
π₯π₯π₯
Usai menyantap sup keduanya kini berada di ruang televisi. Itu semua keinginan Ben, ia yang memaksa Anabelle
"Kemari," titah Ben dengan melambaikan tangan kearah Arabelle. Wanita itu tak bergeming karena perasaannya kurang enak. "Kemari!" Bentak Ben sekali lagi, sehingga mau tidak mau Arabelle mendekat.
"Ada apa lagi? aku ingin kembali ke Mansion," ucap Arabelle dengan nada rendah.
Mendengar perkataan Arabelle membuat dahi Ben mengernyit.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?" ujar Ben seraya memejamkan mata. "Ada apa?" tanya Ben ketika menyadari wajah Arabelle sedikit pucat.
Huuft...
Arabelle mendaratkan bokongnya di atas sofa tepat di samping Ben. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari memijit ujung keningnya.
Tanpa menunggu lama, Ben membaringkan tubuhnya dengan kepala diletakkan di pangkuan Arabelle.
Arabelle kaget mendapati perlakuan Ben seperti tadi. Ben kembali menyusup wajahnya di perut Arabelle dengan tangan melingkar di pinggangnya.
Entah kenapa perasaan tidak enak tadi seakan menghilang ketika mendapat perlakuan dari Ben.
"Aku mengantuk," gumam Ben dengan nada serak, dapat didengar begitu manja.
"Ada apa dengannya?" batin Arabelle dengan pandangan ke bawah menatap Ben.
"Tolong jangan terlalu kencang, aku tidak bisa bernafas," lirih Arabelle karena pelukan itu sungguh erat.
Mendengar hal itu Ben sedikit melonggarkan tangannya. Tak berapa lama deru nafas halus mulai terdengar.
"Dia sudah tidur," gumam Arabelle seraya menguap. Tanpa sadar ia ikut terlelap juga dengan posisi duduk.
Sungguh pemandangan yang romantis jika diabadikan dengan sebuah foto.
Klek
Pintu apartemen dibuka dari luar. Rupanya Bram yang masuk. Seketika langkahnya terhenti, mendapat pemandangan indah di ujung sana. Momen yang baru pertama kali ini ia lihat sang ketua mafia sedang bermanja-manja.
Dimana posisi keduanya seperti sepasang suami istri yang romantis.
"Sepertinya bos mulai tertarik dengan Nona. Semoga saja hatinya mendingin karena Nona adalah korban," batin Bram.
Bram merogoh ponsel yang ada dalam kantong celana, lalu mengabadikan kemesraan tanpa disadari itu.
Senyuman merekah di bibir itu melihat hasil potretnya.
π₯π₯π₯
Entah sudah berapa lama keduanya terlelap. Keduanya bersamaan menggeliatkan tubuh masing-masing.
Hump
Arabelle menguap, belum sadar sepenuhnya. Merasakan beban berat di pahanya membuat matanya perlahan terbuka.
Pandangannya langsung ke bawah. Dimana Ben menadah pandangannya ke atas sehingga tatapan keduanya bertemu.
Tatapan Ben jatuh di bibir seksi itu. Keinginan untuk menikmati manisnya bibir Arabelle sangat kuat.
__ADS_1
Tidak tahan lagi, ia bangun sembari menarik tengkuk Arabelle. Meraup bibir itu dengan penuh kelembutan.
Arabelle terhanyut. Membalas ciuman itu, sehingga menciptakan kenikmatan luar biasa.
Ben mengangkat tubuh Arabelle, meletakan di atas pangkuannya tanpa melepaskan pagutan bibir itu.
Li dahh itu menyelusuri le her jenjang nan mulus itu, meninggalkan tanda merah sesuka hati di sana.
Ssst
De sahh Arabelle seraya meremas baju kaos yang dikenakan Ben.
Dengan perlahan tangan Ben membuka resleting dress yang dikenakan Arabelle. Dengan tangan bergetar ia melorotkan lengan dress tersebut.
Dua daging kenyal, menyembul di hadapannya. Kini ia melepaskan pengait bra warna merah itu.
Senyuman penuh naf zv terpancar di sorot mata Ben, mendapati buah keindahan yang dimiliki seorang Arabelle.
Ssst
Desis serta de sahh Arabelle ketika bulatan berwarna merah kecoklatan itu berada didalam mulut Ben.
Li dahh itu bermain-main di sana silih berganti.
