MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 36. Terluka


__ADS_3

🔥🔥🔥


Krett


Bunyi gesekan kursi dengan lantai. Arabelle bangkit dari kursi, ia sudah menghabiskan sarapan pagi.


Tanpa ingin melihat pasangan di depan matanya itu, ia harus segera pergi. Arabelle membawa gelas kosong serta piring kotor ke wastafel, lalu mencucinya.


Tanpa disangka ternyata sejak tadi Ben memperhatikan tingkah Arabelle. Sedangkan Lexsi senyum-senyum tak jelas.


"Honey ada masalah apa?" tanya Lexsi seakan ingin tau kemana Ben ingin pergi setelah menerima telepon.


"Jaga sikapmu Les!" Ujar Ben.


"Apa aku salah? kamu lupa permintaan Daddy? kamu anak durhaka tau, mengabaikan permintaan terakhir orang yang banyak berjasa dalam hidupmu. Jika bukan Daddy, maka apa yang kamu punya semua bukan milikmu," cecar Lexsi.


Ben terdiam. Benar yang dikatakan Lexsi. Sedangkan Lexsi menangis seraya berlari kembali ke kamar.


Aaak....


Teriak Ben seraya meremas rambutnya sendiri.


**


Seperti hari-hari yang dilalui Arabelle selalu menghabiskan waktunya bersantai di taman belakang. Memandangi kolam ikan hias di sana.


Entah itu peliharaan Ben atau siapa, tetapi melihan puluhan ekor ikan membuat hatinya tenang. Ikan-ikan itu berenang bebas tanpa mendapat tekanan.


Arabelle membandingkan dirinya, tetapi seakan perbandingan ia dan puluhan ikan itu jauh berbeda. 111


Kala ia sedang melamun. Arabelle tidak diperbolehkan memegang ponsel ataupun meminjam.


"Sepertinya kamu betah sekali hanya berdiam diri? sungguh kasihan," ejek Lexsi tiba-tiba nongol bahkan sekarang duduk di depannya, kapan ia datang bahkan Arabelle tidak sadar.


Arabelle menoleh sekilas.


"Ah sangat melelahkan. Seluruh badanku terasa pegal," lirih Lexsi seakan nada dibuat-buat kelelahan. "Sungguh Ben sangat luar biasa, sampai-sampai aku tepar," imbuhnya kembali seraya meregangkan otot-otot.


Mendengar hal itu berhasil membuat Arabelle memutar bola matanya.


Seketika ia ingat betul bagaimana keberingasan Ben di atas ranjang. Apa yang dikatakan Lexsi adalah benar.


"Apakah itu penting bagiku? tidak ada gunanya kamu memamerkan hal itu kepadaku. Sedikitpun aku tak peduli, asal kamu tau itu. Yang ingin aku lakukan jika bisa adalah keluar dari Mansion ini serta terlepas dari Ben," papar Arabelle.


Senyuman mengembang di bibir Lexsi.


"Sungguh kasian nasibmu. Dinikahi secara sah tetapi hanya sebagai tawanan," ejek Lexsi serta menatap sinis.

__ADS_1


"Jika kamu hanya mengoceh tidak jelas lebih baik pergi dari sini. Aku di sini mencari ketenangan bukan mau mendengar ocehan tak jelas darimu," ucap Arabelle menegaskan.


"Kamu berani mengusirku? apa kamu lupa statusku di sini? aku memang istri muda Ben Brylee tetapi hanya aku yang di akui di publik. Sedangkan kamu hanya sebagai peliharaannya saja. Camkan itu, jangan macam-macam jika tidak akan aku adukan pada Ben," ancam Lexsi.


Arabelle tersenyum mengejek. "Silahkan adukan saja, aku tidak takut Lexsi! Aku sudah kebal," pungkas Arabelle dengan tegas.


"Kau!!!" Seru Lexsi seraya bangkit sembari menunjuk wajah Arabelle.


Arabelle lantas menepis tangan itu lalu berjalan masuk kedalam dengan perasaan kesal serta senang karena sudah bisa melawan Lexsi.


"Kurang ajar, ternyata dia bukan wanita yang lemah," umpat Lexsi seraya memandang sinis punggung Arabelle yang mulai menghilang.


🔥🔥🔥


Di Mansion kediaman Almero


"Kacau! Kacau....." Teriak Almero menggelegar hingga membuat para pelayan bergidik, jiwa mafianya keluar tetapi tidak ada yang tau jika ia adalah seorang mafia berbahaya.


