MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 52. Rahasia Terbesar


__ADS_3

🔥🔥🔥


Arabelle tiba di Mansion.


Dengan berlari kecil Arabelle memasuki Mansion.


"Nona, Nona," sapa para pelayan menyambut kedatangan Arabelle yang tiba-tiba.


"Bibi Daddy dimana?" tanya Arabelle tanpa menghentikan langkahnya.


"Nak," panggil Bibi melihat kedatangan Arabelle.


"Bibi...." Panggil Arabelle langsung memeluk Bibi dengan sangat erat.


"Nak, benarkah ini kamu sayang? kemana ku. selama ini? Bibi sangat mengkhawatirkanmu sayang," ucap Bibi dengan tangisan.


"Iya Bi ini Ara. Ara baik-baik saja," ucap Arabelle ikut terisak.


Keduanya menguraikan pelukan itu, lalu duduk di sofa dengan tangan saling menggenggam.


Bibi memperhatikan seluruh tubuh Arabelle, ingin memastikan jika Arabelle baik-baik saja. "Sayang tubuhmu sedikit berisi, Bibi sangat senang karena apa yang Bibi takutkan tidaklah terjadi," ungkap Bibi setelah memperhatikan tubuh Arabelle secara seksama.


"Ara baik-baik saja Bibi," ucap Arabelle menyakinkan Bibi. "Ara tidak baik-baik saja Bi, banyak hal yang menimpa Ara selama ini, suatu saat Ara akan cerita," batin Arabelle.


"Apa kamu sudah makan?"


Arabelle mengangguk.


"Bibi, Daddy sama Mommy dimana?" tanya Arabelle.


"Tuan selama beberapa bulan ini tidak pernah ke Mansion Nak. Sedangkan Nyonya mungkin sedang keluar tadi pagi karena pagi tadi melewati sarapan pagi," papar Bibi karena tidak tau jika kedua majikannya sedang pergi.


"Apa selama itu Daddy tidak pulang?"


"Semenjak kehilanganmu Tuan banyak menghabiskan waktu diluar, untuk mencari kamu Nak," ungkap Bibi. Bibi menghela nafas panjang. "Semua perusahaan Tuan di segel," lanjutnya dengan raut wajah sendu.


Arabelle terdiam, ia tidak perlu bertanya tentang itu karena ia sudah tau.


"Bibi, apa selama ini Bibi merasa aneh dengan Daddy?" tanya Arabelle, ia ingin mengorek masa lalu Daddy nya.


"Maksud kamu? Bi i tidak mengerti," bukannya mendapat jawaban, Bibi malah melempar pertanyaan.


Arabelle menggelengkan kepala, tidak ingin bertanya lebih dalam. Sepertinya Bibi tidak tau apa-apa dengan masa lalu Brid.


"Bibi baik-baik saja? Bibi kelihatan kurus sekarang?" tanya Arabelle setelah menyadari tubuh Bibi.


"Tadinya Bibi tidak baik-baik saja tetapi setelah kepulanganmu Bibi baik-baik saja sayang. Sekali lagi jika ingin pergi beritahu Bibi," ucap Bibi dengan mata berkaca-kaca.


Selama menghilangnya Arabelle ia memang sering sakit-sakitan. Sering mengabaikan pola makan.


"Ara minta maaf Bi," lirih Arabelle dengan wajah sendu.


**


Malam menjelang


Subuh sekitar pukul 05:00 Arabelle terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia batuk beberapa kali hingga membuat tenggorokannya kering, sedangkan persediaan air di kamarnya sudah habis. Mau tidak mau ia turun ke bawah.


Arabelle berjalan dengan memegang teko. Tiba-tiba ada bayangan dari depan ruang kerja Brid. Dengan langkah hati-hati Arabelle bersembunyi di balik meja.


Sesosok itu membuka ruang kerja Brid. Tidak lama ia kembali keluar.


Dengan cepat-cepat Arabelle mengikuti jejak orang itu dalam diam. Tepat di ruang tamu ia melihat sosok Bibi entah dari mana.


Arabelle langsung membungkam mulut Bibi ketika menyadari sosok misterius itu berjalan dengan santai keluar dari dalam.


"Bibi iku Ara, kita ikuti orang itu," bisik Arabelle.


Bibi mengangguk, untuk saat ini ia tahan dulu rasa penasarannya.


Arabelle membawa Bibi masuk kedalam mobil. Ia tidak ingin kehilangan jejak.


Dari arah belakang mereka mengikuti mobil jeep yang tak lain milik Brid.


1 jam perjalanan. Akses jalan mulai banyak lobang, ditambah kegelapan.