"Apa kau menyukainya?" gumam Ben dengan nada serak, tetapi jari-jemari itu memelintir pucuk bulatan itu.
Entah setan apa yang merasuki diri Arabelle sehingga membuatnya mengangguk dengan polos.
"Aku akan memuaskanmu sayang," bisik Ben.
Ben bangkit tanpa melepaskan tubuh Arabelle. Lalu ia membawa Arabelle ke meja makan, mendarat bokongnya di atas meja makan.
Kini Arabelle sudah polos sedangkan ia masih berpakaian utuh. Dalam sekejap tubuhnya tanpa sehelai benang.
Hmm
Arabelle menelan ludah mendapati keperkasaan milik Ben sudah aktif.
Ben memberi rang sanggan di setiap jengkal tvbvh indah itu, hingga terhenti tepat di inti utama.
Ssst
De sahh Arabelle ketika li dahh itu keluar masuk di bawah sana, memasuki milik ladangnya. Tanpa sadar ia memeras rambut Ben, seperti gerakan.
A.....
Er angg panjang tertahan itu.
"Kau sudah ba sahh sayang," gumam Ben seraya memeriksa jari telunjuknya, sembari tersenyum.
Wajah merem-merem itu berubah menjadi merah padam. Dengan nafas terengah-engah.
Tidak tahan lagi. Ben menarik tvbvh lemas itu berubah posisi menjadi berdiri menghadap meja makan.
Dalam sekejap pistol baja terbenam di ladang sempit milik Arabelle.
Dengan gerakan perlahan maju mundur, hingga gerakan cepat.
__ADS_1
A.....
Kicauan serempak memenuhi meja makan. Pistol baja kembali membidik lahar panasnya di ladang sempit milik Arabelle.
Keduanya terkulai lemah di atas lantai. Dengan nafas memburu.
10 menit keduanya sudah tenang, masih dalam tubuh polos. Entah apa yang membuat Arabelle sedikitpun tidak merasa malu atau canggung dengan keadaan mereka saat ini. Mungkinkah karena sudah terbiasa atau apalah hanya dia yang tau.
Ben menoleh ke samping, ia tersenyum mendapati Arabelle yang masih memejamkan mata.
Awww
Kaget Arabelle ketika pucuk menggantung itu dilahap oleh Ben. Seperti seorang bayi yang kelaparan.
Merasa puas ia bangkit, lalu mengendong Arabelle ala bridal masuk ke kamar mandi.
Tanpa disangka mereka kembali melakukannya di kamar mandi. Sama-sama saling menginginkannya.
**
"Kau lapar?" tanya Ben dengan lembut.
Arabelle terpaku mendengar suara lembut serta perhatian itu. Ia tak bergeming saking herannya. "Apa dia salah minum obat?" batin Arabelle.
"Hei....kok bengong?" sekali lagi perkataan Ben semakin membuatnya terpaku.
"Iya," sahut Arabelle dengan perasaan terheran-heran tanpa berkedip menatap Ben yang sangat jauh berbeda.
π₯π₯π₯
Di markas seorang pria paruh baya mondar-mandir, menunggu kabar yang diberikan oleh beberapa orang kepercayaannya.
Tok tok
"Masuk!"
"Malam bos,"
Hmm
"Bos kami ada kabar baik," ujar kepercayaannya.
Pria itu adalah Brid Almero.
"Kabar apa? apakah kabar keberadaan putriku? atau pria yang menculiknya?" ujar Brid tidak sabar mendengar kabar baik itu.
"Ternyata pria yang menculik putri bos adalah CEO perusahaan BB GROUP," ucapnya.
"Brengsek!" pantas saja. "Hubungi Jane dan katakan aku ingin menemuinya," ujar Brid.
"Baik bos." Setelah mengatakan itu orang kepercayaan Brid menghubungi Jane, mantan asisten perusahaan ALMERO GROUP yang saat ini sedang disegel.
Brid mengepal kedua tangannya. "Kau bermain-main denganku anak muda, kau belum tau siapa sosok Brid Almero? aku adalah geng mafia Bird yang banyak ditakuti setelah geng Lion," ujar Brid dengan diiringi tawa.
"Sayang sebentar lagi Daddy akan menemuimu dan akan membebaskanmu," imbuhnya dengan tatapan sendu.
Bersambungπ₯π₯π₯
__ADS_1