MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 49. Ben Di Sandera


__ADS_3

🔥🔥🔥


"Ada apa?" tanya Jane setelah keluar dari kamar mandi. Ia melihat wajah Bram sedikit khawatir. Mereka baru saja habis melakukan pergumulan.


"Segera kenakan pakaianmu. Ikut aku," ujar Bram.


Dahi Jane sedikit mengerut mendengar perkataan Bram. "Tunggu aku sebentar," ucap Jane penuh tanda tanya. Sebenarnya ada apa tengah malam begini Bram ingin membawanya.


Tidak butuh lama keduanya telah berada dalam mobil. Bram tidak banyak bicara, hal itu membuat rasa penasaran Jane semakin menyeruak. Ingin bertanya tetapi ia takut.


"Ada apa?" tanya Bram sekilas melirik Jane hanya memandangi jalanan lewat jendela mobil.


Jane menggeleng diam.


"Nanti juga kamu tau," ujar Bram seakan engan menceritakannya.


"Apa dia akan membawaku kepada Tuan Almero?" keluh Jane dalam hati dengan perasaan panik.


"Buang pikiran kotormu. Sebentar kamu juga tau," ujar Bram tanpa menoleh ke arah Jane, ia konsentrasi menyetir.


Hah....


Jane langsung mengatup mulutnya ketika Bram mengetahui apa yang ada dalam hatinya.


Kini mobil itu tiba di basemen apartemen. Keduanya turun secara bersamaan. Walau hati Jane dirundung banyak pertanyaan.


Bram menggenggam tangan Jane masuk kedalam lift menuju unit kamar Ben.


Ia menekan sandi pintu apartemen sehingga terbuka.


Mendengar pintu dibuka membuat Arabelle sontak beranjak bangkit.


"Bram, Jane," gumam Arabelle dengan mata melebar melihat sosok Jane du samping Bram.


"Nona," gumam Jane dengan mata membulat tak percaya dengan sosok wanita cantik yang beberapa bulan ini menghilang secara misterius.


Arabelle langsung berlari memeluk Jane. Asisten sekaligus sudah ia anggap Kakak sendiri kini berdiri dihadapannya.


"Benarkah ini Nona?" ucap Jane masih tak percaya dalam pelukan Arabelle.


"Iya Jane ini aku. Bagaimana bisa kamu bersama Bram?" cicit Arabelle.


Jane tidak bisa menjawab, ia mengusap punggung Arabelle.


Cukup lama keduanya melepas rindu. Bram hanya bisa menonton saja. Karena ia tidak melihat keberadaan Ben hingga membuatnya berdehem.


Hem Hem


Mendengar deheman Bram membuat Arabelle maupun Jane menyudahi pelukan mereka.


Seketika Arabelle tersadar dengan kejadian yang menimpa mereka.

__ADS_1


"Bram, Ben. Ben Bram," lirih Arabelle dengan wajah panik, bahkan sisa-sisa air mata masih membekas.


"Iya Nona. Bos mana?" ujar Bram ikut panik.


Arabelle menceritakan kronologi dari awal sampai berakhir ketika Ben dipaksa di bawa kedalam mobil.


"Kurang ajar!" Umpat b


Bram, lalu segera merogoh ponsel dalam kantong celananya. Ia pun menghubungi anak buah agar berpencar mencari jejak Ben. Tentunya pembicaraan itu tidak diketahui Arabelle maupun Jane.


Di ruang televisi Arabelle berbicara banyak hal kepada Jane.


"Berarti selama ini Tuan Ben dan Bram menyekap Nona?" tanya Jane.


Ia menatap Bram dengan tajam ketika Bram kembali dari balkon, sesudah me g hubungi anak buah geng Lion.


Sungguh ada rasa kecewa ya g dirasakan Jane. Ternyata selama ini Bram seakan tidak tau setiap Jane bertanya.


"Ceritanya panjang Jane tetapi semua ini tidak ada hubungannya dengan Bram," ucap Arabelle, seakan bukan waktu yang tepat untuk menceritakan hal ini sekarang.


Bram yang ditatap hanya bisa membalas tatapan tidak suka Jane. Wanita yang sudah hampir seminggu tinggal bersama di apartemen miliknya. Dan bahkan hubungan mereka semakin dalam, tidak ubahnya sebagai sepasang suami istri.


