulu," ucap Arabelle ingin meraih ponselnya tetapi dengan cepat ditepis oleh Ben.
"Sayang berbaringlah, aku hanya ingin berada di sampingmu," pinta Ben yang berhasil membuat Arabelle bingung. Bukankah seharusnya pagi ini merek akan berangkat ke kantor.
Akhirnya seharian ini mereka hanya bermanja-manja didalam kamar.
**
2 hari berlalu
__ADS_1
"Sayang lihat perutku, kok buncit begini ya?" ucap Arabelle seraya menunjukan tvbvh polosnya kepada Ben. Ia baru saja selesai membersihkan diri.
Ben memperhatikan seperti yang dikatakan Arabelle. "Itu karena akhir-akhir ini kamu hobi makan sayang jadi jangan heran," tanggapan Ben.
"Benar juga ya? tetapi akhir-akhir ini tubuhku sangat lemas sayang, bawaannya malas saja. Apa sebaiknya aku akan periksa ke dokter?"
Ben memijit ujung dahinya. Ia juga menyadari wajah Arabelle akhir-akhir ini kelihatan pucat ketika tidak menggunakan makeup.
"Baiklah sayang. Segeralah bersiap-siap," ujar Ben.
**
Tiba di rumah sakit. Tepat dimana ruang dokter keluarga.
"Apa keluhan Nona?" tanya sang dokter.
Arabelle memberitahukan gejala apa saja yang dideritanya belakangan ini.
"Kapan Nona terakhir mentruasi?"
Arabelle mengingat-ingat kapan terakhir ia mendapatkan datang bulan. Ia memberitahukan kapan terakhir seingatnya.
Sang dokter memeriksa urin yang sudah ditampung.
Arabelle maupun Ben sedikit bingung. Ben tentu saja kurang paham tetapi Arabelle tentu saja sudah tau alat apa itu.
"Apa aku sedang hami?" batin Arabelle tak percaya.
"Selamat Tuan, Nona."
Mendengar ucapan selamat sang dokter membuat Ben maupun Arabelle tercengang.
"Nona Arabelle sedang mengandung dengan usia 10 minggu."
"Apa?" seru keduanya tak percaya.
"Iya Tuan, Nona. Untuk lebih menyakinkan lagi sebaiknya periksa pada dokter kandungan. Di sana Tuan, Nona dapat melihat jelas," terang sang dokter.
"Sayang kamu hamil? kamu benar-benar hamil," seru Ben dengan wajah sangat bahagia. "Terima kasih sayang," imbuhnya seraya menghujani ciuman bertubi-tubi di wajah Arabelle di hadapan sang dokter.
Arabelle hanya bisa mengangguk karena ia juga sangat kaget tak pernah menduga.
Tanpa berpikir panjang mereka langsung ke ruang dokter kandungan.
"Selamat pagi Tuan, Nona," sapa wanita berkaca mata itu menyapa kehadiran kedua orang yang sangat berpengaruh di negara itu.
"Pagi dok," balas Arabelle dengan wajah berseri-seri.
Arabelle berbaring seperti yang dianjurkan dokter. Ben dengan setia mendampingi.
Gel di oleskan di perut Arabelle yang mulai terbentuk.
Sang dokter mulai mengarahkan fetal doppler atau alat pendeteksi detak jantung janin.
"Lihat beberapa bintik hitam sebesar biji kacang ini adalah janin-janin yang ada dalam kandungan Nona." Terang dokter.
"Janin-janin?" gumam Ben maupun Arabelle.
"Didalam kandungan Nona tumbuh beberapa janin yang belum dapat terdeteksi lebih sempurna dikarenakan usia kandungan Nona masih usia 10 minggu. Untuk itu bulan depan kita kembali melakukan USG," imbuh sang dokter.
Ben maupun Arabelle meneteskan air mata melihat beberapa buah hati mereka di layar monitor tersebut.
"Terima kasih Tuhan," ucap Ben tak lupa bersyukur bahwa Tuhan benar-benar mengabulkan doanya. Walaupun mereka belum tau pasti kembar berapa.
Ben langsung kembali memeluk Arabelle.
__ADS_1
Bersambung 🔥🔥🔥