"Nak kita mau kemana? ini sangat berbahaya, Bibi takut sesuatu menimpa kita," ucap Bibi yang duduk di samping Arabelle.

__ADS_1


"Tenang Bi. Bibi berdoa saja agar kita baik-baik saja," sahut Arabelle. "Semoga saja mereka tidak menyadari keberadaan kita Bi," sambungnya.


Butuh waktu 3 jam mobil itu berhenti tepat di satu rumah yang berada di semak belukar. Arabelle sengaja menghentikan mobilnya cukup jauh.


"Ayo Bi, kita mendekat," ajak Arabelle seraya menggenggam tangan Bibi.


Langkah keduanya berhenti ketika puluhan pria menghadang dengan berbagai macam senjata. Kaki Bibi gemetaran tetapi tidak bagi Arabelle.


"Berhenti! Siapa kalian?" seru salah satu diantara mereka.


"Aku ingin bertemu dengan Brid Almero. Apa beliau ada didalam?" tantang Arabelle tanpa merasa takut, sedangkan Bibi sudah pucat pasi melihat macam-macam senjata yang menyambut kedatangan mereka.


"Tidak bisa!" Langkah Arabelle bersama Bibi tidak dilanjutkan karena mereka semakin maju.


"Aku adalah Arabelle Almero, putri Brid Almero. Aku tau Daddy ada didalam karena Daddy sendiri yang meminta aku datang untuk menemuinya karena selama ini aku menghilang," papar Arabelle berbohong, ia tau bahwa itu ide yang cemerlang.


Puluhan pria itu saling memandang.


"Antar akun bertemu Daddy sekarang juga," bentak Arabelle.


Akhirnya mereka percaya dan salah satu diantara mereka membawa Arabelle, dimana keberadaan Brid dan Gres saat ini.


🔥🔥🔥


"Dia yang telah menculik Arabelle. Putri kita!"


Deg


Ben membeku mendengar pernyataan Brid, yang mengatakan jika Arabelle adalah putri mereka berdua.


Ben menggelengkan kepala tidak percaya, bagaimana bisa.


"Apa? jadi, jadi kamu yang menculik putri kami?" lirih Gres menatap Ben dengan tatapan penuh arti.


Jantung Ben saat itu juga ingin meledak mendengar pengakuan Gres.


"Arabelle adalah putri mereka berdua? tidak mungkin. Itu artinya aku menikah dengan saudara tiriku? itu artinya kami ada hubungan darah?" batin Ben.


Gres mendekat. "Katakan Nak, apa alasan kamu menculik Ara? apa dia membuat kesalahan?" tanya Gres dengan lembut.


"Sayang tolong lepaskan ikatannya," mohon Gres kepada Brid.


Brid tertekun karena mendengar permintaan konyol Gres.


"Tidak, dia pantas mendapatkan ini. Putriku sudah disiksa selama ini, bahkan aku tidak tau bagaimana dan dimana ia sekarang," ujar Brid seakan engan.


"Aku mohon sayang, kita beri kesempatan untuk dia menjelaskan apa maksudnya," ucap Gres dengan kekeh.


Sedangkan Ben tidak menggubris kedua pasangan suami istri tersebut. Pikirannya terus berpusat pada Arabelle.


"Sayang," lirih Gres seraya menggenggam tangan Brid.


"Lepaskan ikatannya," titah Brid kepada anak buahnya. Entah apa yang membuat hatinya luluh saat ini


Rantai dikedua tangan serta kaki Ben segera di buka tetapi tidak membuat Ben menyadarinya. Tiba-tiba tubuh itu tersungkur di lantai setelah ikatan terbuka.


Gres mendekat, memapah tubuh Ben agar terduduk. Merasakan sentuhan itu membuat Ben tersadar dari lamunannya. Dengan segera ia mendorong tubuh Gres sehingga membuat Gres tersungkur.


Awww


"Kurang ajar!" Seru Brid melihat istrinya didorong cukup keras.


Brid membantu Gres untuk bangun. "Apakah sakit?" tanya Brid seraya mengusap tangan Gres.


Ben menatap tajam melihat interaksi kemesraan pasangan itu. Bayangan dimasa lalu terlintas begitu saja.


Gres menggeleng agar Brid tidak tersulut emosi.


Cihhh


Ben meludah di depan kedua paruh baya itu dengan tatapan membunuh.


Gres mendekat tanpa merasa takut. Tangannya terulur ingin menyentuh punggung Ben.


"Singkirkan tangan motormu itu dari tubuhku!" Teriak Ben.


Gres maupun Brid saling memandang.

__ADS_1


"Tutup mulutmu! Istriku tidak punya masalah denganmu," ujar Brid dengan suara tak kalah besarnya.