"Bagaimana Bram apa kamu mendapat informasi keberadaan Ben?" tanya Arabelle dengan wajah sendu.


"Tenang Nona. Bos akan baik-baik saja," ujar Bram ingin menenangkan Arabelle. Ia tau bahwa Ben dapat mengelabui musuh. Siapa yang tidak tau sosok ketua mafia itu.


Arabelle hanya bisa terdiam.


"Baiklah.Sebenarnya Ben itu siapa? kenapa dia diculik? apa ini ada hubungannya dengan Daddy?" tanya Arabelle berharap mendapat jawaban dari Bram.


"Ayo Nona tidak ada waktu untuk berlama-lama lagi, sangat berbahaya," papar Bram. Ini bukan saatnya merinding siapa jati diri mereka.


Tidak ingin membantah Arabelle mengikut saja.


🔥🔥🔥


Didalam mobil.


"Arabelle....." Panggil Ben dari dalam mobil melihat dengan jelas bagaimana Arabelle berlari seraya memanggil namanya, sampai tiba saat ia terjatuh.


Belum sempat Ben memberi perlawanan, salah satu dari beberapa pria dalam mobil itu menyuntikkan sesuatu di tubuh Ben, ketika ia lengah dikarenakan sosok Arabelle.


Seharusnya Ben tidak peduli dengan putri pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. Tetapi kenyataannya berkata lain. Ia bahkan rela menyerahkan diri demi keselamatan Arabelle.


Ben langsung tidak sadarkan diri. Obat dalam suntikan itu melumpuhkan seluruh saraf-saraf tubuhnya untuk beberapa jam.


**


"Bos kami berhasil menangkap pria itu?" ujar kaki tangan pria bermata coklat itu.


Senyuman menyungging di bibir tipis itu, menerima kabar baik untuk dirinya.

__ADS_1


"Dimana dia?" ujarnya.


"Di gudang bos. Dia belum sadarkan diri," paparnya.


Pria itu mangut-mangut.


Tanpa menunggu lama ia langsung berjalan menuju gudang bawah tanah, khusus penyekapan para musuh.


Tiba di gudang bawah tanah, pria itu menatap tajam Ben yang belum sadarkan diri. Jadi ini pria yang telah membuat perusahaannya lenyap, itulah yang ada dalam hati pria itu.


"Siram dia pakai air es," titahnya kepada anak buah yang sedang berjaga-jaga.


"Baik bos."


Sesuai perintah sang bos, mereka menyirami sekujur tubuh Ben dengan menggunakan air es.


Ssst


Desis Ben tersadar dari pingsannya. Dengan kepala berat serta mata berat ia berusaha membuka mata karena ia tak berhenti di sirami air dingin tersebut.


"Stop!" Pria itu menjentikkan jari. Seketika mereka menghentikan menyirami Ben.


Tap tap


Bunyi derap sepatu membuat mata Ben perlahan terbuka.


Buk buk


Dua tendangan melayang tepat di wajah Ben. Tetapi tidak membuat Ben menjerit. Bahkan sepatu itu melukai ujung bibirnya.


Buk buk buk


Tinjuan berulang kali mendarat di dada serta perutnya. Tetapi sama tidak membuatnya menjerit. Hal itu membuat mereka sedikit heran.


"Kurang ajar!" Ujarnya seraya membuka penutup wajahnya.


Mata Ben membulat mendapati siapa pria yang telah berhasil menculiknya. Darahnya seketika mendidih. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya terkepal erat.


Buk buk buk


"Rasakan ini. Kurang ajar, berani bermain denganku. Apa kau sudah tau siapa aku?" ujarnya dengan suara setengah berteriak.


Cih.....


Ben melemparkan ludahnya, seakan itu mendarat di wajah pria itu.


"Hahaha.....memangnya kau siapa? bukankah seperti yang diketahui oleh dunia bisnis, kau hanya sebagai anjin* menggonggong," ejek Ben seraya tertawa keras. "Brid Almero sudah bangkrut!" imbuhnya sekali lagi melemparkan ejekan.


Ya pria itu adalah Brid Almero. Ia sudah menemukan jati diri yang telah menghancurkan perusahaannya. Tetapi ada satu hal yang tidak ia ketahui, bahwa putrinya Arabelle ada bersama Ben, serta belum mengetahui siapa jati diri Ben yang sesungguhnya.


Bersambung🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2