"Tenang sayang," ucap Gres seraya mengusap punggung Almero, memberi ketenangan.


"Bagaimana aku bisa tenang. Perusahaan pusat sudah di segel tanpa sebab, semua investor menarik saham mereka, sedangkan keuangan pun sudah dibekukan. Entah siapa dalang dari kekacauan ini?" ujar Almero dengan penuh amarah.


"Apa?" tentu saja Gres terbelalak kaget. Seketika bayangan puluhan tahun terlintas dalam benaknya.


Almero tak menjawab. Ia langsung menyambar kunci mobil dan segera pergi tanpa menghiraukan Gres yang terdiam seperti patung.


**


Belum lagi mengenai putri kesayangannya yang sampai saat ini belum tau keberadaannya.


"Apa kalian sudah mendapat bukti-bukti siapa dalang dibalik kehancuran perusahaan? serta seseorang yang telah menculik putriku?" ujar Almero.


Semua anak buah hanya bisa menunduk karena mereka belum mendapatkan bukti-bukti yang kuat.


"Keluar!" Perintah Almero.


Tinggallah dua orang kepercayaan Almero yang bertugas dari negara xx. Almero sengaja mengundang mereka untuk datang ke Rusia.


"Bos kami mau bertanya. Apakah bos memiliki musuh di masa lalu?" tanya salah satu dari dua orang kepercayaannya.


Almero terdiam, mengingat-ingat masa lalunya yang penuh kekejaman-. Seketika ingatannya terlintas kuat kepada keluarga Williams.


"Apakah mereka?" gumam Almero dengan tatapan diam. "Tidak mungkin karena Williams aku sendiri yang membunuhnya. Sedangkan putra dan putrinya juga sudah dilenyapkan oleh anak buahku," imbuhnya.


"Ada apa bos?"


Almero menceritakan tentang masa lalu itu.

__ADS_1


"Apakah ini ada sangkut pautnya bos? mungkin saja mereka memiliki keluarga yang lain, untuk membalaskan dendam itu?"


"Mereka tidak memiliki siapa-siapa. Hanya istriku keluarga mereka," pungkas Almero.


"Apakah istri bos dibalik semua ini?" tebak mereka berdua seakan kuat menuduh Gres.


Almero menggeleng kuat. "Tidak mungkin, istriku tidak mungkin melakukan itu karena ia tidak akan berani macam-macam. Bahkan ia juga baru mengetahui kekacauan ini," paparnya kembali.


"Aku punya rencana," ucap salah satu dari pria bertato dengan raut wajah menyeramkan.


"Rencana apa?" tanya Almero.


"Kita pancing dengan cara halus," ujarnya, lalu membisikkan bagaimana caranya.


🔥🔥🔥


Didalam kegelapan malam


Ben beserta anak buahnya sedang mencegat satu buah truk pengangkut senjata tajam serta ribuan kilogram narkotika.


Ditengah kegelapan tanpa pencahayaan mereka menunggu sasaran.


"Serbu!" Seru kepala anak buah Ben.


Baku hantam pun tidak bisa dihindari lagi. Ternyata terdapat puluhan orang dalam truk pengangkutan barang dengan berbekal senjata api serta senjata lainnya.


Entah kenapa kali ini anak buah Ben banyak yang dilumpuhkan sehingga membuat Ben turun tangan. Didalam kegelapan itu mereka saling baku hantam.


Ben berhasil melumpuhkan lawan tetapi ada satu orang yang tersembunyi dan seksama mengamati Ben.


Ssst


Desis Ben merasakan punggung lengannya tertusuk senjata tajam cukup dalam. "Kurang ajar!" Umpat Ben seraya menendang sosok yang berani mengotori pisau itu di tubuhnya.


Dor


Ben membidik pistol tepat di dahi orang itu, seketika lawan tak bernyawa.


Ben membungkam luka itu dengan telapak tangannya. Lalu segera meninggalkan tempat kejadian setelah semuanya beres.


Kali ini Ben kembali ke Mansion, sedangkan anak buahnya kali ke markas.


**


Dengan langkah tergesa-gesa Ben memasuki Mansion. Jam menunjukan pukul 3 dini hari.


"Selamat malam Tuan. Tuan terluka?" ucap kepala pelayan menyambut kepulangan Ben.

__ADS_1


Entah apa yang membuat langkah kaki Ben tergerak memasuki kamar Arabelle.


Bersambung 🔥🔥🔥


__ADS_2