"Kau mengatakan tidak salah? wanita keparat ini tidak ada ubahnya dengan anda Tuan Brid almero," ujar Ben seraya tertawa.


"Kau!"


Tangan Brid yang ingin membungkam mulut Ben ditangkis dengan cepat.


"Apa kalian ingin tau siapa aku?" seru Ben dengan aura membunuh.


"Apa kesalahan kami Nak? katakan?" ucap Gres dengan mata berkaca-kaca.


"Williams Brylee! Apa kalian masih mengenal nama itu? akulah Ben Brylee putra yang masih hidup, yang berhasil selamat. Apa kau masih ingat Tuan Brid dan Nyonya Gres? tentu saja kalian tidak lupa," ujar Ben.


Duar


Bagai petir di siang bolong menyambar yang dirasakan Gres, begitu juga dengan Brid.


"Anda gagal membunuhku Tuan Brid. Dan ini saatnya balas dendam itu. Aku menyandera putrimu karena ingin balas dendam," seru Ben.


Gres menutup mulutnya dengan kepala menggeleng. Air mata tak bisa ia tahan lagi. Ternyata saat ini ia dipertemukan dengan putranya.


Gres maju ingin memeluk Ben, tentu saja hal itu ditolak oleh Ben.


"Ben," lirih Gres dengan penuh air mata. "Dimana Daddy serta Kakakmu Brenda?" imbuhnya.


Hampir saja air mata Ben jatuh tetapi dengan berusaha ia menahannya.


"Ciiih untuk apa kau menanyakan hal yang tidak penting. Apa karena ingin memamerkan jika selama ini hidupmu bahagia?" ujar Ben dengan tatapan sinis.


Sedangkan Brid sejak tadi terdiam.


"Sayang apa benar kamu berusaha membunuh putraku?" tanya Gres, ia ingin mengetahui hal itu.


"Tanyakan juga apa kabar Williams maupun Brenda, tentu saja pria itu sangat tau."


Gres bangkit berdiri, kini ia menarik-narik tangan Brid. "Sayang apa yang dikatakannya itu benar?" tanya Gres memohon agar mendapat jawaban.


"Aku sudah membunuh mereka saat itu!"


Duar


Sekali lagi Gres mendapat sambaran petir tepat di jantungnya. Wanita paruh baya itu merosot ke lantai ketika mendengar pernyataan Brid.


"Apa?" lirih Gres dengan gumaman seraya memegang dadanya.


"Apa kau sudah puas Tuan Brid Almero? kau berhasil melenyapkan Daddy dan Kakakku, dan kau juga berhasil menikahi wanita ini," ujar Ben dengan darah mendidih, bayangan masa lalu itu kembali menyelimuti dirinya.


"Brid, kamu membunuh darah dagingmu sendiri," lirih Gres dengan nafas ingin berhenti. Ucapan itu sangat terdengar jelas oleh Ben maupun Brid.


Brid membulatkan mata, ia yakin salah mendengar. Gres berusaha bangkit, lalu memukul dada Brid berulang kali.


"Brenda adalah darah dagingmu, kenapa kamu tega membunuhnya? dia adalah putri kita Brid hiks hiks....." Tangis Gres.


"Apa?" Brid membeku mendengar pengakuan Gres sekarang.


"Dia adalah putrimu. Apa kau lupa waktu itu? sebelum menikah dengan Williams, aku hamil 2 bulan." Cerita Gres disertai tangisan.


Brid kembali membeku.


"Kalian sungguh keji. Kenapa aku bisa lahir dari rahim wanita brengsek sepertimu? jika bisa memilih lebih baik aku tidak ingin dilahirkan dari pada memiliki orang tua sungguh keji!" Seru Ben disertai tangisan.


Ia tidak pernah menyangka bahwa Brenda adalah Kakak tirinya.


"Apa kalian tau jika Daddy sangat menyayangi Brenda seperti putrinya sendiri. Bahkan rela menukar nyawanya demi putri kalian itu," ujar Ben menggebu. "Dengan teganya seorang Ayah membiarkan orang untuk melecehkan darah dagingnya sendiri! Akibat di perkoza Brenda meregang nyawa, tepat di hadapanku." papar Ben berhasil membuat Gres maupun Brid tercengang.


Ben tertawa miris.


"Sekarang kalian puas! Sekarang waktunya kalian membayar penderitaan keluargaku selama ini.


"Ben awas!!"


Dor dor


Bersambung 🔥🔥🔥


Ih author ini suka menggantung kayak jemuran saja. Maaf kakak-kakak sayang❤❤❤ inilah trik author agar Kakak-kakak penasaran🤭👏

__ADS_1


__ADS_2